Adek Media dan Verrianto Madjowa

Menjelang Akhir Sumpah Limboto

Adek Media dan Verrianto Madjowa

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/ 12 Januari 2009

Satu-satunya danau di Gorontalo terancam musnah. Akibat pendangkalan dan penyusutan. Pemerintah menyiapkan peraturan daerah untuk menyelamatkannya.

HAMPIR tiga bulan Umar Saleh tak pernah lagi berperahu ke tengah Danau Limboto, tempat ia mencari nafkah seharihari. Luapan air danau di Kabupaten Gorontalo itu tak kunjung surut. Itu membuat ayah dua anak ini patah arang. “Bila dipaksakan, hasilnya takkan lebih dari satu kilogram,” kata nelayan berusia 32 tahun ini.

Walhasil, Umar lebih banyak menghabiskan waktu membantu istrinya menjaga warung rokok di pinggir jalan tepian danau. Umar masih lebih beruntung dibanding tetangganya yang tak punya warung. Mereka terpaksa setia berjam-jam mengarungi danau seluas 3.000 hektare itu—hampir tiga perempat luas Jakarta Pusat. Tengoklah hasil tangkapan yang mereka jajakan di lapak-lapak reyot sepanjang jalan. Cuma ikan betok dan gabus, paling banter seukuran dua jari orang dewasa. “Sehari torang (kami) cuma dapat Rp 10 ribu. Itu pun sudah bagus,” kata seorang nelayan.

Umar bercerita, di masa kecilnya, tak sulit memperoleh hasil tangkapan hingga sepuluh kilogram. Kini ikan-ikan khas danau itu tak lagi ditemukan: ikan saribu, huluu, dan tola, yang ukurannya lebih besar daripada tangan orang dewasa. Kepiting dan udang yang dulu pernah mendiami danau ikut punah. Padahal pemerintah pernah membangun tiga gedung pelelangan ikan buat menampung hasil nelayan.

Tidak cuma membuat hasil tangkapan menyusut, luapan juga merendam ribuan rumah di enam kecamatan di Kabupaten Gorontalo dan satu kecamatan di Kota Gorontalo. Perahu yang biasa dipakai buat mencari ikan pun kini beralih fungsi menjadi sarana transportasi lingkungan. Rumah Umar di Kecamatan Telaga, misalnya, terendam setinggi lutut orang dewasa. Sawah dan kebun jagung di sekeliling danau mengalami gagal panen dan tampak seperti rawa.

Banjir di sekeliling Limboto memang sudah menjadi ritual tahunan di danau itu, yang pernah menjadi tempat pendaratan pesawat amfibi yang membawa Presiden Soekarno pada 1957. Hanya, tahun ini luapan air datang lebih cepat daripada musim hujan dan tak kunjung surut. Pemerintah Kabupaten Gorontalo pun cuma bisa memberikan bantuan darurat berupa kebutuhan pokok dan air bersih buat sebagian warga yang rumahnya terendam.

Ketua Badan Pengurus Jaringan Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam, lembaga swadaya masyarakat pemerhati kelestarian lingkungan di Gorontalo, Muhammad Djufry, mengatakan, sebagai danau penampungan, Limboto sudah kelebihan muatan. Sebanyak lima sungai besar dan 23 anak sungai dari pegunungan yang memagari sebuah lembang besar mencakup Kota Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango, dan Kabupaten Gorontalo bermuara ke danau.

Satu-satunya saluran pembuangan dari danau adalah Sungai Tapodu, ke Teluk Gorontalo. “Jadi, jika hujan di hulu sungai, tinggal menunggu datangnya banjir,” kata Djufry. Tapi, ia mengatakan, yang tak kalah mengkhawatirkan dibanding limpahan air ke danau adalah berton-ton material yang saban hari mengalir bersama air. Material ini perlahan-lahan menguruk dasar danau. Inilah yang menyebabkan pendangkalan drastis di Limboto bertahuntahun silam.

Data Departemen Kehutanan menyebutkan kedalaman Limboto mencapai 30 meter pada 1934. Hingga 1950-an, dasar terdalam danau masih sepuluh meter lebih. Sekarang, jika musim kemarau tiba, kedalaman danau cuma 1,5 meter.Tempo, yang mengukur kedalaman danau pada pertengahan bulan lalu, dalam kondisi banjir, mendapati rata-rata kedalaman di tengah danau tak lebih dari 3,5 meter. Mirip genangan saja, tak ada arus atau gelombang air.

Menurut Kepala Balai Lingkungan Hidup, Riset, dan Informasi Provinsi Gorontalo Rustamrin Akuba, dua juta meter kubik material masuk ke danau saban tahun. Biang keladi sedimentasi adalah pembalakan liar di hulu. Selain itu, kegemaran warga mengambil batu dari sungai membuat material leluasa meluncur tanpa penghambat. “Pendangkalan danau yang sangat cepat merupakan indikasi kerusakan daerah aliran sungai,”  katanya.

Tentu saja pendangkalan sungai juga berkat kelakuan para peternak dan penangkap ikan yang memasang keramba dan alat penjebak. Biasanya alat-alat yang sudah tak terpakai ditinggalkan begitu saja. Selain itu, lebih dari separuh permukaan danau telah dikaveling-kaveling menjadi “milik pribadi”. Tempo, yang berperahu ke tengah danau, harus berzigzag buat menghindari kompleks kaveling yang mirip dengan lingkungan perumahan terapung.

Pendangkalan diperparah dengan menyusutnya luas danau, dari 7.000 hektare pada 1934 menjadi kurang dari separuhnya saja saat ini. Penyebabnya, ketika air surut, warga mendirikan bangunan. Penguasaan lahan yang awalnya liar itu malah dilegalisasi oleh pemerintah pada 1995 dengan membagikan sertifikat gratis. Sebagian lahan juga dipaculi hingga menjadi sawah dan kebun jagung. Misalnya lahan seluas 200 hektare di Desa Bolihuangga.

Arus material dan pupuk dari sawah dan kebun yang terbawa banjir membuat air danau kaya unsur hara. Akibatnya, tanaman air pengganggu alias gulma seperti eceng gondok merajalela. Menurut Djufry, awalnya eceng gondok tak dikenal di Danau Limboto, tapi entah bagaimana caranya, tumbuhan ini bisa menutupi lebih dari tiga perempat permukaan danau, bahkan memusnahkan teratai dan dumalo yang pernah menghiasi permukaan danau.

Banyaknya tumbuhan itu mengurangi oksigen sehingga air tak ramah bagi ikan. Guntung Yakin, 45 tahun, adalah peternak mujair dengan jaring apung yang merasakan dampaknya. Bila ia melepas 15 ribu bibit ikan, separuhnya saja yang bisa berkembang hingga dewasa. Itu pun pertumbuhannya sangat lambat. Ikan baru bisa dipanen setelah 5-12 bulan. Padahal, tujuh tahun lalu, setelah tiga bulan, ikan bisa dipanen dengan berat satu kilogram.

Usaha memusnahkan eceng gondok bukan tak ada. Guntung mengatakan warga berulang kali mengangkat eceng gondok, tapi pertumbuhannya jauh lebih cepat. Bulan lalu, personel Tentara Nasional Indonesia diturunkan buat mengangkuti eceng gondok. Toh, tak ada perubahan berarti. “Eceng gondok ini mulai ada lima tahun lalu,” kata Guntung, yang juga Ketua Organisasi Pelestari Danau Limboto, lembaga yang dibentuk warga Desa Barakati, Kecamatan Batudaa.

Dengan kondisi itu, Djufry memprediksi Danau Limboto akan lenyap dalam waktu dekat. “Sementara kita mengadakan diskusi dan seminar, danau ini sudah jadi rawa,” katanya.

Lenyapnya danau sudah pasti berdampak buruk bagi lingkungan di sekitarnya karena hilangnya cadangan air tanah. “Saat danau surut saja, air tanah terasa sangat berkurang,” kata Arto Naue, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Gorontalo.

Bupati Gorontalo David Bobihoe Akib mengatakan, untuk menyelamatkan Limboto, dibutuhkan setengah triliun rupiah. “Uang sebesar ini antara lain untuk mengeruk lumpur dan mengurangi material yang masuk ke danau,” katanya. Pemerintah Provinsi Gorontalo sedang menyiapkan peraturan daerah tentang pengelolaan danau.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup memasukkan Limboto ke dalam sepuluh danau rusak parah. Bagi warga Gorontalo, Danau Limboto bukan cuma aset lingkungan dan ekonomi, tapi juga bernilai sejarah dan sakral. Konon, di danau inilah tiga abad silam Raja Gorontalo dan Raja Limboto mengucapkan janji damai yang mengakhiri perang seabad kedua kerajaan itu. Keduanya melemparkan rantai dan pedang ke danau sebagai simbol persahabatan. Sebagian janji itu berbunyi, “Sumpah ini akan berakhir jika Danau Limboto surut.” Nah, apakah perang akan muncul lagi di sana?

Adek Media,  Verrianto Madjowa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: