Berita 2009-1 (Jan-Mei)

Maret 2009

Danau Limboto Jadi Kawasan Konservasi Nasional

Gorontalo Post, 20 Maret 2009

Sumber: http://www.gorontaloprov.go.id

Ada hal menarik yang terungkap dalam pelaksanaan pembahasan Rancangan Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang Sulawesi di hotel Bidakara, Jakarta (17/3) lalu. Yaitu keberadaan Danau Limboto yang diakomodir sebagai kawasan konservasi nasional.

Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Prof. Dr. Ir. Winarni Monoarfa, MS mengemukakan, diantara sekian hal yang telah diusulkan oleh Gorontalo dalam RTR Pulau Sulawesi, satu hal strategis yang sudah diakomodir adalah Danau Limboto sebagai kawasan konservasi nasional dalam tataran region Sulawesi, untuk nantinya dapat diakomodir dalam revisi RTRW Nasional kedepan.

Prof.Winarni menegaskan, usulan ini penting mengingat tindak lanjut penanganan Danau Limboto dari segi prioritas kebijakan. “Dengan masuknya Danau Limboto sebagai kawasan konservasi nasional, maka diharapkan kebijakan penanganan danau limboto bukan hanya menjadi prioritas kewenangan Kabupaten dan Provinsi, tapi juga akan menjadi prioritas program strategis regional dan nasional untuk ditangani lintas Sektor/ Departemen di tingkat pusat.

Koordinator Kepala Bappeda Se Sulawesi dan se Kawasan Timur Indonesia itu mengememukakan pula, disamping mengusulkan khusus mengenai danau Limboto di Gorontalo, juga diusulkan danau Tempe (Sulawesi Selatan) dan danau Lindu (Sulawesi Tengah) untuk dimasukkan sebagai kawasan kritis untuk konservasi nasional. “Kerugian yang sangat besar jika ketiga ekosistem danau di 3 provinsi di Sulawesi ini harus punah.

Kesepakatan yang dibangun bersama se Sulawesi adalah pelestarian kawasan pesisir pantai, terumbu karang, pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan infrastruktur di Sulawesi yang memperhatikan aspek pelestarian lingkungan. Sehingga ke depan kelestarian Ekologi akan terpelihara seiring dengan kemajuan pembangunan.

Tim Penyusun RTR Pulau Sulawesi Dr. Budi Situmorang, M.URP, pertimbangan lokasi danau limboto yang berada diantara Kota Gorontalo sebagai PKN (Pusat Kegiatan Nasional) dan Kota Limboto sebagai sebagai PKL (Pusat Kegiatan Lokal), akan menjadi faktor penentu secara ekologis bagi sustainabilitas pembangunan di kedua kawasan tersebut. “Ini penting mengingat Kota Gorontalo dan Kota Limboto yang sering mengalami banjir akibat terdegradasinya danau Limboto beserta Daerah Aliran Sungai yang berada di sekitarnya.

Rapat Penyelamatan Danau Limboto

Written by Nasrianti Basiru

Sumber: http://humas.gorontaloprov.go.id/ 31 Maret 2009

Sejumlah masterplan yang telah direncanakan beberapa tahun terakhir tak menunjukan realisasi di lapangan. Sehingga itu perlu adanya koordinasi antara masing-masing SKPD yang terkait dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo

Demikian yang dikatakan oleh Assisten Pelayanan Publik Anda Fauzi Miraza,Ak,SE,M.SIS pada Rapat “Program Penyelamatan Danau Limboto 2009-2015” di ruang huyula Kantor Gubernur Gorontalo, Selasa (31/03). 3 hal penting yang ditegaskan oleh Asisten Pelayanan Publik penyelamatan danau Limboto yakni laporan kegiatan penyelamatan danau Limboto 2009, rencana detail program kegiatan penyelamatan danau limboto 2010 serta hal-hal yang perlu dilakukan oleh masing-masing instansi terkait.

Kepala Balihristi Dr. Herman Paneo, MPd pada mengemukakan bahwa 2/3 dari danau Limboto dipenuhi oleh enceng gondok, spesies ikan semakin berkurang dan luasnya juga semakin berkurang. Dengan adanya kondisi ini perlu langkah mengubah Masterplan,, mengurangi enceng gondok dan penghijauan dari hulu sampai ke hilir.

Dari pemaparan masing-masing SKPD yang terkait dalam usaha penyelamatan danau Limboto yang harus dilakukan antara lain : pembersihan enceng gondok secara bersama antara kabupaten dan kota, adanya penetapan zonasi, sosialisasi tentang Perda no.1 tahun 2008, perlu adanya pengawasan yang ketat terhadap illegal fishing, menambah populasi ikan, pengadaan 2000 ekor angsa yang akan dilepas di danau Limboto.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo Ir.Yusuf Hamidun mengemukakan kegiatan penyelamatan danau Limboto dapat dilakukan melalui pembuatan pupuk organik berbahan baku enceng gondok. Turut hadir pula kepala BPDAS serta unsur terkait lainnya baik dari provinsi maupun kabupaten/kota. (Vivi-Humas)

April 2009

Usulkan Danau Limboto dalam RTRW Nasional

Gorontalo Pos,  Senin, 13 April 2009

Sumber : http://www.gorontaloprov.go.id/

Pendangkalan danau limboto hingga kini belum juga beroleh solusi yang tepat. Kemungkinan hal ini karena diakibatkan oleh anggaran yang dibutuhkan cukup besar. Tak heran kalau Pemerintah Provinsi sudah mengusulkan danau limboto pada Rencana Tata Ruang Wilayah ( RTRW ) pulau Sulawesi

Yang diharapkan nantinya adalah, danau limboto sebagai kawasan konservasi nasional dalam tataran region Sulawesi untuk yang kemudian dapat diakomodir dalam revisi RTRW Nasional kedepanya. Usulan ini penting, mengingat tindak lanjut penanganan Danau Limboto dari segi prioritas kebijakan.

“Dengan masuknya Danau Limboto sebagai kawasan konservasi nasional, maka diharapkan kebijakan penanganan danau limboto bukan hanya menjadi prioritas kewenangan Kabupaten dan Provinsi, tapi juga akan menjadi prioritas program strategis regional dan nasional untuk ditangani lintas Sektor/ Departemen di tingkat pusat.”Ungkap Kepala Bappeda Provinsi Winarni Monoarfa.

Kepala Bappeda Prof Winarni yang juga Koordinator Kepala Bappeda se-Sulawesi dan se-Kawasan Timur Indonesia ini mengungkapkan, untuk wilayah Sulawesi, selain Danau Limboto ada juga Danau Tempe ( Sulawesi Selatan ) dan Danau Lindu ( Sulawesi Tengah ) untuk dimasukkan sebagai kawasan kritis sebagai konservasi nasional.

“Kerugian yang sangat besar jika ketiga ekosistem danau di 3 provinsi di Sulawesi ini harus punah,” tandasnya sembari menambahkan, kesepakatan Sulawesi untuk pelestarian kawasan pesisir pantai, terumbu karang, pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan infrastruktur, harus senantiasa memperhatikan aspek pelestarian lingkungan sehingga ke depan kelestarian Ekologi akan terpelihara seiring dengan kemajuan pembangunan.

TP. PKK Dukung Relokasi

Sumber:http://www.gorontaloprov.go.id/Senin, 13 April 2009

Bencana banjir yang melanda wilayah pesisir danau limboto menuai kepedulian tersendiri bagi jajaran Tim Penggerak PKK Provinsi Gorontalo. Hal itu senantiasa ditemui Ketua TP. PKK Provinsi Gorontalo Ny. Hj. Hana Hasanah Fadel Muhammad disetiap kunjungan lapangannya ke daerah pesisir danau limboto tersebut.

Ketua TP. PKK mengusulkan bahwa perlu ada relokasi bagi warga yang mendiami wilayah pesisir itu agar terhindar dari banjir dan jika ada niat baik dari pemerintah baik provinsi maupun kab / kota yang menaungi wilayah pesisir danau limboto untuk relokasi itu pihaknya siap bekerjasama dalam bentuk membantu pembangunan rumah layak huni ( Mahyani ).

Adapun bentuk kerjasama yang diinginkan oleh TP. PKK seperti telah adanya ketersediaan lahan dan sebagainya jadi kita tinggal menggalang kerjasama dengan instansi terkait untuk penyediaan mahyaninya, asal sudah ada lahan dulu. Dari hasil peninjauan lapangan tersebut dilokasi rawan banjir daerah pesisir danau limboto itu berada di sejumlah tempat seperti di kelurahan lekobalo kecamatan kota barat, didaerah ini terdapat puluhan bahkan ratusan rumah penduduk rawan tertimpa banjir.

Diwilayah pesisir danau limboto itu sudah tidak bisa diupayakan lagi adanya penanggulangan banjir. Adapun untuk penyaluran bantuan yang biasa dilakukan bagi mereka kami rasa hanya sebatas solusi sementara. Satu-satunya solusi akhir mereka harus direlokasi.

Pada kesempatan tersebut sempat melakukan dialog dengan warga pesisir danau limboto yang ada di kelurahan lekobalo, yang pada intinya mereka siap direlokasi dan kesediaan pemerintah provinsi gorontalo untuk ketersediaan infrastruktur bangunan dan sarana pendukung lainnya sehingga nantinya untuk pembangunan seperti rumah layak huni ( Mahyani ).

Gorontalo Menuju Green City

Sumber: http://www.gorontaloprov.go.id/Senin, 20 April 2009

Gorontalo sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai green city karena memiliki sumber daya yang sangat banyak, baik dari potensi hutannya maupun area yang dapat dijadikan hutan baru termasuk hutan kota serta potensi lainnya yang dapat menunjang perwujudan kota hijau seperti pemanfaatan eceng gondok yang ada di danau limboto yang mana dapat dijadikan sebagai sumber energi alternative dan ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi tingkat pencemaran lingkungan.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. Alex R. Melbourne dari Chase Emvironmental Service pada meeting discution tentang Gorontalo menuju kota hijau yang dihadiri oleh Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Kepala Balihristi, Kabid Ekonomi Bappeda, Kabid Riset Balihristi dan Kasubdin Pariwisata Dishubpar Provinsi Gorontalo.

Dr. Alex R. Melbourne yang di dampingi Prof. dr. Winsi Waraow tertarik dengan pengelolaan danau limboto sehingga akan datang bersama tim dari lembaga tersebut pada bulan Juni mendatang. Untuk itu diharapkan Pemprov melalui tim yang di koordinasikan Balihristi harus terlebih dahulu memotret potensi danau limboto dari segala aspeknyadan menentukan prioritas penanganannya dengan tetap memperhatikan peraturan yang telah di tetapkan oleh daerah / perda danau limboto dan aturan-aturan lainnya.

Dalam penanganan kota hijau sebagaimana yang bisa dilihat tentang kota yang berwawasan lingkungan yakni kota Dongtan. Dongtan sebagai kota hijau yang kita tidak akan menentukan tempat Pembuangan Sampah ada di dalam kota dan kota ini memang direncanakan akan menjadi kota yang tidak menghasilkan sampah sama sekali .

Lebih dari 90% atau bahkan 100% bahan buangan akan didaur ulang menjadi berbagai sumber daya untuk memenuhi kebutuhan kota. Semua kenderaan di Dongtan akan berjalan dengan menggunakan listrik, tenaga matahari atau sumber-sumber lain yang aman bagi lingkungan demikian juga untuk pertanian dan perkebunan, Dongtan hanya akan nenggunakan bahan-bahan organik yang ramah lingkungan.

Penanganan danau limboto diharapkan harus secara komprehensip, simultan dan terarah serta lebih serius yang mana harus ditangani lintas sektor dan lintas pemerintah daerah baik yang secara langsung terkait dengan danau limboto maupun yang tidak secara langsung.

Pemanfaatan potensi perguruan tinggi local juga sangat penting dimana danau limboto bisa di jadikan laboratorium penelitian bagi mahasiswa dan peneliti-penelitiannya juga bagi dosennya harus mau melakukan studi khusus tentang danau dalam disertasinya diluar negeri. Dengan penelitian itulah nantinya peneliti Gorontalo kembali ke daerahnya untuk melakukan penanganan danau limboto secara ilmiah dan dapat meyakinkan Pemerintah dan Negara donor untuk menangani danau limboto.

Agend ini harus dapat pula merubah pola pikir masyarakat sekitar danau limboto untuk mau melestarikan danau limboto menjadi sumber energi yang sangat potensial dalam kehidupannya.

Kepala Balihristi Provinsi Gorontalo Dr. Herman Paneo, M.Pd memaparkan tentang kondisi danau limboto dari sisi potensi dan masalahnya serta upaya penanganannya sejak 2004 lalu sampe sekarang baik yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi bersama Pemda maupun oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup bahkan Negara donor lainnya.

Mei 2009

Gerakan Bersih Lingkungan Danau Limboto

Sumber: http://www.gorontaloprov.go.id/ Minggu, 03 Mei 2009

Gorontalo, Minggu – Melihat fenomena danau Limboto yang semakin memprihatinkan, maka pihak Balihristi bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Gorontalo di desa Hutuo pada hari Minggu, 03/05/09 mengadakan pembersihan Eceng Gondok di danau Limboto.

Pembersihan ini dilakukan dengan melibatkan 200 orang warga masyarakat dari desa Kayu Bulan Limboto, Air Panas Telaga, Pentadio Barat dan Hutuo, termasuk menyiapkan 5 unit arnada untuk mengangkut eceng gondok yang selanjutnya dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di kelurahan Biyonga Limboto dan Talumelito Telaga. Kepala Balihristi Propinsi Gorontalo, DR. Herman Paneo mengemukakan, penanggulangan sedimentasi ini perlu dilakukan karena adanya keterpaduan antara Balai Wilayah Sungai dengan BP DAS dan Dinas Kehutanan. Dimana Terjadinya pendangkalan danau Limboto disebabkan karena faktor sedimentasi yang setiap tahunnya diperkirakan 0.40 meter kubik. Menyinggung sedimen ini, kata Herman Paneo, perlu dilakukan pembuatan sedimen Trap yang berfungsi menangkal sedimen yang masuk ke danau.

Kaitannya dengan pelestarian danau Limboto ini, Balihristi Prov. Gorontalo secara bertahap akan melakukan pembersihan eceng gondok yang tumbuh diatas permukaan air danau yang diperkirakan sudah mencapai dua per tiga dari luas danau Limboto sudah tertutup dengan eceng gondok tersebut. Guna kesinambungan program ini, maka pihak Balihristi akan membentuk kelompok-kelompok pengawas berbasis masyarakat yang ada di kawasan pesisir danau limboto. Lebih lanjut dijelaskan, kelompok pengawas ini nantinya akan menjadi ujung tombak di lapangan yang senantiasa melakukan pengawasan kegiatan illegal fishing (penangkapan liar) maupun pengkaplingan di danau limboto.

Pembersihan danau limboto kemarin itu juga dilakukan melalui pembuatan batas sempadan dengan bambu dan ini dimaksudkan agar eceng gondok yang belum terangkat tidak akan masuk ke lokasi yang telah dibersihkan sebelumnya. Sementara itu, kepala desa Pentadio Barat, Gandi Pateda, menyatakan, pihaknya selaku pemerintah setempat sangat mendukung program yang dilakukan oleh pemerintah melalui Balihristi Provinsi Gorontalo. Dikatakan, dengan adanya pelestarian danau Limboto yang dilakukan melalui pembersihan eceng gondok sudah dapat menunjang kelangsungan hidup masyarakat yang berada di pesisir danau Limboto

Danau Limboto Meluap, Lima Desa Terendam Banjir

Sumber: http://www.surya.co.id/ Jumat, 22 Mei 2009 |

GORONTALO | SURYA Online – Akibat meluapnya danau terbesar di Gorontalo, Limboto, Lima desa di sekitar bantaran danau tersebut terendam banjir setelah hujan mengguyur wilayah itu sejak sepekan terakhir.

Lima desa tersebut yakni Lekobalo, Dembe, Tualango, Tilote, dan Tabumela, terendam air dengan ketinggian rata-rata selutut kaki orang dewasa, kata Abbas, salah seorang warga Tualango, Jumat (22/5).

Menurutnya, danau Limboto mulai meluap sejak turun hujan deras mengguyur wilayah itu pada Minggu (17/5).

“Danau kembali meluap saat hujan turun lagi seharian kemarin,” kata dia.

Hal serupa dikatakan Arif, warga di Tabumela, Kabupaten Gorontalo. Menurut Arif, desa yang terletak di bantaran danau Limboto itu mulai terendam sejak satu minggu lalu.

“Rendaman air ini bisa bertahan sampai berbulan-bulan, apalagi jika hujan masih terus turun,” katanya.

Meski demikian, sebagian besar warga di lima desa itu masih memilih tinggal di rumah masing-masing, sedangkan sebagian kecil memilih mengungsi di rumah keluarga dan kerabat yang relatif lebih aman dari banjir. ant

Rapat Program Penanganan Danau Limboto

Written by Burhanuddin

Sumber: http://humas.gorontaloprov.go.id/Jumat, 22 Mei 2009

Kondisi danau Limboto yang semakin mengalami pendangkalan membutuhkan perhatian khusus. Untuk itu diadakan rapat program penanganan danau Limboto yang berlangsung di Ruang Huyula Kantor Gubernur Gorontalo (22/05) dan dibuka oleh Wakil Gubernur Gorontalo Ir.H. Gusnar Ismail MM.

” Dari sekian banyak danau yang ada di Indonesia secara nasional danau Limboto merupakan salah satu perhatian utama yang membutuhkan penanganan khusus karena jika kita melihat kondisi yang ada dilapangan dimana di sekitaran danau sudah dipenuhi dengan enceng gondok dan pemukiman penduduk. Agar danau dapat diselamatkann salah satu cara yang dilakukan yakni mengangkat masalah danau Limboto ini menjadi isu global,” jelas Wagub. Dikatakan kurang lebih 3 tahun lalu telah diadakan lokakarya oleh kementrian lingkungan hidup ( KLH ) yang membahas tentang danau dan yang diangkat adalah danau Limboto sehingga keberadaan danau ini mendapat perhatian dari orang lain. Hal yang pertama untuk menangani danau Limboto yakni dikeluarkannya Perda menyangkut pelestarian danau Limboto. Untuk itu diharapkan kepada instansi maupun dinas terkait agar lebih proaktif dalam merespon perintah dari atasan misalnya saja dengan adanya Perda tentang danau Limboto ini. Wagub juga menambahkan hal-hal yang perlu ditindaklanjuti mengenai penanganan danau Limboto antara lain : mengadakan forum dengan insinyur-insinyur yang berkompoten untuk mengkaji masalah danau Limboto, pertemuan khusus dengan penata ruang, status kepemilikan Zonasi danau, pertemuan dengan perguruan tinggi baik UNG maupun UG dan UGM serta pertemuan dengan KLH.

Sementara itu kepala Balihristi Herman Paneo mengatakan alasan dibahasnya masalah danau Limboto antara lain karena danau Limboto adalah aset atau icon yang harus dilestarikan, potensi danau Limboto yamg bisa menguntungkan, penanganan danau Limboto harus melibatkan dinas dan intansi terkait dan ekploitasi yang tidak terarah serta aktivitas yang dilakukan disekitar danau Limboto. Hasil terakhir yang diperoleh dari pengukuran danau Limboto kini luasannya tinggal 6700 hektar. Rapat ini di hadiri pula oleh Asisten Pelayanan Publik dan Reformasi Birokrasi Anda Fauzy Miraza Ak.M.SIS, Karo Umum-Humas Setda Provinsi Gorontalo Drs. Alvon Usman serta sejumlah kepala SKPD dan instansi yang terkait. (Burhanudin-Humas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: