Agung Setyahadi

Danau Limboto, Riwayatmu Kini…

Agung Setyahadi

Sumber: http://cetak.kompas.com/ 10 September 2009

Guntur Yakin (46) sudah mencecap berkah Danau Limboto sejak kecil. Ikan berlimpah dan alam nan indah. Guntur mengikuti jejak ayahnya menjadi nelayan Limboto untuk menghidupi keluarganya. Siklus itu sulit terulang pada kelima anaknya seiring dengan matinya Danau Limboto secara perlahan karena terkubur lumpur.

Siang itu, pengujung Agustus, Guntur berdiri di tepi danau ikon Provinsi Gorontalo itu. Pandangannya menyapu hamparan eceng gondok yang menutup permukaan danau, menyisakan alur-alur air mirip labirin. Ia menoleh dan berkata lirih mengungkapkan kenangan masa kecilnya.

”Dulu danau ini indah. Airnya jernih dihiasi bunga teratai. Ikannya juga banyak. Kalau mancing ikan, cukup di tepi danau, tidak perlu pakai perahu,” ujar warga Dusun Hungayo, Desa Barakati, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, itu.

Saat ini air Danau Limboto keruh bercampur material hasil erosi daerah hulu 23 sungai yang bermuara ke danau. Tim peneliti Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) tahun 2002-2004 mencatat, sedimen yang masuk ke Limboto sebanyak 1 juta-2 juta meter kubik per tahun.

Badan Lingkungan Hidup Riset dan Teknologi (Balihristi) Provinsi Gorontalo menganalisis, laju pendangkalan danau 38,8 sentimeter per tahun. Kedalaman air menyusut dari rata-rata 30 meter pada 1932 menjadi 10 meter pada 1961 dan 2-2,5 meter pada 2008. Luas danau pun menyempit dari kisaran 7.000 hektar (1932) menjadi 2.537 hektar pada 2008. Jika laju sedimentasi tidak dikendalikan, Danau Limboto akan kering dan menjadi daratan pada 2025.

Dari jendela pesawat yang terbang rendah menghampiri landasan Bandara Djalaluddin, Danau Limboto lebih mirip rawa. Hampir dua pertiga tubuh air tertutup eceng gondok yang membentuk pulau-pulau hijau. Endapan lumpur di tepian ditumbuhi ilalang lebat, sebagian dijadikan kebun dan permukiman.

Setiap musim hujan, rumah-rumah digenangi air hingga dua bulan. Penghuninya mengungsi dan kembali lagi setelah air surut. Banjir menjadi ritual tahunan, tetapi masyarakat tidak jera bermukim di tubuh danau. Jumlahnya justru semakin bertambah. Sampai tahun 2008 ada 1.272 hektar lahan danau yang berubah menjadi permukiman, 329 hektar dijadikan ladang, dan 637 hektar untuk sawah.

Di tengah danau mengapung 2.559 keramba yang dikelilingi pagar bambu. Di luar pagar, eceng gondok menggerombol siap merenggut setiap milimeter permukaan air. Keramba ikan mas, nila, dan mujair itulah periuk kehidupan warga di 23 desa yang mengelilingi danau.

”Jika tidak dipagari, keramba tertutup eceng gondok. Ikan-ikan pasti mati. Limboto tinggal menunggu waktu karena pendangkalan dan serangan eceng gondok,” ujar Guntur yang juga Ketua Organisasi Rakyat Pelestari Danau Limboto.

Ribuan warga menggantungkan hidup di danau yang pernah didarati pesawat intai amfibi legendaris Catalina saat mengantar Presiden Soekarno pada 1951 itu. Kebutuhan keluarga dipenuhi dari panenan keramba dan ikan pancingan yang hasilnya semakin sedikit, rata-rata 1,5 kilogram. Sekitar 25 tahun silam, memperoleh 10-15 kilogram ikan merupakan perkara mudah.

Marten Paloa (35), nelayan di Barakati, bisa tersenyum senang siang itu. Perangkap ikan yang ia pasang sejak subuh hingga tengah hari menghasilkan 30 ikan manggabai (Glossogobius giuris). Marten menjual semuanya dan membawa pulang uang Rp 110.000. Rezeki sebesar itu sangat jarang diperoleh. ”Kalau setiap hari hasil bagus begini, hati senang. Selama ini saya tiap hari turun ke air, hasilnya hanya Rp 20.000 hingga Rp 50.000,” ujar Marten.

Adam Paloa (31), saudara Marten, hari itu hanya memperoleh 10 ikan dan 1 belut. Ia menyisihkan sebagian dari tangkapannya untuk lauk di rumah dan lainnya dijual untuk membeli beras.

Balihristi mencatat, tangkapan ikan pada 1977-1997 turun 2.344 ton, dari 2.960 ton menjadi 616 ton. Beberapa jenis ikan alami juga hilang, seperti mangaheto, botua, bulaloa, dan boidelo. Hasil panen keramba juga merosot seiring dengan kerusakan lingkungan danau.

Guntur menghitung masa panen keramba bertambah panjang dari 3 bulan menjadi 5 bulan. Benih ikan sulit berkembang karena sirkulasi air yang membawa nutrisi tertahan akar eceng gondok. ”Karena tidak ada arus, banyak benih ikan yang mati. Saya pernah menebar 15.000 benih nila, tapi setelah dipanen, tinggal 5.000 ekor,” ujarnya.

Pengalaman Guntur yang memiliki 15 keramba masing-masing berukuran 5 x 5 meter, pendapatan bersihnya hanya Rp 2,1 juta. Setiap keramba ditebari 1.000 benih nila ukuran 6 cm, di pasaran dijual Rp 250 per ekor. Untuk 15 keramba dibutuhkan modal Rp 3,75 juta. Kebutuhan pakan sampai panen 30 zak isi 50 kg setara dengan Rp 10,5 juta. Pakan biasanya dibayar setelah panen karena harganya mahal, per zak Rp 350.000.

Setelah panen, hasilnya sekitar 7.500 ekor dengan ukuran rata-rata 8 ekor per kg. Harga jual di tingkat pembudidaya Rp 17.500 per kg. Hasil penjualan Rp 16,4 juta. Setelah dipotong biaya pakan dan benih, pendapatan bersih sekitar Rp 2,1 juta. ”Hasilnya sudah tidak menguntungkan lagi. Anak-anak nelayan di sini dulu banyak yang bisa kuliah karena tangkapan bagus. Sekarang paling hanya sampai SMA,” ujar Guntur.

Jadi daratan

Daud Pateda, Koordinator Bidang Ekonomi Jaring Pengelolaan Sumber Daya Alam Gorontalo, menegaskan, jika laju sedimentasi tidak dikendalikan, Limboto akan menjadi daratan. Kematian danau akan mengakhiri nafkah sekitar 2.000 keluarga nelayan yang menggantungkan hidup di sana.

Usaha penyelamatan Limboto sudah menjadi isu ”seksi” sejak akhir Orde Baru. Anggaran dialokasikan untuk menghijaukan 26.097 hektar lahan kritis di daerah tangkapan air. Hutan yang tersisa di Daerah Aliran Sungai Limboto hanya 14.893 hektar atau 16,37 persen. Hutan habis dibabat para pembalak liar dan dikonversi menjadi kebun oleh masyarakat.

Pada 2004-2008, anggaran yang dikucurkan untuk penyelamatan danau mencapai Rp 14,8 miliar, meliputi penghijauan, pekerjaan sipil, dan pemberdayaan masyarakat. Alih-alih ada hasil yang menggembirakan, kondisi danau justru semakin parah.

Pemerintah kembali memerhatikan Danau Limboto dalam Konferensi Nasional Danau Indonesia di Bali, 13-15 Agustus 2009. Danau Limboto direkomendasikan untuk dikeruk karena pendangkalan yang sangat parah. Program pengelolaan danau itu akan bergulir pada 2010-2014 dengan fokus penyelamatan 15 danau.

Daud menambahkan, JICA juga pernah merekomendasikan pengerukan Danau Limboto berdasarkan kajian ilmiah pada 2002-2004. Biaya pengerukan ditawarkan Rp 1 triliun.

”Pengerukan lumpur yang mahal itu akan sia-sia jika daerah hulu sungai yang kritis tidak dipulihkan. Jangan sampai Danau Limboto habis dalam angka-angka anggaran tanpa hasil jelas,” ujar Daud.

Perhatian pemerintah untuk menyelamatkan Danau Limboto memberikan secercah harapan bagi para nelayan seperti Guntur, Marten, dan Adam. Mereka berharap usaha kali ini berhasil menyambung hidup Limboto. Jika gagal, mereka hanya bisa menghitung mundur kematian Limboto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: