Sumapapua MenLH

DAS LIMBOTO

Sumber: http://sumapapua.menlh.go.id/

Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto terletak di Propinsi Gorontalo. DAS ini merupakan salah satu DAS kritis dan prioritas. DAS ini merupakan bagian dari Wilayah Sungai Bone-Bolanga. Ada dua wilayah adminsitrasi pemerintah yang terdapat di dalam kawasan eksositem DAS Limboto ini, yaitu Kabupaten Gorontalo dan sebagai kecil kota Gorontalo. DAS ini memiliki luas 91.400 hektar dan tersebar di 9 (sembilan) kecamatan dan 70 desa. Delapan kecamatan berada di Kabupaten Gorontalo, dan 1 kecamatan ada di Kota Gorontalo. DAS Limboto di sebelah Utara berbatasan dengan DAS Poso Atinggola, sebelah Selatan dengan DAS Batudaa-Bone Pantai, sebelah Barat dengan DAS Paguyaman, dan sebelah Timur dengan DAS Bolanga.

Di dalam kawasan DAS Limboto terdapat Lebih kurang ada 23 anak sungai mengalir ke dalam danau Limboto. Empat sungai besar yang mengalir di DAS ini terdiri dari sungai Bionga, sungai Molalahu, sungai Pohu, dan sungai Meluupo. Dari seluruh sungai tersebut hanya Sungai Biongo yang mengalir sepanjang tahun. Sungai ini mengalir dari mata air di daerah pegunungan di sebelah utara danau. Sungai satu-satunya yang menjadi outlet danau Limboto adalah sungai Topudu. Sungai Topodu mengalir ke arah Teluk Tomini. Sebelum masuk ke Teluk Tomini sungai bersatu dengan sungai Bolonga dan masuk ke Sungai Bone, akhirnya ke teluk Tomini.

Sebagian areal lahan di DAS Limboto (48 %) miliki kemiringan di atas 25 % (curam dan sangat curam). Titik tertinggi di DAS ini adalah berupakan kawasan pegunungan dengan ketinggian mencapai 2.100 meter. Curah hujan di DAS Limboto lebih dari 2000 mm.

Ekosistem DAS Limboto sedang mengalami proses kerusakan yang sangat parah. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1999, DAS Limboto dikategorikan sebagai satu dari 60 DAS Prioritas I di Indonesia.

Kondisi daerah tangkapan air di kawasan upper watershed DAS Limboto ini telah banyak terjadi penggundulan hutan, dan praktek-praktek pengolahan tanah yang tak sesuai dengan kaidah yang benar. Terjadi perbedaan yang sangat mencolok air di sungai antara pada musim hujan dengan musin kemarau. Pada musim hujan, air berlimpah, namun saat musim kemarau terjadi kekurangan air. Perbedaan jumlah air yang ada di sungai pada musim hujan dan pada musim kemarau itu menunjukkan kualitas lingkungan hidup di DAS ini sudah sangat terganggu.

Pendangkalan dan penyusutan luas Danau Limboto

Masalah utama yang dihadapi DAS Limboto adalah penyusutan luas dan pendangkalan Danau Limboto yang merupakan salah satu ‘landmark’ ekosistem Provinsi Gorontalo. Laju pendangkalan danau akibat erosi dari sungai-sungai yang bermuara di danau ini sangat besar. Pada tahun 1932, rata-rata kedalaman Danau Limboto 30 meter dengan luas 7.000 Ha. Pada tahun 1955 kedalaman danau menurun menjadi 16 meter. Dan dalam tempo 30 tahun, (tahun 1961) rata-rata kedalaman Danau Limboto telah berkurang menjadi 10 meter dan luasanya menyusut menjadi 4.250 Ha. Pada tahun 1990 – 2004 kedalaman Danau Limboto tinggal rata-rata 2,5 meter dan luasnya yang tersisia tinggal 3.000 Ha. Pendangkalan ini selaim dipicu oleh erosi sungai dan lahan, juga disebabkan oleh para nelayan yang selama bertahun-tahun membangun perangkap ikan yang menggunakan gundukan tanah dari darat serta batang-batang-batang pohon (lihat table 1). Dalam kurun waktu 52 tahun Danau Limboto berkurang 4304 ha (62.60 %). Jika kita hitung per tahunnya, tingkat penyusutan danau mencapai 65.89 hektar. Diperkirakan pada tahun 2025 danau Limbota lenyap dari muka bumi Gorontalo.

Pendangkalan danau menyebabkan munculnya tanah-tanah timbul di kawasan perairan danau. Tanah-tanah timbul ini sudah diokupasi dan di’kapling’ oleh masyarakat yang seakan-akan dijadikan hak milik dan dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan seperti sawah (637 hektar), ladang (329 hektar), perkambungan (1272 hektar), dan peruntukan lainnya (42 hektar). Tanah-tanah tersebut. Hal ini menimbulkan kerawanan sosial karena konflik antar masyarakat kemungkinan besar dapat terjadi dalam memperebutkan kawasan danau.

Penurunan Kualitas Air Danau

Disamping masalah okupasi tanah-tanah timbul tersebut, berbagai aktivitas masyarakat di sekitar dan di dalam kawasan danau juga semakin mengancam dan memperburuk kelestarian fungsi Danau. Saat ini kualitas air danau limboto mengalami penurunan kualitas akibat limbah domestik, aktivitas budidaya yang dilakukan di dalam danau, sedimentasi danau akibat erosi di daerah hulu sungai.

Akibat eutrofikasi Danau Limboto banyak tumbuh tanaman pengganggu yang banyak menyerap air dan dan dapat mempercepat pendangkalan danau. Saat ini eceng gondok di danau Limboto tumbuh meluas. Masyarakat juga banyak melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan racun (potas), bom ikan dan alat penangkap skala besar merajalela sehingga mengakibatkan penurunan keragaman genetik ikan dan biota air lainnya serta menurunnya kualitas air danau.

Pengrusakan dan pencemaran ekosistem danau ini menyebabkan beberapa jenis ikan lokal telah menurun populasinya seperti ikan huluu, payangga, gabus, udang dan sebagainya dan bahkan ada yang punah seperti mangaheto (ikan sejenis bobra warna merah), Botua (ikan jenis mujair berwarna putih tanpa sisik), Bulaloa (ikan jenis bandeng tulang sedikit berwarna putih bersisik), dan Boidelo (mirip ikan tuna bersisik dan berwarna abu-abu) (JICA-Dephut, BP DAS Bone Bolango, LP2G 2003). Dulu bermacam-macam ikan air tawar dapat dijumpai didanau ini. Kini yang tersisa hanya mujair, nila, gabus atau sepat.

Pencemaran lingkungan juga terjadi di ekosistem danau Limboto, terutama pada musim kemarau. Pencamaran ini disebabkan oleh akumulasi inlet, sedimentasi dan kegiatan pertanian disekitar danau. Di bagian barat danau kadar oksigennya rendah (0.2 ppm), BOD tinggi (29-49 ml/gr) dan COD mencapai 47-57 ml/gr. Bakteri coliform 5 kali dari batas maksimum yang diprebolehkan (LBB Master Plan Interim Report, SubDinas Pengariran PU Sulut 2000). Logam-logam berat seperti Cd, Hg, Pb, dan Cr6+, serta Se, AS, Zn, FE, dan MN juga terdeksi di perairan danau Limboto.

Banjir

Pendangkalan danau di satu sisi dan terjadinya kerusakan hutan disisi lain juga menyebabkan terjadinya banjir. Setiap tahun terjadi pendangkalan danau setinggi 46.66 cm dan penyempitan danau sebesar 66.66 hektar dan terjadi penurunan muka air normal danau sebesar kurang lebih 1,75 cm (Nelson Pomalinggo, 2005). Penurunan daya tampung danau, menyebabkan terjadi banjir. Banjir hampir terjadi setiap tahun di wilayah hilir selama tiga tahun terkahir: Kecamatan Limboto Batudaa dan Telaga.

Penurunan Kuantitas Air

Penurunan kuantitas air juga menjadi masalah yang tidak kecil di DAS Limboto ini. Debit sumur di seluruh wilayah sungai relatif kecil, berkisar antara 2 l/s sampai 30 l/s, dan hanya dapat memenuhi kurang lebih dari 10 % kebutuhan air irigasi atau penggunaan domestik lainnya (JICA-Dephut, BP DAS Bone Bolango, LP2G 2003

Perusakan Hutan dan Lahan

Daerah tangkapan air (catchment area) DAS Limbota telah mengalami degradasi yang serius. Banyak kegiatan pertanian di DAS Limbota menjarah kawasan hutan lindung. Kegiatan lahan pertanian yang banyak berkembang adalah pertanian lahan kering untuk tegalan (palawija), kebun kelapa, kemiri dan sebagainya. Luas lahan pertanian tersebut mencapai 40.58 % dari luas wilayah DAS Limboto (JICA-Dephut, BP DAS Bone Bolango, LP2G 2003).

Kegiatan peladangan berpindah, pembakaran lahan, penebangan liar dan pengembalaan liar marak dilakukan oleh berbagai pihak. Berdasarkan klasifikasi hutan, sebagian besar daerah tangkapan air hujan pada DAS LBB ternyata telah lama dilegalisasi menjadi Hutan Produksi Terbatas (HPT) atau Limited Production Forest yang telah mendorong secara formal eksploitasi hutan secara besar-besaran. Luas hutan di DAS Limboto hanya 14.893 hektar (16.37 % dari luas DAS) jauh di bawah persayartan minimum (30 %).

Kerusakan hutan memperbesar tingkat erosi tanah dan menyebabkan lahan-lahan yang ada menjadi kritis. Berdasarkan RTL-RLKT DAS Limboto, 2004, tingkat erosi di DAS Limboto mencapai angka 9.902.588,12 ton/tahun atau rata-rata 108.81 ton/ha/tahun. Sedimentasi di Danau Limboto sebesar 0.438 mm/tahun (BP DAS Bone Bolango, 2004). Luas lahan kritis mencapai angka 26.097 hektar lahan kritis terdiri dari 12.573 hektar lahan kritis di dalam kawasan hutan dan 13.524 ha di luar kawasan hutan (JICA-Dephut, BP DAS Bone Bolango, LP2G 2003).

Perusakan Hutan Riparian

Laju sedimentasi tidak hanya disebabkan oleh tingginya penggundulan hutan di bagian hulu, tetapi juga erosi tebing sungai-sungai yang bermuara ke danau,. Sebagian besar areal di bantaran sungai saat ini telah digunakan oleh masyarakat untuk berbagai peruntukan dari kawasan permukinan, sawah, ladang dan kebun. Kegiatan tersebut menyebabkan hilanganya vegetasi asli dan rusaknya ekosistem riparian. Sehingga menyebabkan sungai-sungai tersebut tidak memiliki filter untuk menahan sediment dan berbagai bahan pencemar air sungai lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: