Deputi III KLH (2)

GAMBARAN UMUM POTENSI DAN KONDISI DANAU INDONESIA DAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM

Oleh: Deputi MENLH Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan

Sanur Paradise Plaza Hotel, 13-15 Agustus 2009

I. Pengertian Danau

Berbagai sumber menjelaskan tentang pengertian danau antara lain bersumber dari ILEC dan Konvensi Ramsar, dalam hal yang berkaitan dengan karakteristik danau dan sistem pengelolaannya. Namun demikian pemilihan salah satu pengertian tersebut menyebabkan polemik para ahli dan pemerhati danau, karena tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi alam Indonesia yang kaya dengan sumber daya air danau dengan berbagai tipologi dan karakteristiknya. Oleh karena itu, pengertian danau disesuaikan dengan kondisi di Indonesia dan bersifat umum sehingga memberikan kemudahan bagi para pengelola danau dan masyarakat pengguna danau untuk penafsiran peraturan perundangan dan berbagai pedoman pelaksanaannya. Dengan demikian Danau adalah wadah air dan ekosistemnya yang terbentuk secara alamiah termasuk situ dan wadah air sejenis dengan sebutan istilah lokal. Sedangkan yang dimaksud ekosistem danau adalah ekosistem akuatik perairan danau dan ekosistem terestrial daerah tangkapan air danau.

II. Karakteristik Danau

Indonesia memiliki berbagai jenis danau yang sangat beragam berdasarkan tipe pembentukannya. Beberapa tipologi danau yaitu tektonik, tektonik vulkanik, vulkanik, kawah, kaldera, sesar lingkar kaldera, paparan banjir, oksbow, longsoran, pelarutan dan morain/gletser.

Danau yang terjadi akibat gempa bumi disebut danau tektonik; tipe danau ini di Indonesia antara lain Danau Diatas, Dibawah, Lindu, Matano, Paniai, Poso, Singkarak dan Towuti. Danau yang terjadi akibat letusan gunung api disebut danau vulkanik. Danau vulkanik ini memiliki cirri adanya sumber air panas yang mengandung belerang. Tipe danau vulkanik antara lain adalah Danau Tiga Warna, Segara Anak, Rawa Danau dan Tondano. Sedangkan danau yang terbentuk oleh aktivitas gempa bumi dan letusan gunung api disebut danau tekto-vulkanik, yaitu Danau Toba, Maninjau, Kerinci dan Ranau.

Danau-danau di Indonesia memiliki klasifikasi ukuran yang sangat bervariasi mulai ukuran besar, medium, kecil dan sangat kecil. UKuran danau sangat kecil memiliki luas luring dari 1 Km2 dan volume kurang dari 1 juta m3, sedangkan ukuran besar memiliki luas lebih dari 10.000 km2 dan volume lebih dari 10.000 juta m3. Situ dikategorikan sebagai danau kecil dengan ukuran luas dan volume sangat kecil, sedangkan danau-danau besar di Indonesia yang memiliki kategori luas medium adalah Matano, Poso, Ranau, Singkarak, Tempe, Toba dan Towuti. Danau Toba yang memiliki luas 1130 km2 adalah yang terluas di Indonesia dan salah satu yang terluas di dunia. Danau Toba memiliki kategori volume sangat besar yaitu 240.000 juta m3, melebihi kategori danau besar dengan volume 100.000 juta m3.

Kategori kedalaman danau yaitu sangat dangkal (< 10 m), dangkal (10-50 m), medium (50-100 m), dalam (100 – 200 m). dan sangat dalam ( > 200 m). Danau tipe paparan banjir pada umumnya termasuk dalam kategori sangat dangkal (Limboto dan Tempe). Danau-danau yang termasuk dalam kategori sangat dalam adalah Dibawah, Maninjau, Matano, Poso, Ranau, Singkarak, Toba dan Towuti. Apabila dibandingkan dengan danau-danau di dunia, maka Danau Matano yang memiliki kedalaman 590 m adalah danau terdalam di Indonesia dan nomer tujuh di dunia, sedangkan danau Toba yang memiliki kedalaman 529 m adalah nomer dua terdalam di Indonesia dan nomer sembilan di dunia.

Morfologi dan hidrologi danau sangat mempengaruhi daya tampung danau, khususnya karakteristik laju pembilasan air atau waktu tinggal air, yang tergantung kepada volume danau dan debit air keluar danau. Danau yang memiliki waktu tinggal air kurang dari 20 hari mempunyai kemampuan pencampuran air sehingga plankton tidak dapat tumbuh. Sedangkan danau yang memiliki waktu tinggal air antara 20 sampai 300 hari menyebabkan terjadinya proses stratifikasi. Apabilla waktu tinggalnya lebih dari 300 hari akan terjadi stratifikasi yang stabil, serta dapat terjadi akumulasi unsur hara dan pertumbuhan plankton yang menjurus kepada proses eutrofikasi.

Danau-danau di Indonesia pada umumnya memiliki waktu tinggal yang sangat lama, sehingga kemampuan penggelontoran rendah yang menyebabkan daya tampung beban pencemaran air rendah, namun rawan mengakumulasi beban pencemaran serta peningkatan proses eutrofikasi. Tabel 2.6. menunjukkan waktu tinggal air danau Dibawah, Maninjau, Singkarak dan Toba yang berkisar antara 47 sampai 77 tahun.

III. Potensi Danau

Danau memiliki dua fungsi utama yaitu fungsi ekologi dan fungsi kemasyarakatan (sosial-ekonomi-budaya). Sebagai penyimpan air, danau memiliki fungsi utama sebagai sumber daya air pengisi air tanah dan air permukaan. Fungsi ekologi adalah sebagai habitat kehidupan biota air (keanekaragaman hayati) seperti jenis-jenis ikan endemik dan sumber pakan hewan liar.

Keberadaan danau selama berabad-abad telah membuat fungsi kemasyarakatannya sangat beragam dan sangat dominan. Berbagai kegiatan (sosial-ekonomi-budaya) dapat dilakukan di perairan danau secara bebas tanpa prioritas. Danau selain berfungsi sebagai penyedia air keperluan permukiman, pertanian, peternakan, industri, dan pembangkit listrik tenaga air, juga berfungsi sebagai sarana transportasi, kegiatan pendidikan-penelitian, berbagai macam kegiatan usaha perikanan, pariwisata, dan olahraga air. Beberapa fungsi ekosistem danau adalah sebagai berikut :

a) Sumber plasma nuftah; tempat berlangsungnya siklus hidup jenis flora dan fauna yang penting

b) Sumber air yang dapat digunakan langsung oleh masyarakat sekitarnya (rumah tangga, industri dan pertanian);

c) Reservoir alam tempat penyimpanan kelebihan air yang berasal dari air hujan, aliran permukaan, sungai-sungai atau sumber-sumber air bawah tanah; juga berfungsi sebagai pengendali banjir

d) Memelihara iklim mikro, dimana keberadaan ekosistem danau dapat mempengaruhi kelembaban dan tingkat curah hujan setempat

e) Sumber daya energi terbarukan sebagai penghasil energi hidraulik untuk PLTA

f) Sarana pendidikan, rekreasi dan objek wisata

g) Berfungsi mengurangi atau menguraikan bahan pencemar; namun bila melebihi daya tampungnya akan terkena dampak dan kerusakan

IV. Kondisi Danau Indonesia

Berbagai permasalahan lingkungan yang berdampak kepada kelestarian fungsi danau telah menjadi isu nasional, kerusakan lingkungan dan erosi lahan yang disebabkan oleh penebangan hutan dan pengolahan lahan yang tidak benar, sehingga menimbulkan erosi dan sedimentasi dan menyebabkan pendangkalan serta penyempitan danau, pembuangan limbah penduduk, industri, pertambangan dan pertanian yang menyebabkan pencemaran air danau.

Kegiatan yang berlangsung pada perairan danau yang berpotensi merusak antara lain: penangkapan ikan dengan cara yang merusak sumber daya (overfishing), pembudidayaan ikan dengan keramba jaring apung yang tidak terkendali sehingga berpotensi pembuangan limbah pakan ikan dan pencemaran air, pengambilan air danau sebagai air baku ataupun sebagai tenaga air (PLTA) yang kurang memperhitungkan keseimbangan hidrologi danau sehingga mengubah karakteristik permukaan air danau dan sempadan danau.

Pencemaran air dan kerusakan daerah tangkapan air danau telah terjadi pada beberapa danau di Indonesia. Sumber pencemar air danau adalah limbah domestik berupa bahan organil dari permukiman penduduk di daerah tangkapan air dan sempadan danau. Andanya kegiatan lain berupa usaha pertanian, petrnakan, industri rumah tangga dan pariwisata menambah limbah bahan organik yang masuk ke perairan danau. Sengakan kerusakan yang terjadi antara lain pendangkalan dan penyempitan danau, yang telah merusak ekosistem danau bertipe paparan banjir, pencemaran kualitas air danau yang menggangu pertumbuhan biota akuatik dan pemanfaatan air danau seperti bencana arus balik (overturn) bahan pencemaran dari dasar danau yang terangkat ke permukaan air, kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity) danau, pertumbuhan gulma air sebagai akibat pencemaran limbah organik dan zat penyubur (unsur Nitrogen dan Phosphor), pertumbuhan alga atau marak alga (algae bloom) yang disebabkan proses penyuburan air danau akibat pencemaran limbah organik dan zat penyubur, perubahan fluktuasi muka air danau yang disebabkan oleh kerusakan daerah tangkapan air danau dan pengambilan air untuk PLTA yang akan mengganggu keseimbangan ekologis daerah sempadan danau.

V. Dampak Perubahan Iklim

Dampak yang diperkirakan terjadi akibat adanya perubahan iklim, terutama yang disebabkan oleh pemanasan global, berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya di bumi ini. Pada beberapa tempat termanifestasikan dalam bentuk perubahan pada pola hujan dan hidrologi daerah tangkapan air. Danau sangat peka pada perubahan parameter iklim. Variasi dalam suhu udara dan curah hujan misalnya, dapat langsung berpengaruh pada penguapan air, tinggi permukaan air dan volume air danau, keseimbangan neraca air, dan produktivitas biologis perairan. Dalam keadaan ekstrim danau bahkan bisa menghilang atau terjadi suksesi menjadi rawa. Danau-danau yang terletak jauh di atas permukaan laut dan luas, berada di daerah kering (arid) dan semi arid, akan lebih peka pada perubahan iklim dari pada danau yang terletak di wilayah lainnya.

VI. Kebijakan, Strategi dan Program

Perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan untuk pengelolaan danau harus didasarkan pada penelitian ilmiah yang baik dan informasi yang dapat diandalkan. Kerjasama antara para pemangku kepentingan yang beragam ini merupakan suatu yang esensial demi keberhasilan upaya pengelolaan danau. Selama ini pemanfaatan perairan danau lebih mengedepankan faktor ekonomi daripada faktor keseimbangan lingkungan, akibatnya terjadi kerusakan lingkungan. Untuk mencegah kerusakan lingkungan, program kegiatan harus ditingkatkan agar seimbang hingga berbentuk pemanfaatan yang bertanggung jawab. Peraturan perundangan yang ada dapat dijadikan landasan kordinasi dan kerjasama antar instansi dan masyarakat.

Dalam upaya mempertahankan, melestarikan, dan memulihkan fungsi ekosistem danau juga diperlukan visi dan misi yang dapat dijadikan tekad dan landasan semua pemangku kepentingan pengelola dan pemanfaatn danau yaitu masyarakat, instansi terkait dan pemerintah daerah agar kelestarian ekosistem danau dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat pada pasi kini dan masa yang akan datang. Danau adalah unsur lingkungan hidup yang diatur pengelolaannya dalam UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Pengelolaan ekosistem danau dalam dekade terakhir sudah mengalami perubahan paradigma, yaitu perubahan dari sistem yang hanya berorientasi pada upaya untuk memaksimalkan pemanfaatan sumberdaya ke arah pendekatan yang bersifat kolaboratif dan partisipasif dari semua pemangku kepentingan dalam rangka pengelolaan sumberdaya yang lestari dan berkelanjutan. Pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat sebagai pengelolaan yang ’bottom-up’, terpadu, desentralistik dan partisipatif dilakukan untuk menangani isu-isu yang mempengaruhi lingkungan sumberdaya melalui partisipasi aktif dan nyata dari masyarakat. Berbasis masyarakat berarti pengguna sumberdaya utama (masyarakat) menjadi pengelola sumberdaya mereka, sehingga dapat memperkuat rasa kepemilikan dan tanggung jawab mereka terhadap sumberdaya mereka sendiri.

Pengelolaan ekosistem danau pada saat ini belum terpola berdasarkan pengaturan dan perencanaan yang komprehensif, sehingga tidak menjamin kesinambungan fungsi dan pemanfaatannya. Pengetahuan dan informasi tentang karakteristik danau juga belum banyak difahami oleh pihak pengelola dan pengguna danau sehingga pengelolaan danau dan pemanfaatan sumber dayanya kurang berwawasan ekosistem. Oleh karena itu strategi dan program pengelolaan danau harus mencakup: pengelolaan perairan danau, pengelolaan sempadan danau, pengelolaan daerah tangkapan air danau, pemanfaatan sumber daya air danau, pengembangan sistem informasi danau, pengembangan kelembagaan dan koordinasinya, peningkatan peran masyarakat, dan pendanaan yang berkelanjutan.

VII. Penutup

Sebagai salah satu negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, perlu dilakukan aksi tindak untuk menyelamatkan kelestarian fungsi danau-danau Indonesia yang mempunyai ciri khas sebagai danau tropis kepulauan yang memmiliki keunikan dan karakteristik yang beragam yang perlu dilindungi, dipelihara dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kajian dan riset tentang dampak perubahan iklim terhadap danau-danau di Indonesia perlu dilakukan termasuk mengadakan inventarisasi dan identifikasi terhadap di seluruh wilayah rentan terhadap perubahan iklim dan yang mempunyai resiko bencana dan melakukan pemantauan kualitas air danau pada danau-danau strategis dan prioritas mengembangkan sistem informasi danau yang mudah diakses oleh masyarakat luas yang dilengkapi dengan data-data peta citra satelit, morfologi danau, hidrologi, kualitas air, keanekaragaman hayati, tata guna air danau, dan lain-lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: