Berita 2011-1 (Jan-Juni)

Februari 2011

MENTERI KELAUTAN TEBAR IKAN KOAN DI DANAU LIMBOTO

Sumber:  http://www.bnisecurities.co.id/

Gorontalo, 16/2 (ANTARA) – Menteri Kelautan dan Perikanan RI , Fadel Muhammad menebar enam ribu bibit ikan koan, untuk mengatasi serangan enceng gondok di Danau Limboto. Ikan yang makan lumut dan akar enceng gondok tersebut, diharapkan bisa mengurangi laju penyusutan dan pendangkalan Danau Limboto.

“Danau merupakan aset perairan yang harus tetap dijaga pemerintah. Apalagi saat ini kondisi Danau Limboto semakin kritis,” ungkapnya, usai menebar benih ikan di tepi danau, Desa Iluta, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, Rabu.

Menurutnya, potensi danau seharusnya bisa memberikan sumbangan besar dalam perekonomian daerah, sehingga dibutuhkan langkah-langkah penyelamatan yang tepat. Wakil Gubernur Gorontalo, Tony Uloli memaparkan saat ini luas dan kedalaman danau mengalami penyusutan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1932 kedalaman Danau Limboto mencapai 30 meter, dengan luas 7.000 hektare.

“Saat ini kedalamannya hanya 2,5 meter dan luasnya kurang dari tiga ribu hektare,” tambahnya. Penyebab penyusutan dan pendangkalan danau disebabkan oleh sedimentasi serta serangan gulma, khususnya enceng gondok. Rencananya, Kementrian Kelautan dan Perikanan akan menebar hingga 500 ribu benih ikan di Danau Limboto, termasuk ikan mas dan nila.(D015)
(T.D015/B/M031/M031) 16-02-2011 17:12:32NNNN

Danau Limboto, Riwayatmu Kini

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 16 February  2011

Danau Limboto terletak di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Awalnya Danau ini memiliki kedalaman antara lima hingga delapan meter.

Mungkin masih asing di telinga masyarakat Indonesia pada umumnya akan Provinsi ini. Akan tetapi, Danau Limboto dulunya merupakan obyek wisata yang menarik, sekaligus sumber kehidupan bagi masyarakat Gorontalo. Airnya jernih, serta terdapat ikan-ikan khas Gorontalo seperti ikan payangga, ikan mangga bai, ikan saribu, dan juga ikan kabos alias gabus.

Tetapi saat ini biota seperti itu sudah susah dijumpai di Danau Limboto akibat kurangnya perhatian dari Pemerintah Daerah serta masyarakat Gorontalo.
Keadaan Danau Limboto sekarang sangat miris, danau ini mengalami penyusutan hingga kedalamannya saat ini berkisar 3 meter. Kualitas airnya yang sudah tidak lagi jernih, hingga berbagai mahkluk hidup yang hidup didalamnya mengalami kepunahan Di sisi lain, berbagai desa di pesisir danau mengalami kebanjiran hingga lima bulan belakangan ini, akibat luapan air danau. Sehingga masyarakat pesisir sulit untuk melakukan aktivitas keseharian. Sungguh ironis, Pemerintah setempat kurang memberikan perhatian pada mereka. Padahal, nafas kehidupan mereka sedang mengalami krisis.

Solusi

Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo Tinelo (KKIG Tinelo) berinisiatif mengajak masyarakat serta pemerintah untuk melestarikan aset bangsa ini.
Pada pertengahan November 2010 lalu, KKIG Tinelo mengadakan pertemuan dengan masyarakat pesisir Danau Limboto. Kegiatan ini bertujuan melihat langsung nasib masyarakat pesisir.

Kegiatan ini adalah insiatif Ketua Umum KKIG Tinelo H. Sjafrudin Mosii. “Kita sebagai warga negara wajib menjaga dan melestarikan lingkungan dan juga budaya,” ujar Sjafrudin di sela-sela acara. Saat ini, bumi sedang mengalami berbagai masalah. Sehingga kita sebagai mahkluk yang tinggal di dalamnya harus selalu menjaga dan merawat bumi yang semakin tua. Kegiatan ini juga dihadiri mahasiswa Universitas Gorontalo dari Sanggar Seni Abdi Budaya, Kepala Desa Ilotidea, Kepala Dusun dan masyarakat pesisir Danau Limboto. Dilakukan berbagai dialog dengan masyarakat setempat.

“Saya hanya pedagang kecil, yang setiap hari bernafas dan menghidupi keluarga melalui hasil bumi dari danau Limboto, sehingga saya memohon dengan sangat agar pemerintah memberikan perhatian lebih kepada masyarakat pesisir danau,” kata Uyun Katili, perwakilan warga pesisir danau.

KKIG Tinelo berinisiatif membuat teatrikal tentang Danau Limboto yang akan di pentaskan di Taman Ismail Marzuki Jakarta, serta memperkenalkan Danau Limboto ke seluruh Indonesia bahkan mancanegara.

“Agar ada upaya rill untuk menanggulangi pendangkalan danau. Pemerintah daerah harus menghentikan penangkapan ikan dengan menggunakan setrum listrik dan jala tarik,” kata Sjarifudin.

Sjarifudin menegaskan, diharapkan tidak ada warga yang mematok, mengkapling apalagi mensertifikatkan tanah danau. Masyarakat juga akan bersama-sama membersihkan enceng gondok.

Tuhan menciptakan alam ini dengan penuh cinta kepada makhluknya, maka sepatutnya juga kita menjaga dan melestarikan Bumi ini!

Tim Penulis : Febrianty Riry Asaad, Rizki Meirza Karim, Iskandar Bahsoan.  Komunitas Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Gorontalo Jaya (HPMIG Jaya) dan Komunitas Sanggar Seni Abdi Budaya UG

Maret 2011

15 Tahun Lagi Danau Limboto Lenyap

Sumber:  http://sains.kompas.com/ 3 Maret 2011

KOMPAS/Aris Prasetyo Danau Limboto, di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, dilihat dari Benteng Otanaha, pada Kamis (24/2). Kedalaman danau menurun drastis dari 14 meter pada tahun 1932 menjadi tiga meter pada tahun ini. Revitalisasi danau mendesak dilakukan.

GORONTALO, KOMPAS.com — Diperkirakan dalam kurun waktu 15 tahun lagi Danau Limboto di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, akan lenyap. Penyebabnya adalah pendangkalan yang terus-menerus terjadi setiap tahun. Kini, kedalaman danau hanya 3 meter saja atau menurun dari 14 meter pada tahun 1932.

Kepala Bidang Lingkungan Hidup pada Balai Lingkungan Hidup, Riset, dan Teknologi Informasi Provinsi Gorontalo Rugaya Biki mengatakan hal itu, Kamis (3/3/2011) di Gorontalo. Luasan danau juga berkurang drastis dari 7.000 hektar pada tahun 1932 menjadi 3.000 hektar saja pada tahun ini. Penyebab terbesar pendangkalan adalah endapan lumpur yang masuk ke dalam danau.

”Jika tidak ada perlakuan terhadap danau tersebut, kami prediksikan 15 tahun lagi danau akan lenyap atau rata dengan permukaan darat. Padahal, danau ini sangat vital perannya sebagai tangkapan air hujan untuk mencegah banjir di Gorontalo,” kata Rugaya.

Rugaya mengatakan, pendangkalan danau dipengaruhi matinya sebagian besar sumber mata air 23 sungai dan anak sungai yang bermuara di Danau Limboto. Akibatnya, saat terjadi hujan tanah di dasar sungai tergerus hujan dan terbawa ke danau. Dari 23 sungai dan anak sungai itu, hanya tiga sungai yang masih normal.

Kepala Balai Lingkungan Hidup, Riset, dan Teknologi Informasi Provinsi Gorontalo Rauf A Hatu mengatakan, tanggung jawab pemulihan danau tidak semata-mata ada di tangan pemerintah, perlu keterlibatan masyarakat dan lembaga nonpemerintah yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Apalagi, pemulihan danau membutuhkan waktu yang panjang dan dana besar .

Warga Terus Terancam Banjir

Sumber: http://m.kompas.com/ 23 Maret 2011

LIMBOTO, KOMPAS – Penurunan daya dukung hutan dan daerah aliran sungai menyebabkan warga di tepian Danau Limboto, Provinsi Gorontalo, dan sejumlah wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, terancam banjir rutin.

Menurut pantauan, Selasa (22/3), sekitar 450 rumah warga di tepian Danau Limboto, Desa Tabumelo, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, tergenang air danau sejak Mei 2010. Ketinggian air rata-rata 30-50 sentimeter. Namun, jika hujan lebat, genangan air bisa mencapai 1-1,5 meter. Kondisi tersebut disebabkan meningkatnya endapan di Danau Limboto.

Di beberapa lokasi di Desa Tabumelo, genangan air setinggi paha orang dewasa. Warga menggunakan perahu kecil dari kayu sebagai sarana transportasi antar-rumah atau menuju jalan utama desa.

Jika hujan lebat dan genangan meninggi, warga menaruh barang perkakas rumah di atas meja-meja kayu yang sudah dipersiapkan, seperti yang dilakukan Yamin Kadir (56), warga setempat. Barang-barang yang biasanya diletakkan di meja kayu adalah kursi sofa atau peralatan elektronik. Sepeda motor pun terpaksa digantung pada tiang kayu rumah dengan tali.

”Kami memilih bertahan di sini, sebab tidak ada pilihan lain untuk tinggal di luar desa.” kata Yamin.

Warga lainnya, Amna Ismail (37), menambahkan, sejak tahun 2000 kerap terjadi luapan air danau jika hujan lebat berlangsung. Namun, setahun terakhir, situasi itu makin parah.

Kepala Desa Tabumelo Keramat Ja’far mengatakan, pihaknya mengusulkan rencana pembangunan tanggul di sekeliling desa untuk menangkal luapan air. Usulan itu segera disampaikan ke Pemerintah Provinsi Gorontalo.

Kepala Bidang Lingkungan Hidup pada Balai Lingkungan Hidup, Riset, dan Teknologi Informasi Provinsi Gorontalo, Rugaya Biki, mengatakan, kedalaman Danau Limboto berkurang drastis selama 80 tahun terakhir. Pada tahun 1932, kedalaman Danau Limboto mencapai 14 meter, kini tinggal 2,5-3 meter. Penyebab terbesar pendangkalan adalah endapan lumpur yang masuk ke dalam danau.

”Lumpur itu berasal dari 23 aliran sungai yang bermuara ke danau. Pasalnya, sebanyak 20 aliran sungai sudah mati, dan tanah di dasar sungai tersebut tergerus menuju dasar danau saat hujan, ” katanya.

Aktivis lingkungan, Verrianto Madjowa, mengungkapkan, salah satu cara untuk memulihkan Danau Limboto adalah dengan penanaman pepohonan kembali di wilayah hulu. Pembersihan eceng gondok di permukaan danau harus digiatkan.

Sementara, daya dukung hutan di Aceh untuk menyimpan air juga terus menurun. Akibatnya, banjir mudah terjadi walaupun curah hujan normal, seperti yang melanda Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, dua pekan lalu.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh mencatat, dalam 2,5 bulan terakhir terjadi 20 kali banjir di wilayah Aceh. Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh mencatat curah hujan setempat rata-rata normal.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Aceh, Alfianto, mengungkapkan, dalam 2 bulan terakhir, rata-rata curah hujan di Aceh antara 100-300 milimeter per bulan. Intensitas tersebut tergolong normal. (APO/HAN)

Danau Limboto Dipenuhi Eceng Gondok

Sumber:  http://www.mediaindonesia.com/26 Maret 2011

MI/Gino F Hadi/ip

GORONTALO–MICOM: Tumbuhan Eceng Gondok atau Eichornia Crassipes memenuhi 30 persen permukaaan Danau Limboto di Provinsi Gorontalo.

Kepala bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Badan Lingkungan Hidup, Riset dan Teknologi Informasi (Balihristi) Provinsi Gorontalo, Rugaya Biki, Sabtu (26/3) menyatakan tumbuhan gulma itu tersebar di bagian tengah, barat dan utara danau.

“Konsentrasi terbesar eceng gondok berada di bagian tengah danau,” ujarnya.

Ia mengatakan, penyebaran eceng gondok yang cukup signifikan ini cukup mempengaruhi kualitas air pada danau terbesar di Gorontalo itu serta makin memperparah sedimentasi danau.

Pihaknya sendiri, sudah berupaya menanggulangi dengan melatih warga setempat untuk memanfaatkan eceng Gondok, sebagai bahan baku kerajinan, namun upaya ini tidak berjalan maksimal.

“Pola pikir masyarakat belum terbuka sepenuhnya,” kata dia.

Secara umum, kondisi ekologi danau Limboto memang cukup memperihatinkan, kini kedalaman danau hanya tinggal 1,5 meter, dengan luas yang menyusut hingga 3.000 hektare.

Penyusutan Danau limboto disebabkan oleh berbagai hal, selain pencemaran biologis dan kimiawi yang dihasilkan eceng gondok, juga diakibatkan oleh okupasi wilayah danau oleh masyarakat, penggundulan huta di hulu sungai, serta penangkapan dan budidaya ikan yang tidak ramah lingkungan.

Tanpa penanganan serius, ia memprediksi Danau Limboto akan punah dalam waktu 25 tahun ke depan. (Ant/OL-9)

Eceng Gondok Ancam Kelestarian Danau Limboto

Sumber: http://www.manadotoday.com/ 27 Maret 2011 

Gorontalo Today – Tumbuhan Eceng Gondok atau Eichornia Crassipes memenuhi 30 persen permukaaan Danau Limboto di Provinsi Gorontalo.

Kepala bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Badan Lingkungan Hidup, Riset dan Teknologi Informasi (Balihristi) Provinsi Gorontalo, Rugaya Biki, Sabtu menyatakan tumbuhan gulma itu tersebar di bagian tengah, barat dan utara danau.

“Konsentrasi terbesar eceng gondok berada di bagian tengah danau,” ujarnya.
Ia mengatakan, penyebaran eceng gondok yang cukup signifikan ini cukup mempengaruhi kualitas air pada danau terbesar di Gorontalo itu serta makin memperparah sedimentasi danau.

Pihaknya sendiri, sudah berupaya menanggulangi dengan melatih warga setempat untuk memanfaatkan eceng Gondok, sebagai bahan baku kerajinan, namun upaya ini tidak berjalan maksimal. “Pola pikir masyarakat belum terbuka sepenuhnya,” kata dia.

Secara umum, kondisi ekologi danau Limboto memang cukup memperihatinkan, kini kedalaman danau hanya tinggal 1,5 meter, dengan luas yang menyusut hingga 3000 hektare.

Penyusutan Danau limboto disebabkan oleh berbagai hal, selain pencemaran biologis dan kimiawi yang dihasilkan eceng gondok, juga diakibatkan oleh okupasi wilayah danau oleh masyarakat, penggundulan huta di hulu sungai, serta penangkapan dan budidaya ikan yang tidak ramah lingkungan.

Tanpa penanganan serius, ia memprediksi Danau Limboto akan punah dalam waktu 25 tahun ke depan. (ann/jwt)

April 2011

Pemprov – Manfaatkan Eceng Gondok Untuk Ekonomi Rakyat

Sumber: http://www.gorontaloprov.go.id/ 26 April 2011 

Upaya penyelamatan Danau Limboto, yang saat ini kondisinya kian kritis, terus digulirkan Pemprov Gorontalo melalui Badan Lingkungan Hidup,Riset dan Tehnologi Informasi (Balihristi). Salah satu langkah yang ditempuh adalah memanfaatkan eceng gondok yang ada di Danau Limboto menjadi produk bernilai ekonomis.

Langkah itupun ditempuh dengan memberikan pelatihan kerajinan eceng gondok. Pelatihan yang dipusatkan di Desa Iluhuta itu diikuti oleh warga di pesisir Danau Limboto, antara lain Iluhuta, Tabumela, Lekobalo dan Dembe.

Guberbur Gorontalo Dr. Ir. Gusnar Ismail,MM saat membuka pelaksanaan pelatihan, senin (25/4) mengemukakan, berbagai strategis dan langkah telah ditempuh Pemprov Gorontalo untuk upaya penyelamatan Danau Limboto. Dari berbagai langkah ersebut saat ini Danau Limboto telah masuk dalam tiga danau yang menjadi prioritas untuk diselamatkan. “dalam konfrensi Danau Nasional di Bali beberapa waktu lalu, kami memaparkan langsung kondisi danau limboto yang ada saat ini. Dari hasil konfrensi Danau Nasional itu, danau limboto ditetapkan sebagai salah satu dari tiga danau prioritas nasional, ”ujar Gubernur Gusnar Ismail.

“Dengan begitu, Pemerintah pusat nantinya akan mengalokasikan anggaran Rp 5 miliar untuk penataan dalam rangka penyelamatan danau limboto, ”sambung Gubernur Gusnar Ismail.

Menurut Gusnar Ismail, sambil menunggu alokasi anggaran dari Pemerintah Pusat, Pemprov Gorontalo juga meluncurkan berbagai program untuk penyelamatan danau limboto dengan memanfaatkan anggaran APBD. “Yakni penyemangat ikan Koan untuk menanggulangi pertumbuhan eceng gondok serta pelatihan kerajinan eceng gondok, ”ujar Gubernur Gusnar Ismail.

Lebih lanjut Gubernur Gusnar Ismail mengatakan, masalah danau limboto, telah menjadi masalah bersama. Oleh sebab itu ada beberapa program Pemprov Gorontalo untuk menangani masalah tersebut. antara lain pemerintah dan DPRD Provinsi Gorontalo sudah berhasil menetapkan menyangkut Perda pengelolaan danau limboto. Selanjutnya pemerintah Provinsi tugasnya adalah segera mengidentifikasi batas – batas danau tersebut. “akan ditetapkan mana saja batas danau dengan rumah penduduk, rumah – rumah penduduk yang sudah masuk ke areal danau akan dibatasi dan program ini disebut dengan program pembangunan ring belt. Ring belt ini dipakai dari hasil pengerukan danau, ”jelas Gubernur Gusnar Ismail.

Sementara itu Kepala Balihristi Provinsi Gorontalo Dr. Rauf A Hatu,M.Si mengatakan, danau limboto keadaanya semakin lama semakin menyempit. Dari hasil penelitian luas danau limboto hanya tinggal sekitar 3000 meter. Salah satu penyebab utamanya yakni eceng gondok dan sebagai upaya menangani hal ini Balihristi mengadakan pelatihan pemanfaatan eceng gondok tersebut. “Ada tiga fungsi pemanfaatan eceng gondok ini yang pertama eceng gondok ini dijadikan pupuk organik yang di olah secara teknologi. yang kedua eceng gondok tersebut dijadikan biogas yang juga menggunakan teknologi tinggi dan yang ketiga dijadikan sebagai kerajinan tangan, ”tandasnya.

Juni 2011

Gubernur Gorontalo : Selamatkan Danau Limboto

Sumber:  http://www.antara-sulawesiselatan.com/ 12 Juni 2011 

Gorontalo (ANTARA News) – Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail meminta pemerintah daerah terus berupaya untuk segera menyelamatkan kelestarian danau Limboto yang saat ini semakin dangkal.

“Jika kita tidak segera menyelamatkan danau yang menjadi andalan masyarakat Gorontalo itu, maka dalam waktu dekat akan menjadi tinggal kenangan,” katanya di Gorontalo, Minggu.

Dia menjelaskan danau Limboto merupakan potensi alam yang dimiliki Gorontalo, namun kondisinya saat ini sangat memprihatinkan, karena terjadi pendangkalan dan banyak tumbuhan liar yang tumbuh.

“Beberapa tahun lalu, kedalaman danau Limboto masih mencapai 5 meter, namun survei dan evaluasi terakhir mencatat saat ini hanya tinggal 1,5 meter dan banyak lumpur di dasar kolam danau itu,” katanya.

Selain lumpur berasal dari pegunungan di sekitar danau yang terbawa erosi setiap kali hujan turun, juga banyak tumbuhan liar seperti enceng gondok yang menutupi air di danau Limboto.

“Pemerintah Provinsi akan segera mengalokasikan dana untuk menyelamatan danau Limboto,” katanya, tanpa menyebut besaran dana secara rinci.

Selain itu, berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah semakin perkembangannya tanaman liar enceng gondok dengan mendatangkan mesin yang bisa mengolah menjadi bahan baku untuk kerajinan.

“Kami juga sudah mendatangkan sejumlah jenis ikan yang punya ciri khas untuk memakan tanaman enceng gondok bila dilepas pada kolam danau,” katanya.

Sejumlah warga pesisir danau Limboto ketika ditemui mengatakan, jika ingin menyelamatkan kelestariannya, maka pemerintah harus menertibkan dulu jaring dan karamba yang ada.

Selain itu, pemerintah juga harus melarang penebangan liar yang dilakukan warga di areal sekitar pegunungan di sekitar danau Limboto, sehingga tidak terjadi erosi yang membawa material berupa pasir dan tanah di musim hujan yang akhirnya menimbun kolam danau. (T.M031/E011)

“Kami juga sudah mendatangkan sejumlah jenis ikan yang punya ciri khas memakan tanaman enceng gondok, untuk dilepas pada kolam danau,” kata Gusnar.

Sejumlah warga dipesisir Danau Limboto ketika ditemui mengatakan, jika ingin menyelamatkan kelestariannya, pemerintah harus menertibkan dulu jaring dan karamba yang ada. Selain itu melarang penebangan liar yang dilakukan warga di areal sekitar pegunungan yang ada disekitar danau Limboto, sehingga bila terjadi hujan tidak akan mengakibatkan erosi yang membawa material berupa pasir dan tanah, yang selama ini menimbun kolam danau. (*/tribungorontalo.com)

One Comment on “Berita 2011-1 (Jan-Juni)”

  1. Abang Bentor Says:

    nice, GAN,, Slm kenal,,,,, knjung balik Gan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: