Berita 2009-4 (Nov-Des)

November 2009

Warga Minta Pemerintah Serius Tangani Danau Limboto

Sumber: http://jurnalnasional.com/ Wed 04 Nov 2009

SEJUMLAH warga di Provinsi Gorontalo minta agar Pemerintah daerah tersebut, harus serius menangani danau Limboto, yang saat ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Adam salah seorang pemerhati lingkungan di Gorontalo mengatakan, bahwa saat ini kondisi danau Limboto sangat parah, sebagian arealnya sudah dangkal dan ditumbuhi tanaman liar seperti Enceng Gondok.

” Saya khawatir jika danau ini tidak ditangani serius oleh pemerintah, maka hanya akan menjadi kenangan saja,” kata Adam, Rabu (4/11).

Dia menjelaskan bahwa pada beberapa tahun lalu areal Danau Limboto mencapai 5000 meter dengan kedalaman 3 meter, namun saat ini hanya berkisar 1500 meter dengan kedalaman kolamnya 1,5 meter.

Menurutnya, memang kedalaman danau masih 1,5 meter, tetapi hampir separuh merupakan lumpur, sedangkan arealnya sebagian besar telah dijadikan warga disekitarnya menjadi areal pertanian.

“Sebagian besar areal lahan danau telah berubah menjadi lahan pertanian masyarakat,” kata Adam.

Sumirlan salah seorang tokoh masyarakat di Kota Gorontalo mengatakan, bahwa saat ini banyak warga yang memanfaatkan danau Limboto untuk berusaha peternakan ikan nila dan mas. Namun usaha tersebut, merupakan salah satu penyebab terjadinya pendangkalan, karena material seperti kayu, papan, untuk pembuat karamba dan rakit, jika sudah tidak digunakan lagi, dibiarkan begitu saja di areal danau.(Ant)

PETERNAK IKAN DI DANAU LIMBOTO MULAI RESAH

Sumber: http://dhi.koran-jakarta.com/ 17 Nopember 2009

Gorontalo, 17/11 (ANTARA) – Hujan yang terus mengguyur wilayah Provinsi Gorontalo selama beberapa hari terakhir ini, membuat sejumlah peternak dan pengusaha jaring ikan Nila di danau Limboto mulai resah.

Keresahan tersebut disebabkan volume air yang ada di Danau Limboto, mulai bertambah namun dapat menganggu kehidupan Ikan, sebab air yang ada sekarang ini sudah mulai busuk akibat bercampur dengan lumpur.

Adrianto Samoe salah seorang peternak Ikan Nila di danau Limboto mengatakan, bahwa begitu hujan mulai menguyur wilayah Gorontalo, maka ketinggian air mulai naik, namun aromanya busuk karena tercampur dengan lumpur.

Menurut dia, sebelumnya terjadi pengdangkalan di kolam danau disebabkan kemarau selama 3 bulan, sehingga begitu turun hujan, banyak kotoran ataupun lumpur mulai bercampur dengan air.

” Begitu hujan turun, maka lumpur yang mulai mengering berbaur dengan air dan aroma busuk,” kata Adrianto, Selasa.

Dia menjelaskan aroma air yang tidak normal tersebut, berdampak pada kehidupan ikan yang diternak, sebab banyak yang akan mati karena air yang ada dalam kolam danau warnanya sudah berubah.

Menurut dia, kebanyakan ikan yang tidak tahan dengan kondisi air danau yang busuk tersebut, adalah yang masih bibit tetapi ada juga yang sudah berumur 2 hingga 3 bulan yang mati.

Ono Mohamad salah seorang peternak Ikan Nila mengatakan bahwa beberapa tahun lalu para peternak mengalami kerugian yang sangat besar, sebab puluhan ribu ikan baik yang masih bibit maupun siap panen, mati akibat air yang bercampur dengan lumpur.

” Biasanya jika kondisi air danau tidak dapat dikendalikan lagi, maka peternak sebagian melakukan panen ikan sebelum waktunya,” kata Ono.

Namun jika masih berukuran kecil, maka terpaksa harus pasrah dengan keadaan tersebut, yang tentunya dampaknya para peternak akan mengalami kerugian dalam jumlah yang besar. (PK-MM/C/MO31) 17-11-2009 19:20

BALIHRISTI : ECENG GONDOK BUKAN ANCAMAN DANAU LIMBOTO

Sumber: http://dhi.koran-jakarta.com/ Jumat, 20 Nopember 2009

Gorontalo, 20/11 (ANTARA) – Eceng gondok bukan menjadi satu-satunya ancaman dan penyebab kian parahnya ekosistem danau Limboto karena tumbuhan itu sebenarnya dapat diolah menjadi barang bernilai ekonomi.

“Eceng gondok ternyata memliki nilai ekonomi, yang justru dapat mensejahterakan masyarakat sekitarnya,” kata Rugaya Biki, Kepala Bidang Pelestarian Lingkungan pada Badan Lingkungan Hidup, Riset dan Tehnologi informasi (Balihristi) Provinsi Gorontalo, di Gorontalo, Jumat.

Ia menjelaskan, eceng gondok bisa dijadikan bahan kerajinan, seperti kursi tamu, suvenir, pupuk, bahkan bahan bakar ramah lingkungan.

“Satu set kursi tamu berbahan eceng gondok misalnya, bisa memiliki nilai atau harga yang cukup menggiurkan, yakni empat hingga lima juta rupiah,” katanya.

Namun sayangnya, menurut Rugaya masih sedikit warga yang mau memanfaatkan eceng Gondok, yang kini nyaris menutupi seluruh permukaan Danau Limboto itu.

“Dengan begitu, maka eceng gondok kembali menjadi ancaman bagi Danau Limboto, karena merusak biota air serta mempertinggi sedimentasi,” katanya.

Perkembangbiakan eceng gondok itu sendiri, urainya, termasuk pesat, sebab dalam jangka satu minggu, tumbuhan itu dapat tumbuh dua kali lipat dari populasinya semula.

Menurutnya, telah berbagai cara yang diupayakan pemerintah daerah untuk memotivasi masyarakat dalam mendayagunakan eceng gondok di Danau Limboto antara lain pelatihan tentang cara mengolah eceng gondok yang multi guna, walaupun belum sepenuhnya berhasil.

“Semangat masyarakat hanya berlangsung sesaat, setelah itu, eceng gondok kembali dibiarkan hidup begitu saja,” katanya.

(T.PK-SHS/B/B013/B013) 20-11-2009 11:07:13

20 SUNGAI PEMASOK AIR DANAU LIMBOTO KERING

Sumber: http://docs.google.com/ 20 November 2009

Gorontalo, 19/11 (Antara/FINROLL News) – Sebanyak 20 sungai yang menjadi pemasok air bagi Danau Limboto kini dalam keadaan kering sehingga menjadi salah satu penyebab kian memburuknya ekosistem danau terbesar di Provinsi Gorontalo itu.

Kepala Bidang Pelestarian Lingkungan, Badan Lingkungan hidup Riset dan Teknologi Informasi (Balihristi) Provinsi Gorontalo Rugaya Biki, Kamis, mengatakan kini tinggal tersisa tiga sungai yang menjadi pemasok air bagi Danau Limboto .

Ketiga sungai tersebut yakni Alo-alo, Pohu, dan Bionga, yang semuanya berada di Kabupaten Gorontalo.

“Karakteristik Danau Limboto memang berbeda dengan danau lain yang pada umumnya memiliki sumber mata air sendiri,” katanya.

Keringnya 20 sungai pemasok air Danau Limboto itu, menurut dia, disebabkan kerusakan lingkungan serta sejumlah sungai yang bersifat tadah hujan.

Pada musim hujan seperti sekarang, lanjut Rugaya, puluhan sungai yang kering itu hanya bisa memasok lumpur ke Danau Limboto sehingga menambah tingkat sedimentasi.

Puluhan tahun lalu tepatnya pada 1932 kedalaman Danau Limboto masih mencapai 30 meter dengan luas 7.000 hektare (Ha).

Penurunan secara drastis mulai terjadi pada 1961, di mana kedalaman danau rata-rata berkurang menjadi 10 meter dengan luas menjadi 4.250 Ha.

Saat ini, kedalaman Danau Limboto tinggal 2,5 meter dengan luas 3.000 Ha.
Pendangkalan danau antara lain disebabkan maraknya usaha pertanian yang tidak mengindahkan konservasi tanah dan kegiatan pembukaan hutan secara ilegal (illegal logging) di daerah hulu sungai, serta kegiatan budidaya perikanan yang kurang ramah lingkungan.***3***(PK-SHS)

Dubes Canada Prihatin Danau Limboto

Gorontalo Post, 26 November 2009

Sumber: :www.gorontaloprov.go.id/ Kamis, 26 November 2009

Kondisi Danau Limboto yang semakin kritis rupanya mendapat perhatian tersendiri dari Duta Besar Canada untuk Indonesia Mr.Mc Kenzie Clugston. Selain menyampaikan keprihatinan, ia pun mengatakan akan membicarakan penanganan masalah Danau limboto ke lembaga donor yang ada di Canada. “Masalah Danau Limboto akan kami sampaikan di Otawa (Canada) untuk merumuskan apa langkah-langkah yang bisa dilakukan,”ungkap Mc Kenzie saat ramah tamah dengan Plt. Gubernur Gorontalo Ir. Gusnar Ismail,MM tadi malam di rumah dinas Wakil Gubernur Gorontalo.

Oleh karena itu ia berharap, dalam dua atau tiga tahun ke depan dirinya bisa kembali melakukan kunjungan ke Gorontalo. Pada kesempatan itu juga Mc Kenzie juga menyampaikan apresiasi positif terhadap pembangunan Provinsi Gorontalo menurutnya, selang 8 tahun terjadi pembangunan Gorontalo sudah sangat bagus seperti air port,gedung,infrastruktur lain. Dan kemarin kami sudah berkunjung ke lapangan, ada perbaikan ekonomi dan UMKM. Yang kedatangan kami kali selain meninjau proyek CIDA, juga bermaksud untuk perbaikan ekonomi,UMKM dan pengembangan investasi, terutama investasi jagung.

Sementara itu Plt. Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyambut baik kedatangan tim Dubes Canada untuk Indonesia ke Gorontalo. Menurutnya, kunjungan tersebut kan mempererat hubungan Indonesia dan Canada, khususnya Pemerintah Canada dengan Gorontalo. Oleh karena itu ke depan diharapkan kerjasama semakin ditingkatkan. Sebab, kedepan untuk pembangunan APBD/APBN tidak bisa lagi di andalkan karena anggaran yang terbatas. Sehingga ada inovasi baru dengan bantuan luar negeri.

Sebelumnya, Dubes Canada untuk Indonesia Mc Kenzie Cluston bersama direktur CIDA Indonesia Patricia McCullagh dan Program Officier Development CIDA Ms Fransisca Indarsiani berkunjung ke Gorontalo untuk melihat realisasi proyek bantuan Canada melalui CIDA. Beberapa program yang dibiayai CIDA di Provinsi Gorontalo antara lain Sulawesi Water dan Sanitation Hygiene (SWASH) yaitu program air minum dan sanitasi berbasis masyarakat, Enviromental Governance and Sustanable Livelihood Program (EGSLP) atau program Tatakelola Lingkungan Berkelanjutan di DAS Bone Bolango serta proyek Pembinaan Manajemen KIAT (CIPSED).

Selain meninjau proyek bantuan CIDA, tim Dubes Canada untuk Indonesia juga mengunjungi objek wisata Benteng Otanaha dan Danau Limboto. “Bantuan dari pemerintah Canada ini merupakan hibah yang ditujukan untuk mendorong percepatan pembangunan di Provinsi Gorontalo baik dalam bentuk pemberdayaan masyarakat untuk perbaikan penghidupan yang layak bagi masyarakat perdesaan sepanjang DAS Bone Bolango, fasilitas sarana dan prasarana air minum dan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat serta peningkatan ekonomi masyarakat,”tutur Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Prof. DR. Ir.Winarni Monoarfa,MS.

Kanada Prihatin dengan Kondisi Danau Limboto

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ Sabtu, 28 November 2009

GORONTALO–MI: Pemerintah Kanada menyampaikan rasa keprihatinannya dengan kondisi Danau Limboto di Provinsi Gorontalo, yang kini dalam keadaan sangat kritis.

“Saat Mackenzie Clugston melakukan kunjungan ke Gorontalo, Sabtu (29/11), untuk mempererat hubungan negaranya dengan Indonesia, khususnya Gorontalo. Clugstone menawarkan kerja sama untuk konservasi Danau Limboto, dengan penanganan dari segala aspek penyebab kekritisan danau tersebut.

“Masalah danau Limboto akan kami sampaikan di Ottawa, untuk merumuskan langkah-langkah yang bisa dilakukan,” ungkap Kenzie, saat acara ramah tamah dengan Pelaksana Tugas Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail.

Ia juga berjanji akan menggandeng para lembaga donor di Kanada, untuk menyelamatkan danau yang saat ini berkedalaman tak lebih dari lima meter tersebut. Sementara itu Gusnar Ismail menyambut baik tawaran kerja sama Kanada tersebut dan berharap agar konservasi danau segera direalisasikan.

Menurut dia, saat ini Danau Limboto yang mempunyai luas hanya 6.700 hektare di tahun 1932 merupakan satu dari Sembilan danau terkritis di Indonesia berdasarkan hasil konferensi danau beberapa waktu lalu di Bali.

Pemerintah telah menetapkan sejumlah langkah strategis penyelamatan danau seperti penetapan zona pemanfaatan danau, pembentukan lembaga pengelola danau, pengorganisasian pengelolaan Daerah Aliran Sungai, serta konservasi dan pemulihan kerusakan zona hulu dan zona penyangga. Serta melakukan pengembangan hutan rakyat, pengenalan teknologi pertanian yang ramah lingkungan, diversifikasi pertanian, implementasi rencana konservasi tanah desa, penertiban pemanfaatan Danau Limboto, serta penanganan gulma air. (Ant/OL-01)

Desember 2009

Empat Jenis Ikan di Danau Limboto Punah

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ Rabu, 09 Desember 2009

GORONTALO–MI: Sebanyak empat jenis ikan yang pernah hidup di lingkungan Danau Limboto, dinyatakan punah keberadaannya.

Hal itu diungkapkan kepala bidang pengelolaan dan pelestarian lingkungan, pada Badan Lingkungan hidup, riset dan Teknologi (Balihristi) Provinsi Gorontalo, Rugaiya Biki, Rabu (9/12).

Dia mengatakan, keempat jenis ikan air tawar itu, yakni yang dikenal dalam bahasa daerah, masing-masing mangaheto (ikan sejenis bubara berwarna merah), Botua (ikan jenis mujair berwarna putih tanpa sisik), Bulaloa (ikan jenis bandeng tulang sedikit berwarna putih bersisik), dan Boidelo (mirip ikan tuna bersisik dan berwarna abu-abu).

“Keempat jenis ikan itu, kini tak bisa lagi ditemukan di Danau Limboto,” ujarnya.

Punahnya keempat jenis ikan tersebut, diduga disebabkan oleh eksploitasi sumber daya perikanan secara berlebihan dan kurang ramah lingkungan, yaitu penggunaan racun (potas), setrum, bom ikan dan alat penangkap skala besar.

Di danau yang luasnya terus menyusut, akibat tingginya sedimentasi itu, kini hanya ditemukan beberapa jenis ikan yang masih bertahan hidup, meski dengan tingkat populasi yang cukup sedikit.

Ikan-ikan tersebut, di antaranya Tawes (Puntius Javanicus), Manggabai (Glossogobius Giuris), Sepat (Trichogaster Pectoralis), dan Payangga (Ophiocora Porocephala).

“Keempat jenis ikan ini juga terancam punah keberadaannya, karena terus ditangkapi oleh nelayan, untuk dijual, mengingat dagingnya yag empuk, serta harganya yang mahal,” Kata dia.

Dia mengatakan, Puluhan tahun silam, yakni pada 1932, kedalaman Danau Limboto masih mencapai 30 meter dengan luas 7.000 hektare, dengan puluhan jenis ikan dan habitat air yang hidup di dalamnya.

Namun karena maraknya perambahan hutan di hulu sungai, serta perlakuan yang kurang ramah lingkungan, danau terbesar di Gorontalo itu, kini hanya memiliki kedalaman 2,5 meter dengan luas 3.000 Ha, serta jumlah ikan serta habitat air di dalamnya, yang tinggal bisa dihitung dengan jari. (Ant/OL-04)

NELAYAN PESISIR MENGADU KE RAHMI DANAU LIMBOTO TIDAK LAGI MENJANJIKAN

Sumber: http://pkk-kabgorontalo.blogspot.com/ 20 Desember 2009

Dalam tanggapannya Rahmi mengatakan bahwa dengan fakta yang ada sebagai nelayan sebaiknya jangan tangisi nasib, tetapi teruslah berusaha untuk mencari jalan keluar dari kesulitan ekonomi keluarga. Kita sendiri yang dapat mengubah nasib, jika memang peghasilan di danau tidak menjanjikan lagi, maka jangan menjadikan danau sebagai satu-satunya sumber pencaharian keluarga. Berusahalah dengan pekerjaan alternatif lainnya.

Rahmi pula mengungkapkan bahwa dalam agenda reses selaku anggota DPD-RI merupakan tanggungjawabnya untuk menyampaikan aspirasi tersebut baik kepada pemerintah daerah dan akan diteruskan ketingkat pusat, meskipun diakuinya kewenangan anggota DPD-RI hanya bisa mengusulkan dan tidak memiliki wewengan dalam menetapkan. Dialog yang dilakukan dengan turun lapangan wawancara langsung dengan masyarakat itu diakhiri dengan memboyong seluruh jualan ikan air tawar miliki nelayan dengan harga lebih.

Sungguh memililukan nasib Danau Limboto, dan lebih memilukan lagi nasib dari masyarakat miskin pesisir yang mengantungkan hidupnya dari hasil danau sebagai nelayan air tawar. Danau semakin dangkal ikan sulit dicari, jika harga ikan dinaikan pelanggan enggan membeli, sehingga dari pada ikan membusuk lebih baik dijual murah, jika demikian adanya kemana lagi harus menyambung hidup jika kondisi danau tidak lagi menjanjikan beralih profesi sangat sulit selain karena tidak memiliki keterampilan lain, danau sudah menjadi sumber kehidupan turun temurun.Keluhan ini sampaikan oleh penjual ikan air tawar yang temui oleh Ketua TP. PKK Rahmijati Jahja di kompleks pasar tradisional Dehualolo Kelurahan Hutuo Kecamatan Limboto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: