Fitoremediasi (1)

FITOREMEDIASI, UPAYA MENGOLAH AIR LIMBAH DENGAN MEDIA TANAMAN

DIREKTORAT PERKOTAAN DAN PERDESAAN WILAYAH BARATDITJEN TATA PERKOTAAN DAN TATA PERDESAAN DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH, JAKARTA, 27 OKTOBER 2003

Sumber: http://www.ampl.or.id/

I. LATAR BELAKANG

Dalam salah satu surat kabar nasional memuat satu tulisan yang berjudul “Kualitas Air di Bali Alami Penurunan” dimana diulas pula keberhasilan Propinsi Bali dalam mengembangkan proses Waste Water Garden (WWG) yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia. Konsep pengolahan limbah domestik ini telah diterapkan di Kantor Gubernur di Renon Denpasar, Kantor Kecamatan Kuta, Sekolah Sunrise School, dan beberapa hotel serta restoran di Bali.

Tertarik dengan tulisan tersebut beberapa staf dari Dit.PP Wilbar melakukan kajian lebih mendalam baik melalui diskusi maupun kunjungan lapangan langsung pada tanggal 7-8 Februari 2002 yang lalu serta diskusi teknis lebih mendalam dengan pihak Bapedalda Propinsi Bali dan Kabupaten Badung dr. I Gede Ketut Ranayana dan I GDE M. Sudira ,SPd, MM; upaya pengolahan limbah domestik yang dilakukan oleh mereka cukup menarik untuk dikaji lebih jauh dan kiranya dapat diterapkan di beberapa lokasi ditempat lain.

Konsep mengolah air limbah dengan menggunakan media tanaman atau lebih populer disebut “fitoremediasi” telah lama dikenal oleh manusia, bahkan digunakan juga untuk mengolah limbah berbahaya (B3) atau untuk limbah radioaktif.

Beberapa majalah dan jurnal ilmiah di beberapa negara telah pula membahas dengan detail bagaimana proses remediasi ini dapat menolong manusia untuk memecahkan problem lingkungannya.

II. PENGERTIAN

Phyto asal kata Yunani/greek phyton yang berarti tumbuhan/tanaman (plant), remediation asal kata Latin remediare (to remedy) yaitu memperbaiki/ menyembuhkan atau membersihkan sesuatu. Jadi fitoremediasi (phytoremediation) merupakan suatu sistim dimana tanaman tertentu yang bekerjasama dengan micro-organisme dalam media (tanah, koral dan air) dapat mengubah zat kontaminan (pencemar/polutan) menjadi kurang atau tidak berbahaya bahkan menjadi bahan yang berguna secara ekonomi.

Proses dalam sistim ini berlangsung secara alami dengan enam tahap proses secara serial yang dilakukan tumbuhan terhadap zat kontaminan/ pencemar yang berada disekitarnya

  1. Phytoacumulation (phytoextraction) yaitu proses tumbuhan menarik zat kontaminan dari media sehingga berakumulasi disekitar akar tumbuhan, proses ini disebut juga Hyperacumulation
  2. Rizofiltration (rhizo= akar) adalah proses adsorpsi atau pengendapan zat kontaminan oleh akar untuk menempel pada akar. Proses ini telah dibuktikan dengan percobaan menanam bunga matahari pada kolam mengandung zat radio aktif di Chernobyl Ukraina.
  3. Phytostabilization yaitu penempelan zat-zat contaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap kedalam batang tumbuhan. Zat-zat tersebut menempel erat (stabil ) pada akar sehingga tidak akan terbawa oleh aliran air dalam media.
  4. Rhyzodegradetion disebut juga enhenced rhezosphere biodegradation, or plented-assisted bioremidiation degradation, yaitu penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas microba yang berada disekitar akar tumbuhan. Misalnya ragi, fungi dan bacteri.
  5. Phytodegradation (phyto transformation) yaitu proses yang dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul yang kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan dengan susunan molekul yang lebih sederhana yang dapat berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri. Proses ini dapat berlangsung pada daun, batang, akar atau di luar sekitar akar dengan bantuan enzym yang dikeluarkan oleh tumbuhan itu sendiri. Beberapa tumbuhan mengeluarkan enzym berupa bahan kimia yang mempercepat proses degradasi.
  6. Phytovolatization yaitu proses menarik dan transpirasi zat contaminan oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah menjadi larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya lagi untuk selanjutnya di uapkan ke atmosfir. Beberapa tumbuhan dapat menguapkan air 200 sampai dengan 1000 liter perhari untuk setiap batang.

JENIS TANAMAN YANG DIGUNAKAN DI FITOREMEDIASI.

Jenis-jenis tanaman yang sering digunakan di Fitoremediasi adalah; Anturium Merah/Kuning, Alamanda Kuning/Ungu, Akar Wangi, Bambu Air, Cana Presiden Merah/Kuning/Putih, Dahlia, Dracenia Merah/Hijau, Heleconia Kuning/Merah, Jaka, Keladi Loreng/Sente/Hitam, Kenyeri Merah/Putih, Lotus Kuning/Merah, Onje Merah, Pacing Merah/Putih, Padi-padian, Papirus, Pisang Mas, Ponaderia, Sempol Merah/Putih, Spider Lili, dll.

III. APLIKASI DI LAPANGAN

Beberapa penerapan lapangan dengan konsepsi fitoremediasi ini yang cukup berhasil diantaranya adalah:

  1. Menghilangkan logam berat yang mencemari tanah dan air tanah, seperti yang dilakukan di New Zealand, lokasi : Opotiki, Bay of Plenty. Membersihkan tanah yang tercemar cadmium (Cd oleh penggunaan pesticida) dengan menanam pohon poplar.
  2. Membersihkan tanah dan air tanah yang mengandung bahan peledak (TNT, RDX dan amunisi militer) di Tennese, USA, dengan menggunakan metode wetland yaitu kolam yang diberi media koral yang ditanami tumbuhan air dan kemudian dialirkan air yang tercemar bahan peledak tersebut. Tumbuhan yang digunakan seperti: Sagopond (Potomogeton pectinatus), Water stargas (Hetrathera), Elodea (Elodea Canadensis) dan lain-lain.
  3. Pengolahan limbah domestik dengan konsep fitoremediasi dengan metoda Wetland, seperti yang diterapkan di beberapa tempat di Bali dengan sebutan wastewater garden (WWG) atau terkenal dengan Taman Bali seperti yang terlihat di Kantor Camat Kuta, Sunrise School, dan Kantor Gubernur Bali. Wetland ini berupa kolam dari pasangan batu kemudian diisi media koral setinggi 80 cm yang ditanami tumbuhan air (Hydrophyte) selanjutnya dialirkan air limbah (grey water dan effluent dari septictank). Air harus dijaga berada pada ketinggian 7 cm atau 10 cm dibawah permukaan koral agar terhindar dari bau dan lalat/ serangga lainnya.

Untuk menghindari kloging (mampet) pada lapisan koral maka air limbah sebelum masuk unit wetland ini harus dilewatkan unit pengendap partikel discret. Berdasarkan hasil test laboratorium terhadap influen dan effluen diperoleh hasil evaluasi kinerja unit tersebut, dengan effisiensi removal sebagai berikut: BOD 80 s/d 90 % , COD 86 s/d 96 %, TSS 75 s/d 95 %, Total N 50 s/d 70 %, Total P 70 s/d 90 % , Bakteri coliform 99 %. Terdapat 27 spesies tumbuhan yang digunakan untuk Taman Bali ini diantaranya Keladi, Pisang, Lotus, Cana, Dahlia, Akar Wangi, Bambu Air, Padi-padian, Papirus, Alamanda dan tanaman air lainnya.

Pemeliharaan sistim ini sangat kecil yang umumnya hanya menyiangi daun-daun tumbuhan yang layu/kering dengan demikian maintainance cost sangat rendah. Menurut penjelasan dari pihak Sunrise School Bali yang telah dua tahun menggunakan sistim ini belum pernah terjadi cloging pada lapisan koral dengan void ratio hanya 40 % untuk ukuran koral hanya 5mm s/d 10mm.

Pada dasarnya proses yang terjadi pada wetland ini sangat alami artinya microorganisme dan tanaman membentuk ecosystem sendiri untuk berhadapan dengan jenis polutan yang masuk, jadi tingkat adaptasi/akomodasi terhadap zat dan kadar pencemararan sangat baik, berbeda dengan misalnya fakultatif pond proses akan rusak (invalid) jika ada B 3 yang masuk atau jika beban pencemaran meningkat lebih dari 20 % akan terbentuk algae bloom. Namun penerapan yang digunakan umumnya terbatas pada skala kecil yaitu untuk perkantoran, sekolah dan komunal sekala RW, hal ini terjadi karena luas lahan yang dibutuhkan perkapitanya lebih tinggi dibanding sistim konvensional umumnya. Meskipun dibandingkan dengan sistim stabilization pond kebutuhan lahan jauh lebih luas.

IV. KONSEP PERENCANAAN WETLAND

Beberapa ketentuan yang diperlukan untuk membuat sistim ini yaitu:

  1. Unit wetland harus didahului dengan bak pengendap untuk menghindari cloging pada media koral oleh partikel-partikel besar.
  2. Konstruksi berupa bak/kolam dari pasangan batu kedap air dengan kedalaman ± 1 m .
  3. Kolam dilengkapi pipa inlet dan pipa berlubang untuk outlet
  4. Kolam diisi dengan media koral (batu pecah atau kerikil) diameter 5 mm s/d 10 mm. setinggi/setebal 80 cm
  5. Ditanami tumbuhan air dicampur beberapa jenis yang berjarak cukup rapat, dengan melubangi lapisan media koral sedalam 40 cm untuk dudukan tumbuhan.
  6. Dialirkan air limbah setebal 70 cm dengan mengatur level (ketinggian) outlet yang memungkinkan media selalu tergenang air 10 cm dibawah permukaan koral
  7. Disain luas kolam berdasarkan Beban BOD yang masuk per hari dibagi dengan Loading rate pada umumnya. Untuk Amerika Utara = 32.10 kg BOD/Ha per hari. Untuk daerah tropis kira-kira = 40 kg BOD/Ha per hari .

V. KESIMPULAN DAN SARAN.

  1. Fitoremediasi cukup effektif dan murah untuk menangani pencemaran terhadap lingkungan oleh logam berat dan B3 sehingga dapat digunakan untuk remediasi TPA dengan menanam tumbuhan pada lapisan penutup terahir TPA dan menggunakan sistim wetland bagi kolam leachit.
  2. Sistim pengolahan limbah dengan wetland disarankan hanya untuk skala lingkungan maksimum 2000 orang dan perkantoran atau gedung-gedung sekolah karena kebutuhan lahannya cukup tinggi antara 1.25 m2/capita s/d 2.5 m2/capita dibanding fakultatif pond hanya 0.2 s/d 0.5 m2/capita atau hanya 1/5 dari kebutuhan wetland.
  3. Biaya investasi sangat relatif terhadap ketersedian lahan, dengan demikian untuk skala kecil sangat ekonomis bila lahan dapat disediakan.
  4. Biaya O & P sangat rendah karena pemeliharaan hanya sambilan untuk pembersihan daun tumbuhan. 5. Untuk skala rumah tangga sistim ini dapat dianggap pengganti bidang resapan.

CONTOH PERHITUNGAN:

Kantor/Hotel atau bangunan gedung lain dengan pegawai/pengunjung sejumlah 1000 orang. Asumsi pemakaian air rata-rata 10 liter/pegawai/hari.

  • BOD rata-rata = 250 mg/l
  • Beban BOD = 10 l/orang/hari x 1000 orang x 250 mg/l = 2.5 kg/hari
    Kebutuhan bak pengendap sekaligus bak anaerobik 2500 g : 250 g/m3 = 10 m3, Jika kedalaman kolam 2.5 m maka luas kolam anerobik = 4m2
  • Kebutuhan wetland. Effisiensi anaerobik untuk Td = (10 M3 : 10,000 l/hari) satu hari atau 60 %. Jadi BOD influen ke wetland = 40 % x 250 mg/l = 100 mg/l. Beban BOD yang masuk = 10000 l/hari x 100 mg/l = 1 kg/hari. Loading rate = 40 kg/Ha/hari, maka luas kolam yang diperlukan = 1 kg/hari : 40 kg/Ha/hari = 250 m2
  • Kesimpulan dibutuhkan lahan kira-kira 260 m2
  • Kedalaman kolam wetland = 1 m, tebal media koral 80 cm, kedalaman air 70 cm.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Media Indonesia, Kualitas Air di Bali Alami Penurunan, 2 Desember 2002
  2. US-EPA, A Citizen’s Guide to Phytoremediation, August 1998
  3. Smithsonian Magazine, Wastewater Problem? Just Plant a Marsh, July 1997
  4. Walter H Zachritz, et al, Land Application of Wastewater in Arid Regions, Desert Research Institute, Las Vegas Nevada
  5. American Society of Plant Biologist, Phytoremediation of metals, December 30, 2002 Taman BALI ( Buangan Air LImbah) di Denpasar Bali
  6. Paul R Adler, Phytoremediation of Aquaculture Effluents, USDA-ARS, Kearneysville, West Virginia USA, February 22, 2000
  7. FJ Sikora, et al, Phytoremediation of Explosives in Groundwater Using Innovative Wetylends Based Treatment Technologies, US Army Environmental Center, Maryland USA
  8. Dynamax Inc, Phytoremediation/Bioremediation
  9. Todd Zynda, Phytoremediation, Envirotools, 2001
  10. Rustam Effendi Harahap, Phytoremediasi, 17 Februari 2003
  11. Bapedalda Propinsi Bali, Petunjuk Teknis Pengolahan Limbah Cair Dengan Sistem Wastewater Garden (WWG) Desember 2002, Denpasar Bali
  12. Planetary Coral Reef Foundation Indonesia, Wastewater Garden, Denpasar Bali
  13. Bapedalda Kabupaten Badung, Pembangunan Wastewater Garden (WWG) Taman Bunga Air Limbah (Taman Bali) di Kabupaten Badung, Denpasar, 26 Juli 2002
  14. Bapedalda Propinsi Bali dan PT Mitra Lingkungan Duta Consult, Taman Bali, mengolah air limbah menampilkan keindahan, Denpasar Bali -reh-bp-

Mengolah Air Limbah Dengan Phytoremediasi, Cara Aman, Mudah, dan Murah

Sumber: KIPRAH; Hunian, Kota, Infrastruktur dan Lingkungan; Volume 27/tahun V/April 2008

Hutan, tanah, dan air bagi kehidupan manusia umumnya dan masyarakat terutama yang menggantungkan hidupnya pada keberadaan air yang sehat sudah merupakan bagian hidup yang tak terpisahkan.

Pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi menyebabkan kenaikan volume limbah buangan yang semakin tinggi pula dan tidak diimbangi dengan penanganan limbah akan mengakibatkan penurunan (degradasi) kualitas lingkungan, tingkat kesehatan masyarakat, ekonomi, dan sosial.

Pada tahun 2003 tercatat jumlah keluhan angka diare sebesar 5,32% dari total penduduk Indonesia, berarti pada tahun 2003 terdapat 11.438.000 penduduk yang mengalami diare disebabkan kondisi lingkungan dan sanitasi yang buruk (sumber : Data BPS Tahun 2003), sehingga dibutuhkan upaya-upaya pengendalian pencemaran lingkungan dengan penekanan pada tindakan preventif melalui pengurangan beban pencemaran yang dibuang serta usaha-usaha perlindungan sumber air baku yaitu dengan mengolah limbah manusia dengan aman dan sehat.

Tuntutan pengolahan air limbah yang murah merupakan salah satu upaya dan harapan agar perairan yang bersih dan sehat dapat benar-benar terwujud.

Mahalnya zat-zat kimia untuk mengurai limbah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) konvensional, merupakan masalah utama yang menyebabkan banyak industri dan rumah tangga terutama yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) seringkali membuang limbahnya secara langsung ke sungai (bypass).

Namun, mahalnya IPAL semestinya tak lagi menjadi kendala jika pihak industri kreatif memanfaatkan tumbuhantumbuhan untuk mengurangi kadar limbah.

Selain penggunaan tumbuh-tumbuhan yang dikenal dengan ”Taman Bali” (Taman Bunga Air Limbah) bisa menghemat biaya sekira 75% dibandingkan mengolah melalui IPAL konvensional yang menggunakan zat kimia. Hijaunya dedaunan pun dapat memperindah estetika.

Konsep mengolah air limbah dengan menggunakan media tanaman ini populer disebut “Phyitoremediasi”. Phyto sendiri dapat diartikan sebagai tumbuhan/tanaman, sedangkan remediation dapat diartikan sebagai memperbaiki sesuatu atau membersihkan sesuatu.

Jadi Phytoremediation adalah suatu sistem dimana tanaman tertentu bekerjasama dengan micro-organisme dalam media (tanah, koral dan air) mengubah zat kontaminan (pencemar/pollutan) menjadi kurang atau tidak berbahaya bahkan menjadi bahan yang berguna secara ekonomi. Pada proses phytoremediasi, tanaman berfungsi sebagai alat pengolah bahan pencemar dimana limbah padat atau cair yang akan diolah, dialirkan ke dalam suatu lahan yang telah ditanami dengan tanaman tertentu yang dapat menyerap, mengumpulkan, serta mendegradasi bahan-bahan pencemar tertentu yang terdapat di dalam limbah tersebut.

Dari mekanisme penyerapan zat polutan oleh tanaman melalui Phytoremediasi dengan metode wetland diatas, Menurut Sunardi, salah seorang Pemerhati Lingkungan/Pengajar Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, sistem Phytoremediasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :

  • Phytostabilization: polutan distabilkan di dalam tanah oleh pengaruh tanaman.
  • Phytostimulation: akar tanaman menstimulasi penghancuran polutan dengan bantuan bacteri rhizosphere
  • Phytodegradation: tanaman mendegradasi polutan dengan atau tanpa menyimpannya di dalam daun, batang, atau akarnya untuk sementara waktu.
  • Phytoextraction: polutan terakumulasi di jaringan tanaman, terutama daun.
  • Phytovolatilization: polutan oleh tanaman diubah menjadi senyawa yang mudah menguap sehingga dapat dilepaskan ke udara.
  • Rhizofiltration: polutan diambil dari air oleh akar tanaman pada sistem hidroponik.

Jenis-jenis tanaman yang sering digunakan di Fitoremediasi adalah; Anthurium Merah/Kuning, Alamanda Kuning/Ungu, Akar Wangi, Bambu Air, Cana Presiden Merah/Kuning/Putih, Dahlia, Dracenia Merah/Hijau, Heleconia Kuning/Merah, Jaka, Keladi Loreng / Sente / Hitam, Kenyeri Merah/Putih, Lotus Kuning/Merah, Onje Merah, Pacing Merah/Putih, Padi-padian, Papirus, Pisang Mas, Ponaderia, Sempol Merah/Putih,
Spider Lili, dll.

Penerapan Pengolahan Limbah dengan Phytoremediasi Wastewater Gardens® (WWG) adalah sebuah solusi menarik yang murah dan alami untuk pengolahan limbah air kotor yang efektif. Sistem ini cocok untuk digunakan di masyarakat, kantor, hotel dan rumah. Wastewater Gardens® telah dibuktikan lebih efektif, terjangkau dan tahan lama dibandingkan dengan sistem pengolahan limbah biasa, khususnya di daerah tropis dan wilayah yang terpencil. Wet Land adalah salah satu metode pengolahan limbah domestik dengan konsep phytoremediasi, telah diterapkan di beberapa tempat di Bali dengan sebutan Wastewater Garden atau terkenal dengan Taman Bali seperti yang terlihat di Kantor Kecamatan Kuta, Sunrise School, dan Kantor Gubernur. (Sumber : Bapedal Kab. Badung, Pembangunan Waste Water Garden di Kabupaten Badung).

Wetland ini berupa kolam dari pasangan batu yang diisi dengan media koral setinggi 80 cm dan ditanami tumbuhan air (Hydrophyte). Selanjutnya, dialirkan air limbah (grey water dan efluent dari septictank) ke dalam kolam tersebut. Terdapat 27 spesies tumbuhan yang digunakan untuk taman Bali ini diantaranya Keladi, pisang, Lotus, Cana, Dahlia, Akar wangi, Bambu air, Padi-padian, Papirus, Alamadu dan lainnya tanaman air. Tahun 2001, setelah memantau proyek awal yang telah dikembangkan ,  BAPEDALDA Provinsi Bali telah memberikan surat rekomendasi untuk WWG dan sejak saat itu telah mendukung perkembangan proyek yang sedang berlangsung. Sebagai contoh yang bisa dilihat untuk menggairahkan masyarakat akan sistem solusi lingkungan yang menarik ini, sistem ini telah dipasang di kantor pusat BAPEDALDA di sanur, Bali. Hingga kini, beberapa sistem telah dipasang di Indonesia dari tempat-tempat pariwisata ke proyekproyek perkembangan masyarakat, resort dan rumah-rumah pribadi.

Yayasan IDEP bekerja sama dengan firma arsitektur dan Perusahaan Pembangunan PT Bali Gede memasang sistem WWG di seluruh Indonesia.

Fitoremediasi Dengan Menggunakan Eceng Gondok sebagai Pengolah Limbah Rupanya ada manfaat lain dari tanaman eceng gondok yang belum banyak diketahui orang. Tumbuhan yang lebih sering dianggap sebagai tumbuhan pengganggu kawasan perairan ini ternyata mampu menetralkan limbah rumah tangga dan industri. Bahkan manajemen PT Bali Tourism Development Cooperation (BTDC), perusahaan yang mengelola kawasan wisata Nusadua, Bali ini telah memanfaatkan eceng gondok untuk mengolah limbah cair dari hotel dan restoran di sana. Sistem kerja si eceng gondok itu sendiri sangat sederhana.

Tumbuhan ini ditanam di kolam-kolam daur ulang seluas 15 hektare. Selebihnya biarkan saja, eceng gondok akan bekerja sendiri menyerap partikel-partikel polutan yang hadir bersama air limbah. Dari penelitian lama memang telah diketahui, tanaman berakar rimpang ini mampu menyerap nitrogen, fosfat dan zat organik.

Bahkan juga bisa menyerap uranium dan mercurium, dua zat yang sangat berbahaya bila mencemari perairan.

Bagaimana ceritanya sampai tanaman ini menjadi pilihan BTDC untuk mengolah limbah cair di Nusadua, yang menghasikan 4.000 sampai 5.000 meterkubik air kotor per hari itu? Pada dasarnya memang BTDC butuh sistem pengolah limbah. Berbagai cara sudah dicoba namun kurang membawa hasil yang baik.

Terakhir perusahaan itu bahkan ingin menerapkan satu sistem baru, namun batal karena harganya sangat mahal, yakni Rp 300-Rp 400 juta. Sampai satu ketika, seorang staf di perusahaan itu menemukan sebuah brosur yang memperlihatkan bahwa eceng gondok sangat potensial sebagai pengolah limbah cair.

Maka pada 1996, ketika AA Gde Rai menjadi direktur di sana, dicobalah eceng gondok ini sebagai pengolah limbah.

Bekerjasama dengan peneliti lingkungan dari Universitas Udayana digelarlah proyek itu. Hasilnya sungguh memuaskan. Seperti pernah ditulis Tempo, kadar biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) — dua parameter yang biasa dipakai untuk mengukur kadar polutan satu cairan – menurun tajam. BOD yang semula bertengger pada angka 42 – padahal batas ambang berbahayanya 30 – turun menjadi 13 sampai 25. Sedang COD dari angka 80 turun menjadi 24 hingga 30.

Derajat keasaman air (pH) menjadi 7-8, yang berarti normal. Sebagai bukti bahwa air yang disaring eceng gondok itu sudah sehat, di perairan itu kini telah berkembang aneka satwa air seperti ikan, katak dan kepiting.

Kawasan itu juga menjadi daerah persinggahan burung-burung yang hendak bermigrasi dari Australia. Untuk keberhasilan itulah, BTDC pada tahun 1999 menerima penghargaan Kalpataru dari pemerintah. Namun bukan berati tidak ada masalah sama sekali. Eceng gondok ini tidak bisa dibiarkan begitu saja tumbuh bebas. Setiap dua bulan eceng gondok itu harus diremajakan. Karena kalau terlalu tua kemampuan menyerap polutan berkurang, sehingga kualitas air yang disaringnya pun menurun.

Tapi bagi perusahaan sebesar BTDC tentu tak terlalu mengatasi soal itu. Apalagi kalau jeli, cukup banyak manfaat bisa diperoleh dari tanaman yang hendak diremajakan tadi. Bisa untuk kompos, bahkan daunnya bisa untuk berbagai jenis kerajinan. ade syaiful r

Fitoremediasi sebagai Sebuah Teknologi Pemulihan Pencemaran, Khususnya Logam Berat

Budhi Priyanto dan Joko Prayitno

Sumber: http://ltl.bppt.tripod.com/

Abstrak

Penggunaan logam berat dan senyawa organik secara intensif di dalam industri telah menimbulkan kontaminasi di tanah dan air. Metode-metode remediasi berbasis fisika dan kimia telah dikembangkan dan diterapkan untuk mengatasi pencemaran.

Dalam dua dekade terakhir penelitian, pengembangan dan penerapan metode remediasi berbasis tumbuhan mendapat perhatian luas di Amerika, Australia, dan Eropa. Metode remediasi yang dikenal sebagai fitoremediasi ini mengandalkan pada peranan tumbuhan untuk menyerap, mendegradasi, mentransformasi dan mengimobilisasi bahan pencemar, baik itu logam berat maupun senyawa organik. Mengingat akan kekayaan hayati tumbuhan Indonesia yang besar serta ditunjang oleh iklim yang hangat sepanjang tahun, tentunya sumbangan tumbuhan untuk mengendalikan pencemaran perlu dikaji dan akhirnya diterapkan bila teknologinya ternyata menguntungkan. Berdasar pada bahan-bahan yang dipublikasi, makalah ini mencoba menguraikan dasar-dasar fitoremediasi, mekanisme bekerjanya tumbuhan dalam menyerap logam berat, serta contoh penerapan fitoremediasi.

Kata kunci: fitoremediasi, logam berat, senyawa organik, tumbuhan, hiperakumulator, pencemaran, lahan, perairan

1. Pendahuluan

Secara alami berbagai logam berat terkandung di dalam tanah, terutama tanah yang berasal dari batuan induk tertentu seperti tanah ultramafik (serpentin). Namun kegiatan manusia dapat meningkatkan level logam berat di dalam tanah dan perairan secara luar biasa. Pencemaran logam berat di lahan sekitar penambangan dan peleburan logam tercatat sangat tinggi. Hasil kajian di kawasan bekas peleburan seng di Palmerton, Pennsylvania (AS) yang telah beroperasi selama 82 tahun (Storm, et al., 1994) dan daerah pertambangan logam timbal dan seng di Kansas (AS) yang telah beroperasi selama 150 tahun (Pierzynski dan Schwab, 1993) menunjukkan, bahwa tingkat pencemaran logam berat di tanah dan air masih tetap tinggi walaupun kegiatan industri di situ telah dihentikan beberapa tahun sebelumnya.

Storm, et al. (1994) yang mengamati kandungan logam berat di dalam serasah dan tanah di kawasan bekas pabrik peleburan seng di Palmerton, pada enam tahun setelah pabrik ditutup, menemukan kadar logam kadmium sebesar 1.292 mg/kg, timbal sebesar 3.656 mg/kg, seng sebesar 28.160 mg/kg, dan tembaga sebesar 742 mg/kg. Pada bekas tambang yang telah ditutup 40 tahun sebelum pengamatan dilakukan, Pierzynski dan Schwab (1993) menemukan, bahwa timbunan batuan sisa penambangan, tailing dan slag ternyata meninggalkan sisa pencemaran yang tinggi, yaitu 1.165 mg Zn/kg, 11 mg Cd/kg dam 110 mg Pb/kg. Demikian pula tingkat pencemaran merkuri di wilayah sekitar bekas pabrik khlor-alkali yang menggunakan merkuri sebagai katalis tercatat sebesar 1,060 mg/kg atau kurang lebih 17 kali lebih tinggi daripada kadar merkuri di tanah tidak tercemar (Rule dan Iwashchenko, 1998).

Tingkat pencemaran logam berat sebagai akibat kegiatan manusia yang tidak terkendali tampak pula dari data kandungan 4 logam berat di Jakarta dan sekitarnya (Priyanto dan Suryati, 2000). Di daerah yang kegiatan industrinya menonjol dan telah berlangsung dalam jangka lama tingkat pencemaran timbal dan kromium di tanah masing-masing mencapai 206-449 mg/kg dan 56-266 mg/kg. Sebaliknya, di wilayah sub-urban yang jauh dari kegiatan industri kadar timbal dan kromium di tanah hanya sebesar 24 dan 1 mg/kg.

Konsentrasi logam berat yang tinggi di dalam tanah dapat masuk ke dalam rantai makanan dan berpengaruh buruk pada organisme. Di sekitar Palmerton, kadar Cd setinggi 10 mg/kg ditemukan di dalam ginjal tikus, sedangkan kadar Cd di dalam ginjal dan hati rusa adalah 5 kali lebih tinggi daripada yang ditemukan di tubuh rusa yang hidup di daerah 180 km dari daerah ini (Storm, et al., 1994). Demikian pula ditemukan, bahwa kadar seng yang tinggi di tanah bekas penambangan logam mengakibatkan reduksi produksi kedelai hingga 40% (Pierzynski dan Schwab, 1993).

Tindakan pemulihan (remediasi) perlu dilakukan agar lahan yang tercemar dapat digunakan kembali untuk berbagai kegiatan secara aman. Di samping metode remediasi yang biasa digunakan yang berbasis pada rekayasa fisik dan kimia, pada satu atau dua dasawarsa terakhir ini perhatian peneliti dan perusahaan komersial serta industri terhadap penggunaan tumbuhan sebagai agensia pembersih lingkungan tercemar telah meningkat. Makalah ini mencoba memberikan uraian mengenai peranan tumbuhan dalam pengendalian dan pemulihan pencemaran, dengan menitikberatkan perhatian pada logam berat.

2. Prinsip-prinsip Fitoremediasi

2.1. Definisi

Istilah fitoremediasi berasal dari kata Inggris phytoremediation; kata ini sendiri tersusun atas dua bagian kata, yaitu phyto yang berasal dari kata Yunani phyton (= “tumbuhan”) dan remediation yanmg berasal dari kata Latin remedium ( =”menyembuhkan”, dalam hal ini berarti juga “menyelesaikan masalah dengan cara memperbaiki kesalahan atau kekurangan”) (Anonimous, 1999b). Dengan demikian fitoremediasi dapat didefinisikan sebagai: penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, memindahkan, menstabilkan, atau menghancurkan bahan pencemar baik itu senyawa organik maupun anorganik.

Fitoremediasi dapat dibagi menjadi fitoekstraksi, rizofiltrasi, fitodegradasi, fitostabilisasi, fitovolatilisasi. Fitoekstraksi mencakup penyerapan kontaminan oleh akar tumbuhan dan translokasi atau akumulasi senyawa itu ke bagian tumbuhan seperti akar, daun atau batang. Rizofiltrasi adalah pemanfaatan kemampuan akar tumbuhan untuk menyerap, mengendapkan, dan mengakumulasi logam dari aliran limbah. Fitodegradasi adalah metabolisme kontaminan di dalam jaringan tumbuhan, misalnya oleh enzim dehalogenase dan oksigenase. Fitostabilisasi adalah suatu fenomena diproduksinya senyawa kimia tertentu untuk mengimobilisasi kontaminan di daerah rizosfer. Fitovolatilisasi terjadi ketika tumbuhan menyerap kontaminan dan melepasnya ke udara lewat daun; dapat pula senyawa kontaminan mengalami degradasi sebelum dilepas lewat daun.

2.2. Penyerapan Logam Berat oleh Tumbuhan

2.2.1. Tumbuhan hiperakumulator logam

Tumbuhan hiperakumulator adalah tumbuhan yang mempunyai kemampuan untuk mengkonsentrasikan logam di dalam biomassanya dalam kadar yang luar biasa tinggi. Kebanyakan tumbuhan mengakumulasi logam, misalnya nikel, sebesar 10 mg/kg berat kering (BK) (setara dengan 0,001%). Tetapi tumbuhan hiperakumulator logam mampu mengakumulasi hingga 11% BK. Batas kadar logam yang terdapat di dalam biomassa agar suatu tumbuhan dapat disebut hiperakumulator berbeda-beda bergantung pada jenis logamnya (Baker, 1999). Untuk kadmium, kadar setinggi 0,01% (100 mg/kg BK) dianggap sebagai batas hiperakumulator. Sedangkan batas bagi kobalt, tembaga dan timbal adalah 0,1% (1.000 mg/kg BK) dan untuk seng dan mangan adalah 1% (10.000 mg/kg BK).

Laporan pertama mengenai adanya tumbuhan hiperakumulator muncul pada tahun 1948 oleh Minguzzi dan Vergnano, yang menemukan kadar nikel setinggi 1,2% dalam daun Alyssum bertolonii. Sejak itu, terutama dengan mengandalkan analisis mikro terhadap spesimen herbarium, diketahui ada 435 taxa tumbuhan hiperakumulator logam yang tumbuh tersebar di lima benua dan semua wilayah iklim (Baker, 1999). Tabel 1 memperlihatkan daftar jenis tumbuhan yang diketahui mempunyai sifat hiperakumulator atau bersifat toleran terhadap logam berat. Tumbuhan hiperakumulator nikel diketahui lebih dari 150 spesies; sekitar 50 jenis ditemukan di Kaledonia Baru, 70 jenis (terutama dari 6 genera Brassicaceae) di daerah dingin di belahan utara bumi, dan sisanya ditemukan di Indonesia, Kuba, Zimbabwe, Afrika Selatan, Brazil dan Filipina (Batianoff et al., 1990).

Kemampuan sebagian tumbuhan tersebut dalam menyerap dan mengakumulasi logam berat diperlihatkan dalam Tabel 2. Di antara tumbuhan hiperakumulator tersebut, Sebertia acuminata dari Kaledonia Baru perlu mendapat catatan khusus karena kemampuannya yang luar biasa dalam mengakumulasi nikel. Sedemikian besarnya kadar nikel di dalam lateksnya sehingga bila batang dilukai, lateks yang keluar berwarna hijau-biru, yaitu warna nikel oksida (Reuther, 1998).

2.2.2. Mekanisme penyerapan logam oleh tumbuhan

Penyerapan dan akumulai logam berat oleh tumbuhan dapat dibagi menjadi tiga proses yang sinambung, yaitu penyerapan logam oleh akar, translokasi logam dari akar ke bagian tumbuhan lain, dan lokalisasi logam pada bagian sel tertentu untuk menjaga agar tidak menghambat metabolisme tumbuhan tersebut.

2.2.2.1. Penyerapan oleh akar. Telah diketahui, bahwa agar tumbuhan dapat menyerap logam maka logam harus dibawa ke dalam larutan di sekitar akar (rizosfer) dengan beberapa cara bergantung pada spesies tumbuhannya:

Perubahan pH. Pada Thlaspi cearulescens, mobilisasi seng dipacu dengan terjadinya penurunan pH pada daerah perakaran sebesar 0,2-0,4 unit (McGrath, 1997).

Ekskresi zat khelat. Mekanisme penyerapan besi lewat pembentukan suatu zat khelat yang disebut fitosiderofor telah diketahui secara mendalam pada jenis rumput-rumputan (Marschner dan Romheld, 1994). Molekul fitosiderofor yang terbentuk ini akan mengikat (mengkhelat) besi dan membawanya ke dalam sel akar melalui peristiwa transport aktif. Selain aktif terhadap besi, fitosiderofor dapat mengikat logam lain seperti seng, tembaga dan mangan. Sekarang diketahui, bahwa berbagai molekul lain berfungsi serupa, misalnya histidin yang meningkatkan penyerapan nikel pada Alyssum sp. (Kramer et al., 1996) dan suatu senyawa peptida khusus, fitokhelatin, yang mengikat selenium pada Brassica juncea (Speiser et al., 1992) dan logam lain seperti timbal, kadmium dan tembaga (Gwozdz et al., 1997).

Pembentukan reduktase spesifik logam. Di dalam meningkatkan penyerapan besi, tumbuhan membentuk suatu molekul reduktase di membran akarnya (Marschner dan Romheld, 1994). Reduktase ini berfungsi mereduksi logam yang selanjutnya diangkut melalui kanal khusus di dalam membran akar.

2.2.2.2. Translokasi di dalam tubuh tumbuhan. Setelah logam dibawa masuk ke dalam sel akar, selanjutnya logam harus diangkut melalui jaringan pengangkut, yaitu xilem dan floem, ke bagian tumbuhan lain. Untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan, logam diikat oleh molekul khelat. Berbagai molekul khelat yang berfungsi mengikat logam dihasilkan oleh tumbuhan, misalnya histidin yang terikat pada Ni (Kramer et al., 1996) dan fitokhelatin-glutation yang terikat pada Cd (Zhu et al., 1999).

2.2.2.3. Lokalisasi logam pada jaringan. Untuk mencegah peracunan logam terhadap sel, tumbuhan mempunyai mekanisme detoksifikasi, misalnya dengan menimbun logam di dalam organ tertentu seperti akar (untuk Cd pada Silene dioica [Grant et al., 1998]), trikhoma (untuk Cd [Salt et al., 1995]), dan lateks (untuk Ni pada Serbetia acuminata [Collins, 1999]).

2.3. Tumbuhan Lahan Basah Sebagai Pembersih Air

2.3.1. Tumbuhan lahan basah

Menurut Hammer dan Bastian (1989), lahan basah adalah habitat peralihan antara lahan darat dan air, jadi bukan merupakan habitat darat ataupun habitat air. Ekosistem lahan basah memiliki kemampuan alamiah untuk menghilangkan berbagai jenis limbah pada beberapa tingkat efisiensi (Nichols, 1983). Kemampuan ini terutama disebabkan karena adanya vegetasi yang berperan sebagai pengolah limbah. Karena sistem ini belum tentu dapat mengolah seluruh jenis kontaminan, maka perlu dirancang sistem lahan basah buatan untuk mengolah limbah tertentu. Jika sistem ini dapat dibuat sedemikian rupa sebagai pengolah limbah sekunder atau pengolah akhir, maka dengan menggunakan biaya konstruksi, operasi dan pemeliharaan yang lebih rendah kualitas air dapat ditingkatkan.

Berbagai jenis tumbuhan lahan basah alami telah beradaptasi dan tumbuh baik di dalam air atau tanah yang jenuh air. Hingga kini, data mengenai tanaman apa saja yang dapat digunakan, sifat tanaman lahan basah, adaptasinya pada lingkungan dan efeknya pada lingkungan terutama untuk peningkatan kualitas air masih sedikit. Dari 1000 spesies tumbuhan air yang berhasil didata (Sculthorpe, 1969), hanya sedikit jenis tumbuhan lahan basah yang digunakan dalam studi pengolah limbah (Tabel 3).

Tumbuhan lahan basah telah berevolusi agar hidup di lingkungan yang didominasi oleh air melalui adaptasi struktur dan fisiologinya, yaitu dengan membentuk jaringan lakuna atau aerenkhima di dalam akar dan batangnya untuk pertukaran gas oksigen dari bagian batang ke akar. Perubahan lain terlihat pada tumbuhan mengapung, yaitu dengan membentuk daun yang bulat penuh untuk menjaga agar tidak sobek, tekstur seperti kulit yang kuat, dan permukaan atas yang hidrofobik untuk menjaga agar tidak basah. Tidak seperti pada tanaman darat pada umumnya, stomata tumbuhan mengapung ditemukan di bagian sisi sebelah atas daun (Guntenspergen et al., 1989).

2.3.2. Fisiologi tumbuhan lahan basah

Unsur hara diserap oleh tumbuhan air melalui beberapa cara, antara lain melalui akar rambut atau daun yang termodifikasi (pada Salvinia dan Lemna) langsung dari kolom air atau dengan akar yang menancap pada sedimen.

Produktivitas tumbuhan lahan basah bergantung pada ketersediaan sumber daya, cekaman lingkungan dan adaptasinya terhadap lingkungan. Urutan produktivitas dari yang tertinggi adalah sebagai berikut: tanaman timbul > tanaman mengapung > tanaman dalam air.

Faktor lingkungan yang mempengaruhi distribusi spesies dan pertumbuhan tumbuhan di lahan basah antara lain:

Kedalaman air yang berkorelasi dengan pasokan oksigen dan cahaya (Guntenspergen et al., 1989).

Laju aliran air mempengaruhi ketersediaan oksigen dan hara. Laju aliran air yang meningkat juga berpengaruh terhadap penurunan efek toksik dari senyawa-senyawa dalam substrat (Sparling, 1966).

Untuk tanaman tenggelam, sedimen tersuspensi mempengaruhi kuantitas dan kualitas dari komposisi substrat dan cahaya.

Komposisi substrat berpengaruh terhadap kedalaman perakaran; tanah dengan kadar organik tinggi bisa menyebabkan kondisi anaerobik dan menyebabkan logam (seperti besi dan mangan) berubah menjadi senyawa terlarut yang toksik (Haslam, 1978).

Suhu air dan udara mempengaruhi reaksi biokimia dan dapat menghambat pertumbuhan tanaman bila batas toleransi suhu terlampaui (Barko et al., 1982).

2.3.3. Tumbuhan lahan basah sebagai pengolah limbah

Ekosistem lahan basah memiliki kemampuan alamiah untuk menghilangkan pencemar organik. Kemampuan ini terutama disebabkan karena adanya tumbuhan lahan basah yang berperan sebagai pengolah limbah hingga memenuhi kriteria baku mutu limbah. Pengetahuan tentang pengaruh lingkungan terhadap tumbuhan lahan basah merupakan kunci untuk menentukan jenis vegetasi yang cocok dipakai pada sistem pengolah limbah.

Tumbuhan timbul dipakai untuk pengolah limbah karena tumbuhan tersebut mengasimilasi senyawa organik dan anorganik dari limbah. Tumbuhan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi dan tajuk yang besar dapat menyimpan bermacam hara mineral. Pada media kerikil, pertumbuhan tanaman timbul dapat menurunkan konsentrasi hara mineral (Laksham, 1979; Finlayson dan Chick, 1983; Bowmer, 1987). Rizoma dan akar Phragmites australis Scirpus spp. berfungsi sebagai filtrasi dan pengendap senyawa hidrokarbon dan logam berat beracun. Tingkat konsentrasi logam berat dalam jaringan tanaman-tanaman tersebut adalah sebagai berikut: akar > rizoma > daun (Shutes et al., 1993). Tumbuhan mengapung seperti eceng gondok juga dapat menghilangkan hara dan logam berat dalam jumlah yang cukup signifikan (Reddy dan DeBusk, 1985).

Pada tumbuhan timbul, oksigen yang ditransportasikan ke jaringan di bawah tanah dapat keluar dari akar dan mengoksidasi substrate di sekelilingnya. Oksidasi substrat tersebut mendukung populasi mikroba aerobik dalam rizosfir (Gersberg et al., 1986). Mikroba-mikroba itu memodifikasi hara, ion logam (misalnya besi dan mangan dioksidasi dan diimmobilisasi) dan senyawa organik. Metabolisme mikroba secara aerobik juga mendetoksifikasi senyawa-senyawa yang beracun bagi tanaman.

3. Penerapan Fitoremediasi

Sesungguhnya ide mengenai penggunaan tumbuhan sebagai agensia pembersih lingkungan bukan hal yang baru. Sejak lama kita telah mengenal manfaat tumbuhan sebagai “pengusir zat beracun dari udara” sehingga adanya tumbuhan dianggap sebagai penyegar udara di sekitarnya. Dengan makin dipahaminya fisiologi dan genetika tumbuhan, maka pemanfaatan tumbuhan sebagai agensia pembersih lingkungan dapat makin diperluas cakupannya dan diperhitungkan manfaatnya dari segi rekayasa serta nilai ekonominya.

3.1. Tumbuhan Darat untuk Remediasi Lahan Terkontaminasi

Pemanfaatan tumbuhan untuk remediasi lingkungan sangat ditentukan oleh pemahaman tentang penyerapan logam serta penyerapan dan atau degradasi senyawa organik oleh tumbuhan. Pada dasawarsa terakhir terjadi akumulasi yang cepat tentang pengetahuan mengenai aspek-aspek fisiologi tersebut. Chaney dan koleganya dari USDA-ARS yang aktif meneliti dan mengembangkan manfaat tumbuhan untuk remediasi logam telah mengidentifikasi karakteristik penting, sebagai berikut (Chaney et al., 1997):

Tumbuhan harus bersifat hipertoleran agar dapat mengakumulasi sejumlah besar logam berat di dalam batang serta daun.

Tumbuhan harus mampu menyerap logam berat dari dalam larutan tanah dengan laju penyerapan yang tinggi.

Tumbuhan harus mempunyai kemampuan untuk mentranslokasi logam berat yang diserap akar ke bagian batang serta daun.

Seperti telah dikemukakan di muka, beberapa jenis tumbuhan mempunyai sifat hiperakumulator yang luar biasa. Namun biasanya tumbuhan yang teradaptasi di tanah berkadar logam tinggi dan toleran terhadap logam mempunyai sifat tumbuh lambat. Karakter manakah yang lebih penting, sifat “hiperakumulator tetapi tumbuh lambat” atau “tumbuh cepat tetapi toleransi medium”, memang bisa menjadi bahan perdebatan bila sudah sampai pada persoalan memilih jenis tumbuhan yang sesuai. Kelompok di USDA-ARS (Chaney et al., 1997) yakin bahwa hipertoleransi lebih penting daripada biomassa tinggi, dengan alasan sebagai berikut. Dalam kondisi optimum, Brassica juncea dapat menghasilkan hingga 20 t/ha/musim tanam biomassa kering. Tanaman ini mampu mengakumulasi Zn dan Cd, namun pertumbuhannya akan terhambat hingga separuhnya bila kadar Zn dalam biomassa mencapai 500 mg/kg. Dengan demikian pada tingkat hasil biomassa sebesar 10 t/ha, tanaman ini hanya mampu mengambil 5 kg Zn/ha. Di pihak lain Thlaspi cearulescens dapat mengakumulasi hingga 25.000 mg Zn/kg tanpa reduksi hasil. Dengan demikian bahkan pada hasil panen hanya sebesar 5 t/ha, jumlah seng yang ditarik dari dalam tanah mencapai 125 kg/ha atau 25 kali yang dicapai oleh Brassica juncea. Penggunaan tumbuhan hiperakumulator juga lebih menguntungkan bila kita harus mendaur ulang logam yang telah dihimpun di dalam biomassa tumbuhan. Karena dengan kadar akumulasi tinggi, biomassa yang harus ditangani jelas jauh lebih sedikit.

Di pihak lain, usaha untuk meningkatkan akumulasi logam berat, khususnya timbal, telah dilakukan di beberapa laboratorium. Ilya Raskin dan kolega di AgBiotech Center berusaha menaikkan tingkat akumulasi Pb oleh Brassica juncea dengan memberikan zat pengkhelat ke dalam tanah (Blaylock et al., 1997). Hasilnya menunjukkan, bahwa dengan memberikan khelator EDTA ke dalam tanah yang mengandung 600 mg Pb/kg, tumbuhan Brassica juncea mampu mengakumulasi Pb hingga 1,5% biomassanya. Dengan demikian bila dianggap hasil biomassa adalah 12 t/ha, maka sebanyak 180 kg Pb/ha dapat diambil dari dalam tanah. Untuk mencapai hasil yang tinggi ini tambahan biaya untuk pemberian EDTA diperhitungkan sekitar US$7,50/t tanah yang digarap. Hasil penelitian Scott Cunningham dan kolega di DuPont mendukung penemuan Raskin dan kawan-kawan tersebut (Huang et al., 1997). Dalam percobaan di tanah yang terkontaminasi, penambahan EDTA ke dalam tanah dapat meningkatkan akumulasi Pb pada jagung dan Pisum sativum dari 500 mg/ka menjadi >10.000 mg/kg (setara dengan >1% BK). Nilai akumulasi sebesar itu dianggap sebagai batas ekonomis bagi fitoremediasi.

Dari pembahasan di atas tampak, bahwa untuk mencapai fitoremediasi yang efisien sesungguhnya dapat dilakukan dua pendekatan, yaitu menggunakan tumbuhan hiperakumulator yang sesuai dan menerapkan teknik budidaya serta manipulasi pertumbuhan yang tepat. Dengan usaha manipulasi genetika serta agronomi, biomassa tumbuhan hiperakumulator dapat ditingkatkan; demikian pula tumbuhan yang menghasilkan biomassa banyak dapat ditingkatkan daya akumulasi logamnya dengan manipulasi agronomi.

Sementara para ahli terus berusaha mencari tumbuhan hiperakumulator yang sesuai, beberapa proyek terapan telah dicoba. Phytotech, Inc. telah melakukan percobaan terapan di lapangan untuk mengambil logam berat dan radioaktif dari dalam tanah di AS dan Ukraina (Anonimous, 1999). Proyek di Trenton, NJ, berhasil mereduksi kandungan timbal di dalam tanah ke level di bawah ambang batas untuk pemukiman (400 ppm). Pada proyek lain di Boston, metode fitoekstraksi berhasil menurunkan kadar timbal dalam tanah dari 1.200 ppm menjadi <600 ppm dalam 6 musim tanam. Sukses yang serupa diperoleh di lokasi industri di Findlay, Ohio, yang berhasil menghilangkan kadmium dan seng. Proyek Phytotech yang menarik adalah penghilangan strontium dan cesium radiokatif di Reaktor Nuklir Chernobyl di Ukraina. Proyek serupa untuk menghilangkan uranium dari limbah cair prosesing uranium di Ashtabula, Ohio, mengandalkan pada kemampuan tanaman bunga matahari untuk mengambil dan mengakumulasi uranium dari air limbah. Dengan kultur air tersebut dicapai faktor bioakumulasi sebesar 30.000 sehingga hasil akhirnya memenuhi standar kualitas air EPA.

Selain mempunyai kemampuan menyerap logam berat, tumbuhan mampu menyerap dan mendegradasi zat organik serta hara. Kemampuan ini telah dimanfaatkan dalam pengendalian serta pemulihan lingkungan yang tercemar. Di dalam aplikasi di lapangan sering berbagai jenis tumbuhan dipadukan mengingat keunggulan yang dipunyai oleh tiap jenis (Schnoor et al., 1995). Contoh aplikasi yang telah dilakukan di lapangan meliputi reduksi berbagai senyawa organik seperti atrazin, chlordane, chlorinated solvent, nitrobenzena, trinitrotoluena (TNT), trinitroetilena, pentakhlorofenol, dan phenanthrene; serta senyawa anorganik seperti nitrat dan amonium. Sebagian besar dari aplikasi ini adalah operasi skala penuh di lapangan.

Di antara jenis pohon, poplar (Populus deltoides) dan willow (keduanya dari familia Salicaceae) mendapat perhatian khusus karena perakarannya yang dalam dan kemampuannya mendegradasi berbagai zat organik (Schnoor et al., 1995). Di Iowa, 4 barisan poplar hibrida (8 m lebarnya dengan 10.000 tanaman/ha) ditanam untuk melindungi sungai dari pencemaran yang datang dari ladang pertanian di sekitarnya. Hasilnya terjadi penurunan kadar nitrat dari 50-100 ppm menjadi <5 ppm. Pada skala pilot, terbukti pula poplar mampu mereduksi atrazin sebesar 10-20%. Pada proyek lain di Beaverton, OR, poplar ditanam sebagai penutup suatu area landfill untuk mencegah penyebarab leachate. Di McMinnville, OR, aplikasi poplar secara skala penuh diterapkan untuk menyerap leachate dari suatu landfill.

3.2. Sistem Lahan Basah Buatan untuk Perbaikan Kualitas Air

3.2.1. Pemilihan jenis tanaman

Banyak desain awal pengolah limbah menggunakan tumbuhan timbul untuk mengolah limbah. Hasil analisis sistem pengolah limbah tersebut menunjukkan bahwa tumbuhan berperan sebagai tempat penyimpanan sementara, melalui proses transformasi dan pemisahan polutan yang terjadi dalam substrat (Nichols, 1983). Tumbuhan timbul sering ditanam pada media kerikil untuk merangsang serapan hara dan menciptakan kondisi yang cocok untuk oksidasi substrat, sehingga kemampuan sistem untuk mengolah limbah menjadi meningkat.

Kriteria umum untuk menentukan spesies tumbuhan lahan basah yang cocok untuk pengolah limbah belum ada, karena sistem yang berbeda memiliki tujuan dan standar yang berbeda. Hal yang patut dipertimbangkan dalam pemilihan tanaman adalah toleran terhadap limbah, mampu mengolah limbah, dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Untuk mengetahui tingkat toleransi tanaman terhadap limbah maka perlu diketahui konsentrasi nutrisi dalam limbah. Kemampuan dalam mengolah limbah meliputi kapasitas filtrasi dan efisiensi serapan nutrisi (Shutes et al., 1993). Tumbuhan timbul dan tumbuhan mengapung lebih banyak dipilih untuk digunakan dalam studi lahan basah buatan skala pilot. Jenis tumbuhan timbul Scirpus californicus, Zizaniopsis miliaceae, Panicum helitomom, Pontederia cordata, Sagittaria lancifolia, dan Typha latifolia adalah yang terbaik digunakan pada sistem lahan basah buatan untuk mengolah limbah peternakan (Surrency, 1993). Phalaris, Spartina, Carex dan Juncus memiliki potensi produksi dan daya serap hara yang tinggi, penyebarannya luas, dan toleran terhadap berbagai macam kondisi lingkungan.

Spesies tumbuhan mengapung digunakan karena tingkat pertumbuhannya yang tinggi, dan kemampuannya untuk langsung menyerap hara langsung dari kolom air (Reddy dan de Busk, 1985). Akarnya menjadi tempat filtrasi dan adsorpsi padatan tersuspensi dan pertumbuhan mikroba yang menghilangkan unsur-unsur hara dari kolom air.

Tanaman tenggelam tidak direkomendasikan pada pengolah limbah, karena produksinya rendah, banyak spesies yang tidak tahan terhadap kondisi eutrofik dan memiliki efek yang merugikan bagi alga dalam kolom air (Hammer dan Bastian, 1989). Namun tumbuhan tenggelam mungkin memiliki peran yang penting bila dikombinasikan dengan jenis tanaman lain dalam sistem pengolah limbah.

3.2.2. Konfigurasi dasar

Disain sistem lahan basah buatan umumnya terdiri dari satu atau beberapa unit yang disebut dengan sel. Ukuran masing-masing sel dalam satu sistem adalah seragam, namun bervariasi antar satu sistem dengan sistem yang lain. Jumlah sel dalam satu unit pengolah limbah bervariasi, tergantung dari jenis atau asal limbah. Untuk limbah pertanian atau peternakan, jumlah sel sebanyak 3-4 buah yang disusun secara seri menghasilkan reduksi efluen paling banyak (Surrency, 1993). Untuk limbah leachate, Martin et al. (1993) menggunakan 10 sel yang disusun seri dan limbah dialirkan ke tiap sel pada permukaan secara gravitasi. Untuk limbah septik tank, Steiner et al. (1993) mengajukan beberapa alternatif jumlah sel dalam sistem lahan basah yang bisa berupa sel tunggal, dua sel disusun seri, atau multi sel yang disusun seri ataupun paralel. Sistem sel tunggal biasanya digunakan pada lokasi dimana limbah tidak dapat dibuang dengan cara perkolasi karena aliran air terlalu deras, pada permukaan air tanah yang dangkal, tanah dangkal diatas batuan cadas, atau pada tanah lempung yang impermeabel. Sistem dua sel yang disusun seri dapat digunakan pada lokasi dimana tanah memungkinkan air limbah merembes ke bawah. Sel pertama diberi lapisan kedap air, sedangkan sel kedua tidak diberi lapisan kedap air agar air limbah dapat merembes dan mengurangi aliran buangan. Secara umum, sistem lahan basah multi sel untuk pengolah limbah memungkinkan operasi lebih fleksibel, dan dapat dibuat menurut topografi lahan.

3.2.3. Tipe aliran air

Sistem lahan basah bisa menggunakan aliran aliran air dalam (submerged flow) ataupun aliran air permukaan (surface flow). Sistem aliran air dalam biasanya mengandung substrat berpori, karena sistem ini didisain dan dioperasikan untuk menghindari air diam (standing water). Shutes et al. (1993) menganjurkan agar efluen di alirkan ke sistem secara aliran air dalam agar terjadi kontak yang maksimal antara limbah dengan substrat dan akar/rizoma tanaman, sehingga didapat hasil pengolahan limbah yang maksimal.

3.2.4. Ketinggian air

Steiner et al. (1993) merekomendasikan ketinggian air sekitar 30 cm. Sel yang dangkal dipercaya memiliki aerasi limbah yang lebih baik daripada sel yang dalam. Selain itu, akar akan lebih banyak berada di bagian atas substrat dimana oksigen tersedia lebih banyak. Pengontrolan ketinggian air juga diperlukan untuk menumbuhkan tanaman dan menghindari air diam.

3.2.5. Substrat

Substrat yang umum digunakan adalah kerikil bersih dengan ukuran tertentu. Batuan sungai berbentuk bulat lebih disukai karena menghindari substrat mengeras. Pasir atau campuran kerikil/pasir merupakan alternatif yang baik. Batuan kapur tidak direkomendasikan karena mudah mengeras. Diameter kerikil yang digunakan berkisar antara 0,5-1,3 cm, bahkan ada yang menggunakan ukuran 5,0 cm, tetapi ukuran kerikil yang kecil diyakini lebih mendukung pertumbuhan tanaman. Sel terakhir dari sistem pengolah limbah lahan basah buatan biasanya berisi filter pasir. Selain kerikil dan pasir, bisa juga digunakan substrat yang mengandung tanah lempung dan lumpur (Martin et al., 1993). Hasil penelitian Surface et al., (1993) menunjukkan bahwa sel yang berisi media campuran pasir dan kerikil (diameter pasir 0,05 cm dan diameter kerikil 0,5-1 cm) paling efektif menurunkan BOD dan NH4+ hingga 70%. Substrat yang digunakan sebaiknya dicuci lebih dahulu untuk menghindari partikel halus yang dapat menyumbat ruang pori substrat sehingga terjadi aliran permukaan. Substrat dibuat sejajar dengan permukaan air untuk mengontrol ketinggian air, memudahkan penanaman, dan menghindari air diam. Ukuran pori diantara substrat hendaknya cukup besar untuk dilewati aliran air secara fisik. Muatan bahan organik secara berlebihan dapat menyebabkan penyumbatan substrat, karena terbentuk lapisan lendir anaerobik. Steiner et al. (1993) menyarankan agar menggunakan loading organik sebesar 4 m2/kg/hari. Pada sistem lahan basah yang tidak menginginkan perkolasi air, permukaan dasar sistem bisa terdiri dari tanah lempung padat (compacted clay). Sistem ini menjaga agar ketinggian permukaan air tetap pada level yang diinginkan (Martin et al., 1993).

3.3. Prospek Fitoremediasi

Walaupun teknologi fitoremediasi masih dalam tahap perkembangan dan banyak hal belum terjawab, namun minat peneliti dan perusahaan komersial cukup besar untuk ikut di dalam pengembangan dan penerapan komersial dari teknologi ini. David Glass Associates, Inc., sebuah perusahaan konsultan fitoremediasi, mempunyai estimasi bahwa pasar AS untuk teknologi ini dapat mencapai US$25-40 juta pada tahun 2000 dan lebih dari US$100 juta pada 2005. Potensi pasar ini mendorong dibentuknya perusahaan yang khusus bergerak dalam fitoremediasi, seperti Phytotech, PhytoWorks, dan Phytokinetics (Reuther, 1999). Beberapa dari proyek di lapangan yang digarap oleh perusahaan-perusahaan komersial itu telah dibahas di atas.

Faktor pendorong bagi penerapan fitoremediasi adalah biaya yang relatif murah dibanding dengan teknologi berbasis fisika dan kimia. Cunningham dari DuPont mengestimasi biaya remediasi situs yang terkontaminasi adalah sebesar US$10-100 per m³ dengan cara in situ hingga US$30-300 per m³ dengan cara ex situ; sedangkan biaya fitoremediasi hanya sebesar US$0,05 per m³ (Watanabe, 1997). Contoh lain adalah biaya remediasi fasilitas militer yang terkontaminasi bahan peledak (Buckley, 2000). Remediasi bahan peledak dari air dengan menggunakan carbon treatment dapat mencapai US$8 juta untuk pembangunan fasilitasnya dan US$1,5 juta untuk operasi dan pemeliharaan. Di pihak lain, remediasi dengan secara lahan basah memerlukan biaya sebesar US$450.000 per ha untuk pembangunan fasilitasnya dan US$20.000 setahun untuk biaya operasi dan pemeliharaan.

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tumbuhan dan mikroorganisme yang besar. Dalam suatu pertemuan yang diadakan di LIPI, Bandung, sebuah tim peneliti dari Inggris mengungkapkan bahwa mereka berhasil mengisolasi >120 jenis mikroorganisme dari segumpal tanah yang mereka peroleh dari lantai hutan di Ujung Kulon. Dan beberapa di antara mikroorganisme tersebut mempunyai kemampuan untuk mendegradasi xenobiotika seperti senyawa organik aromatik berkhlor. Hal ini menunjukkan potensi alam Indonesia yang perlu dimanfaatkan.

Dalam hubungannya dengan pemanfaatan tumbuhan sebagai agensia pemulihan lingkungan tercemar, mengutip laporan Departemen Energi AS, Watanabe (1997) mengemukakan prasyarat, yaitu:

  • laju akumulasi harus tinggi, bahkan di lingkungan yang berkadar kontaminan rendah
  • kemampuan mengakumulasi kontaminan dengan kadar tinggi
  • kemampuan mengakumulasi beberapa macam logam
    tumbuh cepat
  • produksi biomassa tinggi
  • tahan hama dan penyakit

Sebuah tim di Direktorat Teknologi Lingkungan, BPPT, sedang mengadakan pengkajian penerapan potensi fitoremediasi untuk memulihkan lingkungan tercemar, khususnya yang tercemar logam berat. Pada pengkajian ini tahap pemilihan tumbuhan yang mempunyai daya serap dan akumulasi tinggi terhadap logam berat merupakan priorotas yang sangat penting. Karena walaupun telah disebutkan sebelumnya bahwa beberapa tumbuhan bersifat hiperakumulator, namun kebanyakan tumbuhan tersebut berasal dari wilayah beriklim sedang. Sehingga perlu dicari tumbuhan asli yang tentunya sudah beradaptasi baik dengan iklim Indonesia.

4. Kesimpulan

Fitoremediasi merupakan suatu sistem remediasi yang menarik namun masih merupakan teknologi yang sedang berada dalam tahap awal perkembangannya. Kemajuan dalam pemahaman berbagai disiplin ilmu, terutama dalam fisiologi tumbuhan dan genetika akan mendorong perkembangan teknologi ini secara lebih cepat. Sebagai suatu teknologi yang sedang berkembang, fitoremediasi telah menarik banyak pihak termasuk peneliti dan pengusaha. Di Indonesia masalah pencemaran terus dihadapi sesuai dengan kemajuan industri sehingga usaha remediasi serta pencegahan pencemaran perlu diperhatikan. Fitoremediasi diharapkan dapat memberikan sumbangan yang nyata dan praktis bagi usaha mempertahankan dan memperbaiki kualitas lingkungan di Indonesia.

5. Pustaka

Anonimous. 1999a. Phytoremediation technologies. URL: http://www.phytotech.com/index.html (Diakses 29 Mei 1999).

Anonimous. 1999b. Cool Word of the Day. The Learning Kingdom, Inc. URL: http:// http://www.cool_fact.com/archive/1999/08/24.html (24 Agustus 1999; diakses Juni 2000).

Baker, A.J.M. 1999. Metal hyperaccumulator plants: a biological resource for exploitation in the phytoextraction of metal-polluted soils. URL: http://lbewww.epfl.ch/COST837/ WG2_abstracts.html (21 April 1999; diakses Mei 2000).

Barko, J.W., Hardni, D.G., dan Matthews, M.S. 1982. Growth and morphology of submerged macrophytes in relation to linght and temperature. Can. J. Bot. 60:877-887.

Batianoff, G.N., R.D. Reeves dan R.L. Specht. 1990. Stackhousia tryonii Bailey: a nickel-accumulating serpentine-endemic species of central Queensland. Aust. J. Bot. 38:121-130.

Blaylock, M.J., D.E. Salt, S. Dushenkov, O. Zakharova, C. Gussman, Y. Kapulnik, B.D. Ensley dan I. Raskin. 1997. Enhanced accumulation of Pb in Indian mustard by soil-applied chelating agents. Environ. Sci. Technol. 31:860-865.

Bowmer, K.H. 1987. Nutrient removal from effluents by an artificial wetland: influence of rhizosphere aeration and preferential flow studied using bromide and dye tracers. Water Res. 21:591-599.

Buckley, M. 2000. Research Demonstrates Potential of Plants to Break Down Some Types of Explosives. URL: http://aec-www.apgea.army.mil:8080/prod/usaec/op/update/jan96/plants. htm (14 January 2000; diakses Mei 2000).

Chaney, R.L., M. Malik, Y.M. Li, S.L. Brown, E.P. Brewer, J.S. Angle dan A.J.M. Baker. 1997. Phytoremediation of soil metals. Publikasi di web site (Diakses 15 April 2000).

Collins, C.D. 1999. Strategies for minimizing environmental contaminants. Trends Plant Sci. 4:45.

Finlayson, C.M., dan Chick, A.J. 1983. Testing the potential of aquatic plants to treat abbatoir effluents. Water Res. 17:415-422.

Gardner, 1998. Phytoremediation. URL: http://www.rr.ualberta.ca/courses/renr575/ phyto.htm (18 Oktober 1998; diakses 24 Juni 2000).

Gersberg, R.M., Elkins, B.V., Lyon, S.R., dan Goldman, R. 1986. Role of aquatic plants in wastewater treatment by artificial wetlands. 20:363-368.

Grant, C.A., W.T. Buckley, L.D. Bailey, and F. Selles. 1998. Cadmium accumulation in crops. Ca. J. Plant Sci. 78:1-17.

Guntenspergen, G.R., F. Stearn, dan J.A. Kadlec. 1989. Wetland vegetation. Dalam Hammer, D.A. (Ed). Constructed Wetlands for Wastewater Treatment. Municipal, Industrial and Agricultural. Lewis Publishers, Michigan. hlm 73-88.

Gwozdz, E.A., R. Przymusinski, R. Rucinska, and J. Deckert. 1997. Plant cell responses to heavy metals: molecular and physiological aspects. Acta Physiol. Plant. 19:459-465.

Hammer, D.A., dan Bastian, R.K. 1989. Wetlands ecosystems: natural water purifiers?. Dalam Hammer, D.A. (Ed). Constructed Wetlands for Wastewater Treatment. Municipal, Industrial and Agricultural. Lewis Publishers, Michigan. hlm 5-10.

Haslam, S.M.1978. River Plants. Cambridge University Press, Cambridge. 396 hlm.

Huang, J.W.W., J.J. Chen, W.R. Berti dan S.D. Cunningham. 1997. Phytoremediation of lead-contaminated soils: role of synthetic chelates in lead phytoextraction. Environ. Sci. Technol. 31:800-805.

Kramer, U., J.D. Cotter-Howells, J.M. Charnock, A.J.M. Baker, J.A.C. Smith. 1996. Free histidine as a metal chelator in plants that accumulate nickel. Nature. 379:635-638. [Abstrak]Laksham, G. 1979. An Ecosystem approach to the treatment of wastewater. J. Environ. Qual. 8:353-361.

Marschner, H. dan V. Romheld. 1994. Strategies of plants for aquisition of iron. Plant Soil. 165:261-274.

Martin, C.D., Moshiri, G.A. dan Miller, C.C. 1993. Mitigation of landfill leachate incorporating in-series constructed wetlands of a closed-loop design. Dalam Moshiri, G.A. (Ed.). Constructed Wetlands for Water Quality Improvement. Lewis Publishers, Boca Raton, Florida. 533 hlm.

McGrath, S.P., Z.G. Shen, dan F.J. Zhao. 1997. Heavy metal uptake and chemical changes in the rhizosphere of Thlaspi caerulescens and Thlaspi ochroleucum grown in contaminated soils. Plant Soil. 188:153-159.

Morishita, T. dan J.K. Boratynski. 1992. Accumulation of cadmium and other metals in organs of plants growing around metal smelters in Japan. Soil Sci. Plant Nutr. 38:781-785.

Nichols, D.S. 1983. Capacity of natural wetlands to remove nutrients from wastewater. J. Water Pollut. Control Fed. 55:495-505.

Pierzynski, G.M. dan A.P. Schwab. 1993. Bioavailability of zinc, cadmium, and lead in a metal-contaminated alluvial soil. J. Environ. Qual. 22:247-254.

Prasad, N.M.V. dan H.M. de Oliviera-Freitas. 1999. Feasible biotechnological and bioremediation strategies for serpentine and mine spoils. Environ. Biotechnol. Vol. 2, No. 1, April 15, 1999. Dimuat di Electronic Journal Biotechnology. URL: http://www.ejb.org/content/vol2/issue1/ full/5/index.html (Diakses 28 Juni 2000).

Priyanto, B. dan T. Suryati. 2000. Kandungan beberapa jenis logam berat di tanah yang digunakan untuk pertanian di Jakarta dan sekitarnya. Data belum dipublikasikan.

Reddy, K.R., dan DeBusk, W.F. 1985. Nutrient removal potential of selected aquatic macrophytes. J. Environ. Qual. 14:459-462. Reeves, R.D., R.R. Brooks dan R.M. Macfarlane. 1981. Nickel uptake by Californian Streptanthus and Caulanthus species with particular reference to the hyperaccumulator S. polygaloides Gray (Brassicaceae. Amer. J. Bot. 68:708-712.

Reuther, C. 1998. Growing cleaner. Phytoremediation goes commercial, but many question remain. URL: http://sapphire.acnatsci.org/erd/ea/phyto.html. (5 Maret 1998; diakses: 4 Juni 2000)

Rule, J.H. dan M.S. Iwashchenko. 1998. Mercury concentrations in soils adjacent to a former chlor-alkali plant. J. Environ. Qual. 27:31-37.

Salt, D.E., R.C. Prince, I.J. Pickering, I. Raskin. 1995. Mechanism of cadmium mobility and accumulation in Indian mustard. Plant Physiol. 109:1427-1433. [Abstrak]

Schnoor, J.L., L.A. Licht, S.C. McCutcheon, N.L. Wolfe dan L.H. Carreira. 1995. Phytoremediation of organic and nutrient contaminants. Environ. Sci. Technol. 29:318A-323A.

Sculthorpe, C.D. 1969. The Biology of Aquatic Vascular Plants. Edward Arnold Ltd., London. 610 hlm.

Shutes, R.B., Ellis, J.B., Revitt, D.M. dan Zhang, T.T. 1993. The use of Thypa latifolia for heavy metal pollution control in urban wetlands. Dalam Moshiri, G.A. (Ed.). Constructed Wetlands for Water Quality Improvement. Lewis Publishers, Boca Raton, Florida. 533 hlm.

Sparling, J.H. 1966. Studies on the relationship between water movement and water chemistry in mires. Can. J. Bot. 4:747-758.

Steiner, G.R., Watson, J.T., dan Choate, K.D. 1993. General Design, construction, and operation guidlines for small constructed wetlands wastewater treatment systems. Dalam Moshiri, G.A. (Ed.). Constructed Wetlands for Water Quality Improvement. Lewis Publishers, Boca Raton, Florida. 533 hlm.

Surrency, D. 1993. Evaluation of aquatic plants for constructed wetlands. Dalam Moshiri, G.A. (Ed.). Constructed Wetlands for Water Quality Improvement. Lewis Publishers, Boca Raton, Florida. 533 hlm.

Storm, G.L., G.J. Fosmire dan E.D. Bellis. 1994. Persistence of metals in soil and selected vertebrates in the vicinity of the Palmerton zinc smelters. J. Environ. Qual. 23:508-514.

Surface, J.M., Peverly, J.H., Steenhuis, T.S., dan Sanford, W.E. 1993. Effect of season, substrate composition, and plant growth on landfill leachate treatment in a constructed wetland. Dalam Moshiri, G.A. (Ed.). Constructed Wetlands for Water Quality Improvement. Lewis Publishers, Boca Raton, Florida. 533 hlm.

Watanabe, M. 1997. Phytoremediation on the brink of commercialization. Environ. Sci. Technol. 31:182A-186A.

Zhu, Y.L., E.A.H. Pilon-Smits, L. Jouanin dan N. Terry. 1999. Overexpression of glutathione synthetase in Indian mustard enhances cadmium accumulation and tolerance. Plant Physiol. 119:73-79.

Sumber: http://ltl.bppt.tripod.com/sublab/lflora1.htm

One Comment on “Fitoremediasi (1)”

  1. yeni Says:

    thank y buat jurnal2nya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: