Berita 2010-3 (Sept-Des)

September 2010

Kayubulan-Hunggaluwa Kembali Dilanda Banjir

Ratusan Rumah Tergenang Air

Sumber: http://www.gorontalopost.info/ 27 September 2010

LIMBOTO – Ratusan rumah yang berada di dua kelurahan di Kecamatan Limboto masing-masing Kelurahan Kayubulan dan Hunggaluwa terendam banjir akibat luapan air sungai marisa paska hujan deras yang turun pada Minggu (26/9) sekitar pukul 14.00 WITA kemarin. Hasil pantauan Gorontalo Post luapan air sungai yang membanjiri ratusan perumahan warga yang berada didua kelurahan tersebut, mulai memasuki rumah warga sejak pukul 16.30 WITA.

Sedangkan ketinggian air hanya berkisar sampai 30 Centi meter (CM) dan yang berada didalam rumah sekitar 5 CM saja. Sedangkan yang ketinggian air yang berada dijalanan hanya mencapai 10 CM. dari pantauan Gorontalo Post dua kelurahan yang dilanda banjir tersebut adalah daerah yang berada disekitar danau Limboto yang berdataran rendah. Namun luapan air sungai yang begitu deras hanya berlangsung hingga 1 jam hingga pukul 17. 30 WITA, kemudian mulai menurun.

Rizal salah seorang warga Kayubulan saat berbincang-bincang dengan Gorontalo Post mengungkapkan, banjir yang melanda dua kelurahan tersebut hanyalah luapan air sungai yang menyebrang jalan saja. Dan ini menurutnya sudah menjadi hal yang biasa terjadi didaerah itu. “Biasa, ini hanya luapan air sungai menyebrang saja. Tiap kali musim hujan, pasti daerah ini pasti akan banjir.

Soalnya dekat dengan danau to. Jadi tidak usah heran kalau daerah ini langganan banjir. Mudah-mudah sotidak moujan lagi, sehingga air sungai akan cepat turun. Kecuali kalau hujan akan turn sampai dua atau tiga hari. Pasti selain sungai, danau pun akan meluap. Kalau sudah begitu baru bisa dibilang banjir, karena ketinggian air yang masuk kerumah akan mencapai hingga 30 CM hingga 50 CM,” terang Rizal. (ded)

Warga Diminta Waspadi Banjir

Tony : Pemkab Sediakan Posko Penyelamatan

Sumber:  http://www.gorontalopost.info/ 28 September 2010

LIMBOTO – Musibah banjir yang melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Goront mengudang perhatian serius dari Wabup Tony Junus. Tak heran jika Tony mengimbau kepada warga mewaspadai banjir dan longsor, menyusul meningkatnya curah hujan selama beberapa hari terakhir ini. “Saya minta masyarakat siaga dan waspada jika hujan deras karena khawatir terjadi longsoran tanah dan banjir,”katanya.

Dia mengatakan, hingga saat ini wilayah Kabupaten Gorontalo sangat berpotensi terjadi bencana alam seperti banjir dan longsoran tanah karena letak geografisnya berbukit terjal serta pegunungan, khusunya yang berada di Kecamatan Biluhu dan Batudaa pantai. Selain itu, juga terdapat daerah aliran sungai (DAS) aliran sungai yang bisa meluap. Olehnya harus diwaspadai bersama.

Dia mengatakan, daerah rawan bencana di Kabgor seperti longsor adalah Kecamatan Biluhu, Batudaa Pantai, Boliyohuto dan Asparaga. Daerah tersebut, kerapkali terjadi longsoran tanah jika hujan deras karena lokasinya berada pada dataran tinggi dan berbukit terjal serta pegunungan. Termasuk wilayah yang kerap dilanda banjir yakni bantaran sungai dan pesisir Danau Limboto. Tak hany seruan yang dilakukan Pemkab kata Tony, Pemkab membangun beberapa pos yang menyiapkan peralatan evakuasi termasuk persendian pangan dan obat-obatan.

Selain itu, juga dibantu petugas Polri, TNI, Tagana dan relawan yang sewaktu-waktu siap diterjunkan ke lokasi bencana alam. “Penanggulangan bencana alam diperlukan tindakan cepat dan kerja sama yang baik serta koordinasi dengan berbagai instansi untuk menghindari jatuh korban,”pungkas Tony sembari menambahkan, Dinas Sosial juga sudah menyalurkan bantuan makanan instan kepada warga korban banjir di beberapa keluarahan di Limboto dan Kecamatan Telaga Cs.(hmp)

Sudah Tiga Bulan Bertahan di Tengah Genangan Air

Sumber: http://www.gorontalopost.info/ 28 September 2010

SETIAP Tahun warga yang di pesisir danau Limboto menghadapi bencana banjir musiman yang diakibatkan oleh meluapnya air di danau. Kondisi ini akan berlangsung hingga sekian lamanya. Khusus untuk tahun 2010 ini bencana banjir datang sudah berulang kali, bahkan setiap hujan turun, air danau pun langsung menggenangi rumah milik para penduduk.Sofyan Ishak, Gorontalo Post

BERTAHAN. Meski luapan air danau telah berlangsung berbulan-bulan lamanya, warga memilih bertahan dirumah mereka masing-masing, dan melakukan aktivitas sebagaimana biasa. (Foto : Sofyan Ishak/Gorontalo Post) Kondisi Warga Pesisir Danau Limboto di Kecamatan Tilango-Telaga Jaya

POTRET Seperti ini sudah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi ketika musim hujan tiba. Puluhan bahkan sampai ratusan rumah milik warga yang berada dipesisir danau limboto diterjang air luapan danau limboto. Curah hujan di Gorontalo yang sudah mulai turun pada bilan Juni silam hingga saat ini, mengakibatkan meluapnya air danau limboto. Dari pengakuan warga, sebenarnya ditahun-tahun sebelumnya, air danau akan meluap jika curah hujan berlangsung lama. Tapi berbeda dengan tahun ini, setiap hujan turun, air danau langsung meluap. Warga sendiri sepertinya telah mencoba membiasakan diri dengan kehadiran banjir musiman tersebut. Sebagian besar warga memilih bertahan hidup di rumah masing-masing, meski harus membangun balai-balai yang terbuat dari bambu dan papan, untuk bisa menjalankan rutinitas sehari-hari.

Dari pantauan Gorontalo Post kemarin Senin (27/9), terlihat warga tetap melakukan aktivitas seperti memasak, tidur dan mencuci baju di rumah masing-masing. “Kalau mandi, cuci baju, cuci pakaian dan aktivitas lain kami menggunakan air danau ini, sedangkan untuk memasak, air yang kami gunakan adalah air yang diambil dari sumur suntik,” tandas Mus Akuba warga Tilote yang ditemui Gorontalo Post. Warga sendiri mengaku, hingga saat ini bantuan yang masuk memang sudah banyak, hanya saja warga tetap mengharapkan kiranya pemerintah bisa memberikan solusi kongkrit terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini.

Sementara itu dari data yang diperoleh Gorontalo Post, menurut Sekcam Tilango C.H Tomayahu, di kecamatan Tilango ada 7 Desa yang menerima dampak dari meluapnya danau Limboto, desa tersebut diantaranya Tilote, Lauwonu, Talango, Tenggela, Ilotidea, Dulomo dan Tabumela. “Jumlah keseluruhan warga yang menjadi korban adalah sekitar 6 ribuan warga dengan jumlah Kepala Keluarga mencapai 2 ribu KK,” terangnya. Di Kecamatan Talaga Jaya sendiri jumlah KK yang menjadi korban luapan danau limboto menurut Camat Talaga Jaya Abdul Azis Hasan berjumlah 981 KK, dengan jumlah keseluruhan 3078 jiwa. “Pemerintah sendiri hingga saat ini terus berupaya memberikan bantuan kepada seluruh korban banjir khususnya bantuan berupa makanan, dan alat masak,” papar Azis.

Azis menambahkan pula, di Kecamatan Talaga Jaya, sebagian warga yang mengungsi menempati sejumlah sarana umum, seperti kantor desa, aula, dan juga camp penampungan yang didirikan oleh Pemprov Gorontalo. Sedangkan di kecamatan Tilango sendiri warga yang memilih bertahan, karena ingin mengamankan harta benda mereka yang ada, agar tidak dijarah. (***)

Oktober 2010

Waduk Toheti Solusi Atasi Banjir

Sumber: http://www.gorontalopost.info/ 01 Oktober 2010

Gubernur : Bisa Juga Untuk Air Minum dan Pengairan Sawah

GORONTALO – Persoalan banjir yang melanda Kota Gorontalo dan sekitarnya terus menjadi perhatian Pemprov Gorontalo. Selain sedang membangun kanal banjir Tamalate Bone yang dipastikan selesai tahun depan, Pemprov kini telah memikirkan lagi membangun waduk Toheti tepat dipertemuan sungai Bulango dan Sungai Mongiilo, Kecamatan Tapa, Bone Bolango. Waduk Toheti dinilai merupakan sulusi tepat mengatasi banjir di Kota Gorontalo dan sekitarnya. Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail kepada Gorontalo Post, usai meninjau hulu sungai bulango, Kamis (30/10) mengatakan, ada dua konsep dalam mengatasi banjir di Kota Gorontalo akibat luapan sungai bulango, yakni dengan membangun kanal Bulango dan muara di Danau Limboto.

Tapi konsep ini menurut Gubernur terlalu ribet, konsekwensi pertama kata dia adalah, kanal bakal menambah sendimentasi danau Limboto,sehingga akan lebih menadangkalkan danau. “Dan yang kedua adalah begitu banyak dampak sosial kemasyarakatan yang harus kita pikirkan seperti pemindahan penduduk dan segala macam,” katanya. Maka, pembangunan waduk Toheti adalah solusi utama, menurutnya waduk bukan sekedar mengatasi banjir, tapi juga berfungsi untuk sektor lain, seperti bisa mengairi untuk lahan sawah seluas kurang lebih 6 ribu hektare dan berfungsi sebagai sumber air bersih untuk penduduk kurang lebih 2 ribu KK.

“Hari ini saya tinjau sampai dihulu sungai bolango. Dan ternyata sungai bolango yang masuk ke Kota Gorontalo sebetulnya ada dua sungai besar, yakni sungai bolango dan sungai mongiilo, dipertemuan dua sungai itu akan dibuat waduk. Kita tangkap disitu airnya kemudian secara perlahan dan bertahap dialirkan ke sungai bolango yang masuk di kota, sehingga dijaga tidak akan serta merta ketika hujan deras, air tidak semua masuk ke kota, karena itu yang menyebabkan banjir,”” kata Gubernur.

Namun kata dia, konsep ini bukan tidak ada persoalan, salah satu tantanganya adalah akan terjadinya genangan pada beberapa hektare dilahan sekitar waduk, genangan jelas akan merendam sejumlah pemukiman penduduk disekitarnya. “Ini yang harus saya bicarakan dulu dengan masyatrakat, agar supaya tidak terjadi hal-hal yang kontrovesrial,” tandas Gubernur. Tapi lanjut Gubernur, harus dilihat apa manfaat Waduk, yakni selain bisa mengatasi banjir, juga berfungsi sebagai sumber air bersih dan pengairan untuk persawahan dimana lebih banyak masyarakat yang akan merasakan dampaknya.

Gubernur mengatakan, telah memerintahkan Dinas PU untuk segara melakukan kembali survey rencana pembangunan waduk Toheti ini, sementara tugas pemerintah, lajut dia, adalah melakukan pendekatan dengan masyarakat dan membicarakan soal fungsi waduk bagi daerah ini. “Kita bicara dengan masyarakat bahwa ini lho masalahnya, dan ini jalan keluarnya. Mudah-mudahan ada titik temu dan demikian Gorontalo terhindar dari banjir,” ujarnya.

Langkah pembangunan waduk adalah program jangka menengah dan panjang yang segera dilakukan pemerintah. Program jangka pendek untuk mengatasi banjir kata Gubernur, adalah dengan membenahi sistem drainase di Kota Gorontalo, serta melakukan penyedotan dengan menggunakan pompa air. “Pemanfaatkan pompa kurang lebih 6 buah, untuk kita pompa air itu mengalir ke sungai bolango,” tandas Gubernur yang terus bekerja untuk persoalan banjir di daerah ini. (tro)

Potret Warga Pesisir Danau Limboto Kala Dilanda Banjir

Sumber: http://www.gorontalopost.info/ 01 Oktober 2010

DI MANA Ada usaha pasti ada jalan, meskipun tengah berkutat dengan bencana banjir, akibat luapan air danau Limboto, namun tidak membuat sejumlah warga di pesisir danau, harus meradang. Kondisi ini justru dimanfaatkan untuk bisa menjadi salah satu mata pencaharian yang setidaknya bisa membuat dapur keluarga bisa ngebul.

Laporan : Sofyan Ishak, Gorontalo

ALTERNATIF. Ojek perahu menjadi pekerjaan alternatif bagi Mus Akuba dan Yunus Akuba, di tengah luapan air danau limboto yang sudah menggenangi rumah mereka hampir tiga bulan lamanya. Menjadi Berkah, Ojek Perahu Laris Manis

JIKA ingin mengitari sejumlah dusun yang ada dibeberapa desa yang berada dikawasan pesisir danau, maka jasa para tukang ojek perahu, akan sangat dirasakan manfaatnya. Pasalnya hanya inilah satu-satunya armada yang bisa digunakan untuk bisa menjangkau, ataupun melihat dari dekat bagaimana kondisi pemukiman warga yang sudah digenangi air semenjak tiga bulan lamanya dan belum pernah surut.

Seperti halnya ketika Gorontalo Post yang pagi itu, akan melakukan mengitari daerah-daerah yang diterjang banjir. Setibanya di ujung jalan desa yang kering. Sudah terlihat beberapa perahu diparkir, dan ditunggui oleh para pengemudinya, yang siap mengantarkan kemanaapun tujuan kita. Salah seorang tukang ojek perahu yang biasa mangkal di Desa Tilote dengan ramah kemudian menyapa, dan menawarkan jasanya kepada awak Gorontalo Post. Setelah melakukan nego harga sesaat, perahu ini pun kemudian bergerak perlahan dengan dikemudikan oleh dua orang pria membawa reporter Gorontalo Post melihat dari dekat rumah-rumah warga yang diterjang banjir.

Saat hunting lokasi banjir tersebut, terungkaplah bahwa Mus Akuba dan rekannya Yudin Akuba, menjalani profesinya saat ini, tidak lain karena tuntutan hidup. “Pekerjaan saya serabutan pak, kadang jadi nelayan danau, kadang jadi buruh kasar, nah syukur-syukur dengan menjadi ojek perahu ini dapur keluarga saya ditengah banjir ini masih bisa tetap ngebul,” tuturnya polos. Mus menuturkan, dalam menjalankan aktivitasnya ini, ia bersama dua rekan lainnya saling bergantian mengemudikan perahu dan mengantarkan siapa saja penumpang yang ingin menggunakan jasa mereka.

Dalam setiap harinya, menurut Mus jika memang sedang ramai pendapatan mereka bisa mencapai Rp150 ribu. “Namun kalau dirata-ratakan setiap harinya bisa dapat Rp100 ribu, dan jumlah ini akan kami bagi tiga secara merata,” paparnya. Jumlah ini memang belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Kendati demikian baik Mus dan Yamin berusaha tetap tabah menjalani kehidupan mereka.

“Memang kalau sedang banjir seperti ini banyak warga yang beralih profesi menjadi tukang ojek perahu,” tandasnya. Meskipun bisa mendapatkan sedikit rejeki ditengah banjir, namun keduanya berharap hal seperti ini bisa segera berakhir. Keduany pun berharap pemerintah daerah bisa memberikan solusi dan penanganan terhadap bencana banjir akibat luapan air danau Limboto. (***)

10 Tahun Lagi Danau Limboto Jadi Daratan

Sumber: http://regional.kompas.com/ 3 Oktober 2010

GORONTALO, KOMPAS.com – Jika tak segera ditangani dengan baik, keberadaan Danau Limboto di Provinsi Gorontalo diprediksi hanya akan bertahan selama 10 tahun ke depan.

KOMPAS/FREDDY ROEROE Danau Limboto di Provinsi Gorontalo.

Pakar tata ruang wilayah, Dany Pomanto mengatakan bahwa prediksi tersebut terbukti dengan makin menyusutnya luas dan kedalaman danau tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menjelaskan, hingga Mei 2010 luas areal danau yang merupakan salah satu ikon Gorontalo tersebut hanya 2.659 hektare.

“Luas danau ini berukurang 228 hektare setiap tahun, akibat sedimentasi, serangan gulma enceng gondok serta makin luasnya areal pemukiman di bantaran danau,” ungkap arsitek kondang tersebut, Minggu (3/10/2010).

Selain itu, dua Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menyokong danau yakni DAS Limboto serta DAS Bone Bolango pun dalam keadaan kritis, dengan menyusutnya fungsi 21 sungai yang terdapat di sekitar danau.

“Sepuluh tahun lagi danau ini akan menjadi daratan dan bahkan bisa lebih cepat dari waktu tersebut bila tak ditangani dengan tepat,” tambahnya.

Menanggapi masalah itu, Dany mengungkapkan sejumlah gagasan menyelamatkan danau dari kepunahan diantaranya dengan mengeruk Danau Limboto, untuk memulihkan kembali fungsi danau tersebut.

Dua puluh satu sungai yang ada di DAS, kata dia, juga sebaiknya dibuatkan waduk tunggu yang bertujuan untuk menampung air sementara, sehingga volume air yang berlebih saat musim hujan tak langsung membanjiri wilayah yang ada di sekitar sungai, termasuk Kota Gorontalo.

Waduk tersebut, kata dia, akan memberi tiga fungsi sekaligus yakni memulihkan kondisi danau, menjadi cadangan air saat musim kemarau serta dimanfaatkan untuk pembangkit listri tenaga air.

Danau Limboto Terus Meluap, Warga Pesisir Cemas

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 11 Oktober 2010

GORONTALO–MICOM: Warga di pesisir Danau Limboto, Kabupaten Gorontalo, mulai cemas terhadap luapan air danau tersebut yang terus meningkat.

Salah seorang warga pesisir Danau Limboto, Nani, di Gorontalo, Senin (11/10), mengaku cemas, karena air luapan Danau Limboto yang menggenangi rumahnya tidak kunjung surut. “Kalau kemarin (10/10) tinggi air hanya sampai lutut, sekarang mulai naik sampai pinggang,” jelas Nani.Banjir yang diakibatkan oleh luapan air Danau Limboto memang sering melanda warga yang tinggal di pesisir Danau Limboto, terutama pada saat musim hujan. Nani mengatakan, warga di pesisir Danau Limboto umumnya telah terbiasa dengan banjir yang sering terjadi di daerah mereka.Pasalnya, lahan yang ditempati merupakan lahan yang ditinggalkan air danau pada saat musim
kemarau. Meski demikian, banjir yang terjadi sejak beberapa bulan lalu ini dinilai cukup lama dibandingkan dengan banjir pada tahun-tahun sebelumnya.Menurutnya, penyebabnya karena hujan yang sering mengguyur Kabupaten Gorontalo beberapa bulan terakhir. Nani berharap, pemerintah dapat segera mencarikan solusi yang terbaik untuk mengatasi persoalan banjir di daerah pesisir Danau Limboto. (Ant/OL-5)

Danau Limboto Kritis, Kedalaman Tinggal 1,9 Meter

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/ 14 Oktober 2010

TEMPO Interaktif, Gorontalo – Hasil penelitian terbaru di tahun 2010 tentang Danau Limboto mengungkapkan bahwa kedalaman danau terbesar di Gorontalo itu kini tinggal 1,9 meter dan luas tinggal 1.850 hektare.

“Kami baru saja melakukan penelitian di Danau Limboto dan ternyata kondisinya kian kritis,” ungkap Jasin Tuloli, peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo kepada Tempo, Kamis (14/10).

Menurutnya, proses sedimentasi di Danau Limboto makin drastis. Hal ini dibuktikan dengan makin mendangkalnya Danau Limboto dari waktu ke waktu. Pada tahun 1932, luas Danau Limboto 7.000 hektare dengan kedalaman 30 meter. Tahun 1965 luasnya sekitar 5.000 hektare dengan kedalaman 18 meter. Tahun 1975 luasnya 3.500 hektare dengan kedalaman 6,85 meter.

”Namun, ketika memasuki tahun 2005 hingga 2007, kedalamannya tinggal 2-3 meter dengan luas 2.000 sampai 2.571 hektare. Dan saat ini setelah kami teliti luasnya tinggal 1.850 hektare dan kedalaman 1,9 meter,” kata Jasin.

Jasin mengatakan beberapa temuan yang menyebabkan kerusakan di Danau Limboto adalah adanya penebangan hutan di sekitar danau dan pinggiran sungai serta kawasan hutan di hulu sungai.

”Sehingga menyebabkan terjadi erosi. Lalu kalau musim hujan mengalir ke sungai dan dibawa ke danau berupa sedimen,” ungkapnya.

Selain itu, kata dia, penyebab masalah di Danau Limboto salah satunya adalah kebijakan yang bermuatan politik yang turut merusak kelestarian danau, seperti pemberian sertifikat tanah dengan murah atau tanpa biaya dengan maksud terselubung agar memberikan dukungan suara pada calon pejabat tertentu dalam pelaksanaan pemilihan.

Vierta R Tallei, peneliti lainnya, mengatakan hasil penelitian itu menemukan beberapa pemikiran yang dapat dijadikan pedoman atau masukan untuk merekayasa sumber masalah Danau Limboto menjadi sumber kemakmuran bagi masyarakat Gorontalo.

”Agar sumber masalah bisa dijadikan sumber kemakmuran, maka masyarakat harus diberi sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ungkap Vierta.

Ia menjelaskan, pelestarian Danau Limboto memerlukan waktu yang sangat panjang dan harus dijadikan salah satu prioritas pembangunan daerah. Akan tetapi, katanya lagi, pelestarian tersebut tidak boleh tergantung dari masa kerja pemerintah daerah, baik gubernur, bupati maupun wali kota.

”Ketergantungan tersebut menyebabkan tidak ada kesinambungan dari satu periode masa jabatan ke periode masa jabatan pemerintah berikutnya,” ujar Vierta.  CHRISTOPEL PAINO

Luas Danau Limboto Kian Menyusut

Sumber: http://www.antara-sulawesiselatan.com/ 18 Oktober 2010

Gorontalo (ANTARA News) – Luas Danau Limboto di Gorontalo, kian menyusut dari tahun ke tahun dan kini hanya tinggal 1.850 Ha dengan kedalaman menyusut jadi 1,9 meter.

Ketua Tim Peneliti, Prof. Jassin Tuloli, Senin, dalam hasil riset akhir tim gabungan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2010, menegaskan pada 2007 lalu masih 2.000 Ha dan 1932 silam luas danau mencapai 7.000 Ha.”

Sebanyak 23 anak sungai yang menjadi sumber air danau itu telah mati akibat maraknya penebangan hutan dihulu dan pinggiran sungai,” ujarnya.

Danau yang menjadi simbol perdamaian pada perang saudara dua kerajaan di Gorontalo itu, kedalamannya pernah mencapai 30 meter.

Jassin mengatakan, penyusutan dan pendangkalan Danau Limboto mulai berlangsug secara signifikan dari tahun ke tahun.

Hasil penelitian ITB pada 1975 misalnya, mencatat luas danau tersebut tinggal 3.500 Ha, dengan kedalaman 6,85 meter.

Penelitian tim dari Universitas Erlangga, Surabaya pada 2007 yang lalu, mencatat penyusutan luasan danau yang kian memprihatinkan, yakni 2.000 Ha, dengan kedalaman dua meter.

Adapun sumber masalah dari kritisnya danau Limboto, antara lain maraknya penebangan hutan di hulu dan pinggiran sungai serta di pinggiran danau, tingginya sedimentasi akibat erosi di musim hujan, hingga pelaksanaan reboisasi yang tidak tepat waktu.

Sebagian besar permukaan danau Limboto yang menjadi daratan kini telah beralih menjadi pemukiman warga, sisanya menjadi keramba yang dikavling-kavling, bahkan oleh pejabat, aparat keamanan, hingga anggota legislatif.

Terkait hal tersebut, pihaknya merekomendasikan agar penanganan Danau Limboto sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan dan berdaya guna bagi masyarakat.

“Sumber permasalahan yang ada didalamnya dapat direkayasa sedemikian rupa menjadi sumber kemakmuran penduduk setempat,” ujarnya.(T.KR-SHS/M027)

Danau Limboto Menciut

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 18 Oktober 2010

GORONTALO–MICOM: Luas Danau Limboto di Gorontalo kian menyusut dari tahun ke tahun. Kini luasnya hanya tinggal 1.850 hektare (ha) dengan kedalaman menyusut jadi 1,9 meter.

Ketua Tim Peneliti, Prof. Jassin Tuloli, Senin (18/10), dalam hasil riset akhir tim gabungan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2010, menegaskan bahwa pada 2007 lalu, luas danau masih 2.000 ha dan 1932 silam mencapai 7.000 ha.

“Sebanyak 23 anak sungai yang menjadi sumber air danau itu telah mati akibat maraknya penebangan hutan di hulu dan pinggiran sungai,” ujarnya. Danau yang menjadi simbol perdamaian pada perang saudara dua kerajaan di Gorontalo itu kedalamannya pernah mencapai 30 meter.

Jassin mengatakan, penyusutan dan pendangkalan Danau Limboto mulai berlangsung secara signifikan dari tahun ke tahun. Hasil penelitian ITB pada 1975 mencatat luas danau tersebut tinggal 3.500 ha dengan kedalaman 6,85 meter.

Adapun sumber masalah dari kritisnya danau Limboto, antara lain maraknya penebangan hutan di hulu dan pinggiran sungai serta di pinggiran danau, tingginya sedimentasi akibat erosi di musim hujan, hingga pelaksanaan reboisasi yang tidak tepat waktu. Sebagian besar permukaan danau Limboto yang menjadi daratan kini telah beralih menjadi permukiman warga.

Sisanya menjadi keramba yang dikapling oleh pejabat, aparat keamanan, hingga anggota legislatif. Terkait hal tersebut, pihaknya merekomendasikan agar penanganan Danau Limboto sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan dan berdaya guna bagi masyarakat. (Ant/OL-5)

November 2010

Zonasi Danau Limboto Penting

Gorontalo Post , 18 November 2010

Sumber: http://www.gorontaloprov.go.id/

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Gorontalo dalam hal ini sekretaris Komisi III Ayu Trisna Nasibu menegaskan bahwa Pemerintah Daerah segera membentuk Tim Terpadu dalam menentukan batas wilayah danau yang nantinya akan tertuang dalam Peraturan Gubernur Gorontalo.

Penentuan zonasi kawasan Danau Limboto sangat mendesak untuk segera dilakukan karena penentuan zonasi tersebut merupakan langkah untuk mendukung penerapan Pergub kedepan. Banyak hal yang akan terjadi jika zonasi tidak segera ditetapkan melainkan akan terjadi konflik dilapangan karena sekarang Danau Limboto sebagian sudah menjadi pemukiman, lahan pertanian dan sebagainya dan itu akan mendatangkan persengketaan bila lahan yang mereka tempati atau sedang digarapnya masuk dalam zona Danau Limboto.

Hal lain yang mungkin akan terjadi jika tak segera ditentukan kawasan Danau Limboto yakni adalah langkah masyarakat untuk mengkapling wilayah danau akan terus berkelanjutan, untuk itu segera dilakukan penentuan tim terpadu guna mengatasi berbagai masalah yang akan terjadi.   Sumber : Gorontalo Post

Desember 2010

Warga Mengungsi Akibat Banjir Genangi Gorontalo

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 10 Desember 2010

Bencana alam banjir kembali  melanda sejumlah wilayah dai Kota Gorontalo, setelah hujan deras  mengguyur daerah itu dalam dua pekan terakhir.

Wilayah yang terendam banjir adalah Kelurahan Bugis, Moodu, Heledulaa Selatan, Limba U1, Ipilo, Siendeng, Biawu dan Lekobalo, demikian dilaporkan dari Gorontalo, Jumat (10/12/2010).Hujan deras menyebabkan sejumlah anak sungai, drainase serta air Danau Limboto meluap hingga ke pemukiman warga.Kondisi itu membuat sebagian warga mengungsi ke tempat yang lebih aman, namun sebagian masyarakat tetap bertahan di rumahnya masing-masing.

“Kami terbiasa dengan kondisi banjir. Setiap hujan pasti banjir. Jadi kami capek kalau harus mengungsi terus,” ujar Ibrahim, salah seorang warga Kelurahan Limba.

Menurut dia, pemerintah gagal melakukan sejumlah upaya penanggulangan dan pencegahan banjir selama ini.

“Pemerintah baru memperbaiki drainse saat musim hujan. Jadi saat hujan turun tetap saja kami kebanjiran karena drainase belum rampung seluruhnya,” katanya.

Ia menambahkan, salah satu penyebab air dengan mudah masuk ke rumah warga karena buruknya drainase di Kota Gorontalo.(Irf/At)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: