Berita 2006

Januari 2006

Meneg LH Canangkan Program Pemulihan Danau Limboto

Sumber: www.gorontaloprov.go.id/ Selasa, 03 Januari 2006

Gerakan Program Pemulihan Danau Limboto, Selasa (3/1) dicanangkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup RI Rachmat Witoelar, di Desa Iluta Kabupaten Gorontalo. Acara pencanganan tersebut disamping ditandai dengan penandatanganan komitmen dari pemerintah daerah (Bupati dan Walikota) terhadap penanganan Danau Limboto yang semakian kritis. Juga aksi pembersihan eceng gondok di sekitar danau oleh sekitar 70 anggota Taruna Siaga Bencana (TAGANA) dan masyarakat sekitar bersama-sama anggaora Gerakan Pramuka Provinsi Gorontalo. Kegiatan yang berlangsung di lokasi pendaratan pesawat ampibi Presiden Bung Karno itu juga ditandai dengan penyerahan bibit jarak dan jagung kepada Walikota Gorontalo Medi Botutihe dan Bupati Gorontalo Drs H David Bobihoe dan masyarakat oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar didampingi Gubernur Fadel Muhammad dan Ny Erna Witoelar yang juga ikut menyerahkan benih kepada ibu-ibu PKK.

Kegiatan pemulihan danau Limboto ini menurut Kepala Badan Penlitian dan Pengembangan Dampak Lingkungan (Balitbang -Pedalda) Provinsi Gorontalo DR Ir Rustamrin Akuba dimaksudkan untuk melestarikan kembali danau limboto dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar serta untuk kepentingan yang lain.

Hal yang sama juga diungkapkan Gubernur Gorontalo Ir H Fadel Muhammad, melalui pencanangan ini diharapkan Danau Limboto tetap lestari dan bermanfaat di masa yang akan datang baik airnya maupun para nelayan yang ada di dalamnya maupun untuk kepentingan yang lain, seperti tempat rekreasi seperti ditempat-tempat lain.

Hal lain juga akan diupayakan untk membuat saluran-saluran air yang keluar dari danau ke laut. ?untuk kepentingan ini saya telah membicarakan dengan Ketua Bappenas, dalam hal penyediaan anggarannya,? ungkapnya.

Akan tetapi yang paling penting program pemulihan ini harus diawali dengan tekad bersama dari pemerintah daerah baik bupati dan walikota maupun pemerintah provinsi yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah nasional.

Sementara itu Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar dalam sambutannya mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mendukung kinerja dari masyarakat Gorontalo dibawah kepemimpinan Gubernur H Fadel Muhammad. Tak heran Meneg memboyong semua pejabatnya mulai dari Sekertaris Menteri, Staf khusus dan Staf ahli serta para Deputi-nya ke Gorontalo.

Dikatakannya setidaknya ada dua makna dari kegiatan pencanangan ini dimana pertama adalah bahwa kita mesti menjaga jangan sampai ada lingkungan / alam yang menjadi rusak dilain pihak kita harus segera memulihkan lingkungan yang sudah rusak.

Contoh kongritnya adalah peristiwa banjir bandang besar di Jember dua hari lalu. ?Malapetaka alam Ini sebenarnya dapat kita hindarkan, karena ini akibat ulah dari perbuatan manusia itu sendiri. Karena manusia tidak menjaga lingkungan, maka manusia tidak menjaga manusia itu,? ungkapnya.

Menteri pun menguraikan bahwa kejadian-kejadian seperti ini banyak terjadi di Indonesia, selain yang dramatis itu ada juga yang secara pelan-pelan, tidak kelihatan tetapi merambat menjadi satu perkara yang besar dan kalau tidak ditangani akan menjadi masalah yaitu masalah polusi yang biasa ?masalah perambahan hutan, kerusakan dari sungai dan juga seperti yang terjadi di Danau Limboto ini, Danau Tempa dan lain-lain yang secara pelan-pelan tetapi terus menerus lingkungan danau ini akan rusak dan lebih memprihatinkan masalah ini karena ketidakhuan dari masyarakat itu.

“Hal utama yang harus kita lakukan adalah memberi tahu kepada masyarakat apa yang perlu dan yang tidak perlu dilakukan, dan bersama-sama meningkatkan kinerja masyarakat itu sendiri,” jelasnya.

Untuk masalah alam di Gorontalo, Menteri yakin masalah ini akan dapat diatas karena komitmen pemerintah dan masyarakat cukup tinggi untuk tetap menjaga lingkungan, apalagi lahan-lahannya sangat subur belum lagi ditopang dengan program pemerintah yang focus terhdap tiga program unggulannya.

Sehingga masyarakat tidak terdorong untuk merusak lingkungan dalam memenuhi keperluannya. Menteri juga mersa sangat berbahagia, karena ketika tiba disambut dengan upacara adat yang menandahkan bahwa menteri dan rombongan diizinkan untuk menjelajah bumi Gorontalo dan diterima sebagai warga Gorontalo.

Selama berada di Gorontalo menteri juga akan melakukan peninjaun Lokasi Taman nasional Nani Wartabone, dan menghadiri seminar action plan pemulihan danau limboto serat ekspose Adipura dan Briefing Menteri NMegara Lingkungan Hidup dengan para Bupati dan Walikota, Camat dan badan/dinas se Provinsi Gorontalo

Meneg LH: Danau Limboto Harus Jadi Keprihatinan Kita Bersama

Sumber: www.gorontaloprov.go.id/ Rabu, 04 Januari 2006

Menteri Negera Lingkungan Hidup RI Ir Rachmat Witoelar mengatakan Danau Limboto yang saat ini kondisinya makiin para adalah merupakan keprihatinan kita bersama, data yang ada menunjukan belasan atau puluhan sungai sudah rawan. Hal ini diakibatkan oleh tidak disiplinnya masyarakat, juga aparat-aparatur Negara dan juga pengusaha-pengusaha yang ada disekitar lingkungan danau atau sungai. Hal itu diungkapkannya pada acara seminar pemulihan Danau Limboto dan Wawasan MiIlenium Development Goals (MDG) 2015 yang berlangsung di Hotel Quality, Selasa (3/1), menghadirkan Duta Besar PBB untuk kawasan Asia Pasifik Erna Witoelar. . Acara tersebut di hadiri Gubernur Fadel Muhammad, Walikota Gorontalo Drs H Medi Botutihe, Bupati Gorontalo, para pejabat terkait baik provinsi, kabupaten dan kota, para pemerhati lingkungan, aktivis/LSM pecinta lingkungan. Yang tak kala menarik hadiri seluruh jajaran Kementerian Negara Lingkungan HIdup mulai dari Sekertaris Menteri, para Deputy, staf hali dan staf khusus.

Dikatakannya bahwa banyak danau di Indonesia termasuk di Gorontalo terkena selting (sedimentasi) yang berlangsung pelan-pelan, tidak kelihatan tapi dalam waktu yang lama. ?Adalah keteledoran kita semuanya, keteledoran pemerintah berpuluh tahun yang tidak teliti menjaga daerah aliran sungai serta daerah-daerah penghijauan dan ini terjadi di danau Tempe Sulsel Danau Limboto dan Poso termasuk Danau Kerinci, Melinjo,? ungkapnya. Dari masalah-masalah sedimentasi didanau itu yang paling banyak dan menyolok adalah eceng gondok.

Masalah ini tegas Meneg LH, perlu ditangani secara serius, tegas dan terus menerus dan mulainya itu dimulai saat ini juga jangan kapan-kapan dan jangan mengharapkan hanya dalam jangka waktu pendek dalam pelaksanaannya, atau hanya dalam masa jabatan gubernur, bupati atau walikota melaksanakan itu. ?Danau Limboto ini harus sama-sama kita tangani, kerjasama seluruh stakeholder sangat diperlukan,? tandasnya.

Ada dua hal dari inti dalam memulihkan danau ini yakni perlu menyadarkan masyarakat apa yang sedang terjadi dan kedua adalah memberdayakannya, yakni bagimana agar masyarakat itu menyumbang terhadap peristiwa ini. Rachmat meminta terhadap masalah ini juga secara tekun dilakukan terutama oleh para pejabat daerah untuk memberikan pembelajaran dan informasi kepada masyarakat untuk melakukan hal-hal tertentu.

Menyangkut masyarakatnya kata Menteri perlu ada langkah-langkah dan diberikan alternative kalau sampai mereka tidak punya cara lain untuk kehidupannya selain dari danau itu. ?Kalau menyangkut industri, ya laporkan saja kepada kami di KLH,? ungkap Meneg sambil menunjuk salah seorang Deputy yang menangani masalah tersebut.

Menteri juga membuka pintu kalau sekiranya ada permasalahan atau informasi-informasi yang diperlukan mengenai masalah pemulihan danau Limboto agar dikemunikasikan dengan pihaknya bahkan perlu ada staf-staf di KLH untuk pulang balik ke Gorontalo. Menteri juga sebenarnya ingin melihat secara langsung Bio Deversity di bawah laut namun karena waktu yang singkat sehingga itu belum sempat dilakukan.

Senada dengan menteri Gubernur Gorontalo Ir H Fadel Muhammad mengatakan bahwa penanganan Danau Limboto tidak merupakan tugas orang per orang saja tetapi tugas bersama baik pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat serta seluruh stakeholder.

Sehubungan dengan penanganan pemulihan danau Limboto ini pemerintah daerah telah mengambil langkah-langkah operasionalnya diantaranya melakukan aksi pembersihan dan menyadarkan masyarakat terhadap apa yang sedang terjadi didanau ini.

Pada kesempatan itu Gubernur Fadel Muhammad memberikan gambaran secara umum mengenai kondisi danau Limboto sejak tahun 1932 hingga sekarang dimana luas dana sekitar 7000 hektar lebih, namuan sering dengan perjalanan waktu pada tahun 1950 merosot lagi menjadi 6800 hektar, tahun 1982 tinggal 3300 hektar dan terkahir tahun 2002 luasannya tinggal 2500 hektar.

Sehingga itu melalui pertemuan tersebut kiranya dapat dihasilkan bagaiman cara agar danau tersebut dapat ditangani dengan baik dan potensi yang ada dapat ditumbuhkembangkan.

KLH Berikan Dana Untuk Pemulihan Danau Limboto

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/Senin, 09 Januari 2006

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kementerian Lingkungan Hidup mengucurkan dana Rp 600 juta untuk pemulihan Danau Limboto di Gorontalo.

“Dana itu untuk penghijauan dan pembuatan masterplan pemulihan danau Limboto,” kata Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Masnellyarti Hilman, kepada Tempo, Minggu (8/1).

Semua kegiatan pemulihan danau, lanjut dia, akan dilakukan oleh pemerintah setempat, sementara KLH hanya memberikan bantuan teknis. KLH juga telah memberikan rencana induk untuk mengatasi masalah pendangkalan dan pencemaran danau Limboto.

Langkah pertama pemulihan danau tersebut, kata Masnellyarti, adalah pemberian bibit-bibit pohon untuk penghijauan di hulu sungai yang mengarah ke danau. Sebab, hutan di wilayah hulu sungai terus mengalami penggundulan hingga terjadi erosi tanah yang mengakibatkan terjadi pendangkalan terhadap danau Limboto.

Menurut catatan pemerintah provinsi Gorontalo, pada 1932, luas Danau Limboto 7000 hektare dengan kedalaman 30 meter. Namun pada 1950 kedalamannya menjadi 12,27 meter, dan pada 1993 tinggal 1,8 meter.

Sebelumnya pemerintah Kotamadya dan Kabupaten Gorontalo meminta dana alokasi khusus (DAK) dari KLH untuk penanganan pemulihan Danau Limboto. “Penanganan eceng gondok di Danau Limboto sudah harus dilakukan,” kata Wali Kota Gorontalo Medi Botutihe (Koran Tempo, Kamis (5/1). Oktamandjaya Wiguna

Banjir Genangi Rumah di Gorontalo

Sumber:  http://tempo.co.id/ Sabtu, 14 Januari 2006

TEMPO Interaktif, Gorontalo:Banjir melanda dua daerah di Provinsi Gorontalo.

Di Kabupaten Boalemo air setinggi satu meter menggenangi ratusan rumah penduduk terutama di Desa Pentadu Barat, Pentadu Timur, Modelomo, dan Mohungo. Air mulai masuk ke rumah-rumah warga pada Jumat malam.

“Lokasi yang terkena banjir ini berada di dekat daerah aliran sungai,” kata Bupati Boalemo Iwan Bokings. Puluhan warga yang berada di lokasi yang rawan banjir ini telah dievakusasi.

Dia mengatakan, untuk mengurangi dampak banjir ini pemerintah daerah berencana membuat aliran sungai yang baru. Namun karena keterbatasan anggaran, aliran sungai baru ini belum dikerjakan.

Selain di Kabupaten Boalemo, banjir juga melanda pemukiman warga yang tinggal di sekitar Danau Limboto. Ratusan rumah terendam banjir, terutama di Desa Tabumela Kecamatan Telaga.

Kepala Hubungan Masyarakat Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo Azis Nurhamidin mengatakan, masyarakat membangun rumah di dekat danau. Akibatnya, setiap kali air di Danau Limboto meluap, rumah-rumah itu terendam air.

Pemerintah daerah telah melakukan peninjauan lapangan dan memberikan bantuan kepada warga yang terkena banjir.

Verrianto Madjowa – Tempo

Gubernur Kunjungi Lokasi Korban Banjir Luapan Danau Limboto

Sumber: http://www.gorontaloprov.go.id/ 19 Januari 2006

Gubernur Gorontalo Ir H Fadel Muhammad, Kamis (19/1) mengunjungi lokasi banjir akibat luapan Danau Limboto di Desa Tabumela Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Kunjungan gubernur bersama sejumlah pejabat terkait itu, yakni melibat dari dekat kondisi warga masyarakat di Desa Tabumela dan sekitarnya yang terkena dampak luapan air danau, sekaligus menyerahkan bantuan bahan makanan dan obat-obatan bagi warga yang sakit. Seperti diketahui, masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Telaga khususnya yang ada ditepi Danau Limboto seperti Tabumela, Tilote dan Tualango sejak 11 Januari lalu menjadi korban banjir akibat meluapnya air Danau Limboto tingginya mencapai 1,5 meter hingga 2 meter.

Akibat bencana tersebut sedikitnya 179 rumah warga terendam air yang tingginya mencapai 1,5 meter hingga 2 meter. Tidak hanya itu sedikitnya sesuai data yang di peroleh dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Gorontalo terdapat 293 KK dengan jumlah penduduk 1029 jiwa terancam kelaparan, banjir luapan air danau itu menyebabkan aktivitas masyarakat lumpuh total. Hingga saat ini korban banjir luapan Danau Limboto telah menelan korban jiwa sebanyak 1 orang.

Gubernur Fadel Muhammad ketika berdialog dengan warga sekitar dan Satkorlak PBP Provinsi yang merupakan gabungan dari berbagai instansi terkait dan unsur lainnya meminta agar terus memantau perkembangan terjadi di lokasi dan terus menjaga kesehatan warga dan juga ketersediaan air bersih bagi warga.

?Saya telah mintakan kepada Dinas Kesehatan agar terus memantau warga yang terserang penyakit melalui posko pengobatan dengan memberikan pengobotan cuma-Cuma, demikian juga dengan air bersih,? ungkap Fadel kepada wartawan kemarin.

Meski begitu gubernur pun meminta kepada instansi terkait dan petugas penanggulangan bencana untuk terus waspada karena masalah terberat yang akan dihadapi nanti yakni jika terjadi curah hujan tinggi yang akan mengakibatkan terjadinya luapan air danau susulan. Sehingga ini perlu diantisipasi dengan melakukan upaya evakuasi warga yang rumahnya terkena luapan air.

Sementara upaya yang telah dilakukan Repukordalops yang terdiri dari berbagai instansi dan unsur terkait yang tergabung dalam Satkorlak PBP Provinsi Gorontalo telah mendirikan posko penanggulangan bencana dilokasi yang aman.

Dinas Kesos juga telah mendirikan dapur umum untuk pelayanan distribusi makanan dan air bersih kepada korban bencana. Pun sama halnya dengan Dinas Kesehatan Provinsi bekerjsama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten telah mendirikan posko pelayanan kesehatan dan telah melakukan pelayanan terhadap sejumlah warga yang terkena wabah diare dan penyakit demam.

Demikian juga dari Unsur RAPI telah mendirikan Stasiun Komunikasi untuk mempermudah laporan-laporan, Dari Unsur Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Provinsi Gorontalo berpartisipasi membantu mengevakuasi korban bencana terutama yang menderita sakit akibat bencana banjir.

Februari 2006

Membersihkan Gulma Danau Limboto

Harian Suara Pembaruan, Minggu, 12 Februari 2006

Sumber; http://www.suarapembaruan.com/

KALAU kalian anggota pramuka Penegak (16-20 tahun) atau Pandega  (21-25 tahun), mungkin saatnya telah tiba bagi kalian untuk ikut Perkemahan Wirakarya Nasional (PWN) 2006. Di acara itu kalian bakal diajak membersihkan gulma Danau Limboto dan melakukan penghijauan hutan di sekitar tempat itu.

Membaca namanya, Danau Limboto, kalian pasti bisa menebak letak PWN 2006. Ya, perkemahan itu memang akan diadakan di kawasan hutan wisata Bongohulawa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, yang terletak di bagian utara Pulau Sulawesi. PWN 2006 tersebut akan diselenggarakan dari 16 sampai 22 Februari mendatang.

Diperkirakan, lebih dari 2.800 pramuka Penegak dan Pandega dari seluruh Indonesia dan kemungkinan ada juga utusan pandu dari luar negeri, yang akan mengikuti PWN 2006.

Para peserta dikenakan uang pendaftaran sebesar Rp 300.000 per orang, untuk membiayai kegiatan dan bahan makanan selama berkemah di tempat itu. Uang pendaftaran ini juga untuk membiayai atribut para peserta PWN 2006, berupa kaus, topi, setangan leher, tanda peserta, buku panduan. Nantinya selesai kegiatan, para peserta juga akan memperoleh pula piagam dan tanda ikut serta gotong royong dalam PWN 2006.

DITERIMA MENTERI – Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, beserta sejumlah pimpinan Gerakan Pramuka, diterima Menteri Kehutanan, MS Kaban, saat melaporkan persiapan Perkemahan Wirakarya Nasional 2006 yang akan berlangsung di Provinsi Gorontalo, 16-22 Februari mendatang.

Perkemahan kali ini memang merupakan kegiatan bakti masyarakat yang dilakukan para pramuka Penegak dan Pandega. Walaupun demikian, semua kegiatan tetap dilaksanakan sesuai kegiatan kepramukaan umumnya, yaitu dalam suasana riang gembira penuh rasa persaudaraan, persahabatan, dan kekeluargaan, baik antarsesama peserta maupun dengan masyarakat di tempat PWN itu diselenggarakan.

Nilai lebih dari PWN 2006 kali ini adalah pada hari penutupan perkemahan itu pada 22 Februari yang bertepatan dengan Hari Baden-Powell, Bapak Pandu dan Pramuka Sedunia. Untuk memperingati hari bersejarah itu, panitia telah menyiapkan upacara khusus.

Kegiatan lainnya, di samping membersihkan dan menata ulang batas Danau Limboto, para peserta juga akan melakukan normalisasi sungai, penanaman pohon jarak dan jati, pemanfaatan pengawetan ikan, rehabilitasi pasar, mengadakan gerakan reboisasi hutan rakyat, rehabilitasi rumah tak layak huni, pembuatan tempat penyehatan air, penanaman jagung, pembuatan perpustakaan desa, dan banyak lagi. Termasuk membantu melakukan penyuluhan kesadaran hukum, pelatihan keterampilan bagi anak-anak putus sekolah, dan penyuluhan kesehatan bagi masyarakat di sekitar lokasi PWN 2006.

Lewat acara itu, para pramuka Penegak dan Pandega berusaha mewujudkan kode kehormatan mereka, lewat kegiatan nyata untuk masyarakat luas, yaitu “akan bersungguh-sungguh ikut serta membangun masyarakat.”

Bagaimana dengan kalian, kalau kalian juga merupakan anggota pramuka Penegak dan Pandega? Mari, kita wujudkan kode kehormatan pramuka kita dengan kegiatan nyata. (B-8)

Sumber : Harian Suara Pembaruan, Minggu, 12 Februari 2006

Mei 2006

Luas Danau Limboto Tinggal 3.415 Hektar

Sumber: http://www.antara.co.id/ 5 Mei 2006

Gorontalo, (ANTARA News) – Kepala Balai Pengololaan Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Bone Bolango (Gorontalo-red), Ekowarsito kepada ANTARA Jumat (5/5), mengakui sesuai data BP-DAS tahun 2000, bahwa luas Danau Limboto tinggal 3.415 hektar.

“Tingkat kedalaman rata-rata 1,8 meter, kapasitas volume danau mencapai 40.720.651,25 meter kubik, kata Warsito.

Menurut dia, data BP-DAS tahun 1934, kedalaman danau tersebut mencapai 14 meter dengan luas 7.000 hektar, namun mulai menurun pada tahun 1950, dengan kedalaman 12,27 meter dan luas 6.873 hektar.

Pada tahun 1952, kedalamannya tinggal 7 meter dengan luas 5.000 hektar, sedangkan tahun 1970 tinggal 4,5 meter dengan luas 4.500 hektar serta pada tahun 1982 kedalaman danau menjadi 2,5 meter dengan luas 3.462 hektar.

Warsito menambahkan, bahwa wilayah Daerah Tangakapan Air (DTA) Danau Limboto yang berada di wilayah kerja BP ?DAS Gorontalo tersebut memiliki luas 91.004 hektar, DTA telah mencapai tingkat kerusakan yang cukup tinggi, sebab bahaya erosi telah melewati ambang batas kewajaran.

Dia menjelaskan bahaya erosi telah melewati batas yang diperkenankan yakni mencapai 9,721,652 ton/tahun atau 110,99 ton/hektar/tahun, yang diduga sebagai penyebab utama dangkalnya danau tersebut.

Menurut dia, tingginya tekanan masyarakat terhadap keberadaan Danau Limboto merupakan dampak penyebabkan berubahnya ekosistim danau, karena sebagaian besar areal di bantaran danau tersebut, saat ini digunakan masyarakat sebagai pemukiman permanen.

“Jika musim kemarau sekitar 1.200 hektar areal danau, berubah menjadi lahan pertanian,” kata Warsito seraya menambahkan di tepian danau, warga melakukan usaha perikanan dengan menggunakan tehnik tangkapan tradisional

Danau Limboto secara administrasi terletak pada dua wilayah pemerintahan daerah, yakni Kota dan Kabupaten Gorontalo, dengan jumlah penduduk di pesisir danau sekitar 159.838 jiwa dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 1 persen.

“Areal danau terletak di 9 Kecamatan dan 70 Desa, luas wilayah DTA Kota Gorontalo 536 hektar, Kabupaten Gorontalo 15.515 hektar, dari luas danau yang tinggal 3.415 hektar,”kata Warsito.(*)

September 2006

Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Hulu Danau Limboto Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Di Kabupaten Gorontalo

Sumber: http://www.menlh.go.id/

Kementerian Negara Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Balitbangpedalda Propinsi Gorontalo dan Yayasan Mutiara Hijau Gorontalo, pada tanggal 14 – 15 September 2006 mengadakan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Hulu Danau Limboto dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Rangkaian kegiatan ini mencakup: Temu Stakeholders dan Sarasehan Lingkungan Hidup (dialog interaktif, pengukuhan kader, penanaman pohon, dan pelatihan kader).

Latar belakang dilaksanakannya kegiatan ini karena permasalahan lingkungan yang terjadi di hulu Danau Limboto/DAS Limboto merupakan resultante dari berbagai macam faktor yang melingkupi kehidupan masyarakat dan pemerintah yang melakukan pemanfaatan lahan tanpa memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengembalikan fungsi ekosistem hutan daerah hulu Danau Limboto dengan melibatkan peran aktif masyarakat. Melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat ini diharapkan peran aktif masyarakat dapat ditingkatkan dan masyarakat mampu mengatasi permasalahan lingkungan hidup yang dihadapinya melalui kegiatan-kegiatan aksi nyata di lapangan.

Tujuan diselenggarakan ini adalah untuk membangun kesepakatan bersama antar sektor/dinas terkait untuk selalu melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam PLH di daerah hulu Danau Limboto, serta untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat pedesaan di daerah hulu Danau Limboto/DAS Limboto terhadap pengelolaan sumber daya alam (SDA) ramah lingkungan dan pelestarian lingkungan hidup.

Kegiatan ini dihadiri oleh Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat (Deputi VI), Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo, Kepala Balitbangpedalda Propinsi Gorontalo, DPRD, Camat dan Dinas terkait lainnya, serta tokoh masyarakat/adat/agama dan petani hulu Danau Limboto.

Dalam acara sarasehan lingkungan hidup, Deputi VI mengukuhkan 100 orang kader lingkungan hidup hulu Danau Limboto, yang merupakan perwakilan masyarakat petani dari 40 desa di 8 kecamatan pada Kabupaten Gorontalo. Selain itu juga dilakukan aksi penanaman pohon di daerah lahan kritis hulu Danau Limboto dan pembagian bibit pada kader lingkungan hidup hulu Danau Limboto, yang semuanya berjumlah 24.000 pohon, yang terdiri dari pohon mahoni, jati, dan kemiri. Melalui kegiatan penanaman ohon bernilai ekonomi tinggi, diharapkan tekanan masyarakat terhadap hutan di hulu Danau Limboto dapat berkurang dan kesejahteraan masyarakatnya dapat ditingkatkan, sehingga masyarakat mampu menjaga kelestarian lingkungan hidup di hulu Danau Limboto tersebut.

Informasi lebih lanjut hubungi:
Asisten Deputi Urusan Masyarakat Pedesaan
Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Gedung B Lt. 5
Jl. DI Panjatan Kav. 24, Kebon Nanas
Jakarta Timur
Telp. 021-8520392

November 2006

Pengusaha Ikan Danau Limboto Terancam Bangkrut

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/ 18 November 2006

Gorontalo-Kemarau yang melanda Provinsi Gorontalo sejak empat bulan terakhir mengakibatkan puluhan pengusaha jaring (pemelihara) ikan mas dan nila, di Danau Limboto terancam bangkrut.

Karim, salah seorang pengusaha jaring kepada Antara mengatakan, sejak sebulan terakhir ini kondisi air yang ada di Danau Limboto sangat memprihatinkan, sebab danau mulai kering.

Menurut dia, puluhan pengusaha yang memelihara ikan terpaksa memindahkan jaringnya untuk mencari tempat yang airnya masih bersih dan sehat untuk dijadikan tempat budidaya tersebut.

“Kami terpaksa memindahkan lokasi jaring ke tengah danau untuk mencari tempat yang masih bagus airnya,” ujar Karim, seraya menambahkan rata-rata setiap pengusaha dan pengelola jaring memelihara ikan antara 1.000 hingga 25.000 ekor.

Ia menambahkan saat ini kondisi danau makin kering, sehingga banyak pengusaha yang memindahkan jaringnya untuk memperoleh lokasi yang bagus. Sebab jika tetap bertahan di lokasi semula, ikan akan mati.

“Jika kondisi ini terus bertahan maka kemungkinan besar para pengusaha kecil ini tidak akan panen, karena dapat dipastikan ikan berkembang lambat serta terancam mati akibat kekurangan air,” tambahnya.

Sementara itu, Adrianto, pengusaha jaring lain menimpali, selain mengalami kekeringan, saat ini kondisi air di Danau Limboto sudah bercampur dengan lumpur yang baunya busuk sehingga sudah beberapa pengusaha mengalami kerugian karena ikannya mati.

Dia mengakui sejumlah pengusaha dan pengelola jaring banyak yang telah pindah dari lokasi sebelumnya dengan tujuan untuk mencari air yang lebih bagus dan sehat. Namun langkah itu tidak akan bertahan lama jika kemarau terus melanda wilayah tersebut.

“Saat ini kami hanya pasrah dan mengharapkan hujan segera turun sehingga air danau kembali normal,” harap Adrianto. (tot)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: