Gadis Sri Haryani

PREDIKSI DAN ANTISIPASI PERUBAHAN IKLIM TERHADAP EKOSISTEM DANAU[1]

Oleh:  GADIS SRI HARYANI
Pusat Penelitian Limnologi – LIPI

Sumber: http://blhpp.wordpress.com/

ABSTRAK

Danau yang dalam batasan ekologi didefinisikan sebagai habitat lentik atau air tergenang, merupakan cekungan yang terjadi karena peristiwa alam atau buatan manusia, yang menampung dan menyimpan air tanah, air hujan, mata air, atau sungai. Keberadaan danau sebagai salah satu ekosistem perairan darat memiliki berbagai fungsi yang menopang kehidupan manusia. Peranan danau yang multifungsi serta pemanfaatan yang tak terkendali menyebabkan timbulnya permasalahan yang sangat mengancam eksistensi danau. Perubahan iklim diprediksi akan memberikan tekanan pada lingkungan perairan darat yang mengakibatkan perubahan kemampuan produktivitasnya, kualitas dan kuantitas air, hingga bencana keairan dalam beberapa dekade mendatang. Di sisi lain perairan darat sebagai bagian dari lahan basah dan lahan basah lainnya berfungsi sebagai penyimpan dan penangkap karbon.

Terkait dengan fenomena tersebut, diperlukan kemampuan prediksi tinggi terhadap dampak yang ditimbulkan perubahan iklim terhadap semua aspek kehidupan, termasuk di dalamnya ekosistem danau. Kemampuan prediksi itu dapat dicapai dengan pengetahuan yang memadai tentang perubahan iklim dan proses yang terjadi pada ekosistem danau. Kondisi ini menjadi modal berharga dalam melakukan kajian komprehensif untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap ekosistem danau, dan mengembangkan konsep pemanfaatan sumber daya perairan danau yang adaptif terhadap perubahan iklim.

PENDAHULUAN

Dewasa ini isu lingkungan yang paling sering mengemuka adalah perubahan iklim. Pada dasarnya perubahan iklim merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Hasil temuan ilmiah menyatakan bahwa kegiatan manusia ikut berperan dalam pemanasan global sejak pertengahan abad ke-20. Pemanasan global tersebut akan terus meningkat dengan percepatan yang lebih tinggi pada abad ke-21 apabila tidak ada upaya untuk menguranginya. Pemanasan global tersebut mengakibatkan perubahan iklim dan kenaikan frekuensi maupun intensitas iklim ekstrim. Rata-rata tahunan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia mengalami penurunan dan di lain tempat mengalami peningkatan, dan masa musim hujan/ kemarau mengalami pergeseran. Musim hujan semakin pendek namun intensitas hujan amat tinggi.

Akibatnya, sumberdaya air, yang merupakan sumberdaya alam paling penting bagi kehidupan, terancam keberadaannya. Diperkirakan ada terjadi peningkatan defisit air akibat meningkatnya evaporasi. Dikhawatirkan keadaan akan lebih parah untuk wilayah-wilayah yang rata-rata curah hujannya menurun.

Perubahan iklim tersebut diprediksi akan memberikan tekanan pada lingkungan perairan darat termasuk perairan danau yang mengakibatkan perubahan kemampuan produktivitasnya, kualitas dan kuantitas air, hingga bencana keairan dalam beberapa dekade mendatang. Kualitas air akan mengalami perubahan akibat perubahan iklim dalam berbagai cara. Kenaikan suhu walaupun terlalu tinggi, dapat memberikan dampak yang negatif. Iklim global merupakan suatu sistem yang rumit dan pemanasan global akan berinteraksi dengan berbagai pengaruh lainnya, tetapi perubahan ini akan semakin memperparah berbagai masalah iklim yang sudah ada seperti ancaman banjir, kemarau panjang, angin kencang, longsor, dan kebakaran hutan, dll. Perubahan iklim akan mengubah kualitas dan kuantitas sumber daya alam dan ekosistem, sebagian di antaranya mungkin tidak dapat dipulihkan. Perubahan ini juga akan menurunkan keanekaragaman hayati dan memperparah kerusakan lingkungan yang sedang berlangsung.

Indonesia memiliki danau sungai-sungai, dan rawa yang diperkirakan luasnya 13,85 juta ha, yang terdiri dari 12,0 juta ha sungai dan paparan banjir, 1,8 juta ha danau alami dan 0,05 juta ha danau buatan. Jumlah sungai di Indonesia mencapai 5.590 sungai utama dengan panjang total 94.573 km; sedangkan danau di Indonesia mencapai 840 danau dan 735 situ dan 162 waduk. Wilayah perairan darat termasuk ekosistem danau merupakan tumpuan kehidupan manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya di masa kini dan masa mendatang, karena ekosistem danau sebagaimana ekosistem perairan darat lainnya menyediakan sumberdaya alam yang produktif baik sebagai sumber air baku untuk minum dan kebutuhan sehari-hari, sumber protein hewani, mineral dan energi, media transportasi, maupun kawasan wisata.

Perubahan iklim akan mempengaruhi kemampuan danau dalam penyediaan sumber daya yang produktif tersebut di atas bagi manusia. Bagaimana pengaruh perubahan iklim terhadap ekosistem danau akan diuraikan dibawah ini.

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP EKOSISTEM DANAU

A. Dampak terhadap karakteristik fisik danau

- Keterpaduan basin

Dampak dari Perubahan iklim antara lain : kenaikan suhu udara, perubahan durasi musim kemarau yang semakin lama atau musim penghujan yang cepat, dan kenaikan rata-rata paras air laut. Durasi musim kemarau yang panjang itu menyebabkan luasan/volume air permukaan semakin kecil, dan kondisi ini diperparah lagi dengan kenaikan suhu udara yang memperbesar evaporasi, sehingga mengancam ketersediaan air permukaan danau, waduk, rawa. Sedangkan durasi musim penghujan yang pendek menyebabkan bagian curah hujan yang menjadi aliran permukaan (surface run-off) semakin besar karena intensitas hujan yang semakin meningkat, sehingga ketika musim penghujan kondisi permukaan air danau, rawa, sungai meningkat secara drastis, bahkan dibeberapa daerah menyebabkan banjir (Danau Toba, Danau Tempe, Danau Semayang-Melintang, dll)

Perubahan sistem pola curah hujan dan musim berpotensi dalam pergeseran konektivitas danau. Danau2 oksbow di Kalimantan yang jumlahnya cukup banyak merupakan danau yang terhubung dengan sungai secara periodik atau permanen tergantung pada musim. Danau-danau tsb merupakan daerah tempat berlindung, tempat mencari makan, dan tempat reproduksi bagi ikan. Bila koneksi dengan sungai terputus maka ekosistem akan terganggu yang berakibat penurunan produktivitas perikanan. Conothnya adalah Kabupaten Kapuas Hulu yang memiliki 115 danau dengan luas 120.000 ha yang sebagian besar merupakan danau oksbow atau rawa baniran yang terhubung dengan sungai. Danau terbanyak dan terluas berada di Kawasan yang terkenal akan keanekaragaman hayatinya yaitu Kawasan Danau Sentarum dan merupakan situs Ramsar.Terdapat 250 jenis ikan diantaranya ikan asli dan ekonomis seperti Arwana, jelawat, belida, botia dan semah. Ciri khas TNDS adalah danau musiman, yang airnya tegantung pada cuah hujan dan aliran air dari sungai Kapuas. Hubungan danau-danau ini dengan Sungai Kapuas merupakan satu kesatuan fungsi dimana jika muka air sungai Kapuas surut maka air danau akan mengalir ke Sungai Kapuas, dan jika air sungai naik maka air akan mengalir masuk ke kawasan danau Sentarum danau mengalami fase basah dan kering karena pengaruh curah hujan di bagian hulu Sungai Kapuas. Air danau akan mengalir ke sungai Kapuas pada saat curah hujan bulanan < 250 mm. Fase-fase kering terjadi pada sejak tahun 1999 – 2004 (Y. Alexander, A.C. Saleh & A.D. Utomo).

- Neraca Air

Penurunan curah hujan sebagai variabel input komponen DAS akibat gejala penyimpangan iklim global akan mempengaruhi debit aliran sungai yang selanjutnya akan mempengaruhi level air danau yang umumnya mendapat aliran air masukan dari aliran sungai. Perubahan iklim mempengaruhi aliran sungai total tahunan dan dinamika musiman. Secara umum dampaknya sangat sederhana yaitu curah hujan yang lebih tinggi akan menghasilkan aliran sungai yang lebih besar dan curah hujan yang menurun akan mengurangi aliran sungai. Namun demikian korelasi antara perubahan aliran sungai dan curah hujan sangat berbeda pada daerah dengan iklim yang berbeda pula (Ludwig F & M. Moench, 2009).

Pergeseran presipitasi P secara relatif terhadap evaporasi E (rasio P/E) menyebabkan perubahan dalam water budget dan masa tinggal air danau (waktu yang dibutuhkan untuk mengganti seluruh air danau dengan air sungai, air tanah, dan air hujan yang masuk kedalam danau), seperti halnya kedalaman dan luasannya. Kolam dan lahan basah khusunya sangat rentan terhadap perubahan P/E karena kedalamannya yang rendah (dangkal) dan perbandingan besarnya luasan terhadap volume. Contohnya Danau Chad di Afrika mempunyai kedalaman kurang dari 7 m telah mengalami perubahan akibat pemanasan iklim di wilayah tsb, dalam beberapa dekade terakhir (Vincent, 2009). Sejak tahun 1960an terjadi penurunan curah hujan, yang menyebabkan berkurangnya luasan danau dari 25000 km2 pada tahun 1960an menjadi 1350 km2 tahun 1990an. Efek iklim bercampur dengan meningkatnya kebutuhan irigasi selama kondisi kekeringan ini, dan penggunaan air oleh manusia yang mencapai setengah dari penurunan luas danau.

- Suhu dan stratifikasi

Suhu udara yang lebih hangat akan menghangatkan air permukaan melalui konduksi yang mengtranfer panas. Meskipun hal ini akan diikuti peningkatan kecepatan evaporasi. Stratifikasi danau juga diduga akan terpengaruh dengan adanya perubahan iklim. Pengaruh tersebut adalah dalam hal ketebalan dan pergeseran lapisan termoklin, serta tingkat dan laju kelarutan gas-gas di dalam air. Berdasarkan hasil penelitian LIPI pada beberapa danau di Indonesia juga dijumpai stratifikasi yaitu Danau Matano, Danau Toba dan Danau Batur. Sejauhmana pengaruh perubahan iklim dan kenaikan suhu global terhadap pergeseran lapisan termoklin di danau yang ada di Indonesia masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam.

B. Dampak terhadap karakteristik kimia danau

Hal yang paling mendasar adalah semakin seringnya terjadi hujan lebat, yang akan menyebabkan terbawanya kontaminan dan sedimen kedalam danau atau sungai yang mengakibatkan degradasi kualitas air. Dengan demikian polusi dari pertanian dan sumber2 lainnya akan semakin memperparah pencemaran di danau atau sungai. Namun di sisi lain peningkatan aliran air selama musim hujan akan mengencerkan polutan sehingga akan memperbaiki kualitas air. Ketika aliran sungai berkurang peningkatan salinitas akan menimbulkan masalah.

Masa tinggal air di danau yang mempengaruhi komposisi kimiawi air danau dengan mengatur waktu yang tersedia untuk berlangsungnya proses biogeokimia dan fotokimia, memperpanjang akumulasi dan hilangnya materi terlarut dan material partikulat, dan durasi interaksi biogeokimia dengan sedimen danau dan daerah litoral. Pada danau yang biasanya memiliki dasar yang kondisinya anoksik dan pelepasan nutrient dari sedimen, dengan semakin panjangnya masa tinggal air yang diakibatkan berkurangnya presipitasi dan aliran masuk, maka akan menyebabkan akumulasi fosfor dan eutrofikasi. Sebagai contoh adalah Danau Maninjau yang mempunyai masa tinggal air sekitar 25 tahun.

Sebaliknya pada daerah yang mengalami peningkatan presipitasi dan aliran masuk, maka akan terjadi peningkatan pencucian (flushing) nutrien dan fitoplankton yang akan menyebabkan turunnya produktivitas alga. Pengaruh lanjutan adalah meningkatan erosi dari daerah tangkapan dan pengayaan nutrien tanah yang masuk ke danau jika badai menjadi sering terjadi.

Stratifikasi danau yang lebih stabil dan berlangsung lama akan menyebabkan gradien variabel kimia turun di kolom air. Pada danau yang mengalami pengayaan nutrien, hal ini dapat memicu pergeseran dari kondisi oksigenasi ke anoksik di dasar danau, dan dengan terlampauinya batas ini maka biasanya akan disertai peningkatan konsentrasi nutrien bagi alga, termasuk ketersediaan fosfor, dan berbagai komponen toksik, terutama H2S, kondisi anoksik juga meningkatkan hilangnya nitrogen dari ekosistem melalui proses denitrifikasi (Vincent, 2009).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dampak perubahan iklim terhadap kualitas air danau dan sungai yang masuk kedalamnya akan sangat tergantung pada evolusi aktivitas manusia di masa yang akan datang (pencemaran, eksploitasi, dsbnya).

C. Dampak terhadap karakteristik biologi danau

Meskipun semua ekosistem terancam oleh perubahan iklim, namun ekosistem akuatik merupakan salah satu yang jumlah spesies terancamnya cukup tinggi. Banyak lahan basah dengan kekayaan keanekaragaman hayati mengalami perubahan curah hujan akan mengganggu hidrologi lahan basah, sehingga mempercepat kerusakan yang ada (Milennium Ecosystem Assessment, in Ludwig et. al, 2008). Sistem presipitasi yang bervariasi akan menyebabkan perubahan pada ketersediaan air di ekosistem. Respons biologis terhadap perubahan fisika dan kimia termasuk interaksinya, umpan balik, dan respons yang seringkali nonlinear tidak memungkinkan sepenuhnya memprediksi berdasarkan pengetahuan yang ada saat ini.

Namun demikian baik pengaruh langsung maupun tak langsung dapat diidentifikasi sebagai petunjuk akan adanya dampak perubahan iklim yang sedang berlangsung. Hal ini berlangsung pada berbagai skala, yaitu perubahan yang terjadi pada keseluruhan struktur dan dinamika ekosistem, sampai ke respons fisiologi dan molekuler pada individu dan level sel yang kemudian kembali ke seluruh dinamika ekosistem. Siklus hidup biota termasuk didalamnya ketahanan hidup, pertumbuhan, reproduksi dan metabolisme, dipengaruhi adanya perubahan iklim (Choi, Jae S., 1998).

Peningkatan suhu air merupakan hal yang penting pengaruhnya terhadap ekologi danau, sungai dan komunitas biologinya. Perubahan suhu akan mempengaruhi fungsi ekosistem terutama ketika berinteraksi dengan pencemaran kimia. Ketika air yang lebih hangat berasosiasi dengan nutrien yang berlebihan yang berasal dari pupuk pertanian (yang terbawa ke danau karena hujan), maka akan dapat terjadi eutrofikasi dan ledakan pertumbuhan plankton di permukaan danau yang akan menurunkan oksigen terlarut di perairan sehingga membahayakan kehidupan organisme lainnya dalam ekosistem danau (IPCC, 2007 & Jeppesen, E et al. 2007)

Pada skala yang lebih luas, perubahan iklim berpotensi secara radikal mengubah struktur fisik ekosistem danau, yang dengan demikian menyebabkan hilangnya atau berubahnya biota akuatik. Berkurangnya luasan danau yang dangkal, menyebabkan hilangnya sebagian besar habitat, demikian pula halnya dengan danau dalam, dapat kehilangan elemen ekologi penting karena fluktuasi tinggi air. Contohnya adalah Great Lakes di Amerika Utara memiliki lahan basah pesisir yang sangat penting bagi burung migrasi, dan sebagian besar ikan di daerah ini yang sangat tergantung pada lingkungan litoral dan supralitoral untuk reproduksi. Perubahan kecil pada level danau akibat pergeseran neraca air menyebabkan lingkungan ini menjadi rawan terhadap perubahan iklim (Vincent, 2009). Perubahan konektivitas antara habitat akuatik akibat turun atau naiknya tinggi muka air akan mempengruhi komposisi spesies biota akuatik khususnya komunitas ikan. Contoh adalah danau oxbow dan rawa banjiran di daerah Kalimantan.

Perubahan cahaya dan nutrien yang tersedia karena terjadinya perubahan iklim mempunyai pengaruh secara kualitatif terhadap komposisi dan diversitas di tingkat produser primer yang pada gilirannya berpengaruh ke tingkat trofik yang lebih tinggi.Perubahan di danau akan mempengaruhi pula komposisi spesies komunitas makrofit di zona litoral, yang` berimplikasi pada burung, ikan, dan biota lainnya yang tergantung pada keberadaan tumbuhan tsb.

Banyak spesies ikan yang sensitif terhadap perubahan suhu walaupun kecil, dan adanya peningkatan suhu karena pemanasan global diduga menyebabkan pergeseran distribusi geografi berbagai taxa. Perubahan iklim juga mempengaruhi kebiasaan migrasi beberapa spesies ikan karena adanya perubahan sistem pola curah hujan dan musim berimplikasi terhadap pergeseran konektivitas danau dengan sungai yang merupakan jalur migrasi spesies tsb. Akibat terganggunya jalur migrasi ikan dari danau ke sungai atau sebaliknya maka ikan akan mengalami kesulitan untuk mencari makan atau bereproduksi sesuai tujuan migrasinya.

Banyak danau merupakan net heterotrofik dengan aktivitas respirasi (R) materi organik dari autochthonous dan allochthonous yang melebihi aktivitas fotosintesis (P). Aktivitas bakteri heterotrofik diduga akan meningkat dengan adanya peningkatan suhu, karena efek fisiologi langsung dari suhu yang berasosiasi dengan karbon organik dan nutrien yang berlebihan yang terbawa ke dalam perairan danau karena meningkatnya aliran permukaan akibat hujan dari daerah tangkapan air. Bila aktivitas respirasi (R) dari bakteri heterotrofik melebihi fotosintesis (P) semakin berlebihan, maka akan menyebabkan keseimbangan rasio P/R negatif sehingga dapat mengakibatkan danau menjadi penghasil CO2 ke atmosfer (Vincent, 2009).

Perlu juga dicermati bahwa ekosistem danau sebagai bagian dari lahan basah dan lahan basah lainnya berfungsi sebagai penyimpan dan penangkap karbon. Dari sekitar 37 juta ha lahan basah di Indonesia, 20 juta ha diantaranya berupa rawa gambut yang berfungsi sebagai penyimpan karbon. Contoh danau rawa gambut adalah Danau Sentarum di Kalimantan Barat dan Danau Zamrud di Kabupaten Siak. Ekosistem danau juga berfungsi sebagai perangkap karbon di sedimen yang berasal dari daerah tangkapan air. Dapat dikatakan bahwa peran lahan basah di ekosistem danau cukup penting dalam pengaturan perubahan iklim melalui penangkap dan pelepas karbon di atmosfer (Mitsch & Wu, 1995). Lahan basah juga merupakan penyangga dampak anomali cuaca dan iklim, karena kemampuannya menyerap banjir dan memasok air pada saat musim kemarau.

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP DANAU BERDASARKAN TIPE GENESA DANAU(Studi kasus)

Perubahan iklim yang berdampak pada kondisi air danau, tergantung pada tipe danau (vulkanik, tektonik, dan paparan banjir), perbandingan luas danau dengan luas DTA (daerah tangkapan air), dan ketinggian dari permukaan laut. Danau paparan banjir pada umumnya mempunyai ketinggian dari permukaan laut rendah dan fluktuasi muka air danau sangat dipengaruhi oleh musim, sehingga luasan danau sangat dinamis. Sedangkan danau tipe vulkanik atau tektonik pada umum mempunyai kedalam yang tinggi dan fluktuasi muka air danau juga relatif kecil. Danau yang dalam dan memiliki volume yg besar sensivitasnya relatif rendah terhadap stres skala besar spt variasi iklim , banjir, perkembangan suhu, stres oksigen dan perubahan ph, karena kemampuan sebagai penyangga terhadap tekanan tersebut. Untuk menganalisis dampak perubahan iklim pada danau dianalisa dua tipe danau, yaitu : Danau Maninjau-Sumatera Barat sebagai danau vulkanotektonik dan Danau Semayang & Melintang-Kalimantan Timur sebagai danau tipe paparan banjir (Haryani, 2008).

Danau Maninjau


Danau Maninjau seluas 9.737 ha, kedalaman maksimum 165 meter, ketinggian danau sekitar 460 m dpl dan DTA seluas 14.454 ha. Danau ini merupakan danau tipe vulkano-tektonik, yang berfungsi untuk pembangkit tenaga listrik, sumber air irigasi, budidaya ikan dalam keramba, dan merupakan tujuan wisata yang sangat menarik.

Berdasarkan penelitian pasokan air/debit inflow bulanannya Danau Maninjau sebagian besar (68 – 95 %) berasal dari air tanah yang berada di luar DTA danau. Perbedaan muka air danau antar musim penghujan dengan kemarau tidak begitu besar. Tetapi perlu diwaspadai bahwa berdasarkan data tinggi muka air danau maksimum dan minimum dalam kurun waktu 1984-2001 menunjukkan perbedaan yang cenderung membesar (Gambar 1). Kondisi ini sejalan dengan kecenderungan penurunan curah hujan tahunan yang terjadi di daerah sekitar Danau Maninjau. Walaupun demikian ada faktor lain yang diduga mempengaruhinya, yaitu alih fungsi lahan yang memperkecil daya resap air hujan, dan peningkatan intensitas hujan, sehingga air hujan lebih banyak menjadi surface run-off.

Pada masa yang akan datang perubahan iklim akan memperburuk kondisi air danau. Pada musim kemarau terjadi peningkatan durasi, tapi sebaliknya musim penghujan kejadiannya lebih pendek. Ketika musim kemarau pasokan air yang sudah sedikit (curah hujan kecil), diperparah lagi karena terjadi peningkatan suhu udara maka menyebabkan peningkatan kehilangan air danau oleh evaporasi, sehingga tinggi muka air danau semakin berkurang. Tapi ketika musim hujan, intensitas hujan semakin tinggi, menyebabkan surface run-off semakin besar, mengingat kemampuan lahan tetap bahkan semakin kecil untuk menyerap hujan, sehingga tinggi muka air meningkat secara tajam.

Gambar 1. Curah hujan dan fluktuasi muka air Danau Maninjau

Danau Semayang – Melintang

Danau Semayang Melintang merupakan danau paparan banjir, yang mempunyai kedalaman maksimum 5,5 meter dengan fluktuasi tahunan sekitar 4 meter. Luas danau 2.247 km2 dan ketika musim kemarau dapat menyurut hanya tinggal kurang dari separuhnya. Danau ini merupakan subsistem hidrologi sungai yang terbesar di Kalimantan, yaitu Sungai Mahakam.

Seperti diuraikan di atas bahwa tinggi muka air danau paparan banjir sangat dipengaruhi oleh musim, tetapi fluktuasi air ini ternyata secara alami meningkatkan produktivitas perikanan. Hasil estimasi produktivitas perikanan di Danau Semayang Melintang mencapai 75 milyar rupiah/tahun. Dampak perubahan iklim pada danau paparan banjir (Danau Semayang Melintang) mempunyai pola yang mirip sama dengan danau volkanotektonik (Danau Maninjau), tetapi fluktuasi muka air danau lebih besar, sehingga sangat mempengaruhi ekosistem danau.

Pada saat musim kemarau luas permukaan danau menyusut lebih kecil lagi (karena dampak perubahan iklim menyebabkan musim kemarau lebih panjang), ditambah lagi suhu udara juga meningkat, sehingga penguapan dari danau juga bertambah besar. Kondisi ini diperparah lagi dengan pengaruh dari kenaikan muka air laut yang diduga semakin besar sehingga dikhawatirkan pengaruh air pasang dapat mencapai danau-danau paparan banjir di Kalimantan. Kalau ini terjadi akan merubah ekosistem danau secara keseluruhan.

Hasil analisis curah hujan menunjukkan kecenderungan pola peningkatan hujan deras semakin besar terjadi di wilayah hulu DAS Mahakam. Intensitas hujan semakin meningkat tapi disisi lain kemampuan tanah/lahan untuk menyerap air relatif tetap bahkan bisa berkurang, akibatnya potensi banjir semakin besar. Selain itu peningkatan intensitas hujan ini juga akan meningkatkan energi kinetik butiran hujan terhadap permukaan tanag, sehingga erosi juga semakin besar. Kondisi ini akan meningkatkan laju pendangkalan danau-danau di Kalimantan semakin cepat.

ANTISIPASI PENGARUH PERUBAHAN IKLIM TERHADAP EKOSISTEM DANAU DI INDONESIA

Perubahan iklim akan mengubah kualitas dan kuantitas sumber daya alam dan ekosistem, sebagian di antaranya mungkin tidak dapat dipulihkan. Perubahan ini juga akan memperparah kerusakan lingkungan yang sedang berlangsung. Terkait dengan kondisi tersebut, tidaklah berlebihan bila dinyatakan bahwa diperlukan kemampuan prediksi tinggi untuk antisipasi dampak yang ditimbulkan perubahan iklim terhadap semua aspek kehidupan, termasuk di dalamnya lingkungan perairan darat. Kemampuan prediksi itu tentu saja hanya dapat dicapai dengan pengetahuan yang memadai tentang perubahan iklim itu sendiri dan proses yang terjadi pada lingkungan perairan darat.

Kondisi tersebut menjadi modal berharga dalam rangka melakukan kajian secara komprehensif untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap lingkungan perairan darat, dan Mengembangkan konsep pemanfaatan sumber daya perairan yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap ekosistem danau maka diperlukan strategi pengelolaan danau yang diuraikan dbawah ini.

Strategi yang pertama adalah dampak perubahan iklim terhadap ekosistem danau harus dievaluasi secara seksama dan dipetakan dengan mengidentifikasi dampak perubahan iklim yang akan dan telah terjadi di danau. Keragaman permasalahan yang khas untuk masing-masing wilayah perlu dipayungi dalam satu koordinasi kebijakan pengelolaan ekosistem danau secara nasional yang utuh. Kebijakan tersebut menjadi acuan bersama penyusunan program lintas sektoral dan lintas regional dalam upaya pengelolaan ekosistem danau dan antisipasi berbagai dampak termasuk akibat perubahan iklim.

Kedua, menetapkan danau2 yang kritis terhadap perubahan lingkungan dan iklim dan diprioritaskan dalam melakukan upaya pengelolaan secara terpadu. Wilayah yang dikelola bukan hanya badan air danau dan reservoar tetapi meliputi seluruh wilayah, mulai dari badan air danau, pesisirnya, sub-wilayah sungai di hulu maupun di hilir, hingga keterpaduan pola pengelolaan dalam satu Wilayah Sungai.

Ketiga, menetapkan zonasi kawasan danau menjadi kawasan pemanfaatan dan kawasan konservasi serta kawasan penyangga sehingga pengelolaan menjadi lebih fokus tetapi terintegrasi dengan menjaga kesatuan fungsi dan keterpaduan atara ekosistem danau, sungai, hutan, dan biota disekitarnya serta manusia sebagai bagian dari ekosistem. Ekosistem danau sangat erat kaitannya dengan ekosistem alam di sekitarnya karena daerah disekitar danau merupakan daerah tangkapan air yang berfungsi sebagai pengumpul air yang merupakan sumber air danau. Keterkaitan antara badan air danau dengan lingkungan sekitarnya termasuk daerah tangkapan air demikian eratnya sehingga gangguan pada suatu ekosistem akan berdampak negatif pada ekosistem lainnya, demikian pula terhadap flora, fauna serta masyarakat yang ada di sekitarnya yang menjadi bagian dari ekosistem. Oleh karena itu danau sebagai unit ekologis tidak dapat dipisahkan pengelolaannya berdasarkan batasan administratif serta diperlukan satu dasar pengetahuan yang komprehensif untuk dapat mengelola danau secara baik dan benar sehingga pemanfaatan danau dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Keempat, membangun sistem informasi dan basis data serta mengembangkan system online monitoring kondisi kualitas dan kuantitas air danau sebagai upaya peringatan dini terhadap perubahan lingkungan ekosistem danau. Dengan adanya sistem ini akan mempercepat kesiapan dalam mengantisipasi kenmungkinan bencana yang akan terjadi di danau.

Ke lima, peningkatan pemahaman dan persepsi menyeluruh oleh pemangku kepentingan serta pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat, sehingga semua fihak terutama pemerintah daerah dan masyarakat sekitar danau sebagai bagian independen dapat menjadi penentu yang efektif dalam pengelolaan ekosistem danau berkelanjutan

Ke enam, perlu dibentuk suatu lembaga koordinasi sebagai pengelola danau di tingkat daerah dan nasional yang mengkoordinir kepentingan seluruh pihak terkait dalam pengkajian, monitoring, supervisi pengelolaan ekosistem danau dan perubahan iklim. Lembaga ini mempunyai akses keberbagai sumber informasi terkait masalah danau dan memiliki kemampuan merancang perencanaan pemanfaatan danau jangka panjang hingga pengelolaan dan evaluasinya dengan melibatkan berbagai pengguna danau (semua instansi terkait dan masyarakat). Dengan terintegrasi maka akan diperoleh luaran yang menyebabkan beban dan biaya pembangunan yang lebih rendah.

PENUTUP

Perubahan iklim akan memberikan tambahan tekanan yang lebih besar pada sejumlah tekanan yang telah ada terhadap ekosistem danau (misalnya berbagai pemanfaatan danau, pencemaran dan kerusakan lingkungan lainnya dengan semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk) dalam upaya pembangunan. Kerugian secara ekonomi dalam jangka panjang akan lebih besar apabila tidak dilakukan upaya-upaya mengurangi laju dampak perubahan iklim maupun aktivitas antropogenik lainnya yang menyebabkan menurunnya kemampuan danau dalam menjalankan fungsi ekologinya. Untuk itu sangat mendesak untuk dilakukan berbagai upaya penyelamatan ekosistem danau dan lingkungan sekitarnya. Selain itu juga perlu dilakukan berbagai penelitian yang mendalam terkait masalah tsb. Salah satu penelitian yang mendasar untuk mengetahui dampak perubahan iklim adalah dengan kajian paleolimnologi dengan membaca perubahan iklim dan lingkungan di masa lalu, terekam dalam endapan-endapan danau.

Proses yang mempengaruhi kerusakan ekosistem danau cenderung semakin rumit, sehingga pemecahannya membutuhkan integrasi dengan disiplin-disiplin ilmu lain. Dengan mensinergikan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi maka dapat diantisipasi perubahan yang kemungkinan akan terjadi. Oleh karena itu sangatlah penting bagi Indonesia membangun suatu jaringan informasi antara penelitian dan instansi terkait dan masyarakat untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim yang paling signifikan dan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap ekosistem danau. Otorisasi dari jaringan ini dapat memfasilitasi koordinasi kegiatan penelitian di bawah satu payung. Dengan demikian dampak perubahan iklim dan aktivitas lainnya yang mempengaruhi ekosistem danau dapat diantisipasi semaksimal mungkin sehingga sumberdaya perairan danau dapat terus dimanfaatkan secara berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Alexander Y., A.C. Saleh & A.D. Utomo. 2008. Karakteristik perairan pedalaman dan potensi sumberdaya perikanan di Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan BArat. Proceedings International Conference on Indonesian Inland Waters. Research Institute for Inland Fisheries,
  • Choi, Jae S. 1998..Lake Ecosystem Responses To Rapid Climate Change, Environmental Monitoring And Assessment 49:281-290)
  • Haryani, Gadis Sri, 2008. Inland Water and Climate Change. International Workshop on Climate Information Services in Supporting Mitigation and Adaptation to Climate change in Energy and Water Sectors. Jakarta.
  • Hery Harjono, Gadis Sri Haryani, & Heru Santoso Strategi Mengatasi Perubahan Iklim Terhadap Pengurangan Resiko Dari Ancaman Pemanasan Global. 2007. Forum Dialog Publik “ Penanggulangan Dampak Pemanasan global”, 27 Juli 2007, Mataram, NTB, Pusat Informasi Politik, Hukum dan Keamanan, Departemen Komunikasi dan Informatika.
  • Jeppesen, E., Meerhoff, M., Jakobsen, B.A., Hansen, R.S., Søndergaard, M., Jensen, J.P., Lauridsen, T.L., Mazzeo, N., Branco, C. 2007. Restoration of shallow lakes by nutrient control and biomanipulation. the successful strategy varies with lake size and climate. Hydrobiologia 581(1): 269-285.
  • Ludwig F & M. Moench. 2009.The Impact of climate change on Water dalam Climate change adaptation in the water sector. Eds. Ludwig, Pavel Kabat, Henk van Schaik & Michael van der Valk.. 274 p.
    Vincent, W.F. 2009. Effects of Climate change onLakes. Elsevier Inc. 55-60 p.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: