Adji Subela

Danau Limboto, si Cantik dari Gorontalo

Oleh Adji Subela

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/

Seorang tukang sampan mendayung mengantarkan tamunya ke tengah danau. Foto Adji Subela

Di ujung senja itu tampak awan berarak-arak, bergumpal-gumpal menggantung di kanopi langit di atas Danau Limboto. Kala bersampan di tengah danau ini, kita seolah merasa jangan-jangan kita ini sudah berada di beranda sorga yang sering digambarkan begitu indah tak terkirakan. Bayangkan saja, pantulan sinar matahari senja memendarkan warna lembayung, disisipi awan-awan kelabu kelam serta putih lemah memayungi kepala kita, seolah mereka hendak melindungi kita dari malam gelap yang mengadang.

Jauh di sekeliling kita, punggung-punggung bukit menaik-turun bersap-sap disaputi sinar kuning keemasan surya dari horison sebelah barat, dibumbui gemulai pohon nyiur yang menggerombol di sana-sini. Sungguh, seolah-olah kita sedang berada di kanvas raksasa almarhum pelukis Basuki Abdullah. Angin senja pun datang semilir menyumbui permukaan danau yang mulai kelam, melahirkan riak-riak putih kecil-kecil yang datang berturutan. Segar sekali hawanya.

Bayang-bayang burung belibis, pecuk ular, bangau, si raja udang, blekok putih dan lain-lainnya berarak-arak terbang melintas mencari peraduan mereka malam nanti. Bayang-bayang bagan penangkap ikan pun sepi kaku menggelap seperti goresan cat di kanvas Dega saja.

Danau Limboto yang cantik itu, sudah berabad-abad menjadi saksi bisu sejarah, dan menghidupi rakyat Gorontalo dengan kekayaan flora-faunanya serta sebongkah budaya tradisi yang menitis turun-temurun. Kini, danau itu masih mampu menghidupi paling tidak 150.000 penduduk di lima kecamatan (Limboto, Telaga, Telaga Biru, Batudaa dan Kota Barat) atau di 27 desa di sekitarnya. Mereka hidup sebagai nelayan darat, pemburu burung liar, petani di tanah timbul di pesisir danau, serta yang hidup dari penjualan jasa angkutan penyeberangan maupun pariwisata.

Dulu, menurut para tetua desa yang berdiam di sekitarnya, bermacam-macam ikan air tawar dapat kita jumpai di danau ini. Kini yang tersisa hanyalah mujair, nila, gabus atau sepat. Ikan nila dan mujair amat populer dalam menu orang Gorontalo, umumnya dibakar dan disantap pakai dabu-dabu. Bisa juga dimasak pakai bumbu bawang merah, bawang putih, cabai dan sebagainya, seperti ikan masak bumbu rujak.

Juga, danau molek itu menghasilkan sejenis udang lembut (rebon) yang khas. Udang ini bisa dimasak mentah-mentah setelah dicuci bersih, kemudian langsung diolah dengan kelapa parut, air jeruk nipis serta bumbu-bumbu lainnya. Rasanya nikmat gurih, manis, pedas dan harum. Atau bisa juga dikeringkan untuk bumbu masakan lain, misalnya untuk dicampur sambal kelapa parut mirip sambal jenggot di daerah Jawa Tengah. Biasanya ini dipakai untuk teman makan jagung bakar, dicampur dengan rajangan jantung pisang serta daun pepaya muda. Nikmat memang.

Bagan ikan yang dituduh menjadi salah satu biang pendangkalan D. Limboto.

Berbeda dengan danau lainnya, maka Danau Limboto bukanlah mirip sebuah kolam alami seperti danau lainnya. Permukaannya berupa paya-paya luas yang ditumbuhi flora air seperti eceng gondok, teratai, gelagah, dan lain-lainnya. Rumput air menjalar ke mana-mana dan kedalaman bibir danau itu kini tinggal kira-kira 30 sentimeter saja. Bila kita datang dari arah Pasar Limboto, lewat kampung Kayudurian, kita disambut para pendayung yang siap mengantar ke mana saja asal harganya cocok. Kalau hanya pergi ke bagan ikan, kita dikenai ongkos Rp1.500 saja sekali jalan. Bila hendak berkeliling danau di wilayah di dekat situ, kita perlu merogoh kocek sejumlah Rp20.000. Bila harus berkeliling sampai ke daerah seberang, bisa dikenai ongkos Rp40.000 hingga Rp50.000 dengan waktu sepuasnya.

Dari tepi pantai hingga 50 meter ke tengah, pendayung itu cukup mendorong perahunya, karena dangkal. Setelah tiba di daerah agak ke tengah, yaitu batas tepi tanaman air, maka kedalaman danau mulai meningkat. Tapi menurut catatan resmi, kedalaman di tengah danau pun kini tinggal dua meter saja!

Husein, seorang pendayung perahu menuturkan, sejak krisis moneter, pengunjung danau ini semakin menyusut. “Dulu, orang-orang bule sering datang ke sini Pak, berombongan. Waktu itu keadaan masih aman,” katanya sambil mendayung sampannya pelan-pelan.

Waktu yang paling indah untuk mengunjungi danau ini adalah pagi-pagi hari atau terlebih lagi pada saat petang. Selain tidak panas menyengat (maklum, Gorontalo dekat garis katulistiwa) juga pemandangannya lebih indah karena permainan warna alam, serta burung-burung liar mulai pulang dari pengembaraannya. Melihat burung-burung itu bebas berterbangan di danau, sungguh indah pemandangannya, dan dijamin tak akan dijumpai di mana pun di Pulau Jawa! Pada musim bunga, bunga-bunga eceng gondok yang ungu itu serta bunga-bunga semak air lainnya menebar bau wangi semerbak, melengkapi kecantikan senja itu. Terlebih bila musim bunga teratai berbunga, maka di sekitar kita akan berubah seperti di suatu tempat di kahyangan sana. Warna merah muda serta putih pucatnya, di samping hijau muda daun-daunnya, memberi nuansa yang teramat indah, bagai pusi yang belum tertuliskan.

Sayang sekali, eceng gondok belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai bahan kerajinan tangan seperti halnya di Rawa Pening, Ungaran, Jateng. Juga potensi teratai belum dimanfaatkan, seperti misalnya bijinya, sebagai bahan masakan Cina yang nikmat, atau juga daunnya untuk pembungkus nasi dimsum yang membikin selera makan meningkat.

Merana

Sayang beribu kali sayang. Danau cantik itu kini digerogoti oleh “penyakit kanker” ganas, dan sudah memasuki stadium ke empat. Kerusakan lingkungan yang parah tadi, telah mengantarkan Danau Limboto serta daerah aliran sungai (DAS) sekitarnya menjadi salah satu dari 21 danau yang paling kritis di Indonesia. Dalam diskusi bertajuk Diskusi Integrasi Antarinstansi Lintas Sektor dalam Pengelolaan DAS Limboto di Gorontalo, 10 Maret tahun lalu, disimpulkan bahwa umur si cantik itu tinggal lima tahun lagi (Limboto Express, Senin, 4/8/03, hlm 11).

Danau Limboto yang berubah menjadi paya-paya, dengan eceng gondok dan rumput air.

Laju pendangkalan danau akibat erosi dari 11 sungai yang bermuara padanya, cukup mengesankan. Pada tahun 1932, luas danau tersebut masih 7.000 Ha, dengan kedalaman mencapai 30 meter. Dalam tempo 30 tahun, yaitu 1962, luasnya menyusut menjadi 4.250 Ha dan berkedalaman hanya 10 meter. Pada penelitian tahun 2002 lalu, wajah ‘gadis cantik’ dari Gorontalo itu telah kisut menjadi 3.000 Ha dan kedalaman rata-ratanya cuma dua meter!

Tanah timbul danau seluas 637 Ha sudah berubah menjadi sawah, 329 Ha menjadi ladang, 1.272 Ha berubah menjadi perkampungan dan 42 Ha sisanya untuk keperluan lainnya. Mengerikan memang, tapi itulah faktanya.

Pendangkalan itu selain dipicu oleh erosi sungai, juga dipacu oleh para nelayan yang selama bertahun-tahun membangun perangkap ikan yang menggunakan gundukan tanah dari darat serta batang-batang pohon. Pembusukan flora juga mengakibatkan air danau mulai berbau busuk pada saat-saat tertentu, serta mengurangi oksigen di dalamnya sehingga membahayakan biota di dalamnya.

Jepang lewat program JICA (Japan International Cooperation Agency) telah menyanggupi memberi bantuan dana sebesar Rp500 miliar untuk memperbaiki DAS Danau Limboto, setelah selama 10 tahun terakhir ini seruan untuk menyelamatkan si cantik itu digemakan di mana-mana.

Umur boleh tinggal lima tahun lagi, tapi sisa-sisa kecantikan Danau Limboto masih juga membekas. Pada senja hari yang indah, danau ini masih menawarkan pesona yang bisa saja orang membayangkannya seperti halnya danau Titicaca di Peru, atau paya-paya Serengeti di Tanzania, Afrika Timur, sana.

Oleh sebab itu tidaklah berlebihan bila dalam tempo lima tahun mendatang ini, jika pembaca berkunjung ke Provinsi Gorontalo, maka sempatkanlah menikmati wajah asli terakhir si cantik Danau Limboto itu. Siapa tahu dalam tempo lima tahun mendatang, danau itu benar-benar lenyap berubah menjadi ladang atau pekarangan.

Danau ini terletak di tengah-tengah perjalanan dari bandara menuju ke ibu negeri provinsi, yaitu Limboto, ibu kota Kabupaten Gorontalo. Mampirlah Anda sebentar di sana sambil menikmati jagung bakar, belibis bakar, ilabulo, atau binte biluhuta, masakan khas Gorontalo yang sedap. ***

Penulis adalah wisatawan lokal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: