Berita 1993

Danau yang terancam sirna

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/09 Januari 1993

DANAU itu merana. Airnya bukan saja tidak jernih, tapi permukaannya pun hampir-hampir hilang ditelan bumi. Air danau sudah sedemikian tohor, sehingga menyisakan endapan lumpur kering yang ditumbuhi rumput liar.

Bupati Gorontalo, H. Nooriman, memperkirakan Danau Limboto akan kering dalam empat tahun mendatang. Penduduk, yang menyaksikan bagaimana airnya menyusut hari demi hari, juga tak lagi menaruh harapan.

”Waktu saya kembali ke kampung ini tahun 1976, Danau Limboto tampak makin kecil dan makin dangkal,” tutur Ku’e Kululu, 66 tahun, tetua masyarakat setempat.

Sismaryadi, Kepala SubBalai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah di Kabupaten Gorontalo, membenarkan sinyalemen Ku’e.

Katanya, pendangkalan Limboto memang parah. Setiap tahun airnya turun ratarata 40,6 sentimeter. Berdasarkan catatan tahun 1930, kedalaman air danau waktu itu adalah 30 meter. Dua puluh tahun kemudian, yakni tahun 1950, kedalamannya berkurang menjadi 20 meter. Kini kedalaman itu tinggal sekitar 2,5 meter saja.

Sementara itu, dari luas semula sekitar 7.000 hektare, kini menciut sampai separuhnya. Itu pun keadaannya lebih mirip rawa.

Permukaan danau yang pada tahun 1957 pernah didarati pesawat Catalina ini — pesawat yang bisa mendarat di air — telah jauh berubah. Tempat pendaratan pesawat yang dulu ditumpangi Presiden Soekarno — di tengah danau — kini telah menjadi daratan.

Karena pendangkalan yang luar biasa itu, Kabupaten Gorontalo dipilih sebagai lokasi pelaksanaan acara Puncak Pekan Penghijauan Nasional dan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional. Acara itu dipusatkan di Desa Bongohulawa dan diresmikan oleh Kepala Negara, akhir Desember lalu.

Dalam sambutannya, Presiden Soeharto menyebutkan bahwa erosi di sekitar Danau Limboto merupakan sebab utama pendangkalan. Maka, setelah menanam kayu cindera cita, Presiden menyerukan agar penghijauan digalakkan. Lalu Pak Harto memukul kentongan sebagai abaaba penanaman 10.000 bibit tanaman oleh penduduk di kawasan itu. Inilah upaya masal untuk menyelamatkan Danau Limboto.

Andai kata usaha ini berhasil, Danau Limboto diharapkan kelak akan kembali pada fungsi sosialnya yang lama, yakni sebagai salah satu sumber penghasilan penduduk.

Dulu, danau ini memang pernah punya arti penting bagi ekonomi Gorontalo. Di sana ada dermaga yang dilengkapi sebuah pasar — namanya De Hualolo — berkerangka baja yang didirikan tahun 1929. Di sinilah dulu para nelayan dan pedagang ikan ramai melakukan transaksi.

Sebagai sarana rekreasi pun, Danau Limboto tak mengecewakan. Anak-anak biasa berenang dan menyelam di tepian danau. ”Sampai tahun 1950an air danau tetap melimpah, biarpun musim kemarau datang,” ujar Ku’e Kululu, mengenang. Namun, masyarakat jugalah yang merusak keasrian danau tersebut.

Menurut Siswadi, pendangkalan terjadi karena terganggunya catchment area (daerah tangkapan air) garagara kegiatan peladang berpindah. Mereka membabat hutan yang mengelilingi danau seluas 122.756 hektare itu. Lalu pengusaha HPH, yang mendapatkan konsesi tak jauh dari daerah tangkapan air, ikut ”berjasa” menggunduli hutan. Akibatnya, air susut dan erosi tak terhindarkan.

Masih ada faktor perusak yang lain, yaitu pengurasan batu sungai. Menurut beberapa pengamat, untuk fondasi rumah, penduduk Gorontalo semakin banyak memanfaatkan batu kali yang diambil dari sungaisungai yang memasok air ke danau. Kurangnya bebatuan menyebabkan sungai lebih banyak mengantarkan lumpur dan pasir, hingga mempercepat pendangkalan danau.

Yang paling dirugikan adalah para nelayan. Kini, berbagai jenis ikan besar sudah tak bisa ditemukan di Danau Limboto. Tinggallah ikanikan kecil yang populasinya juga makin sedikit. Masih segar dalam ingatan Deni Jumadi, seorang warga Desa Hutuo, bahwa sepuluh tahun lalu, tiap kali memancing ia bisa membawa pulang enam keranjang ikan. ”Sekarang, dapat satu keranjang udang kecil juga syukur,” ujarnya.

Sementara populasi ikan berkurang, cadangan air tawar juga berkurang. Hal ini juga erat kaitannya dengan pendangkalan danau. Dari seluruh air tawar yang ada, yang berasal dari danau memang hanya 0,3%. Mungkin karena sedikit, ada yang mengusulkan agar Danau Limboto dibiarkan kering.

Menurut bekas Bupati Gorontalo, Marthen Liputho, tim Unido (United Nations for Development) pernah menyarankan agar Danau Limboto diikhlaskan saja. ”Biar saja mengering. Barangkali lebih bermanfaat menjadi permukiman atau persawahan,” ujar mereka, seperti diceritakan Marthen kepada wartawan Manado Post.

Tapi Pemerintah menolak usul tersebut. Presiden sendiri, dalam acara Puncak Penghijauan Nasional itu, telah mengajak masyarakat supaya merehabilitasi lahan dan mengusahakan konservasi tanah. Sepuluh ribu bibit berbagai tanaman kini telah ditanam.

”Upaya ini mungkin tak bisa mengembalikan Danau Limboto pada bentuk semula. Tapi sedapat mungkin mempertahankan danau yang tinggal tiga ribu hektar itu,” kata Sismaryadi.

Berhasil atau tidak, agaknya hal itu akan sangat bergantung pada aksi penyuluhan yang diberikan oleh Dinas Pertanian atau Dinas Kehutanan kepada masyarakat. Tanpa bimbingan terusmenerus, penduduk akan cepat lupa, dan Danau Lomboto pun sewaktuwaktu bisa sirna. G. Sugrahetty Dyan K. dan Ardian Taufik Gesuri

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: