Berita 2008-1 (Jan-Jun)

Januari 2008

Payung Hukum Mutlak Perlu Dalam Penanganan Danau Limboto

Sumber: http://www.gorontaloprov.go.id/ 15 Januari 2008

Bertempat di Ruang Dulohupa Kantor Gubernur berlangsung sosialisasi Ranperda Pengelolaan Danau Limboto yang diikuti seluruh instansi terkait se-Provinsi Gorontalo, Selasa (15/01)

Kepala Balihristi Provinsi Gorontalo Rusthamrin Akuba ketika membuka acara tersebut mengatakan kepastian dan kejelasan pengaturan pembagian kewenangan antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/ Kota serta peran masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya mutlak diperlukan dalam pengelolaan Danau Limboto, mengingat penanganannya harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu sampai hilir secara berkelanjutan serta mengubah perilaku masyarakat dalam menyelamatkan danau tesebut, dan ini kata Rusthamrin telah diupayakan dengan melakukan pertemuan antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH), DPRD Provinsi serta DPRD Kab/ Kota, unsur perguruan tinggi, LSM dan Pemda Provinsi Gorontalo yang menghasilkan master plan.

Master plan tersebut kemudian berkembang dimana LSM mengusulkan Ranperda yang kemudian disempurnakan oleh Balihristi demi mengutamakan kepentingan masyarakat terutama dari sisi kelestarian danau itu sendiri yang dapat memberikan dampak ekonomis bagi masyarakat. “Sesungguhnya syarat suatu Ranperda adalah harus mampu mewadahi semua kepentingan stakeholder” tegas Rusthmarin.Ranperda adalah kebijakan publik, untuk itu kata Rusthamrin melalui sosialisasi ini yang akan dibahas meliputi konten ranperda itu sendiri, linkungan diterbitkannya ranperda, penyusunan ranperda, dan pelaksana ranperda.

Sementara itu Kabid Lingkungan Hidup Rugayah Biki mengatakan bahwa pada Bulan September tahun 2006 telah dilakukan konsultasi publik dengan kepala desa wilayah sekitar danau limboto, sehingga Ranperda yang nantinya akan menjadi Perda ini diharapkan menjadi acuan dan payung hukum untuk menglola danau limboto.

Pemanfaatan Sedimen Danau Limboto Untuk Pembuatan Batu Bata

Sumber: http://balihristi.gorontaloprov.go.id/Rabu, 16 Januari 2008

Pemakaian tanah untuk bahan baku pembuatan batu bata dapat menjadi masalah baru bagi lingkungan. Sementara itu, masalah pendangkalan Danau Limboto akibat sedimentasi yang begitu besar memerlukan penanggulangan sesegera mungkin. Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud menanggulangi kedua masalah tersebut.

Pemakaian tanah untuk bahan baku pembuatan batu bata dapat menjadi masalah baru bagi lingkungan. Sementara itu, masalah pendangkalan Danau Limboto akibat sedimentasi yang begitu besar memerlukan penanggulangan sesegera mungkin. Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud menanggulangi kedua masalah tersebut.

Penelitian ini memanfaatkan sedimen yang berada di muara Alo-Pohu sebagai bahan baku batu bata yang terdiri dari 3 (tiga) variasi benda uji yaitu; batu bata dengan bahan baku sedimen Danau Limboto; batu bata yang dibuat dengan perbandingan volume bahan 1 bagian sedimen Danau Limboto dan 1 bagian tanah dan batu bata yang dibuat dengan perbandingan volume bahan 1 bagian sedimen Danau Limboto dan 2 bagian tanah, tanah berasal sekitar lokasi pembuatan batu bata di daerah Jalan Bengawan Solo Kota Gorontalo. Batu bata kemudian disusun berdasar ketentuan yang tercantum dalam ASTM C1314-02a masing-masing sebanyak 5 (lima) benda uji yang kemudian dilakukan pengujian Kuat Tekan.

Hasil pengujian Kuat Tekan didapat, besarnya Kuat Tekan rata – rata batu bata murni sedimen dari Danau Limboto adalah sebesar 3,59 MPa (35,9 kg/cm2), Kuat Tekan rata – rata batu bata yang menggunakan material dengan perbandingan 1 : 1 adalah sebesar 4,18 MPa (41,8 kg/cm2) dengan tipe kehancuran keduanya adalah konikal, Kuat Tekan rata – rata batu bata yang menggunakan material dengan perbandingan 1 : 2 adalah sebesar 7,38 MPa (73,8 kg/cm2) yang menurut SNI 15-2094-1991 berada pada klasifikasi bata terbaik yaitu B2 dengan tipe kehancuran terjadi pemisahan bagian benda uji dan berbentuk serpihan – serpihan yang besar – besar.

Pebruari 2008

Enceng Gondok Kian Subur di Danau Limboto

Sumber:  http://www.antara.co.id/ Minggu, 10 Pebruari 2008

Gorontalo (ANTARA News) – Tumbuhan gulma encek gondok berkembang kian meluas di Danau Limboto di Provinsi Gorontalo sehingga menyulitkan aktivitas nelayan yang menggantungkan hidupnya dari mencari ikan di danau itu.

“Kami pasrah karena gulmanya terus tumbuh tak terkendali,” ujar Asi, salah seorang nelayan, Minggu.

Menurut dia, sebelumnya para nelayan sudah membersihkan enceng gondok yang tumbuh di sekitar pinggiran danau, namun hasilnya tetap saja nihil karena pertumbuhannya begitu cepat.

“Kami berharap pemerintah serius menyelamatkan danau ini, jangan hanya mempertebal isi kantong saja,” tukasnya.

Sebelumnya pemerintah telah mencnangkan berbagai program untuk menyelamatkan danau itu dari pendangkalan dan pengurangan area danau akibat pemukiman.

Salah satu gerakan penyelamatan tersebut dengan menggelar lomba membersihkan enceng gondok dan membuat kerajinan dari daun tanaman gulma tersebut.

Berbagai master plan untuk mengatasi krisisnya danau kebanggan Gorontalo tersebut telah dirancang, namun tak satu pun membuahkan hasil.(*)

Pemerintah Dinilai Gagal Selamatkan Danau Limboto

Media Indonesia, 28 Februari 2008

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/gorontalomaju2020/message/15497

GORONTALO—MI: Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, dinilai gagal melakukan upaya penyelamatan Danau Limboto, yang kondisinya kian kritis akibat pendangkalan.

Sejumlah master plan yang telah dirancang sejak beberapa tahun terakhir pun tak menunjukkan realisasi di lapangan, sehingga membuat warga kecewa terhadap sikap `cuek’ pemerintah.

“Sudah 10 tahun terakhir yang kami dapat hanyalah program dan janji yang tak pernah dilakukan langsung di lapangan,” kata One (50), salah seorang warga yang pesimis danau itu bisa pulih kembali.

Menurut dia, pemerintah telah berjanji akan melakukan penyelamatan danau dengan `menghabisi’ enceng gondok serta melakukan pengerukan di danau yang kedalamannya tak lebih dari tiga meter tersebut.

Namun, hingga saat ini program tak pernah berjalan, sementara enceng gondok pun hampir memenuhi seluruh areal danau kebanggaan Gorontalo itu.

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi kritis danau tersebut berdampak langsung pada penghasilan nelayan.

“Kami bertahan hidup dengan memelihara ikan yang ada di keramba milik majikan, kalau berharap hasil tangakapan di danau kami tak bisa memenuhi kebutuhan hidup,” kata Sudi, salah seorang nelayan.

Sebagian besar areal danau pun kini dijadikan oleh masyarakat sebagai keramba untuk memelihara ikan dengan mengupah para nelayan untuk memelihara ikan tersebut sehari-hari.

Maraknya keramba itu pun akhirnya mengurangi luas wilayah danau bagi para nelayan untuk mencari ikan.

Nelayan setempat berharap pemerintah segera menuntaskan masalah Danau Limboto dengan melakukan pengerukan dan memberantas enceng gondok. (Ant/OL-02)

Danau Limboto Butuh 14 Triliun

Sumber: http://www.gorontaloprov.go.id/ 29 Pebruari 2008

Kondisi Danau limboto yang kini sangat memiriskan, akibat ulah tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab, nampaknya harus dibayar dengan mahal terkait upaya konservasi dan penyelamatan danau terbesar di Provinsi Gorontalo ini.

Beberapa waktu lalu tim dari Departemen Lingkungan Hidup bekerjasama dengan tim lingkungan dari Canada telah melakukan survey terkait berapa total kebutuhan anggaran untuk penyelamatan danau yang dibutuhkan, dengan kondisi kritisnya saat ini. Angka yang sangat mencengangkan kemudian keluar dari hasil hitung-hitungan para peneliti ini yakni mencapai Rp14 triliun rupiah. Sebuah angka yang tentnya tidak mungkin dipenuhi daerah bahkan oleh pemerintah pusat sekalipun. Dari data yang diperoleh dari Balihiristi Provinsi Gorontalo diperoleh dari 23 jumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) 20 diantaranya kondisinya sudah sangat rusak, bahkan sudah mulai mengering.

Kepada koran ini Kasubdin Pengelolaan Lingkungan Hidup Balihiristi Provinsi Gorontalo Rogaya Biki menegaskan, secara keseluruhan memang pemerintah daerah dan pusat, akan sangat mustahil bisa memulihkan kondisi danau seperti sedia kala. Namun demikian, berbagai upaya penyelamatan kondisi danau memang mesti dilakukan, diantaranya adalah proses perbaikan lingkungan aliran air yang ada di DAS. “Satu persatu kini DAS dengan alokasi dana yang ada kami upayakan diselamatkan, agar kelestarian danau bisa sedikit terjaga,” tandasnya.

Kegiatan yang dilakukan oleh Balihiristi Provinsi Gorontalo sendiri saat ini terkait penyelamatan danau diantaranya adalah kegiatan pemulihan lingkungan danau serta pemulihan tangkapan air Danau Limboto. “Kegiatan ini meliputi pembuatan sedimentrap di DAS Bionga dan Taluditi, pembuatan bak penampungan air, penanaman tanaman tumpang sari, tanaman jarak, coklat cengkih di desa otopade,” paparnya. Upaya lainnya yang dilakukan adalah penataan dan pemulihan lingkungan di Danau Limboto. “Kegiatan yang dilakukan adalah pembuatan green bell,” paparnya lagi.
Sederet kegiatan yang kini digagas ini memang masih harus membutuhkan dukungan program kegiatan lainnya terkait upaya penyelamatan danau limboto dari kepunahan. Sementara itu, luasan areal danau sendiri setiap tahunnya menyempit hingga 2 meter, akibat pendangkalan. Belum lagi populasi enceng gondok yang sulit ditekan. Semua pihak sendiri berharap kiranya penyelamatan danau limboto yang saat ini kian kritis bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh masyarakat, dan sebisa mungkin menghindarkan kebiasaan buruknya selama ini. gpinfo

Maret 2008

Danau Limboto Meluap

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/ 16 Maret 2008

TEMPO Interaktif, Gorontalo:Hujan yang mengguyur Gorontalo belakangan ini membuat tanaman pertanian dan rumah warga yang ada di sekitar Danau Limboto terendam air. “Tinggi air yang masuk ke pemukiman 30 sentimeter,” kata Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Gorontalo Aziz Nurhamidin.

Menurut Aziz, kawasan yang terendam air ini antara lain di Tabumela dan Tilote. Sejumlah desa yang dilalui beberapa sungai yang mengalir ke Danau Limboto juga sempat terendam seperti di Tenilo dan Pentadio.

Pemerintah Kabupaten Gorontalo mengimbau agar warga tetap waspada karena curah hujan masih cukup tinggi. Hujan masih terus mengguyur Gorontalo setiap hari. ”Parit di pinggir sawah dan selokan air harus dibersihkan,” katanya.

Dia mengatakan seharus air mengalir di parit dan selokan. Karena sudah banyak rumput dan sampah, tidak dapat menampung air hujan. Air ini kemudian menyebar ke sawah dan pemukiman.

Verrianto Madjowa

April 2008

Danau Limboto Peroleh Peringkat Tertinggi Penanganan Danau

Sumber:http://balihristi.gorontaloprov.go.id/ Sabtu, 05 April 2008

Dalam rakord penanganan danau se-Indonesia yang berlangsung di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup RI di Jakarta, Kamis (3/4) Danau Limboto memperoleh peringkat tertinggi.

Dalam rakord penanganan danau se-Indonesia yang berlangsung di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup RI di Jakarta, Kamis (3/4) Danau Limboto memperoleh peringkat tertinggi penanganan danau se Indonesia. Peringkat tersebut diperoleh karena danau Limboto dari segi penanganannya dinilai plus dibanding penanganan danau-danau lainnya yang ada di Indonesia.

Keunggulan-keunggulan penanganan Danau yang dimiki Danau Limboto sehingga memperoleh peringkat tertinggi tersebut antara lain telah memiliki master plan dalam penanganannya, memiliki komitmen yang kuat untuk menanganinya yang dibuktikan dengan upaya penyusunan regulasinya serta telah berupaya memulai untuk mengimplementasikan master plan penanganan danau limboto.
Rakord tersebut dihadiri anggota-anggota komisi 7 DPRD RI, pihak Kementerian Lingkungan Hidup RI dan Kepala Badan Penelitian dan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda). Dari Gorontalo sendiri dihadiri langsung Kepala Badan Lingkungan Hidup Riset dan Teknologi Informasi (Balihristi) Rusthamrin H Akuba.

Ratusan Rumah di Danau Limboto Masih Terendam Banjir

Sumber: http://www.tempo.co.id/ 13 April 2008

TEMPO Interaktif, Gorontalo: Ratusan rumah dan lahan pertanian di sekitar Danau Limboto, Provinsi Gorontalo terendam banjir sejak sebulan terakhir ini. Banjir setinggi 30 sentimeter ini merendam tiga desa, yakni, Hutadaa, Tabumela dan Tilote.

“Kawasan tersebutrawan banjir di musim hujan,” kata Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Gorontalo Azis Nurhamidin Ahad ini. Menurut dia, banyak rakyat yang membuat rumah di kawasan sempadan danau. Di musim hujan pemukiman ini terendam air danau yang meluap. Di musim kemarau, lokasi itu dijadikan lahan pertanian.

Warga yang terendam banjir, kata dia, telah mengungsi ke rumah saudaranya. Pemerintah daerah juga sudah membuat panggung bagi para pengungsi. VERRIANTO MADJOWA

Rapat Paripurna DPRD Pemandangan Umum tentang 5 Raperda

Written by Nurchalis

Sumber: http://umum-humas.gorontaloprov.go.id/Selasa, 29 April 2008

Untuk menindaklanjuti usul inisiatif eksekutif ke legislativ yang di sampaikan senin (28/04) maka pada hari ini bertempat diruang sidang DPRD Provinsi Gorontalo Ketua DPRD Amir Piola Isa memimpin rapat paripurna guna mendengarkan pemandangan umum fraksi-fraski yang ada di DPRD, dalan sidang paripurna kali ini dihadiri oleh 22 anggota dewan dari jumlah 35 angota dewan maka sesuai dengan tata tertif dewan memenuhi korum, dan dalam sidang ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Ir. Gusnar Ismail,MM dan Sekretaris Daerah Drs. Idris Rahim,MM serta undangan muspida, SKPD dilingkungan Provinsi Gorontalo, Para pimpinan perguruan tinggi seprovinsi Gorontalo, toko adat dan toko agama, LSM.

Dalam pemandangan umum yang disamapaikan oleh fraksi-fraksi yang ada di dewan Selasa (29/04) yang di mulai dengan pemandangan umum fraksi golkar dengan juru bicara Nasir Giasi dimana fraksi golkar menekankan agar setiap kebijakan ada payung hokum dan sedapat mungkin peraturan daerah untuk kemaslahatan masyarakat dan pada prinsipnya penjabaran 5 buah ranperda sudah sesuai akan tetapi tentang perda tentang pengolahan danau limboto harus ada penaganan terkoordinir antara pemerintah provinsi, kota dan kabupaten, harus ada kepatuhan hukum, harus ada penaganan serius tentang eceng gondok, harus ada koordinasi instansi-instansi yang saling berkaitan dalam penagana danau limboto, mengenai Rancangan peraturan daerah tentang penyelengaraan politeknik Gorontalo fraksi golkar memintakan perampungan master plan, kejelasan status, pengadaan fasilitas, persiapan penerimaan mahasiswa dan rekrutmen tenaga pengajar, pendanaan pemerintah pusat dan Provinsi dan pengenai pencabutan tiga buah raperda retribusi pada prinsipnya sudah sesuai untuk menghindari terjadinya pungli.

Sedangkan pandanga umum fraksi bintang revormasi mengenai 5 ranperda dengan juru bicara Sarwan Laduhu agar kelima perda ini akan dapat diimplementasikan sesuai tata aturan yang ada, mengenai Perda tentang politeknik sangat tepat karena akan meningkatkan SDM yang akan jadi daya tarik dari daerah lain, mengenai Perada tentang danau limboto mengingat danau limboto sangat potensial maka perlu dikelola secara terpadu yang memiliki perhatian baik pemerintah dan lsm maka perlu ada kebijakan pemerintah untuk memancing regulasi dana dari pusat, dan untuk ketiga pencabutan perda retribusi sudah sesuai dengan komitmen untuk meminilisasi pungutan dan menumbuhkan iklim usaha.Untuk Fraksi Lima bersama dengan juru bicara Abdula Otolomo, B.Sc usulan penarikan 3 perda retribusi adalah sarat untuk peningkatan ekonomi masyarakat yang akan meningkatkan peran usaha untuk peningkatkan ekonomi dan ini akan berdampak positif untuk masyarakat, untuk perda politeknik sudah layaknya untuk menciptakan SDM sesuai visi/misi Provinsi Gorontalo dan ini dapat meningkatkan pencapaian peningkatan pendidikan berbasis kawasan, dan mengenai perda tentang danau limbota fraksi lima bersama memberikan masukan agar tidak dapa dilakukan tergesa-gesa mengigat lokasi danau ini berada didua lokasi yang perlu dilakukan adanya koordinasi jangan samapai perda ini tidak dapat diterapkan seperti yang terjadi pada perda tentang maksiat, protokoler, bentor.

Dan terakhir fraksi PPP dengan juru bicara Sopyan Alhadar mengenai usul pencabutan 3 ranperda tentang retribusi merupakan implementasi positif, dan perda tentang danau limboto agar dapat dikelola secara komprehensif, dan perda tentang politeknik fraksi PPP menyambut positif karena bagamana kita dapat menumbuhkan manusia-manusia yang mampu terlibat dalam pembanguan potensi daerah.Dari keempat fraksi yang ada di DPRD Provinsi Gorontalo pada prinsipnya menerima kelima ranperda untuk di bahas sesuai dengan mekanisme tata tertif dewan dan mengharapkan agar membuat pansus untuk pembahasan dan selanjutnya sebelum rapat paripurna ditutup ketua Dewan menyampaikan beberapa hal yang harus disamapaikan secara tertulis pihak eksekutif ke legislative pada hari rabu 30/04 mengenai raperda ini untuk dapat diteriama dan ditetapkan.
Last Updated ( Selasa, 29 April 2008 )

Mei 2008

Ikan Pemusnah Enceng Gondok Ditebar di Danau Limboto

Sumber: http://www.baungcamp.com/ 21 May 2008

GORONTALO–MI: Sekitar 5000 ekor ikan Koan atau ikan pemusnah eceng gondok bakal dilepas dan ‘siap amankan’ ekosistem Danau Limboto, yang menjadi salah satu aset utama Provinsi Gorontalo.

Ribuan ikan Koan tersebut, nantinya diharapkan dapat menetralisir kualitas air danau Limboto, yang selama ini kian memburuk akibat dikuasai oleh ribuan eceng gondok.

Kepala Bidang Tekhnologi Informasi Balihristi Provinsi Gorontalo, Rudi Iriawan, mengemukakan, ikan yang saat ini hanya bisa ditemui di Sukabumi, Jawa Barat itu, mampu menghabiskan enceng gondok mulai dari akar hingga daunnya. Dia mengatakan, untuk sementara ribuan ikan tersebut masih di karantina, agar bisa dikontrol dan mampu beradaptasi setelah nantinya bakal dilepas di perairan Danau Limboto.

Meski sejumlah ikan koan tersebut, belum sebanding dengan luasnya tutupan danau Limboto, namun ia berharap ikan pemangsa tanaman gulma itu, turut dijaga keberadaannya oleh warga yang tinggal di sekitar areal Danau Limboto, dengan cara tidak ditangkap atau dipancing.

“Karena keseimbangan ekosistem danau begitu tergantung dengan bertahan serta berkembangnya jumlah populasi ikan tersebut,” kata dia.

Sementara itu, menurut hasil penelitian Badan Riset Kelautan dan Perikanan, danau terbesar di Provinsi Gorontalo itu telah mengalami pengurangan luas sebesar 4304 hektare dalam kurun waktu 52 tahun, dengan jumlah pengurangan areal setiap tahunnya sebesar 65,89 hektare. (Ant/OL-03)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: