Ati Olo Warga Pesisir

ATI OLO WARGA PESISIR DANAU LIMBOTO

Sumber:http://www.mail-archive.com/gorontalomaju2020@yahoogroups.com/msg16710.html

delyuzar ilahude:
Mon, 09 Feb 2009 08:15:37 -0800

Mongodulaa wau mongowutato dan sudara2 ku digtlo…

memang benar pesisir danau  rawan banjir ! 6 bulan lalu danau ini kita lakukan survey dengan alat echosounder. Alat ini dipasang dilambung perahu nelayan setempat dan dilakukan  rekaman mengikuti lintasan survey. Dari info masarakat setempat danau ini awalnya mempunyai kedalaman kurang lebih 30 meter (katanya), tapi sekarang dari hasil rekaman alat echosounder kedalaman maksimumnya hanya tinggal 4..8 meter  pd saat musim hujan. Laporan hasil survey ini bisa dilihat di dinas kehutanan &pertambangan gorontalo lengkap dengan bentuk morfologi danau yg dibuat serba  digital semua. Nah bayangkan perubahan elevasi danau yang tadinya 30 meter berubah kurang lebih tinggal 5 meter. Kita pasti akan berpikir, kemana tempat  wadah air tadi jika air itu kembali lagi seperti semula??? Jelas air itu mencari daerah yang lebih rendah, ingat pergerakan air selalu mengikuti prinsip  gravitasi. Jika diwadahnya (danau) terjadi  pendangkalan dengan ketebalan sedimen maksimum 25 meter (30 – 5 m), ini analog  dengan kolom air rata2 dikalikan dengan luas area danau maka itulah volume air   yang dipindahkan kepinggiran danau hingga meluap kedaerah lain. Jadi siapa yang disalahkan disini?? Apakah pemkot? Pemkab? Jelas tidak semua kita menyalahkan  pemkot atau pemkab. Dari data yg kita survey, suplai sedimen itu dominan berasal dari muara sungai di bagian barat danau, bukan dari perbukitan bagian  selatan danau yg litologinya berupa karbonat. Di daerah selatan ini tidak ditemukan muara sungai yg dapat mensuplai material sedimen secara signifikan.

Dan lebih parah lagi di tengah2 danau disamping hutan eceng gondok juga ada pengkaplingan area danau untuk budidaya ikan nila+gurami. Jadi mulai nampak  siapa yg disalahkan? siapa yg membabat hutan di bagian barat dan barat daya sana? Jadi jelas tidak semua kita limpahkan tanggung jawabnya ke pemkot dan  pemkab. Inilah cerminan masarakat kita,

dan siapa mereka2 itu??? yaaa sudara2 kita juga…. boodito poli….bolo salamu delyuzar

topanabdul:
Monday, February 9, 2009, 9:36 AM

Masih terbayang dalam ingatan saya, bagaimana keadaan warga pesisir danau limboto yang harus mempertahankan hidupnya ditengah-tengah banjir luapan danau yang hampir tiga bulan lamanya menggenangi pemukiman pesisir. sulitnya mendapatkan air bersih dan serangan penyakit kulit menjadi pelengkap penderitaan mereka pada waktu itu..

bahkan karena banjir luapan tersebut, membuat beberapa rumh warga rusak. ironisnya, harapan warga untuk mendapatkan bantuan bahan perbaikan rumah hanya ditanggapi dengan pernolakan tegas dari pihak pemerintah kabupten gorontalo. “tidak ada bantuan bahan perbaikan rumah untuk warga pesisir, karena wilayah pesisir tidak cocok dijadikan sebagai pemukiman (ungkap salah seorang pejabt pemkab gorontalo”.

Kini banjir luapan danau telah usai.. namun, itu bukan berarti penderitaan warga pesisir berakhir… seperti halnya yang dialami warga pesisir di kelurahan kayubulan kecamatan limboto..

berselang dua bulan paska banjir luapan danau, pihak pemerintah kabupaten gorntalo melalui ‘program penanggulan bencana’ membangun “drainase” yang menurut pemerinth bisa meminimalisir pemasalahn banjir dibeberpa titik yg rawan banjir, termasuk pemukiman pesisir di kelurahan kayubulan.

awalnya pembangunan drainse tersebut mendapat penolakan dari beberapa warga yang kahwatir dengan dampak negatif paska pembangunan drainase yang katanya sebagai solusi banjir. namun dengan sedikit iming dan kejelian ‘oknum yang berkepentingan’ akhirnya proyek pembangunan drainse dapat dilaksanakan.

kekahwatiran sebagian warga ternyata menjadi kenyataan.. pembangunan drainase yang tidak didukung oleh planing yang mantap tersebut, ternyata membawa petaka baru khususnya untuk warga pesisir danau. karena setiap hujan turun, pemukiman warga pesisir digenangi air yang diberasal dari drainase milik pemerintah yang katanya adalah solusi banjir tersebut.

KINI PEMUKIMAN PESISIR YANG ADA DI KELURAHAN KAYUBULAN BENAR2 MENJADI LOKASI YANG RAWAN BANJIR. KARENA SELAIN BANJIR LUAPAN DANAU LIMBOTO YANG SETIAP TAHUNNYA MENGHANTUI WARGA PESISIR, JUGA BANJIR HADIAH DARI PEMERINTAH KABUPATEN GORONTALO YANG DIHANTARKAN MELALUI DRAINASE SOLUSI BANJIR..

maaf ini bkn curhat, tapi realita…

Tuturuga:
Mon, 09 Feb 2009 18:18:40 -0800

Terlepas masalah derita yang mereka rasakan, saya cuma mau ngajak berfikir  (jika ini disebut berfikir) : sebenarnya mereka yang di pesisir danau itu kebanjiran atau mereka sendiri yang nyari masalah? Saya pernah bertanya pada ayahanda Tabumela ttg permukiman sekarang, ternyata awalnya pada tahun 1960-an  beberapa orang membangun bandhayo di tepian danau yang ditinggali sewaktu-waktu, lambat laun komunitas mereka besar dan bertambah banyak yang  akhirnya menjelma menjadi kampung.

Akibat terbatasnya lahan, beberapa warga kemudian membangun rumah ke arah  tengah danau, apalagi proses pendangkalan/sedimentasi juga cukup parah. Jadi, jika kemudian danau meluap rumah2 warga pasti akan tenggelam. Nah,  danaunya yang salah atau kita yang tidak memiliki kearifan tradisional??? Alam selalu mengoreksi jika kita telah lalai…

Oh ya, proyek rehabilitasi dermaga Iluta (tempat Soekarno mendarat dengan pesawat Ampibi, kenapa tidak mendarat di bandara Tolotio ya? tentu dengan pesawat yg sesuai) yang dikelola dinas pariwisata prov. menurutku juga lucu, kita semua termasuk pemerintah sendiri teriak2 pendangkalan danau, eh malah dia menimbun pinggiran danau dengan tanah dari bukit sebelah jalan. Hahahahaha….
Pemerintah itu lucu!!!

Rahman Dako:
Wed, 11 Feb 2009 17:49:46 -0800

Teman-teman,

Menurut saya, dalam hal makin tingginya sedimentasi, saya sejak awal mengkapanyekan untuk moratorium logging dan konversi lahan, tapi respon dari  pemerintah daerah dingin.

Menurut saya, pemerintah daerah dan nasional merupakan ‘tersangka utama’ dalam  masalah ini. Kenapa? Sejarah membuktikan bahwa sedimentasi lebih banyak  diakibatkan oleh ulah manusia. Proses sedimentasi itu sendiri hanya bisa dihentikan atau diperlambat jika ada kebijakan pemerintah yang memang betul-betul mau memperhatikan ini. Kesalahan ‘pengurusan’ oleh pemerintah telah menjadikan danau kita menjadi seperti ini. Masyarakat telah memberikan mandatnya kepada negara (pemerintah) untuk bisa mengurus sumberdaya alam,  tetapi, kalo pemerintahnya ndak becus, jadinya seperti ini.

Persolaan ‘salah urus’ danau sudah sangat komplikated. Harus bisa dilihat dianalisis dari semua sudut pandang: lingkungan, ekonomi, budaya dan bahkan politik. Aktornya juga bermacam-macam: pemerintah, masyarakat sekitar dan di  hulu-hulu sungai, petani, pengusaha kayu, pemilik sawah disekitar danau, akademisi, politisi, LSM, dll. Akan tetapi, motor penyelesaian masalah ini bukan siapa lagi, harusnya tetap pemerintah. Kalo bukan pemerintah, siapa lagi? Mereka kan sudah mengatasnamakan masyarakat untuk mengurus sumberdaya alam ini.

Salam,
AGA

delyuzar ilahude:
Wed, 11 Feb 2009 18:26:44 -0800

Masalah danau ini harus tanggung jawab bersama, bagaimanapun usaha pemkot dan  pemkab merehabilitasi danau, kalau masyarakat di daerah hulu sungai maupun disekitar danau bersikap masa bodoh maka tetap tidak akan berhasil. Dari hasil survey dari tim bantuan teknis, tidak ada yg bisa dilakukan utk penyelamatan danau ini kecuali dengan mengeruk sedimen lumpur. Nah skarang bagaimana pemda memanfaatkan lumpur ini ?? bagaimana teknologinya? Semua bisa dilakukan dengan  kerja sama, “bukan korupsi bersama”. Bukan rahasia lagi sedimen lempung ini bisa dimanfaatkan utk bahan campuran pembuatan semen portland. Lempung yang digunakan dgn komposisi Al2O3 dan SiO2 dan harus memenuhi persyaratan sebagai  berikut:

  • Mempunyai kadar SiO2 tinggi (> 48%)
  • Sedikit mengandung sulfit, sulfat dan alkali hasil survey tim bantuan teknis ini mudah2an akan ditindak lanjuti oleh pemprov jika ingin menyelamatkan danau yg sangat indah.

salam delyuzar..

Tuturuga:
Wed, 11 Feb 2009 18:33:57 -0800

Ada megaproyek yang mungkin bisa dibahas : membuat terowongan untuk mengalirkan  lumpur ke laut, yang dicari adalah elevasi ketinggian permukaan danau dan laut.  Selain lumpur, gulma air bisa dialirkan ke laut.
Ini butuh uang yang tidak sedikit…

topanabdul:
Fri, 13 Feb 2009 00:02:47 -0800

permaslahan yang terjadi didanau limboto memang harus mendapakan perhatian yang lebih.. selain sebagai aset sember daya alam daerah, danau limboto juga merupakan sumber mata pencaharian sebagaian besar masyarakt..

pihak pemerintah (baik provinsi, kota, dan kabupaten) secara konseptual sudah merumuskan berbagai kebijakan penyelamatan danau. meskipun, hingga saat ini realisasi dari kebijakan tersebt belum nampak..

di kabgor, pemerintah tahun 2008 silam mencoba meminimalisir pertumbuhan eceng gondok dengan melepas 6 ekor kerbau di wilayah perisir danau. hingga saat ini keberadaan kerbau tersebut sdh mulai kabur.. dan eceng gondok kayaknya malah tambah subur..

pada tingkatan pemrintah provinsi, sudah menunjukan perhatian merka terhadap keadaan danau limboto dengan merumuskan PERATURAN DAERAH NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN DANAU LIMBOTO.

maskipun sudah ada perdanya, tapi tipe atau cara pengelolaan yang bagaimana yang akan digunakan pihak pemerintah dalam meminimalisir permaslahan didanau limboto…?

truss… kira-kira kapan ya, pemerintah mulai action menjlnkan perda tersebt..

saya khawatir perda tersebut hanya akan menjadi pelengkap koleksi perda diperpus yang ada di DPRD Propinsi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: