Danau Limboto Kita

Danau Limboto Kita

Sumber: http://www.mail-archive.com/gorontalomaju2020@yahoogroups.com/msg20174.html

Basri Amin, Penulis Lepas, Warga Hepuhulawa, Limboto .
Mon, 17 Aug 2009 22:31:20

Menarik mengetahui bahwa Danau Limboto menjadi bagian penting dari pembahasan  Konferensi Nasional Danau Indonesia di Bali, 13 Agustus 2009. Koran ini  memberitakan presentasi Wagub Provinsi Gorontalo, Ir. Gusnar Ismail, MM. “Danau  Limboto Jadi Prioritas Nasional…Wagub Paparkan Strategi Penyelamatan Danau  Limboto,” demikian judul beritanya (saya membacanya via GP online).

Disebutkan oleh Pak Wagub bahwa tahun 1932 luas Danau Limboto 8 ribu hektar,  dengan kedalaman 30 meter. Sedimentasi dan enceng gondok menjadi faktor yang mempengaruhi proses pendangkalan dan penyempitan luasan danau saat ini, yaitu  tinggal 2,537 hektar dengan kedalaman 2,5 meter. Khusus untuk data danau  Limboto 1932, sejujurnya, sampai kini, dalam hemat saya, sumber datanya belum  terlalu jelas. Memang ini cukup sering disebut dan dirujuk oleh pemerintah,  tapi sayang karena tingkat akurasi dokumentatifnya masih meragukan (?). Adalah  David Henley, seorang ahli Sulawesi ternama yang menulis buku Food, Fertility  and Fever (2005: 492-493) yang berhasil merangkum data lingkungan, penduduk dan  ekonomi di kawasan utara dan tengah Sulawesi periode 1600-1930. Dalam buku ini,  data danau Limboto cukup “lengkap” ditabelkan, termasuk kondisi lingkungan  Gorontalo secara luas. Di buku ini tidak terdapat data danau tahun 1932 yang  menunjukkan luasnya 8 ribu hektar, dan kedalamannya 30 meter. Yang ada datanya  adalah tahun 1934, di mana luas permukaan danau Limboto sekitar 70 KM persegi,  dengan kedalam sekitar 14 meter, serta pada 1939 luas permukaan danau sempat  mencapai 100 KM persegi. Dan, jauh sebelumnya, tahun 1863, luas permukaan danau  sekitar 80 kilometer persegi, dengan kedalaman 4,5 meter. Data yang ditemukan  bukti-bukti dokumennya oleh David Henley memperlihatkan angka-angka tersebut,  sekaligus menyatakan bahwa faktor musim sangat menentukan perubahan permukaan  danau Limboto, dan hanya pada beberapa tahun tertentu saja yang jelas  laporannya tentang kedalaman danau ini, misalnya yang terdalam adalah data tahun 1934 (14 meter) dengan luas 70 KM persegi.

Dalam jangka panjang, komitmen pemerintah Gorontalo, sebagaimana diutarakan Pak  Wagub dalam forum danau di Bali tersebut, tentu sangat penting artinya. Apalagi  karena kebijakan berupa Perda, master plan, studi penanganan danau, dan  upaya-upaya lainnya (jalur hijau, jalan lingkar dan pemanfaatan enceng gondok)  sedang dikerjakan guna menopang idealitas peran Danau Limboto dalam memperkuat potensinya di bidang perikanan, wisata, industri, riset, dll.

Tentu saja, barangkali karena forumnya sangat fokus dan terbatas, sehingga  keberadaan Danau Limboto cenderung “dilupakan” (?) fungsi kulturalnya dalam  perkembangan peradaban daerah ini. Ini mungkin terkesan klise, atau dianggap  mengada-ada dan menarik-nariknya ke masa lalu, tapi kita jangan lupa bahwa  “endapan” historis itu selalu mendasar adanya. Lanskap alam Gorontalo beserta  konstruk masyarakatnya dewasa ini, dan di masa datang, tetap tak bisa  dilepaskan dengan narasi alam-nya. Peradaban “Pohalaa”, Hulontalo-Limutu atau  Limutu-Hulontalo, dan konsensus kultural Popa-Ejato, tak bisa dilepaskan dari  posisi Danau Limboto dan sekitarnya –baik secara mitis, maupun secara  psikhis–. Jejeran gunung-gunung, barisan bukit-bukit, hamparan hutan-hutan dan  lembah-lembah dan dataran-datarannya, dari ujung ke ujung adalah titik-titik  pelajaran yang penting bagi perkembangan peradaban daerah ini dari masa ke  masa, dari generasi ke generasi. Sederhananya: ini adalah tugas “Hulontalo Lipu’u”

Dengan demikian, harapan besar kita semua adalah agar pembahasan kita tentang  danau tidak hanya sebagai perkara teknis lingkungan yang kompleksitasnya  berhubungan dengan hutan, daerah aliran sungai, sampai kepada perilaku-perilaku  manusia/masyarakat dan kapasitas kebijakan dan institusi pembangunan, dst. Ia  juga dengan sendirinya menjadi perlambang identitas, sekaligus cerminan etos  dan mentalitas kolektif kita. Dari sanalah isu-isu marginalitas tak bisa  ditutup-tutupi. Masih kuatnya basa-basi kebijakan atas nama rehabilitasi lahan,  hutan, DAS dan penyelamatan lingkungan tak bisa lagi secara sederhana selesai  hanya karena angka-angka dan program-program besar sudah disebutkan, bahkan sudah berulang-ulang diberitakan dan diupacarakan.

Selalu ada hal yang dilematis yang perlu kita pikirkan dan hadapi bersama,  yaitu antara “strategi penyelamatan” atau “penyelamatan strategi”. Setiap  strategi pembangunan sudah tentu punya resiko kegagalannya sendiri-sendiri.  Salah satunya, dalam hemat saya, adalah dalam hal penggunaan angka-angka,  ide-ide dan asumsi-asumsi teknis kebijakan. Marilah kita lebih sungguh-sungguh bergerak ke depan, demi Gorontalo yang lebih maju. Semoga!

ilahude_mgi:
Mon, 17 Aug 2009 20:08:09 -0700

Menarik tulisan bung Basri, saya setuju alinea terahir kayaknya kita harus mencari  solusi yg terbaik untuk penanganan krisis Danau Limboto, kalau sy ngobrol dgn  beliau2 itu, hanya berakhir dikuping..nggak ada eksekusinya..dan ahirnya terbentur  pada dana..kalo masih berkutat sejarah danau limboto, kayaknya sudah telat, apakah  30 mtr or 14 mtr tdk ada yg bisa dipegang acuannya…tapi bagaimana mengendalikan  lumpur itu dan waktu itu tercetus bagaimana kalo dijadikan bahan baku industri  semen portland, sbg campuran silika yg bisa diambil dr perbukitan sebelah  selatan..dan ini sudah menjadi salah satu agenda anggota dpr pd saat itu…tapi  entah bagaimana sekarang, saya tidak mengikuti lagi. Yang penting rekomendasi dan hasil analisis lab sudah saya serahkan ke dinas dan diteruskan ke gubernur..boodito
Delyuzar dari camp sail bunaken manado

Funco Tanipu:
Mon, 17 Aug 2009 20:26:32 -0700

Sehubungan dengan tema dari Ka Basri yang diapresiasi oleh Bang Delyuzar.

Barusan dari SMP 14 Kota Gorontalo yang mewakili Provinsi Gorontalo ke  Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) Tingkat Nasional menjadi juara 6  bidang IPS dengan tema Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Danau. Kedua  peneliti muda tersebut bernama Eka dan Shanty. Kebetulan mereka berdua tinggal di pesisir Danau (Desa Barakati dan Dembe).Saya sangat salut dengan kegigihan mereka berdua. Baru berumur 14  tahun tapi sudah bisa menembus 10 besar di tingkat nasional. Artinya,  di Gorontalo banyak potensi generasi muda namun hampir dipastikan  tidak memiliki kesempatan dan peluang. Mereka bilang bahwa persoalan  danau adalah persoalan yang mereka lihat tiap hari dengan mata  telanjang. Mereka menyaksikan perubahan sosial yang terjadi di lingkungan danau. Saya salut dengan sikap kritis mereka berdua.

Mengenai danau, di satu sisi kita memiliki ilmuwan yang bergelar  doktor bahkan profesor di bidang lingkungan tapi belum kita rasakan agenda-agenda jangka panjang yang mereka tawarkan.

Saya hanya khawatir jangan sampai malah anak-anak yang berumur belasan  tahun itu yang lebih care dan memiliki sense yang lebih tinggi  terhadap danau (dan juga persoalan rumit di Gorontalo) dibanding sederet ilmuwan itu.

Bagi saya, sudah mesti kita mulai dari sekarang untuk merumuskan agenda kebangsaan Gorontalo.

Bagi saya pula, Gorontalo bukan saja tempat lahir dan tinggal,

Gorontalo bagi saya adalah sebuah amanah.Salemba Tengah 29
Funco Tanipu

Razif Halik:
Mon, 17 Aug 2009 21:55:32 -0700

OH DANAU LIMBOTO KU…

Sejak thn ’30an sebelum PD II, babe gue sebagai org jawatan kehutanan  sudah kejar2an dgn para peladang berpindah di lereng-lereng pebukitan  Batuda’a-Bongomeme supaya jangan menggundulkan hutan2 yang puluhan sungai kecil berasal yang mengalir ke danau.

Ketika itu sungai2 kecil dari arah pebukitan di bagian kota Limboto dan  desa2 Bulota masih mengalirkan air bening karena hutan2 disekitarnya masih utuh.

Sekarang saya dengar sungai2 kecil itu sudah mengalirkan air keruh pertanda lumpur masuk danau. Longola?

Penggundulan disini mulai berjalan degan pesat! Jadi danau tidak hanya  menerima gelontoran dari sisi Batuda’a-Bongomeme tetapi juga dari  complex pebukitan diatasnya kota Limboto. Aberasi -sedimentasi berjalan  lancar, apalagi kalau mendapat backing dari pebisnis-perambah yang punya  permili pejabat2 lokal he he he….pathetic!

Salah seorang pakar lingkungan Gorontalo pernah berkata : biarkan saja  proses sekarang berjalan, tidak usah diintervensi…alam akan menemukan  keseimbangan sendiri…..hip hip huraaah, kata si perambah hutan dan backing2nya, ini jalur cepat saya menjadi kaya (…dan rakyat payah!)…

salam & sori,OH

toti lamusu
Mon, 17 Aug 2009 22:35:46 -0700

kalau uang yang dikorupsi oleh petinggi di propinsi gorontalo dapat dimanfaatkan untuk beli kapal keruk , program untuk pelestarian danau limboto  mungkin sudah jalan . kalau korupsinya malah jalan terus , ya sampai kapan cerita tentang danau limboto akan terus menjadi cerita .nanti te zamroni marah lagi , dianggap preman , tapi inilah kenyataan kita di gorontalo . yang hidup dalam kepompong , tinggallah hidup dalam kepompong , ato  yang hidup di bawah tempurung , ya tinggal aja di bawah tempurung . he he he .bolo ma’apu ju ‘
tot

Zamronie Agus
Mon, 17 Aug 2009 23:10:25 -0700

Hahahaha… Bung Toti masih inga pa qt kang??Lanjut bung Toti, soal marah2 saya ini tidak pemarah, yang lalu saya hanya mengingatkan supaya tidak kebablasan dan tidak menindas orang lain dari sisi  intelektualitas.Best Regards
Zamronie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: