Berita 1985

Mengubah peta Sulawesi

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/30 Maret 1985

PETA Sulawesi mendatang mungkin harus diubah. Sebab, murid-murid sekolah barangkali tak akan lagi menemukan Danau Tempe di Sulawesi Selatan dan Danau Limboto di Sulawesi Utara.

Kedua danau tersehut nantinva. mungkin, tinggal legenda belaka. Bekas-bekasnya sudah berubah jadi sawah, empang ikan, atau mungkin juga rawa. Sebab, kini sedang berlangsung pendangkalan yang cukup parah.

Bahkan, menurut M. Soerjani, direktur PSL (Pusat Studi Lingkungan) Universitas Indonesia, Danau Tempe tak layak lagi disebut danau. “Proses pendangkalannya tertinggi di Indonesia,” ujar Soerjani.

Keluasan permukaan airnya sangat bergantung pada fluktuasi musim. Pada tahun 1978, di musim hujan luas danau bisa mencapai 35.000 ha dan di musim kemarau tinggal 1.000 ha, dengan kedalaman sekitar 5 m saja. Di musim kemarau, kini, tinggal 250 ha saja, demikian perkiraan H. Muhamaddong, 68, yang selama ini menjadi penjaga ketinggian air danau.

Dia bahkan mengatakan, di kala musim kemarau hebat pada 1982, orang bisa jalan kaki dari Wajo ke Soppeng melintasi tengah danau. Kedalaman air Danau Tempe, menurut Muhamaddong, tinggal 2,65 m. Di tengah danau kini seakan muncul sebuah pulau yang sudah menyemak. Padahal, danau ini berarti sekali bagi penduduk sekitar karena kaya akan vegetasn.

Hal yang serupa sedang terjadi pula di Danau Limboto. Medy Botutyhe, ketua Bappeda Kabupaten Gorontalo, masih ingat ketika Presiden Soekarno mengunjungi daerah itu tahun 1957. Karena tak ada lapangan terbang, Bung Karno datang dengan pesawat Catalina yang bisa mendarat di air. Kini tempat pendaratan di tengah danau itu telah jadi daratan, dan alat pengukuran ketinggian air yang tertancap di sana telah menjadi ladang jagung.

Menurut data yang ada di tangan Medy, tahun 1934, kedalaman danau terdalam mencapai 14 m dan luas permukaan airnya 7.000 ha. Tahun 1952, kedalaman maksimum tinggal 7 m dan luasnya 5.000 ha. Tiga puluh tahun kemudian tinggal 2,5 m dan luasnya hanya 1.500 ha. Banyak pendapat untuk memanfaatkan danau secara praktis saja.

Pihak UNDP (United Nations Development Program) dan PU, demikian Mahdi, menganjurkan agar danau dikeringkan, lalu dikapling jadi sawah. Tetapi pihak Pemda, seperti yang dilaporkan oleh Zaim Uchrowi dari TEMPO, tetap bersikeras untuk mengkonservasikan Limboto.

Menurut Medy, penyebab pendangkalan yaitu erosi yang terjadi terus-menerus sepanjang tahun. Dalam hal Limboto, misalnya, Sungai Bilango dan Bianga bukan hanya menuangkan air, tetapi juga lumpur. Bukit-bukit yang ada di Gorontalo Timur mengalami erosi hebat. Ini gara-gara sistem peladang pindah.

Karena itu, Pemda berkeras untuk memindahkan sekitar 3.500 kk ke tempat lain, kemudian melakukan pen&hijauan pada bukit-bukit yang nyaris gundul itu. Tebalnya endapan lumpur memang mempercepat pengeringan danau.

Fluktuasi volume air danau sangat berkaitan dengan daur hidrologis wilayah. Penebangan pohon secara berlebihan telah mengganggu kelestarian fungsi hidrologis lingkungan.

Bupati Wajo, R. Effendl, menyebutkan bahwa lumpurlah yang menimbuni Tempe. Sungai Walanae, yang berhulu di Gunung Lompobatang, membawa lumpur dari Bone dan Soppeng. Sungai Bila, yang berhulu di Gunung LatimoJong, menimbuni Tempe dengan lumpur yang berasal dari Sidrap.

Pendangkalan yang terjadi di danau-danau, menurut Soerjani, adalah proses alamiah. “Hanya waktu pendangkalan yang berbeda,” ujar ahli gulma lulusan Fakultas Pertanian UGM tersebut. Dia menambahkan, “Kegiatan manusia mempercepat proses itu.” Biasanya, pendangkalan, seperti kata Sutikno S. Sastroutomo, staf peneliti Biotrop di Bogor, gulma air yang meningkat mengakibatkan penguapan air membesar. Hal ini tidak hanya terjadi pada danau, tetapi juga bendungan (lihat: Box).

Selama ini, menurut Sutikno lagi, belum ada instansi yang paling bertanggung jawab terhadap hidup dan kehidupan danau serta bendungan. Paling banter PU mengawasi segi tinggi rendahnya permukaan air.

Sedangkan BPPD (Balai Penelitian Perikanan Darat) hanya melihat potensi perikanannya. Jadi, mestinya harus dibentuk satu tim yang mampu mengawasi secara menyeluruh.

INDONESIA memiliki satu juta hektar danau alam. Itu berarti sekitar 54% danau untuk kawasan Asia Tenggara dan Selatan ada di Indonesia. Sedangkan danau buatan, seperti bendungan, ada 50 ribu ha. “Nantinya, akan ditingkatkan menjadi 500 ribu ha,” tutur Soerjani lagi.

Penambahan itu akibat adanya bendungan-bendungan baru, misalnya waduk Saguling di Jawa Barat. Sumatera memiliki danau terbanyak (48%), kemudian menyusul Sulawesi (47%), Kalimantan (3,5%), dan sisanya tersebar di pulau-pulau lain.

Betapa pentingnya fungsi danau (alam dan buatan) bagi kehidupan bisa dilihat dari besarnya jumlah air tawar yang ada di bumi. Air tawar yang berasal dari danau memang relatif kecil. Cuma 0,3% dari seluruh air tawar yang ada. Tapi air tawar itu sendiri cuma sekitar 3% dari air bumi. Pendangkalan danau buatan dan alam berarti akan semakin menyusutkan jumlah air tawar.

Kegagalan dalam mengelola air tawar bukan karena kekurangan pengetahuan teknis. Tapi tampaknya selama ini sering kali karena kekurang pengertian manusia sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: