Berita 2009-2 (Jun-Jul)

Juni 2009

Danau Limboto Masa Depan Gorontalo

Tribun Gorontalo Senin, 15 Juni 2009

Sumber: http://www.gorontaloprov.go.id

Kepala Balihristi Provinsi Gorontalo Dr. Herman Paneo, M. Pd mengatakan bahwa persoalan Danau Limboto menyangkut kepentingan banyak pihak, tidak saja masyarakat tapi juga pemerintah dan lingkungan karena itu dalam sebuah diskusi tentang pengelolaan Teluk Tomini beberapa waktu lalu untuk kangka panjangnya Pemprov Gorontalo sudah mengagendakan beberapa program diantaranya pemulihan lahan kritis dikawasan hulu, peningkatan luas dan kedalaman Danau Limboto, perbaikan kualitas air danau dan pengembangan industri pariwisata dan perikanan berbasis  masyarakat.

Sasaran yang akan dihasilkan dengan program jangka panjang hingga 2011 tersebut adalah adanya sebuah kawasan hulu danau sebagai kawasan Industri klaster tanaman jarak berbasis konservasi terbentuknya kawasan danau limboto sebagai objek wisata menjadikan kawasan danau sebagai Pusat Industri Kecil pemanfaatan Eceng Gondok dan menjadikan kawasan pesisir danau sebagai pusat industri kecil pemanfaatan sediment danau untuk bahan bangunan juga mengupayakan sebuah kawasan hilir dikembangkan sebagai Model Kawasan Clean Development Mechanism ( CDM ).

Wagub Gusnar Ismail mengatakan bahwa program konservasi yang dilakukan pemerintah berupa konservasi kawasan hulu dan penyangga, pengembangan industri klaster biodisel tanaman jarak berbasis konservasi, pengembangan industri kecil pupuk hijau dari eceng gondok, pengembangan industri bahan bangunan dari sediment, pemulihan keragaman hayati ikan danau limboto dan high density cropping sistem belt.

GORONTALO BAKAL OLAH DANAU LIMBOTO ATASI KARBON

Written by Rollit Saturday, 27 June 2009

Sumber: http://www.automotive.id.finroll.com/

Pemerintah Provisi Gorontalo, akan mengolah danau Limboto, untuk mengatasi emisi gas Karbondioksida di wilayah itu.

Gorontalo, 27/6 (Roll Automotive) – Pemerintah Provisi Gorontalo, akan mengolah danau Limboto, untuk mengatasi emisi gas Karbondioksida di wilayah itu.

Terkait hal tersebut, Kepala Badan lingkungan hidup, riset, teknologi dan Informasi (Balihristi) Provinsi Gorontalo, Herman Paneo Sabtu, mengatakan saat ini pihaknya tengah menjalin kerja sama dengan dua perusahaan asing, yakni Elard Group dan Chase Environmental Services Group.

“?Salah satu program yang akan diterapkan adalah transformasi hubungan energi untuk danau terbesar di Gorontalo ini, dengan menggunakan 10 teknologi,” ujar Paneo, Sabtu.

Dia mengatakan, target jangka panjang dari program tersebut, yakni menciptakan pembangunan daerah yang ramah lingkungan.

Menurutnya hal tersebut sangat penting, mengingat isu pemanasan global kini semakin aktual dibicarakan oleh seluruh negara.

“Pemanasan global ini sangat dipengaruhi oleh perubahan ekosistem akibat aktivitas manusia, mumpung daerah ini masih dalam tahap perkembangan, sedini mungkin kita harus mencegah kerusakan lingkungan,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk menindak lanjuti kerjasama tersebut, pihaknya akan menggelar pelatihan secara berkala pada seluruh instansi serta lembaga terkait.

Dengan adanya program kerjasama tersebut, lanjutnya, Provinsi Gorontalo bertekad menjadi daerah yang berhasil menekan tingkat karbon dioksida pertama di ASEAN.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) menyebutkan selama kurun waktu lima tahun (2003 – 2008) total sumber emisi karbondioksida (CO2) di Indonesia setara dengan 638,975 giga ton CO2.

Hal tersebut diungkapkan Deputi III Menteri Negara Lingkungan Hidup (MenLH) Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Masnellyarti Hilman, dalam pemaparannya pada acara pembahasan menuju Ekonomi Hijau (Green Economic) di Jakarta, Jumat (26/60.

Masnellyarti atau lebih akrab dipanggil Nelly menjelaskan total sumber emisi Indonesia tersebut terdiri atas konversi hutan dan lahan sebesar 36 persen, emisi penggunaan energi sebesar 36 persen, emisi limbah 16 persen, emisi pertanian 8 persen dan emisi dari proses industri 4 persen.

(PK-SHS/b)


Wagub Silaturahmi ke Lekobalo

Written by Burhanuddin

Sumber: http://humas.gorontaloprov.go.id/Sabtu, 27 Juni 2009

Untuk menjalin tali silaturahmi dengan masyarakat pemerintah provinsi Gorontalo melaksanakan sholat Maghrib bersama masyarakat Lekobalo yang dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Gorontalo Ir. H.Gusnar Ismail, MM, Jumat (26/06) bertempat di Masjid Darul Muksinin Kelurahan Lekobalo Kecamatan Kota Barat.

Pada kesempatan itu Wagub mengatakan ada dua hal penting menyangkut kebijakan atau program pemprov Gorontalo dari sekian kebijakan maupun program yang saat ini dilaksanakan yakni yang pertama adalah program penyelamatan Danau Limboto. Saat ini DPRD provinsi Gorontalo telah menetapkan Perda tentang penyelamatan Danau Limboto. Dikatakan, langkah-langkah yang diambil untuk penyelamatan danau ini antara lain memberi batas yang jelas pada danau tersebut dan juga bagaimana bisa memanfaatkan enceng gondok yang tumbuh disekitar danau. Untuk enceng gondok ini beberapa hari lalu Pemprov kedatangan para ahli dari inggris yang membawa teknologi untuk mengolah dan memanfaatkan enceng gondok di Danau Limboto. Langkah diatas diambil karena penyelamatan Danau Limboto sudah menjadi prioritas utama secara nasional dan mengingat bahwa sumber mata pencaharian penduduk disekitar berasal dari danau tersebut. Hal kedua yang menjadi program pemerintah provinsi Gorontalo yaitu mengenai masalah listrik. Untuk masalah listtrik ini pemerintah terus berusaha untuk mengatasinya dngan membangun pembangkit-pembangkit tenaga listrik yang menghasilkan 50 megawatt yang insyaAllah akan selesai akhir 2010 nanti. Sebagai langkah jangka pendek, kata Wagub Pemprov menyewa mesin genset sebesar 5 megawatt yang dibawa dari manado. Untuk itu Wagub mengharapkan kepada seluruh masyarakat agar selalu melakukan penghematan listrik demi kepentingan kita semua, lebih-lebih dalam menghadapi bulan Ramadhan nanti.

Turut hadir dalam acara ini diantaranya Asisten Pelayanan Publik, Kepala-kepala Biro Setda Provinsi Gorontalo serta beberapa Kepala-kepala Dinas Provinsi Gorontalo. Acara ini dilanjutkan dengan penyerahan bantuan kepada pengurus Takmirul Masjid Darul Muksinin sebesar dua puluh lima juta rupiah. ( Burhanudin-Humas )

Juli 2009

Sejumlah Danau di Indonesia Terancam Hilang

Sumber: http://www.antaranews.com/ 21 Juli 2009

Danau Limboto,Gorontalo (ANTARA/Istimewa)@

Jakarta,(ANTARA News) -Keberadaan sejumlah danau di Indonesia sudah mengkhawatirkan, di antaranya Danau Tempe di Sulawesi Selatan dan Danau Limboto di Gorontalo yang terancam hilang.

“Misalnya laju sedimentasi Danau Tempe yang mencapai 1-3 cm per tahun akan mengakibatkan danau ini menghilang di musim kering pada tahun 2018,” kata Deputi Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup, Masnellyarti Hilman, yang mendampingi Menteri Lingkungan Hidup (LH) Rachmat Witoelar dalam jumpa pers tentang danau di Jakarta, Selasa.

Sedangkan Danau Limboto yang pada 1972-2002 laju penyusutan luasnya mencapai 50 hektare per tahun dan laju sedimentasi sampai 1,5-50 cm per tahun akan berubah menjadi kawasan rawa dan hanya menjadi danau legenda pada 2034, ujarnya.

“Jika kerusakan lahannya tidak segera direhabilitasi dan limbah domestik yang dibuang ke dalamnya tidak dikendalikan, danau ini akan sangat mengkhawatirkan. Apa lagi Danau Limboto bahkan sudah dikapling-kapling oleh masyarakat,” katanya.

Sedangkan di Danau Maninjau di Sumatera Barat terjadi kematian massal ikan seberat 13.413 ton dan menyebabkan kerugian Rp150 miliar pada akhir 2008 akibat semakin banyaknya keramba ikan jaring apung yang mencemari danau, ujarnya.

Pencemaran danau, menurut dia, kebanyakan disebabkan sisa pakan ikan dan limbah domestik dari pemukiman yang masuk ke danau sehingga air danau tidak lagi memenuhi baku mutu air kelas dua dan menyebabkan terjadinya eutropikasi seperti “blooming” eceng gondok.

Selain itu, lanjut Nelly, sejumlah danau juga mengalami masalah dalam fungsinya sebagai daerah tangkapan air akibat kerusakan hutan di sekitarnya yang menyebabkan sedimentasi di dasar danau.

Misalnya Danau Rawa Pening di Jawa Tengah yang vegetasi hutannya tinggal 3,9 persen dan lahan kritisnya sampai 24 persen serta Danau Toba di Sumut yang vegetasinya tinggal 12 persen dan lahan kritisnya 23 persen.

Bahkan Danau Rinjani, Sentarum, dan Danau Dendam sudah tak ada lagi vegetasi di sekitarnya.

Sementara itu, Menteri LH Rachmat Witoelar mengatakan, untuk mewujudkan langkah pengendalian pencemaran dan kerusakan danau, pihaknya akan menyelenggarakan Konferensi Nasional Danau Indonesia (KNDI) pada 13-15 Agustus di Bali.(*)

COPYRIGHT © 2009

15 Danau Mengalami Sedimentasi Parah

Sumber: http://sains.kompas.com/ 22 Juli 2009

Kompas/Agus Susanto

JAKARTA, KOMPAS.com – Dua danau di Pulau Sulawesi direkomendasikan dikeruk akibat sedimentasi berat. Keduanya adalah Danau Limboto di Provinsi Gorontalo dan Danau Tempe di Provinsi Sulawesi Selatan.

Keduanya masuk Program Pengelolaan Danau Prioritas Tahun 2010-2014 yang total berjumlah 15 danau. Sebanyak 15 danau lainnya masuk prioritas program rehabilitasi tahun 2015-2019.

Selain dua danau dikeruk, juga dilakukan peningkatan kualitas air, peningkatan komitmen pemerintah, pemulihan kawasan terpadu, pengawasan pemanfaatan multifungsi danau, peningkatan pariwisata, dan program perubahan iklim.

”Kami butuh kerja sama departemen lain dan pemerintah daerah untuk memenuhi target itu,” kata Deputi III Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Masnellyarti Hilman kepada wartawan di Jakarta, Selasa (21/7).

Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) memprakarsai Konferensi Nasional Danau Indonesia: Pengelolaan Danau dan Antisipasi Perubahan Iklim di Bali, 13-15 Agustus 2009. Diperkirakan ada 700 peserta dari sembilan departemen dan kementerian serta pemerintah daerah.

Data KNLH menunjukkan, dari 22 sungai yang mengalir ke Danau Limboto, hanya dua sungai masih mengalir ketika musim kemarau. Kondisi hampir sama terjadi di Danau Tempe.

Selama 1972-2002 laju penyusutan luas Danau Limboto 50 hektar per tahun dan laju sedimentasi 1,5-50 sentimeter (cm) per tahun. Tanpa rehabilitasi kerusakan lahan dan pengendalian limbah domestik, tahun 2034 danau itu akan menjadi legenda.

Sementara itu, laju sedimentasi di Danau Tempe mencapai 1-3 cm per tahun. Tanpa intervensi rehabilitasi, Danau Tempe diperkirakan hilang setiap musim kering pada tahun 2018.

”Banyak lahan kritis, hutannya juga sedikit,” kata Asisten Deputi III Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau Antung D Radiansyah.

Menambah ironis

Masifnya kerusakan danau-danau di Indonesia menambah deret ironi kekayaan alam Tanah Air setelah pembabatan hutan dan eksploitasi sumber daya alam besar-besaran.

Dari data KNLH, ada 840 danau besar dan 735 danau kecil di Indonesia. Danau-danau itu menyediakan 72 persen suplai air permukaan di Indonesia.

Danau-danau juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, wisata, irigasi, dan budidaya perikanan. Namun, daya dukungnya terus menyusut drastis akibat pola pembangunan dan pengelolaan yang mengabaikan fungsi penting dan daya tampungnya.

Salah satu contoh pengabaian perhitungan daya tampung danau adalah kematian massal ikan di Danau Maninjau, Sumatera Barat, pada akhir tahun 2008 lalu hingga mencapai 13.413 ton atau setara dengan Rp 150 miliar.

Kejadian serupa pernah terjadi di tempat lain dalam skala berbeda-beda. Namun, terus berulang dan merugikan para pembudidaya ikan.

”Waktunya mengubah pola pikir tentang pengelolaan dan peran danau dalam pembangunan,” kata Masnellyarti.

Sebagai langkah perubahan, setidaknya membutuhkan komitmen sembilan departemen dan kementerian untuk kesepakatan pengelolaan danau berkelanjutan. Sejumlah target sudah dibuat dan rencana pengelolaan berkelanjutan disusun untuk dibahas pada pertemuan di Bali pada Agustus 2009 mendatang.

Untuk mendanai program tersebut butuh dana besar. Untuk itu, KNLH akan mengajak semua departemen dan kementerian yang terlibat pengelolaan untuk turun tangan. (GSA)

Kondisi Danau Limboto Terparah di Indonesia

Suara Publik , Rabu, 29 Juli 2009

Sumber: http://www.gorontaloprov.go.id/

Kondisi dan topografi Danau Limboto yang merupakan salah satu icon Gorontalo, keadaannya justru terparah dari sejumlah danau yang ada di Indonesia. Sehingga hal ini mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat maupun pemerintah Provinsi Gorontalo. Wujud keseriusan pemerintah Provinsi maka Badan Lingkungan Hidup, Riset dan Teknologi Informasi (Balihristi) Provinsi Gorontalo, kemarin menggelar Rapat Koordinasi Penyusunan Provil dan Achon Plan penyelamatan Danau Limboto. Rakor di buka langsung oleh Kepala Balihristi Herman Paneo, dengan menghadirkan peserta kepala Bappeda,BPN,kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kadis Pariwisata Kab./Kota,serta dinas terkait lainnya, dengan menghadirkan pembicara staf ahli yang juga mantan Kadis PU Provinsi Gorontalo Amirudin Tumulo.

Rapat tersebut membahas tentang keselamatan Danau Limboto dan sekitarnya, dimana dari sejumlah danau yang ada di Indonesia, ada sekitar 11 danau yang menjadi perhatian pemerintah pusat, termasuk Danau Limboto yang tingkat kerusakannya cukup parah. Untuk itu, pada 13-14 Agustus nanti akan ada konferensi se Indonesia di Bali yang akan dihadiri para gubernur, walikota/bupati termasuk dari Gorontalo, untuk membahas masalah ini.

Herman juga mengharapkan dari pertemuan yang dilaksanakan ini, aka nada perubahan disekitar danau dengan mengacu ke perda danau Limboto yang sudah ada. Herman juga menegaskan, enceng gondok bukanlah masalah dan musuh, akan tetapi merupakan potensi yang sangat besar, untuk bisa dijadikan industri, seperti biogas dan kerajinan. “Diperlukan kerjasama yang baik juga dari masyarakat sekitar danau, karena selain untuk tindakan penyelamatan, lokasi ini juga akan dijadikan tempat wisata,ungkapnya”.

Danau Limboto Semakin Tercemar

Sumber: http://www.kapanlagi.com/ Rabu, 29 Juli 2009

Kapanlagi.com – Kondisi danau Limboto saat ini sudah sangat memprihatinkan, karena selain airnya diduga sudah tercemar, juga terjadi pendangkalan akibat adanya tumbuhan liar Enceng Gondok.

Kepala Balai Lingkungan Hidup Riset Dan Tekhnologi (Balhiristi) Provinsi Gorontalo Herman Paneo mengatakan, bahwa salah satu penyebab memburuknya kondisi danau tersebut, karena adanya tanaman enceng gondok yang saat ini hampir menutupi permukaan danau tersebut.

Dia menjelaskan, sekitar 70% dari luas danau sudah tertutupi oleh enceng gondok, sehingga penguapan yang terjadi cukup besar, dan mengakibatkan debit air semakin berkurang lagi.

“Enceng Gondok pertumbuhannya sangat cepat, sehingga hanya berselang beberapa tahun, sudah hampir menutupi permukaan danau,” kata Paneo, Rabu (29/7), namun tidak memerinci secara jelas luas areal danau saat ini.

Paneo mengatakan bahwa untuk mengatasi masalah tersebut, maka pemerintah bersama instansi terkait lainnya, akan melaksanakan program pemanfaatan tanaman enceng gondok oleh warga.

Menurut dia, saat ini sejumlah pengusaha sudah memanfaatkan tanaman tersebut, untuk dijadikan bahan baku pembuatan kursi, tas serta barang-barang hiasan rumah tangga lainnya. (kpl/bar)


Danau Limboto Memprihatinkan

Sumber: http://matanews.com/2009/Thu, Jul 30, 2009

Kondisi danau Limboto saat ini sudah sangat memprihatinkan, karena selain airnya diduga sudah tercemar, juga terjadi pendangkalan akibat adanya tumbuhan liar Enceng Gondok. Kepala Balai Lingkungan Hidup Riset Dan Tekhnologi (Balhiristi) Provinsi Gorontalo Herman Paneo mengatakan, bahwa salah satu penyebab memburuknya kondisi danau tersebut, karena adanya tanaman enceng gondok yang saat ini hampir menutupi permukaan danau tersebut.

Dia menjelaskan, sekitar 70 persen dari luas danau sudah tertutupi oleh enceng gondok, sehingga penguapan yang terjadi cukup besar, dan mengakibatkan debit air semakin berkurang lagi. “Enceng Gondok pertumbuhannya sangat cepat, sehingga hanya berselang beberapa tahun, sudah hampir menutupi permukaan danau,” kata Paneo, Rabu, namun tidak memerinci secara jelas luas areal danau saat ini.

Paneo mengatakan bahwa untuk mengatasi masalah tersebut, maka pemerintah bersama instansi terkait lainnya, akan melaksanakan program pemanfaatan tanaman enceng gondok oleh warga. Menurut dia, saat ini sejumlah pengusaha sudah memanfaatkan tanaman tersebut, untuk dijadikan bahan baku pembuatan kursi, tas serta barang-barang hiasan rumah tangga lainnya.

Hal serupa juga di katakan oleh Kepala Bidang Lingkungan Hidup Balhiristi Provinsi Gorontalo Rugaiya Biki mengatakan, bahwa selain berusaha melakukan penyelamatan danau yang menjadi salah satu kebanggan daerah itu.

Pihaknya juga telah melakukan upaya pemanfaatan sedimentasi lumpur, serta enceng gondok yang menjadi sebagian dari penyebab kerusakan.

Menurut dia, tanaman enceng gondok rencananya akan di manfaatkan untuk produksi tas jinjing bagi kaum ibu, serta alat-alat pelengkap untuk rumah, seperti keset kaki. “Selain sebagai salah satu upaya penyelamatan danau, kita akan mengolah enceng gondok menjadi sebuah komoditi,” kata Rugaiya. Selain itu, sedimentasi lumpur di danau tersebut nantinya akan di manfaatkan untuk pembuatan batu bata, kata dia.(*an)

Kondisi Danau Limboto Terparah di Indonesia


Suara Publik, Kamis, 30 Juli 2009

Sumber : http://balihristi.gorontaloprov.go.id/Kondisi dan topografi Danau Limboto yang merupakan salah satu icon Gorontalo, keadaannya justru terparah dari sejumlah danau yang ada di Indonesia. Sehingga hal ini mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat maupun pemerintah Provinsi Gorontalo. Wujud keseriusan pemerintah Provinsi maka Badan Lingkungan Hidup, Riset dan Teknologi Informasi (Balihristi) Provinsi Gorontalo, kemarin menggelar Rapat Koordinasi Penyusunan Provil dan Achon Plan penyelamatan Danau Limboto. Rakor di buka langsung oleh Kepala Balihristi Herman Paneo, dengan menghadirkan peserta kepala Bappeda,BPN,kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kadis Pariwisata Kab./Kota,serta dinas terkait lainnya, dengan menghadirkan pembicara staf ahli yang juga mantan Kadis PU Provinsi Gorontalo Amirudin Tumulo.Rapat tersebut membahas tentang keselamatan Danau Limboto dan sekitarnya, dimana dari sejumlah danau yang ada di Indonesia, ada sekitar 11 danau yang menjadi perhatian pemerintah pusat, termasuk Danau Limboto yang tingkat kerusakannya cukup parah. Untuk itu, pada 13-14 Agustus nanti akan ada konferensi se Indonesia di Bali yang akan dihadiri para gubernur, walikota/bupati termasuk dari Gorontalo, untuk membahas masalah ini.

Herman juga mengharapkan dari pertemuan yang dilaksanakan ini, aka nada perubahan disekitar danau dengan mengacu ke perda danau Limboto yang sudah ada. Herman juga menegaskan, enceng gondok bukanlah masalah dan musuh, akan tetapi merupakan potensi yang sangat besar, untuk bisa dijadikan industri, seperti biogas dan kerajinan. “Diperlukan kerjasama yang baik juga dari masyarakat sekitar danau, karena selain untuk tindakan penyelamatan, lokasi ini juga akan dijadikan tempat wisata,ungkapnya”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: