B Siswo

Limboto  Danau Terdangkal di Indonesia

B. Siswo, Koran Jakarta, Minggu, 08 Nopember 2009

Sumber: http://www.koran-jakarta.com/

Menjelang pesawat udara mendarat (landing) di Bandara Djalaluddin, Gorontalo, bukalah jendela. Arahkan penglihatan ke bawah. Tampak perbukitan dan pegunungan terhampar dengan sebuah danau pada bagian barat. Mozaik alam itu begitu elok dipandang mata.

Coba fokuskan lagi ke panorama di sekitar danau. Danau Limboto yang berada pada ketinggian sekitar 4,5 m di atas permukaan laut itu terlihat dikerubuti oleh permukiman, persawahan, dan lahan-lahan budidaya lainnya. Secara kasat mata, danau yang terletak di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo itu dikerubuti “musuh-musuh” dari berbagai penjuru.

Survei terbaru pada tahun 2000 menunjukkan, luas danau terbesar di Provinsi Gorontalo itu tinggal sekitar 3.000 hektare (ha) dengan kedalaman maksimal hanya dua meter (m). Itu berarti Danau Limboto mencatat rekor sebagai danau terdangkal di Indonesia.

Kini, kondisi Danau Limboto sedang “sekarat”. Pendangkalan terus terjadi. Luas danau pun kian menyusut. Bahkan, kualitas airnya pun tak lagi sesehat dulu ketika daerah di sekitar danau masih rimbun.

Mari lihat fakta berikut ini. Pada tahun 1930 misalnya, luas Danau Limboto masih sekitar 7.000 ha dengan kedalaman 30 m. Setelah 30 tahun berlalu (1960), luas itu menyusut drastis hingga tinggal 4.000 ha dengan kedalaman 10 m.

Penurunannya Tercepat

Berdasarkan riset yang dilakukan Lehmusluoto dan Machbub (1993), luas danau tersebut menyempit lagi dengan kedalaman maksimal 2,5 m. “Danau Limboto merupakan danau dengan kualitas penurunan yang paling cepat dibandingkan dengan danau-danau lain di Indonesia,” ujarnya.

Kualitas air danau juga memburuk. Nilai pH-nya sangat basa, yakni sekitar 8,9. Padahal nilai idealnya hanya 7 (pH netral). Tingginya pH tersebut diduga karena banyaknya alga (ganggang) yang tumbuh subur di sana. Riset tersebut membuktikan, produksi biomassa alga itu mencapai 4,4 mg/l. Nilai ini jelas merupakan rekor tertinggi di Indonesia.

Bagaimana dengan kondisi Danau Limboto terkini? Jelas, nasibnya semakin memprihatinkan. Bisa jadi luas danau itu menyusut menjadi kurang dari 3.000 ha dengan kedalaman tak lebih dari dua meter.

Menurut ahli geologi dari Institut Teknologi Bandung Dr Ir Budi Brahmantyo yang tergabung dalam Ekspedisi Geografi Gorontalo 2009, proses pendangkalan danau terus terjadi. Dampaknya, luas danau pun terus menyempit dratis.

Budi tidak salah. Apalagi kalau kita melihat fakta di lapangan. Tampak rumah-rumah dibangun menjorok ke pinggir danau yang mulai mengering. Rumput-rumput liar dan tumbuhan rawa juga mulai merangsek ke bagian tengah danau.

Eceng gondok juga punya kontribusi yang tak kalah serunya terhadap pendangkalan danau. Tumbuhan yang mampu menguapkan air (transpirasi) sebesar tiga kali lipat lebih tinggi daripada evaporasi itu semakin banyak saja.

Secara kasat mata, air danau juga dijejali aneka limbah perkotaan. Banyak warga yang belum sadar dalam menangani limbahnya. Limbah cair digelontorkan begitu saja ke danau tersebut.

Pembudidaya ikan juga tak mau ketinggalan berpartisipasi merusak eksosistem danau. Bayangkan, selama bertahun-tahun mereka membuat penangkat ikan dari gundukan tanah yang diambil di darat. Mereka juga menancapkan patok-patok bambu untuk membudidayakan ikan.

Bambu-bambu itu juga sekaligus menjadi pembatas wilayah yang digunakan untuk membudidayakan ikan mas, gurame, dan nila putih. Sejauh mata memandang, bambu-bambu itu telah bertebaran di segala penjuru danau.

Kondisi ini sangat riskan. Apalagi sebagian dari mereka telah mengantongi legalitas kepemilikan kapling tersebut. Apa jadinya kalau semua kawasan danau itu terkapling-kapling habis?

Berubah Fungsi

Menengok ke bagian hulu juga tak kalah serunya. Hutan-hutan yang tadinya tegak kokoh berdiri, kini telah lenyap. Kawasan hutan itu telah berubah fungsi menjadi persawahan, perkebunan, dan permukiman.

Perubahan fungsi lahan itu seharusnya tak perlu terjadi. Apalagi kawasan hulu di sekeliling danau itu memiliki lereng yang terjal. Survei membuktikan, kawasan tersebut memiliki kemiringan lereng antara 16-30 persen.

Kondisi ini sangat peka terhadap erosi. Ketika lahan terbuka tadi terkena hujan, lapisan tanah atasnya (top soil) tergerus dan tererosi menjadi lumpur. Lumpur-lumpur ini dibawa melalui aliran sungai yang bermuara di danau tersebut. Akibatmya, pendangkalan danau semakin cepat.

Semua fenomena itu jelas membuat Danau Limboto yang dilalui 23 sungai itu babak belur. Banyak ahli memprediksi, Danau Limboto bakal lenyap dalam beberapa tahun kalau tak ada upaya serius untuk menyehatkan kondisinya.

Kalau itu terjadi, kita bakal menutup sejarah kelam. Menurut sejarah geologi, Danau Limboto terbentuk sekitar 2 juta tahun silam. Sebelum terbentuk, Dataran Interior Paguyaman-Limboto itu berupa laut.

Danau yang terbentuk tadinya adalah sebuah kaldera dari gunung api yang meletus ribuan tahun lalu. Selain itu, proses tektonik yang terus aktif membuat kawasan danau itu terangkat.

“Hingga sekarang, pengangkatan daratan tersebut terus terjadi dalam kecepatan yang tidak kasat mata,” ungkap Budi. Namun, lanjutnya, proses alami tersebut berkontribusi sangat kecil dibandingkan dengan perubahan lingkungan yang terjadi di sekeliling danau.

Jadi, kalau Anda ingin menyelamatkan Danau Limboto berhentilah mengonversi kawasan hutan menjadi peruntukan apa pun juga. Lindungi dan pelihara vegetasi yang masih tersisa. Lahan-lahan yang gundul segera dihijaukan kembali.

Hentikan pengkaplingan atau kepemilikan individu yang terjadi di kawasan danau. Hanya dengan cara itulah, Danau Limboto tetap lestari.

Atau jika kita masih saja lalai, nasib danau itu tak ubahnya seperti nama asalnya, Limutu. Limutu adalah nama kerajaan besar tempo dulu yang kini hanya menyisakan catatan sejarah.
b siswo

Surga itu Nyaris Hilang

Danau Limboto, bagi masyarakat Gorontalo ibarat sebuah surga. Betapa tidak, dari dulu hingga kini, danau tersebut menjadi idaman dan tumpuan hidup bagi masyarakat. Pada musim hujan misalnya, Danau Limboto sebenarnya mampu menjadi pengendali banjir.

Namun ketika terjadi pendangkalan hebat, kini beberapa kawasan permukiman terpaksa diterjang banjir di musim penghujan. Bisa dibayangkan kalau danau itu lenyap. Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bone Bolango bakal diterjang banjir di setiap musim penghujan. Empat sungai besar, yakni Alo, Daenaa, Bionga, dan Molalahu yang bermuara di Danau Limboto bakal meluberkan airnya menuju ke kawasan permukiman di sekitarnya.

Begitu juga di musim kemarau. Penduduk masih bisa tercukupi kebutuhan airnya. Air danau itu mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari bagi masyarakatnya, termasuk mengairi sawahnya. Swasembada jagung yang telah sukses menghantarkan nama Gorontalo ke berbagai penjuru dunia juga tak terlepas dari peran danau tersebut.

Pesona lainnya, cobalah sekali waktu berkelana mengitari danau dengan perahu. Pesona flora dan faunanya menakjubkan. Ada juga rumah makan terapung yang menyajikan berbagai menu ikan air tawas khas Danau Limboto.

Di kala senja, panoramanya sungguh eksotik. Warna lembayung sinar matahari yang segera tenggelam memancarkan keindahan alam yang tiada duanya. Para pelancong pun bisa betah memanjakan dirinya.

Lebih dari itu, Danau Limboto juga menyimpan catatan sejarah tersendiri bagi Presiden RI Soekarno. Pada tahun 1950-an dengan pesawat amphibi, Soekarno dan rombongan mendarat di Danau Limboto. Museum mungil di tepian danau pun didirikan untuk mengenang momentum langka tersebut

Sayangnya, semua keelokan dan keunikan Danau Limboto itu nyaris musnah. Luas danau itu terus menyusut. Airnya pun kian dangkal dan kotor.

Penduduk pun kian sulit mendapatkan ikan lele dan tawes. Sidat, ikan khas Danau Limboto juga sudah langka. Burung-burung air yang biasanya mencari ikan di danau tersebut juga sering menukik dari angkasa tanpa hasil. Ya, “surga” alami itu memang nyaris hilang.
b siswo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: