Basri Amin

Danau Limboto Kita

Basri Amin; Penulis Lepas, Warga Hepuhulawa, Limboto

Sumber: http://www.mail-archive.com/ Mon, 17 Aug 2009

Menarik mengetahui bahwa Danau Limboto menjadi bagian penting dari pembahasan  Konferensi Nasional Danau Indonesia di Bali, 13 Agustus 2009. Koran ini memberitakan presentasi Wagub Provinsi Gorontalo, Ir. Gusnar Ismail, MM. “Danau  Limboto Jadi Prioritas Nasional…Wagub Paparkan Strategi Penyelamatan Danau Limboto,” demikian judul beritanya (saya membacanya via GP online).

Disebutkan oleh Pak Wagub bahwa tahun 1932 luas Danau Limboto 8 ribu hektar, dengan kedalaman 30 meter. Sedimentasi dan enceng gondok menjadi faktor yang mempengaruhi proses pendangkalan dan penyempitan luasan danau saat ini, yaitu  tinggal 2,537 hektar dengan kedalaman 2,5 meter. Khusus untuk data danau Limboto 1932, sejujurnya, sampai kini, dalam hemat saya, sumber datanya belum  terlalu jelas. Memang ini cukup sering disebut dan dirujuk oleh pemerintah, tapi sayang karena tingkat akurasi dokumentatifnya masih meragukan (?). Adalah  David Henley, seorang ahli Sulawesi ternama yang menulis buku Food, Fertility and Fever (2005: 492-493) yang berhasil merangkum data lingkungan, penduduk dan  ekonomi di kawasan utara dan tengah Sulawesi periode 1600-1930. Dalam buku ini,  data danau Limboto cukup “lengkap” ditabelkan, termasuk kondisi lingkungan Gorontalo secara luas. Di buku ini tidak terdapat data danau tahun 1932 yang menunjukkan luasnya 8 ribu hektar, dan kedalamannya 30 meter. Yang ada datanya adalah tahun 1934, di mana luas permukaan danau Limboto sekitar 70 KM persegi,  dengan kedalam sekitar 14 meter, serta pada 1939 luas permukaan danau sempat mencapai 100 KM persegi. Dan, jauh sebelumnya, tahun 1863, luas permukaan danau  sekitar 80 kilometer persegi, dengan kedalaman 4,5 meter. Data yang ditemukan bukti-bukti dokumennya oleh David Henley memperlihatkan angka-angka tersebut, sekaligus menyatakan bahwa faktor musim sangat menentukan perubahan permukaan  danau Limboto, dan hanya pada beberapa tahun tertentu saja yang jelas laporannya tentang kedalaman danau ini, misalnya yang terdalam adalah data tahun 1934 (14 meter) dengan luas 70 KM persegi.

Dalam jangka panjang, komitmen pemerintah Gorontalo, sebagaimana diutarakan Pak  Wagub dalam forum danau di Bali tersebut, tentu sangat penting artinya. Apalagi  karena kebijakan berupa Perda, master plan, studi penanganan danau, dan upaya-upaya lainnya (jalur hijau, jalan lingkar dan pemanfaatan enceng gondok) sedang dikerjakan guna menopang idealitas peran Danau Limboto dalam memperkuat potensinya di bidang perikanan, wisata, industri, riset, dll.

Tentu saja, barangkali karena forumnya sangat fokus dan terbatas, sehingga keberadaan Danau Limboto cenderung “dilupakan” (?) fungsi kulturalnya dalam perkembangan peradaban daerah ini. Ini mungkin terkesan klise, atau dianggap  mengada-ada dan menarik-nariknya ke masa lalu, tapi kita jangan lupa bahwa “endapan” historis itu selalu mendasar adanya. Lanskap alam Gorontalo beserta  konstruk masyarakatnya dewasa ini, dan di masa datang, tetap tak bisa dilepaskan dengan narasi alam-nya. Peradaban “Pohalaa”, Hulontalo-Limutu atau  Limutu-Hulontalo, dan konsensus kultural Popa-Ejato, tak bisa dilepaskan dari  posisi Danau Limboto dan sekitarnya –baik secara mitis, maupun secara psikhis–. Jejeran gunung-gunung, barisan bukit-bukit, hamparan hutan-hutan dan  lembah-lembah dan dataran-datarannya, dari ujung ke ujung adalah titik-titik pelajaran yang penting bagi perkembangan peradaban daerah ini dari masa ke  masa, dari generasi ke generasi. Sederhananya: ini adalah tugas “Hulontalo Lipu’u”

Dengan demikian, harapan besar kita semua adalah agar pembahasan kita tentang  danau tidak hanya sebagai perkara teknis lingkungan yang kompleksitasnya berhubungan dengan hutan, daerah aliran sungai, sampai kepada perilaku-perilaku  manusia/masyarakat dan kapasitas kebijakan dan institusi pembangunan, dst. Ia juga dengan sendirinya menjadi perlambang identitas, sekaligus cerminan etos  dan mentalitas kolektif kita. Dari sanalah isu-isu marginalitas tak bisa ditutup-tutupi. Masih kuatnya basa-basi kebijakan atas nama rehabilitasi lahan, hutan, DAS dan penyelamatan lingkungan tak bisa lagi secara sederhana selesai hanya karena angka-angka dan program-program besar sudah disebutkan, bahkan  sudah berulang-ulang diberitakan dan diupacarakan.

Selalu ada hal yang dilematis yang perlu kita pikirkan dan hadapi bersama, yaitu antara “strategi penyelamatan” atau “penyelamatan strategi”. Setiap strategi pembangunan sudah tentu punya resiko kegagalannya sendiri-sendiri. Salah satunya, dalam hemat saya, adalah dalam hal penggunaan angka-angka, ide-ide dan asumsi-asumsi teknis kebijakan. Marilah kita lebih sungguh-sungguh bergerak ke depan, demi Gorontalo yang lebih maju. Semoga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: