Berita 2010-1 (Jan-Apr)

Januari 2010

24 Tahun Lagi Danau Limboto Bakal Jadi Daratan

Gorontalo Post, Selasa, 19 Januari 2010

Sumber:http://docs.google.com/

Danau Limboto yang terletak di Kab. Gorontalo termasuk dalam wilayah Sungai Limboto Bone Bolango yang di pasok oleh 23 sungai dan yang merupakan sungai utama adalah Sungai Biyonga, Sungai Meluopo dan Sungai Alo Pohu dan di pastikan 24 tahun lagi atau sekitar tahun 2034 Danau Limboto akan menjadi daratan.

Sesuai data yang di peroleh laju pendangkalan danau akibat erosi dari sungai-sungai yang bermuara di danau sangat besar jika di hitung pertahunnya, tingkat penyusutan danau mencapai 78.81 hektar. Pendangkalan danau menyebabkan munculnya daratan baik di tengah danau maupun di tepian danau, daratan ini telah di manfaatkan oleh penduduk menjadi tanah pertanian, pemukiman dan sebagainya bahkan sudah ada yang menjadi hak milik antara lain sawah seluas 637 ha, 329 ha ladang, pemukiman seluas 1.272 ha dan peruntukan lainnya seluas 3.594 ha.

Tentunya hal tersebut harus mendapat perhatian serius dari pemerintah untuk menangani erosi besar yang mengakibatkan terjadinya penyusutan danau maka langkah strategis pemerintah dalam penanganan konservasi Danau Limboto yang juga termasuk sebagai danau kritis dari 9 danau di Indonesia adalah penetapan zona pemanfaatan danau, pembentukan lembaga pengelola danau, pengorganisasian pengelolaan DAS, konservasi dan pemulihan kerusakan zona hulu dan zona penyangga, pengembangan hutan rakyat, pengenalan teknologi pertanian yang ramah lingkungan kepada masyarakat, diversifikasi pertanian, implementasi rencana konservasi tanah desa, penertiban pemanfaatan Danau Limboto serta penanganan gulma air Danau Limboto.

Batas Danau di tetapkan berdasarkan elevasi muka air normal saat musim hujan yaitu pada elevasi + 4.80 m, batas muka air normal seluas 4.088.4 ha. Untuk memudahkan menentukan batas danau maka pada elevasi tersebut perlu dibuat batas fisik berupa tumpukan batu yang selain berfungsi menahan masuknya sedimen dari lahan di sekitar danau, juga dapat di gunakan sebagai acuan untuk menentukan garis pembatas antara batas perairan danau dan kawasan sempadan danau.

Pemerintah masih terus berupaya melakukan penanganan agar tak terjadi hal-hal yang tak di inginkan bersama apalagi banyak nelayan yang menyandarkan penghidupannya di Danau Limboto ini, untuk itu pemerintah siap atasi konsekwensi anggaran yang banyak terserap untuk  penanggulangan Danau Limboto.

Pelestarian Danau Jangan Sebatas Konsep

Butuh Koordinasi Antar Semua Pihak

Sumber:  Gorontalo Post, 27 Januari 2010

JAKARTA- Pelestarian danau Limboto yang beberapa bulan terakhir ini terus dibahas diharapkan jangan hanya sebatas konsep pembahasan semata. Hal ini diutarakan Wakil Ketua Dewan Kabupaten Gorontalo Awaludin Pauweni saat melakukan kunjungan kerja Komisi III DPR Kabupaten Gorontalo dengan Kementrian Lingkungan Hidup, Kamis (14/1).

Di hadapan Asisten DeputiPeningkatan dan pengendalian Sumber Daya Alam Arantum Didi Radian bersama jajaran nya Awaludin mengatakan, hingga saat ini pelestarian danau Limboto hanya sebatas konsep dan habis dibicarakan dalam seminar serta penelitian semata, tanpa ada implementasi ke depan tentang pembenahan pemeliharaan danau tersebut.

Awaludin mengatakan lokasi danau yang memang terletak didua kawasan daerah, yakni Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo. “Untuk Kabupaten sendiri diakui memang mempunyai kendala sepanjang pesisir yang mulai dijadikan pemukiman penduduk dan sulit untuk direlokasi,” jelas Awaludin. Lebih lanjut Awaludin mengharapkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup untuk bisa memberikan satu program untuk pelestarian Danau Limboto dan jangan hanya sebatas dalam pembahasan tanpa ada implementasi tindakan apa yang akan dilakukan ke depannya. “Jangan hanya sebatas penanaman pohon semata, tetapi bagaimana memikirkan kelestarian danau Limboto kedepannya,” harap Awaludin.

Dalam pertemuan tersebut juga Awaludin mengharapkan agar kiranya program-program yang ada di Kementerian jangan hanya melakukan kerjasama dengan pemerintah Provinsi semata, tetapi juga dengan pemerintah Kabupaten/Kota sebagai implementasi dari program yang akan dilaksanakan. “Selama ini Kementerian hanya melakukan koordinasi dengan pihak Provinsi sementara sasaran pelaksanaan program ini sendiri ada di Kabupaten/Kota, sehingga beberapa program yang berkaitan erat dengan masalah lingkungan terkesan tidak pernah jelas,” ujar Awaludin.

Ke depan Awaludin mengharapkan, dalam hal pelaksanaan program di tahun mendatang, antara pihak kementerian bisa melakukan kerjasama langsung dengan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten/kota agar pembangunan dan pelestarian tentang lingkungan hidup bisa lebih baik. Hal ini disebabkan selama ini apa yang menjadi program dari kementerian dan Provinsi tidak diteruskan dan dikoordinasikan dengan Kabupaten/Kota. “Kami tidak mempermasalahkan jumlah anggarannya, yang kami butuhkan implementasi tentang pembenahan dan pelestarian danau Limboto,” pungkas Awaludin.

Sementara itu hadir dalam pertemuan tersebut selain Wakil Ketua Dewan Kabupaten Gorontalo, Awaludin Pauweni, Ketua Komisi III Guntur Thalib serta seluruh anggota komisi III, yakni Warsito, Rusli Panigoro, Sumarni Gani, Steven Eki, Ismail Adam, Iskandar Mangopa, Sahmid Hemu dan Reynaldo Djafar. gpinfo

© gorontalopost.info – divisi teknologi informasi

Februari 2010

Melihat Kondisi Danau Limboto, Semakin Kritis, Penanganan Jangan Hanya Slogan

Suparman Ma’ruf – Limboto; Gorontalo Post, 5 Februari 2010

Sumber: http://gorontalopost.info/

Permukaan Danau LImboto yang kini sudah tertutup oleh ribuan enceng gondok dan kini mengalami pendangkalan dan kekeringan.(F.Farman Ma’ruf)

SALAH satu asset daerah yang perlu dijaga yakni Danau Limboto. Danau ini mencakub dua daerah di Gorontalo yakni Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo. Namun wilayah Danau Limboto paling banyak masuk di Kabupaten Gorontalo.

KONDISI Danau Limboto saat ini semakin kritis. Padahal, dari informasi yang diterima sudah banyak dana yang habis hanya untuk menanggulangi penyebab masalah yang ada saat ini. Bahkan tahun ini ratusan miliar dianggarkan hanya untuk mengantisipasi masalah yang ada di Danau Limboto. Akankah berhasil jika penanggulangan hanya sebatas slogan?

Danau ini pernah jaya karena mampu menghidupi masyarakat Gorontalo dengan adanya sejumlah habitat yang berkembang biak. Dari sisi kepuasan batin, Danau Limboto juga pernah memberikan hal itu kepada siapa saja yang memandangnya.

Namun kini danau itu tengah dilanda kritis. Banyak terjadi pendangkalan yang disebabkan sejumlah sungai yang mensuplay air ternyata juga membawa lumpur. Bahkan eceng gondok mulai menutupi permukaan air danau yang seakan mengikir keindahan yang pernah ada.

Banyak upaya yang telah dilakukan untuk mengantisipasi dua masalah yang mendera Danau Limboto. Miliaran uang telah habis dengan tekad mengembalikan kejayaan danau ini. Bahkan 2010 ini, sekitar Rp 200 miliar telah dianggarkan baik dari APBN, mau pun dari APBD.

Ternyata penanganannya tidak bisa hanya sekadar slogan saja karena danau yang dulunya memiliki kedalaman sampai puluhan meter itu kini sangat memprihatinkan. Danau Limboto yang merupakan aset daerah diyakini bisa meningkatkan PAD jika dikelola dengan baik.

Tentu saja ini sangat membutuhkan penanganan yang serius agar kelestarian Danau Limboto tetap terjaga. Sebagai mana diungkapkan salah seorang warga setempat Haris Muhamad, jika melihat lebih dekat keadaan Danau Limboto, maka akan terlihat ratusan meter areal Danau Limboto mengalami pendangkalan dan kekeringan.

Anehnya, lokasi ini mulai digunakan warga untuk menanam jagung dan umbi-umbian, serta sebagain lagi dijadikan pemukiman. Haris juga mengatakan kalau pada sepuluh tahun yang lalu, hanya menempuh jarak 200 meter dari ibukota Kabupaten Gorontalo sudah bisa sampai ke danau, Namun sekarang, sudah harus menempuh jarak sekitar dua kilometer, baru bisa bisa melihat air danau.

“Mana lagi keadaan Danau Limboto sekarang, permukaannya sudah ditutupi oleh ribuan encek gondok, ditambah lagi ditanami oleh warga dengan kangkung dan sudah dikapling,” kata Haris sambil menambahkan kedalaman Danau Limboto sekarang kini sekitar dua meter hingga empat meter.

Namun Haris tetap berharap agar pemerintah segera melakukan upaya- upaya penyelamatan terhadap Danau Limboto tersebut, agar Danau Limboto dapat dilihat dan dinikmati oleh anak cucu. gpinfo

Mendesak Penerbitan Pergub Danau Limboto

Warga Mulai KlaimLahan Kering

Sumber:  http://koran.gorontalopost.info/pdf/, 6 Februari 2010

GORONTALO – Meskipun sudah ada rekomendasi Pansus yang diserakan ke eksekutif terkait Danau Limboto, namun hingga saat ini Pergub menyangkut batasan wilayah danau tersebut belum dikeluarkan.

Olehnya, Deprov melalui Komisi III, mendesak agar segera dikeluarkan Pergub tersebut, mengingat munculnya kembali aktivitas di masyarakat yang mengklim sebagian wilayah danau. Pernyataan ini ditegaskan Sekretaris Komisi III, Ayu Trisna Nasibu terkait adanya laporan masyarakat di sekitar danau.

Saat ini, banyak warga yang datang ke danau untuk mengklaim sejumlah lokasi untuk dijadikan hak milik. Padahal, wilayah tersebut sebelumnya bagian dari danau yang mengalami kekeringan,” jelas Ayu Trisna Nasibu.

Bahkan berdasarkan pengalaman yang lalu, sejumlah masyarakat melakukan hal yang sama, selanjutnya, lahan tersebut dijual ke orang lain. Ketika pemerintah mengeluarkan penegasan bahwa itu wilayah danau, maka pihak ketiga tadi, ngotot mempertahankan karena dibeli dari orang lain.

Pengalaman lain yakni setelah diklaim seperti itu, warga justru bukan memanfaatkan untuk menanam tanaman musiman, namun digunakan untuk mendirikan rumah. Ironisnya, ketika air danau naik otomatis wilayah tersebut tergenang air, hal itu kembali menjadi persoalan karena dianggap banjir dan bantuan pun mengalir .

“Untuk mengantisipasi hal-hal seperti itu, kami mendesak pemerintah untuk segera mengeluarkan Pergub tentang batasan wilayah Danau Limboto. Jika memang belum bisa dilakukan dalam waktu dekat ini, minimal ada sosialisasi dari pemerintah terhadap masyarakat, agar wilayah Danau Limboto jangan dikapling dan diklaim sebagai hak milik,” jelas Aleg dari FGPKR ini.

Sbenarnya, pemerintah baik desa atau kelurahan bisa menegur warga yang sudah mengkapling wilayah danau, namun mereka mengaku belum punya dasar. Di sisi lain ini sudah harus dilakukan secepatnya agar tak menimbulkan masalah, apalagi pada 2010 ini miliaran dana turun dari pusat untuk mengantisipasi Danau Limboto dari kritis. (jdm)

Segera Implementasi Perda Danau Limboto

Sumber: Gorontalo Post, 10 Februari 2010

GORONTALO – Pemerintah Provinsi Gorontalo bersama Deprov Gorontalo diminta untuk segera mengimplementasikan Peraturan Daerah (Perda) tentang Penyelamatan Danau Limboto. Pasalnya, meski sudah ditetapkan sejak beberapa waktu lalu implementasi Perda tentang Penyelamatan Danau Limboto tersebut belum terlihat di lapangan.

Aleg Dekab Gorontalo asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Adnan Entengo ketika berbincang dengan Gorontalo Post kemarin mengemukakan, melihat kondisi Danau Limboto saat ini maka diperlukan langkah-langkah yang strategis serta implementatif. Diperlukan pula upaya nyata untuk menanggulangi keadaan Danau Limboto yang terus menyusut.

“Kami memberikan apresiasi terhadap lahirnya regulasi tentang penyelamatan Danau Limboto ini. Namun diharapkan implementasi regulasi tersebut harus secepatnya dilakukan di lapangan. Sebab, dari waktu ke waktu kondisi Danau Limboto semakin kritis,” kata Adnan.

Lebih lanjut, Adnan mengatakan, khusus di Kabupaten Gorontalo telah dibentuk Kelompok Kerja (Pokja) Penyelamatan Danau Limboto. Sehingga diharapkan dengan implementasi Perda tentang Danau Limboto tersebut akan mengsinkronkan upaya penyelamatan Danau Limboto baik oleh Kabupaten Gorontalo, Kota Gorontalo maupun Provinsi Gorontalo. “Terutama sinkronisasi kegiatan dan anggaran sehingga upaya penyelamatan Danau Limboto ini bisa terpadu antara kabupaten/kota dan Provinsi,” tandas Adnan. gpinfo

Maret 2010

Proyek Irigasi Dan Danau Limboto Terus Di Perjuangkan

Sumber: http://www.gorontaloprov.go.id/ 30 Maret 2010

Kunjungan kerja Anggota Komisi V DPR RI Roem Kono ke Provinsi Gorontalo kembali membawa kabar baik bagi masyarakat Gorontalo karena Aleg dari Provinsi Gorontalo ini siap memperjuangkan penyediaan infrastruktur di Provinsi Gorontalo terutama yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan rakyat bahkan saat ini sedang diperjuangkan anggaran dua proyek besar untuk Provinsi Gorontalo yaitu pembangunan irigasi di Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo dan penanganan Danau Limboto di Kabupaten Gorontalo.

Hal ini bisa dipastikan dengan peninjauannya ke lokasi pembangunan irigasi di Kecamatan Paguyaman dan Danau Limboto, dalam kunjungan tersebut di dampingi oleh sejumlah unsur Balai wilayah Sungai Sulawesi II untuk melihat secara langsung 2 proyek tersebut yang sudah sangat mendesak dan harus segera mendapat perhatian yang serius dari pemerintah.

Untuk irigasi ini di targetkan akan selesai pekerjaannya pada tahun 2011 karena bila proyek ini selesai maka akan membantu petani yang ada di Kab. Gorontalo dan Kab. Boalemo karena irigasi tersebut akan mampu mengairi lahan pertanian seluas 6850 hektar sehingga para petani akan bisa melakukan panen dua kali dalam setahun dan akan menjadi salah satu proyek strategis di Provinsi Gorontalo.

Untuk Danau Limboto juga siap memperjuangkan kebutuhan anggaran untuk penanganannya meskipun begitu upaya tersebut harus didukung oleh seluruh stakeholder baik di Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten dengan mengajukan usulan ke DPR. Kalau dulu penyelamatan Danau Limboto hanya sekedar wacana maka sekarang harus di realisasikan dan sebagai langkah awal sudah ada dana Rp. 2.8 miliar yang dikucurkan untuk mendesain infrastruktur penyelamatan Danau Limboto tersebut dan harus segera dibuatkan AMDAL.

Kondisi Danau Limboto sekarang sudah semakin kritis oleh karena itu sebagai Wakil yang dipercayakan oleh rakyat di DPR maka Danau Limboto akan jadi prioritas pertamanya dan masyarakat Gorontalo harus bisa melepaskan diri dari bayang-bayang artinya seluruh tokoh Gorontalo harus bersatu padu menghilangkan semua perbedaan untuk bersama-sama membangun Gorontalo karena Gorontalo juga memiliki banyak tokoh-tokoh hebat yang bisa membangun daerahnya.

Kita kembalikan seperti cara orang tua kita dulu pada saat mengambil keputusan dalam suatu masalah yakni dengan cara musyawarah sehingga tidak akan tercipta pertentangan antar tokoh-tokoh Gorontalo itu sendiri. Rombongan Komisi V DPR RI dan juga Tim dari Mabes Polri direncanakan akan melakukan sosialisasi UU LLAJ bertempat di Kantor Gubernur Gorontalo sekaligus dilanjutkan dengan peninjauan Pelabuhan Gorontalo dan Pelabuhan Anggrek.

April 2010

Kedalaman Danau Limboto Hanya 2,5 Meter

Sumber: http://www.kapanlagi.com/ 16 April 2010

Kapanlagi.com – Danau Limboto, danau terbesar di Provinsi Gorontalo, kini kondisinya sangat memprihatinkan, kedalaman airnya tinggal mencapai 2,5 meter.

Kepala Bidang Lingkungan pada Badan Lingkungan Hidup, Riset dan Teknologi (Balihristi) Provinsi Gorontalo, Rugaiya Biki mengatakan, pendangkalan yang cukup signifikan ini terjadi akibat tingginya sedimentasi di danau tersebut.

“Keadaan ini terjadi sejak tahun 1990an hingga sekarang, bahkan berpengaruh pada luas danau limboto, dari 7.000 hektar menjadi 3.000 hektar,” Kata dia, Jumat.

Tingginya sedimentasi di danau Limboto, menurutnya terjadi akibat usaha-usaha pertanian yang tidak mengindahkan konservasi tanah, kegiatan pembukaan hutan di daerah hulu sungai serta kegiatan budidaya perikanan yang kurang ramah lingkungan.

“Kini sebagian permukaan danau Limboto telah berubah menjadi daratan, di sana juga telah dibangun pemukiman penduduk,” Ujarnya.

Pada 1932 silam, kedalaman danau Limboto masih mencapai 30 meter, keadaan itu terus menyusut, hingga pada 1961 rata-rata kedalaman Danau berkurang menjadi 10 meter dengan luas yang tersisa tinggal 4.250 Hektar.

Hingga kini, lanjutnya, juga tercatat dari 23 anak sungai yang menjadi pemasok air ke dalam Danau Limboto dari arah utara, barat, dan selatan, hanya satu sungai yang mengalir sepanjang tahun, yaitu sungai Biyonga, dengan daerah aliran yang cukup kecil , yakni seluas 68 km2.

“Sungai-sungai lainnya hanya mengalir pada musim penghujan, itupun lebih banyak membawa lumpur ke dalam danau Limboto, sehingga sedimentasi kian parah,” Kata dia. (ant/boo)

Danau Limboto Semakin Dangkal

Sumber: http://metronews.fajar.co.id/ 23 APRIL 2010

Danau Limboto
GORONTALO — Kondisi Danau Limboto kini semakin memprihatinkan, karena terus dipenuhi oleh tumbuhan eceng gondok yang tidak hanya merusak ekosistem di danau Limboto tapi juga mengurangi volume air.

Tumbuhan eceng gondok yang makin bertambah banyak ini membuat para nelayan semakin kesulitan karena jalan menuju ke tengah-tengah danau sudah tertutupi oleh tumbuhan eceng gondok.

Hal ini membuat sebagian nelayan yang ada di bantaran Danau Limboto kembali meradang.

Pasalnya, dari waktu ke waktu volume air Danau Limboto semakin surut. Akibatnya, hasil tangkapan para nelayan Danau Limboto juga semakin berkurang. “Kini Danau Limboto terus mengalami pendangkalan. Kalau dulu Danau Limboto bisa mencapai kedalaman hingga 25 sampai 30 meter.

namun seiring bertambahnya tanaman eceng gondok, Danau Limboto surut hingga 15 meter dan kini kedalaman Danau limboto hanya mencapai 3 meter ” ungkap Noku Doke salah seorang warga yang tinggal di bantaran Danau Limboto.

Daud Hiola salah seorang warga Kelurahan Dembe Kota Barat mengatakan tanaman yang bernama latin Eichhornia crassipes ini akan bertambah banyak pada waktu-waktu tertentu. Menurut Daud enam hari yang lalu tanaman eceng gondok ini tidak terlalu banyak terlihat di Danau Limboto, namun kamis (21/04) sore kemarin tanaman ini kembali terlihat memenuhi sebagian besar area danau Limboto. “Hal ini dikarenakan datangnya musim angin barat maka tanaman enceng gondok pun bertumbuh dengan cepat ” ungkap Daud.

Masyarakat di sekitar danau pun bereaksi. Mereka sangat berharap agar pemerintah secepatnya mencari solusi yang terbaik dalam menangani masalah ini. ” Danau limboto merupakan salah satu aset berharga yang dimiliki oleh Provinsi Gorontalo, jadi sepatutnya kita menjaga kelestarian danau ini, sebab jika hal ini di biarkan terus menerus, diperkirakan tahun 2030 Danau Limboto akan mongering, ” ungkap Nurdin salah seorang warga yang sempat diwawancarai oleh Gorontalo Post.

Sehubungan dengan informasi pemerintah akan melakukan pengerukan danau limboto ditanggapi dingin oleh warga yang tinggal di bantaran Danau Limboto. “So ulang-ulang kali dorang bilang mo keruk itu danau, sampe dunia skarang tidak ada depe bukti,” tutur Inong salah seorang warga yang tinggal di Bantaran danau Limboto. (TR-09)

2025 Danau Limboto Tinggal Kenangan

Sumber: http://www.gorontalopost.info/ 24 April 2010


GORONTALO – Keberadaan Danau limboto yang semakin kritis mendapat perhatian serius Anggota DPD asal Gorontalo dr. Budi Doku. Dalam sidang pleno II DPD RI, Budi Doku memaparkan kondisi penanganan Danau Limboto yang membutuhkan penanganan serius.

Menurut Budi Doku, pada tahun 1932 kedalaman danau mencapai 30 meter dengan luas 7000 hektar. Namun saat ini kedalaman tinggal 2,5 meter dengan luas 3000 hektar. “Diperkirakan pada tahun 2025 danau limboto akan lenyap di muka bumi apabila tidak segera diselamatkan,” kata Budi Doku.

Lebih lanjut, Budi Doku menjelaskan, masalah yang dihadapi adalah pendangkalan dan penyusutan luas akibat erosi yang lebih kurang 23 anak sungai yang mengaliri. Selain itu perkembangan enceng gondok yang sangat massif hingga telah menutupi 30 persen danau. “Tolong diprioritaskan dalam rapat ini untuk diteruskan ke Kementerian Pekerjaan Umum,”.

“Semua di sini pasti mengetahui Danau Limboto, karena ada dalam pelajaran sekolah dulu, di Jakarta ada nama Jalan Danau Limboto, dan bagi rakyat Gorontalo Danau limboto selain objek wisata juga sebagai mata pencaharian nelayan,” sambung Budi Doku. Senator ini juga mengharapkan dalam Musrenbangda provinsi Gorontalo besok juga dimasukkan agar Danau Limboto menjadi prioritas karena apabila Danau ini lestari bisa menjadi sumber energi listrik tenaga air.(*/san)

Penyelamatan Danau Limboto Butuh Political Will

Forum Das limboto susun rekomendasi ke Gubernur

Sumber: http://foto.gorontalopost.info/ 24 April 2010

GORONTALO – Kondisi Danau Limboto yang makin kritis tentunya membutuhkan peran semua pihak. Kemarin (23/4) Forum Daerah aliran sungai (DAS) Danau limboto, bersama seluruh komponen terkait penyelamatan danau limboto melakukan pertemuan membuat rancangan penanganan krisis Danau Limboto kearah penanganan yang lebih nyata. Dalam penanganan, menurut ketua Forum Das Limboto Arusdin Bone butuh political will bagi para pemegang kebijakan di daerah ini.

Menurut Arusdin, political will penting sebab muara kebijakan semua program termasuk penanganan Danau Limboto berada pada pejabat poltik seperti kepala daerah dan ketua DPRD. Selama ini menurut aktivis LP2G ini political will kurang, itu bisa dilihat dari minimnya anggaran dalam APBD untuk penanganan Danau Limboto. “Bahkan pendapat saya, hanya pemimpin yang berbicara kepentingan Danau limboto itu yang kita pilih. Sebab ini hal yang urgen dan butuh penanganan serius, kalau tidak danau yang menjadi ikon Gorontalo ini tinggal kenangan,” kata Arusdin.

Dalam pertemuan kemarin, tim dari badan lingkungan Hidup Riset dan Teknologi Informasi (Balihristi) mengemukakan kalau hampir setiap saat Danau Limboto mengalami pendangkalan. Makanya butuh penanganan serius, menurut Balihristi, kalau Danau Limboto saat ini tinggal memiliki kedalaman 2,5 sampai 3 meter saja. Padahal, tahun 1932 lalu danau yang mencakup Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo ini memiliki kedalaman 30 meter. Luas danau juga terus menyusut dari yang semula labih dari 7000 hektare saat ini tersisah 2500 hektare itu pun masih terus menyusut dengan adanya pengkaplingan wilayah danua oleh penduduk setempat. Sementara itu, Kepala BP DAS Bonebolango Ir. Soecipto mengatakan, Danau Limboto yang tidak menghasilkan air (tidak memiliki sumber air sendiri) hanya mengandalkan lima sungai besar dan 23 sungai kecil. Itu pun kata Soecipto suplay air sungai makin kendor dengan adanya persoalan-persoalan seperti perambahan hutan di wilayah hulu.

Ada beberapa kesimpulan yang kemudian akan dijadikan rekomendasi Forum Das Limboto dalam pertemuan kemarin. Salah satunya adalah pemerintah segera membuat tapal batas danau. “Nantinya rekomendasi yang akan disampaikan kepada Bappeda, DPRD dan Gubernur,” ujar Soecipto. Rencananya untuk kerja yang lebih kongkrit lagi Forum DAS Limboto akan melakukan pertemuan lanjutan dengan menyatukan berbagai macam perencanaan penanganan Danau Limboto baik provinsi, Kabupaten dan Kota. “Itu yang akan disatukan, untuk bergarak lebih cepat lagi,” tambah Arusdin bone. (tro)


2 Comments on “Berita 2010-1 (Jan-Apr)”

  1. Ir. Andy Saputra.A. Rahman.M.Si Says:

    MENJAGA KELESTARIAN DANAU LIMBOTO DAN MAMFAAT UNTUK MASYARAKAT SEKITAR

    Danau Limboto yang merupakan salah satu danau yang banyak mengundang minat para peneliti dari berbagai belahan dunia. Danau Limboto terletak di Kabupaten Gorontalo sudah tercemar, dengan adanya sediment dan pertumbuhan encek gondok dan gulma lainnya upaya Konservasi Danau Limboto adalah dengan melakukan Pengembangan Usaha Produktif di Sektor Perikanan Air Tawar”, Danau Limboto juga memiliki ikan endemik yang harganya di pasar ekspor mencapai 250 ribu rupiah per kg. “Mungkin bagi warga di sini itu merupakan ikan biasa tapi di Jakarta atau di luar negeri itu menjadi ikan konsumsi yang mahal. Oleh sebab itu diharapkan pembudidayaan tersebut harus dilakukan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat disisi danau jg dengan memamfaatkan encek gondok sebagi biogas harus diupayakan maksimal yang akan dijadikan Tujuan akhir dari pelestarianr antara lain, mengupayakan pelestarian sumber daya alam yang ada an danau lainnya sekaligus menjajagi pengembangan perikanan budidaya di komplek ujar Ir. Andy Saputra.A.Rahman. M.Si berbicara dihadapan para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat, tokoh masyarakat, dan masyarakat yang bermukim di sekitar Danau Limboto tersebut.

    Produk perikanan yang memilki potensi seperti : ikan Mas, ikan Louhan, ikan Mujair, ikan Nila dan ikan Lele Dumbo, untuk mengedepankan dari perspektif kebijakan dan program. “Pemerintah harus mengupayakan program perlindungan dan rehabilitasi sumber daya danau. Juga akan mengupayakan regulasi untuk perlindungan dan pelestarian ini, jangan sampai seperti danau di Jawa dan Sumatera yang disesaki keramba jaring apung sehingga menganggu ekosistem danau yang pada gilirannya berdampak pada kelestarian danau. Bisa saja nanti di atur berapa maksimal keramba jaring apung yang boleh beroperasi di danau ini. Mari kita jaga danau-danau ini yang merupakan warisan.

    Untuk itu habitat danau mestinya diperhatikan. Jangan sampai karena keinginan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi tapi mengorbankan sisi lingkungan,” ujar Andi.

    Pada akhir diskusi para peserta sepakat untuk menjaga dan melindungi kelestarian Danau Limboto, termasuk upaya untuk perikanan budi daya di danau ini. ( Eka )

  2. Ir. Andy Saputra.A. Rahman.M.Si Says:

    aradoksalitas Pemberdayaan

    Gagasan Robbert Marcus tampaknya patut dikaji secara cermat bagi pelaku PNPM P2KP. Desublimasi represif sebagai tafsir humanistik menjadi benar adanya. Tertekan, tetapi menikmati ketertekanan itu. Tertindas tetapi menikmati ketertindasan itu. Tidak ada pilihan lain. Inilah kira-kira analisa empiris yang terjadi dan menimpa bagi FK, utamanya yang ada di wilayah KMW XII P2KP-3 NTT.

    Ada ungkapan yang euforia bahwa para FK atau pelaku PNPM P2KP menjadi Imam Mahdi, Messiah atau Ratu Adil yang mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan lantaran miskin. P2KP melakukan internalisasi nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan sebagai pilar utama untuk merubah cara pandang masyarakat terhadap mahluk yang namanya kemiskinan.

    Paradigma kritis diharapakan lahir dari masyarakat, yang pada nantinya bermuara pada perilaku dan tindakan masyarakat dalam memaknai bahwa kemiskinan bukanlah sesuatu yang given. Masyarakat yang menilai kemiskinan dengan sikap taken for granted secara perlahan diubah oleh hadirnya program PNPM P2KP. Sungguh ideal dan imajinatif idealistik dan visioner harapan program, tetapi pada praksisnya. Kontraproduktif tidak mampu dibendung, karena pelaku dan orang-orang yang mengikrarkan diri sebagai Community Organizer dan Community Development tidak konsisten, mental-mental hipokrit dan fasik dalam teologi Islam, justru dilakukan oleh pelaku program, termasuk penulis sendiri.

    Argumentasi di atas sebagai refleksi kita semua, yang selalu mendengung-dengungkan pentingnya pendidikan kritis ala Paulo Freire (Pendidik dan Pencetus Teori Pendidikan, asal Brasil—Red). Sejatinya, teorisasi bermuara pada proses ideologisasi, sehingga nantinya prinsip kemanusiaan dan kemasyarakatan menjadi mainstream masyarakat. PNPM P2KP selalu menuding bahwa dehumanisasi atau marginaliasi yang menimpa masyarakat akibat dari lunturnya nilai-nilai kemanusiaan itu, sehingga melibatkan dan menjadikan masyarakat sebagai perencana, pelaku, monitoring dan evaluasi dari program, merupakan jawaban yang singularistik dalam kerangka melahirkan humanisasi.

    Dus, keberfungsian sosial masyarakat yang lama dirampas oleh kebijakan top down-sentralistik, tidak sekadar ilusi-imajinasi konsistensi, menjadi jalan tunggal bagi kita semua, pemerintah dan para desainer program, KMP, KMW, Korkot, Askot dan FK untuk mengeleminer epedemi kemiskinan di masyarakat.

    Kadang kala kepentingan proyek-administratif mengabaikan dan mereduksi sisi substansi sebagai prasayarat lahirnya masyarakat yang kritis-kontemplatif. Bagaimana mungkin masyarakat akan menyadari dan memiliki sensitivitas atau social capital jika sisi proyek mendominasi, shortcut menjadi hal biasa. Sehingga, waktu belajar masyarakat terhadap esensi dan substansi program belum direkam secara utuh. Akhirnya, P2KP seolah-olah tampil dengan baju program, tetapi pada kenyataannya di lapangan sangat berbeda: nafsu yang mengebu-ngebu agar segera menyeesaikan target dari program.

    Kiranya para pemikir dan pelaku pemberdayaan meyakini, mengubah cara pandang masyarakat membutuhkan waktu yang relatif lama. Lima tahun menjadi tolok-ukur akan berhasilnya sebuah program pemberdayaan (Baca Konsep Kesejaheraan Sosial; Isbandi Rukminto). Proses pemampuan terhadap masyarakat baik dari sisi sosial, politik, ekonomi dan budaya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Alih-alih, proses pemampuan terhadap masyarakat akan tercipta, justru program P2KP itu sendiri yang mengingkari dalam pelaksanaannya.

    Sangat apologistik ketika para elit mengatakan bahwa P2KP adalah program yang berjalan dengan dua kaki, yaitu proyek dan pemberdayaan. Jika itu menjadi pilihan yang sulit di antara yang sulit atau dalam bahasa usul fiqih Addarorotu tubihal Mahdurot (membolehkan sesuatu yang dilarang jika dalam keadaan terpaksa), mestinya substansi dan administrasi/proyek harus berjalan secara berdampingan bukan ordinat dan subordinat. Kenyataan di lapangan, substansi selalu menjadi subordinasi dari sisi administrasi yang kurang mencerdaskan bagi FK, apalagi masyarakat.

    Ide cerdas Edi Soeharto PhD (pakar pemberdayaan dan pekerjaan sosial di Indonesia—Red), dalam bukunya, membangun masyarakat dan memberdayakan rakyat menjadi fardhu a’in bagi FK yang kategorinya CD dengan ragam pendekatan dan metode menjadi alat penyadaran bagi masyarakat. Pendekatan aras mikro dan makro mampu disandingkan dengan elegan jika konsistensi program ini dilakukan, tidak sekadar wacana dan SOP semata.

    Pendekatan mikro yang menitikberatkan pada personal approach, atau komunitas sangat efektif dalam melakukan internalisasi dan persuasi megenai cita-cita program. Begitu juga dengan pendekatan makro yang lebih konsestrasi pada PEMDA (TKK, KBP, dan lain-lain) sebagai garapan utama Korkot dan Askot untuk mendorong dan melahirkan PJM Kota.

    Hal ini bukan pekerjaan mudah, bagaimana visi pemda dalam menuyusun, merencanakan kebijakan yang pro poor. Sekali lagi, PJM Kelurahan dan PJM Kota mampu bersanding dengan anggun manakala kita istiqomah dan selalu konsisten. Jika tidak, hanya Tuhan yang Tahu. Wallahualam bish-shawab.

    Dalam catatan terakhir penulis ingin menegaskan kita semua, para pelaku P2KP, hendaknya KMP jangan menzalimi KMW, KMW jangan menzalimi Korkot, Askot, FK dan masyarakat. Karena, doanya orang-orang teraniaya sangat mustajabah dan maqbul (cepat dikabulkan Tuhan—Red). Dan, mudah-mudahan, kita tidak termasuk golongan fasiqin, munafiqin dan dhalimin akibat lalai melakukan proses pendampingan dan penguatan terhadap masyarakat. (Abdus Salam, Senior Faskel Koorkot 2 P. Flores KMW XII P2KP-3 NTT, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

    Dikutip Oleh : Ir. Andy Saputra.A.Rahman.M.Si
    Ketua Ormas Musyawarah kekeluargaan Gotong Royong
    Provinsi Gorontalo


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: