Berita 1972

Juli 1972

Ikan Limboto

Sumber: http://ip52-214.cbn.net.id/01 Juli 1972

DIATAS peta danau Tempe (Sulawesi Selatan) dan danau Limboto (Sulawesi Utara) kelihatannja hampir sama besar, tapi kenjataannja tidak. Dalam musim hudjan danau- Tempe 7 x lebih luas dari Limboto, atau dalam angka 35.000 ha berbanding 3500 ha.

Bila data jang dikirimkan Joeroe M. Polontalo tidak keliru maka kedalaman kedua danau tersebut djustru berbanding terbalik. Kedalaman Limboto mentjapai 8 meter, 3 x lebih dalam dari Tempe.

Arkian jang penting bukanlah soal luas dan dalam itu, Tapi pendangkalan jang terus mengantjam, tanpa terlihat kemungkinan penjelamatan dalam waktu dekat.

Untuk danau Tempe, bupati Andi Unru sudah mengusahakan rupa-rupa, tapi belum ada orang baik hati jang mengulurkan tangan. Pemerintah djuga tidak.

Konon pula danau Limboto jang tidak diperdjuangkan oleh siapapun. Dalam 40 tahun danau jang terletak dekat kota Gorontalo itu mengalami pentjiutan luas dari 5000 ha mendjadi 3500 ha dan pendangkalan luar biasa: dari 24 meter mendjadi 8 meter.

Menurnt perhitungan tiap tahun pukul rata lumpur jang mengendap sebanjak 315.790 m3. Akibatnja sudah dapat dirasakan saat ini. Berbagai djenis ikan besar telah hilang dari peredaran dan dari daftar, menu penduduk Gorontalo.

Bukan semata-mata karena pendangkalan tapi djuga karena sikap penduduk sekitar jang serampangan. Terutama para, nelajan. Mereka tidak mengindahkan peraturan jang tidak membenarkan penangkapan ikan. jang masih ketjil-ketjll.

Konon peraturan sematjam ini chusus dikeluarkan untuk melindungi bibit-bibit ikan jang masih ada.

Kambing.

Keadaan telah membuat orang djadi lebih prihatin karena musibah itu luput dari tanggapan pemerintah kabupaten Gorontalo. Bukan ikan danau jang lebih dulu diselamatkan, tapi djustru gedung pelelangan ikan jang diprioritaskan.

Gedung berukuran 6 x 10 meter itu merupakan projek Inpres. (tahun 1970) dan menelan biaja hampir Rp 1 djuta. Penduduk agaknja menjesalkan mengapa uang sedjuta digunakan untuk projek pelelangan padahal ikan jang akan dilelang djuga tidak ada.

Belakangan ini tempat lelang digunakan sebagai losmen tjuma-tjuma bagi kambing-kambing jang banjak berkeliaran disekitar irja.

Suasana mendjadi lebih runjam ketika beberapa ahli bangunan setelah menilik tempat itu sampai pada kesimpulan bahwa harganja tidak akan lebih dari Rp 400.000. Ibarat nasi sudah djadi bubur, uang Rp 600.000 pun ikut terkubur.

Repotnja lagi tempat pelelangan mubazir itu djumlahnja bukan satu tapi tiga. Fungsinja tidak berbeda tempat istirahat tjuma-tjuma bagi para kambing.

Andai keadaan begini, berlangsung terus, danau Limboto tidak akan punja masa depan lagi. Nasibnja sudah digariskan bersamaan dengan kegiatan penduduk setempat jang mempersawah lumpur-lumpurnja disekitar daerah pinggiran.

Bersamaan pula dengan kegiatan menimba ikan setjara habis-habisan tanpa diimbangi pemeliharaan bibit ikan dan rumput-rumput danau. Kalaupun ada pasukan jang ditugaskan mengawasi kegiatan sematjam itu, hasilnja boleh dikatakan nihil karena mereka bungkem seketika begitu ikan jang menggelepar-gelepar, disodorkan kebawah hidungnja.

Kondisinja memang serba tidak menguntungkan. Tapi agaknja belum terlambat kalau sadja pemerintah daerah bersegera melaksanakan bimas ikan jang hasilnja akan lebih bermanfaat daripada mendirikan tempat pelelangan.

Harga Penghijauan

Sumber:  http://ip52-214.cbn.net.id/ 22 Juli 1972

DANAU Limboto djadi daratan, kota Gorontalo djadi lautan? Sungguh mengerikan. Hal itu diramalkan akan terdjadi 25 tahun lagi, bila sadja tindakan penjelamatan tidak dilakukan dari sekarang. Maka dalam rangka penjelamatan telah dipindahkan 500 kepala keluarga (sebanjak 2.500 orang) dari lereng-lereng gunung jang sedang menggundul kedataran luas jang masih kosong dan masih banjak tersedia.

Mereka adalah keluarga petani, segera diselamatkan dari bahaja bandjir jang sebab-musababnja ditimbulkan oleh mereka sendiri. Tapi sesudah pemindahan itu tentu harus ada tindak landjutannja, suatu hal jang ternjata tidak terlalu gampang karena memerlukan biaja paling sedikit Rp 270 djuta.

Angka ini sudah dimasukkan dalam DUP (Daftar Usulan Projek) dengan segenap kejakinan akan dipenuhi oleh Pemerintah Pusat.

Wakil Sementara Bupati Kabupaten Gorontalo Drs H.A. Nusi menjatakan bahwa pemerintah di Djakarta tentu akan punja sikap dan penilaian jang sama terhadap segala bentuk bahaja, apakah itu disebabkan oleh hama sexava seperti jang sekarang mengantiam Sangir Talaud ataukah bahaja erosi aan bandjir jang diduga akan menjerbu Gorontalo.

Bukankah untuk pemberantasan sexava disediakan Rp � djuta apakah tidak tepat kalau untuk bandjir disediakan pula Rp � djuta lebih sedikit?

Soalnja tjuma satu: apakah pemerintah Pusat sependapat dalam hal ini.

Krisis.

Arkian, sebelum ada lambaian manis dari Djakarta pemerintah kota madya Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo sepakat untuk sementara menanggulangi kegawatan bersama-sama. Maka dibentuklah Komando Penghidjauan dipimpin oleh Walikota Gorontalo Drs Jusuf Bilondatu dan Bupati Nusi.

Pertama-tama jang akan diurus adalah tanah krisis ditaksir meliputi wilajah seluas 27.000 ha dilingkungan kabupaten Gorontalo dan 3.000 ha dikota Gorontalo.

Tanah krisis itu terutama disebabkan oleh pendangkalan sungai-sungai Bolango, Bijonga, Alo, Molowahu, Pohu, Bulota, Marisa, Bulia dan Bone.

Disepakati djuga apa jang harus dilakukan jaitu: mengembalikan fungsi hidrologis dari tanah diwilajah kritis dan mentjegah meluasnja tanah sematjam itu.

Pada achirnja Komando menjimpulkan bahwa pada tahap pertama bandjir jang tidak dikendalikan akan menelan 35% dari sawah-sawah jang dibimaskan. Ini berarti menjangkut hadjat hidup 480.000 djiwa manusia.

Tidak sjak lagi, tindakan jang terbaik dapat dilakukan adalah melaksanakan penghidjauan. Sesudah mendengarkan saran-saran dari Djawatan Pertanian, PU dan Kehutanan, maka Komando sampai pada kesimpulan bahwa penghidjauan akan dilaksanakan dalam tempo 6 tahun mentjakup biaja Rp 45 djuta per tahun.

Ini akan dimanfaatkan untuk penjediaan bibit, seperti tjengkeh, pala, djambu monjet, pinus merkusi dan lamtoro. Kemudian pesemaian dan penanaman di samping pengamanan alat-alat pertanian dan kerdja rutin lainnja.

Kalau semua berdjalan lantjar maka bukan sadja bandjir bisa ditjegah tapi djuga pelbagai tanaman keras itu diharapkan dapat meningkatkan pendapatan rakjat. Tapi itu semua masih perhitungan diatas kertas. Dan pemerintah Pusat tinggal pilih satu antara dua: Rp 45 djuta tiap tahun atau kota Gorontalo tenggelam djadi danau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: