Krismono

Alat Tangkap Dudayaho dan Bibilo di Danau Limboto Kebal hukum

Oleh: Krismono

Mahasiswa program doktor, Jurusan Sumberdaya Perairan, Sekolah Pasca Sarjana IPB Bogor.
Peneliti Badan Reset Kelautan dan Perikanan, DKP

Danau Limboto adalah tempat untuk mencari nafkah bagi sekitar 1500 KK masyarakat di sekitar danau, dengan cara usaha penangkapan ikan, sehingga kondisi sumberdaya perairan dan perikanan harus menjamin keberlanjutannya. Untuk menjaga kesinambungan usaha penangkapan ikan supaya dapat dimanfaatkan juga oleh anak cucu kita, maka dibuat peraturan untuk menjaga sumberdaya ikan tersebut dengan melarang alat tangkap yang merusak sumberdaya ikan di Danau Limboto. Sayangnya, dalam pelaksanaannya masih  ada alat tangkap ikan yang kebal hukum karena sudah dilarang dengan perda & sering diperingatkan serta ditangkap masih juga digunakan, yaitu alat tangkap DUDAYAHO & BIBILO.

1. Dudayaho

Alat tangkap dudayaho sebenarnya alat tangkap ikan yang merugikan nelayan dan sumberdaya ikan di danau, bila alat tangkap ikan ini tetap digunakan akan berakibat pada kecepatan punahnya jenis-jenis ikan asli perairan Danau Limboto (Ikan Manggaba’i dan Ikan Payangga), sehingga alat tangkap ini dilarang digunakan. Alat tangkap ikan ini biasanya beroperasi di wilayah sekitar tumbuhan air (bibilo) dan wilayah budidaya, menangkap ikan dengan ukuran masih sangat kecil dengan berat kurang dari 5 gram (usuran panjang antara 1,5 – 5,0 cm) atau bisa disebut menangkap benih ikan. Benih ikan di sekitar wilayah budidaya karena sedang mencari makan yang terbuang dari pakan budidaya dan di wilayah bibilo benih ikan tersebut sedang berlindung atau memang induknya memijah di wilayah bibilo. Hasil tangkapan alat tangkap dudayaho sehari pagi sampai sore atau sore sampai pagi mendapatkan sekitar 15.000 – 25.000 ekor dan bila dijual laku sekitar Rp.30.000 – Rp.50.000.

Benih ikan yang tertangkap dudayaho sebagian besar adalah ikan payangga dan manggaba’i, berdasarkan hasil pengamatan sampai dengan saat ini masih ada sekitar 15 – 20 buah dudayaho yang masih beroperasi. Bila dalam satu hari ada 15 buah dudayaho yang beroperasi, maka benih ikan yang tertangkap sekitar 15 x 20.000 ekor = 300.000 ekor, sehingga dalam satu bulan = 9.000.000 ekor = 108.000.000 ekor / tahun. Hasil tangkapan dudayaho dalam satu tahun bila dihitung satu trip Rp.20.000 = 15 bh x 30 hr x 12 bln x 50.000 = Rp.270.000.000, dan bila benih tersebut dibiarkan tidak ditangkap selama satu tahun – dua bulan, maka akan berkembang dan berukuran sekitar 50 – 100 gram dan harganya sekitar Rp. 1.000 / ekor. Sehingga harga ikan yang tertangkap dudayaho bila dalam pertumbuhan selama satu – dua bulan terjadi kematian 50 % maka sisa yang akan tertangkap menjadi = 50 % x 108.000.000 x Rp.1.000 = 54 miliar rupiah.

Sebuah hasil yang Sangay berbeda nyata dari 270 juta rupiah dan 54 miliar rupiah (20 kali lipat), bila dudahayo tidak beroperasi maka sumberdaya ikan yang akan dilindungi sangat besar jumlahnya. Sehingga masih sangat mungkin untuk diambil oleh keturunan kita atau anak cucu kita.

Sebuah sumbang saran, bila hasil tangkapan nelayan dari alat tangkap dudayaho yang sertifikat atau dicatat dan mendapat izin dapat ditampung oleh dinas terkait, misal Dinas Perikanan dan Balihristi, kemudian dibesarkan dahulu pada sebuah tampungan, maka akan menjadi bahan restocking yang sangat berharga dan tidak perlu repot-repot mencari benih ikan asli untuk ditebar.

2. Bibilo

Alat tangkap bibilo adalah alat tangkap berupa perangkap yang sejenis rumpon yang digunakan untuk menangkap ikan dilaut. Alat tangkap ini merupakan perangkap dan biasanya di buka atau di panen setelah 3 – 6 bulan. Bahan perangkap bibilo adalah tumbuhan air eceng gondok yang diikat atau disatukan dengan pengaman bambo. Luas bibilo berkisar antara 200-600 m2. Bibilo ini memberikan tempat untuk ikan dapat berlindung, mencari makan, memijah dan berkembang biak dan membesar didalamnya, kemudian setelah sekitar 6 bulan (biasanya pada air surut) ikan ditangkap menggunakan jaring eret yang dilakukan oleh sekitar 4 – 6 orang. Hasil tangkapan bibilo, biasanya kurang dari 100 kg ikan dengan ukuran cukup besar, lebih dari 50 gram, antara lain ikan nila, gabus, tawes, mujair, payangga dan manggaba’i.

Alat tangkap bibilo dilarang bukan karena ikan yang ditangkap, tetapi disebabkan oleh karena dapat mempercepat pendangkalan yang diakibatkan oleh serasah eceng gondok yang jatuh ke air dan rompun eceng gondok dapat merupakan perangkap sedimen. Berkembangnya luas bibilo juga mengganggu lalulintas perahu perahu dan berdampak negatif terhadap budidaya karena menyebabkan penurunan kualitas air (khusunya kandungan oksigen terlarut).

Pada saat ini di Danau Limboto, ada sekitar 500 bibilo yang terpasang dan bila satu bibilo mempunyai luas rata-rata 400 m2, maka luas bibilo yang menutupi permukaan Danau Limboto sekitar 200.000 m2 x 20 ha, masih ditambah eceng gondok liar. Seperti telah disebutkan diatas bahwa berdasarkan hasil tangkapan ikan dari bibilo tidak mengganggu terhadap populasi ikan, tetapi terhadap sumberdaya perairan. Bibilo sangat mengganggu karena menurunkan kualitas air dan mempercepat pendangkalan, sehingga alat ini dilarang.

Bibilo seperti juga dudayaho walaupun dilarang, tetapi sampai sekarang masih ada dan banyak di Danau Limboto, sehingga akan mengganggu keberlanjutan sumberdaya perairan dan perikanan di Danau Limboto. Berdasarkan hasil pengamatan, maka bibilo sebenarnya mempunyai fungsi positif yaitu dapat dijadikan sebagai kawasan konservasi karena merupakan sumber benih, tempat untuk berlindung dan mencari makan serta memijah bagi ikan, sehingga tidak semua bibilo harus dihilangkan, tetapi perlu dikaji berapa luasan yang memnuhi syarat untuk dijadikan reservat atau swaka.

Penulis : Krismono
Mahasiswa program doctor, Jurusan Sumberdaya Perairan
Sekolah Pasca Sarjana IPB Bogor
Peneliti Badan Reset Kelautan dan Perikanan, DKP

Pengendalian Eceng Gondok dengan Cara Ramah Lingkungan Hasilkan Rp. 20 Milyar

Oleh: Krismono,Peneliti pada Badan Riset Kelautan dan Perikanan
Rubrik Persepsi Gorontalo Pos, 25 November 2009

Sumber: http://iktiologi-indonesia.org/

Populer adalah salah satu cita-cita hidup, keinginan dan atau dambaan yang diupayakan dengan apapun juga supaya dapat dicapai oleh setiap orang atau khususnya para artis di Indonesia atau seluruh dunia dalam hidupnya. Berbeda dengan eceng gondok (Eichornia crassipes) sejak keberadaannya di Danau Limboto telah otomatis populer dengan sendirinya dan selalu dibahas menjadi masalah dan pemecahan masalahnyapun telah menelan dana yang cukup banyak dari seluruh instansi terkait maupun masyarakat. Bila tidak dihiraukan eceng gondok dapat mengakibatkan kerugian masyarakat di sekitar danau dan Kota Gorontalo karena banjir, pendangkalan danau, mengganggu penangkapan ikan, budidaya ikan, serta transportasi danau.

Berbagai cara pemberantasan atau pengurangan eceng gondok telah dilakukan antara lain dengan mengangkat menggunakan tenaga mesin, manusia (Masyarakat, TNI, dan Pramuka) selanjutnya dimanfaatkan untuk pupuk kompos/hijau, pakan ternak/ikan dan pengglontoran pada saat arus air cepat serta akhir-akhir ini akan digunakan sebagai bahan biogas.

Mengapa sampai saat ini eceng gondok tidak berkurang bahkan makin bertambah luas tutupannya di permukaan perairan Danau Limboto? Bagaimana dengan mesin industri pupuk kompos masih ada dan berjalankah ? Benih ikan koan (Ctenopharyngodon idella) mungkin sudah sekitar 100.000 ekor lebih ditebar di Danau Limboto oleh masyarakat dan instansi terkait, tapi sekarang ada dimana? Bagaimana dengan program penyelamatan Danau Limboto yang sudah dicanangkan pada tahun 2006 oleh Gubernur, DPRD, LSM dan seluruh jajaran Pemda Provinsi Gorontalo?

Apa yang salah sebenarnya dengan semua yang telah kita perbuat sehingga eceng gondok sampai saat ini masih sangat relevan untuk selalu kita bahas dan pikirkan dengan permasalahan yang sama?

Beberapa hal perlu kita evaluasi pada saat ini untuk pemecahan permasalah eceng gondok di perairan Danau Limboto demi: kemaslahatan masyarakat, mengurangi bahaya banjir di Gorontalo, kelestarian usaha perikanan dan kelestarian sumberdaya perairan Danau Limboto. Beberapa langkah/tahapan pemecahan masalah eceng gondok di perairan Danau Limboto yang perlu kita evaluasi adalah:

1.Tujuan, apakah sebenarnya tujuan yang benar untuk eceng gondok di Danau Limboto? Pemberantasan, Pengendalian atau Pelestarian ?

Pemberantasan : berarti akan menghabiskan seluruh eceng gondok di permukaan air Danau Limboto tanpa memperhitungkan perubahan ekosistem perairan Danau Limboto. Apakah demikian? Sementara eceng gondok di perairan Danau Limboto juga berfungsi bagi ikan sebagai tempat untuk berlindung, mencari makan dan memijah.
Pengendalikan : berarti mengurangi dan membatasi sampai pada jumlah ideal yang masih dapat menjamin kehidupan yang ada di perairan Danau Limboto termasuk ikan (memperhatikan ekosistem perairan) dan keperluan lain yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pelestarian: berarti mengusahakan eceng gondok tetap ada karena untuk menjamin keberlanjutan usaha yang diperlukan oleh masyarakat sekitar danau misalnya : pabrik pupuk kompos, biogas dan kerajinan

2. Metode atau cara pemecahan masalah

Tujuan tersebut di atas akan menentukan metode atau cara pemecahan masalah, tetapi yang sering terjadi tidak demikian bahkan justru metode yang ditentukan tanpa memperhitungkan tujuan sehingga terjadilah hal yang sebaliknya bukan tujuan yang dicapai, seperti yang terjadi dengan eceng gondok di Danau Limboto sekarang ini; sehingga kita perlu tentukan dulu tujuan kita untuk eceng gondok di Danau Limboto apakah Pemberantasan, Pengendalian atau Pelestarian? Untuk dapat menjamin keseluruhan keperluan dan kelestarian sumberdaya perairan akan lebih tepat bila memilih Pengendalian eceng gondok sebagai tujuan.

Bila sudah menentukan tujuan baru kita pikirkan cara yang akan kita gunakan, cara pengendalian eceng gondok secara umum ada tiga pilihan yaitu dengan cara ; Fisik/mekanik, Kimia dan Biologis atau kombinasi diantara ketiganya. Khusus untuk cara kimia tidak disarankan bagi pengendalian eceng gondok yang berada di perairan umum yanng mempunyai fungsi serbaguna misalnya danau dan waduk, karena dampaknya akan meluas sehingga sulit/tidak dapat dikendalikan. Pengendalian eceng gondok untuk perairan Danau Limboto lebih cocok menggunakan kombinasi cara fisik/mekanik dan biologis supaya sesuai dengan tujuan.

Pengendalian secara fisik/mekanik yaitu dengan cara pemanenan eceng gondok dengan tenaga manusia maupun mesin pada luasan wilayah tertentu yang telah ditentukan untuk dihilangkan, kemudian eceng gondoknya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, biogas atau pupuk kompos.

Pengendalian secara biologis yang paling cocok untuk perairan danau sampai dengan saat ini adalah dengan menggunakan ikan koan, dapat dengan cara ditebar (untuk Danau Limboto yang dangkal dikhawatirkan akan mengakibatkan sisa eceng gondok yang mengotori permukaan perairan) dan dibudidayakan dalam kurungan, pagar, keramba jaring di perairan danau dengan pakan eceng gondok.

3. Pelaksana

Perairan danau adalah perairan umum yang serbaguna, maka banyak sektor yang memanfaatkannya (pertanian, perikanan, PU, LSM, dll) sehingga dalam pelaksanaan program pengendalian ini harus ditentukan siapa pelaksananya dan koordinatornya, karena bila tidak ditentukan akan saling mengandalkan, sehingga akan lebih ideal bila memanfaatkan peran masyarakat sebagai pelaksana.

4. Evaluasi dan Monitoring pelaksanaan

Program akan berjalan dengan baik dan diketahui hasilnya sesuai tujuan dan sasaran bila ada evaluasi dan monitoring yang lengkap mempunyai indikator kinerja program tersebut. Sehingga dalam pelaksanaan program pengendalian eceng gondok di Danau Limboto inipun memerlukan pengawasan untuk evaluasi dan monitoring program. Sama seperti di atas peran masyarakat juga harus dilibatkan dalam pengawasan.

Demikianlah proses pengendalian yang mungkin bisa dilaksanakan dengan menentukan terlebih dahulu wilayah-wilayah mana yang harus dihilangkan eceng gondoknya sesuai tataruang dan wilayah yang eceng gondoknya masih harus ada karena untuk keberlanjutan kehidupan ikan (berlindung, memijah, mencari makan) serta untuk menjamin keberlanjutan program/industri pupuk dan biogas.

Program pengendalian secara biologi dengan ikan koan dapat dilakukan dengan dua buah cara yaitu keramba jaring tancap untuk daerah pinggiran danau dan keramba jaring apung untuk wilayah tengah. Bila kantong jaring tancap/apung dengan ukuran (5 x 5 x 2) m3 padat tebar 1000 ekor dengan ukuran tanam 100 gram/ekor (100 kg/keramba) pakan yang diperlukan 50 kg eceng gondok/hari = 2,5 m2 tutupan ( 1m2 = 20 kg), maka untuk keramba tancap/apung ini setiap hari/keramba mengurangi luas tutupan eceng gondok = 2,5m2, sehingga bila berjumlah 1000 akan mengurangi luas tutupan eceng gondok di perairan danau sekitar 1 ha/hr = 0,25 = 7,5 ha/bln, bila pemeliharaan selama 6 bulan maka dapat mengurangi luas tutupan sekitar 45 ha.

Program pengendalian eceng gondok secara fisik/mekanik-Biologi ini dapat mengurangi luas tutupan 90 ha dalam satu tahun, sehingga dapat disebut ramah lingkungan dan efisien karena mungkin hanya perlu membeli sedikit pakan tambahan untuk pertumbuhan selingan selain eceng gondok yang diberikan akan dapat menghasilkan dana sekitar 20 milyard rupiah dalam satu tahun, bila setiap keramba menghasilkan 500 kg dan setiap kg harganya Rp. 20.0000,-

Program pengendalian ini merupakan tantangan untuk Balai Benih Inovatif yang baru saja diresmikan tgl. 12 November 2009 oleh Bpk. Dr.Ir. Fadel Mohamad selaku Menteri Kelautan dan Perikanan yang baru, Balai Benih Inovatif ini ditantang harus siap untuk dapat memproduksi benih ikan koan yang akan digunakan untuk pengendalian eceng gondok di Danau Limboto.

Tulisan ini telah dimuat di Rubrik Persepsi Gorontalo Pos, 25 November 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: