2 Karakteristik & Fungsi

Pedoman Pengelolaan Ekosistem Danau

Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2008

BAB II  KARAKTERISTIK & FUNGSI EKOSISTEM DANAU

2.1. Karakteristik Ekosistem Danau

2.1.1.Tipe Danau Berdasarkan Pembentukannya

Indonesia yang berada di kawasan tektonik aktif memiliki berbagai jenis danau yang sangat beragam berdasarkan tipe pembentukannya. Asal kejadian danau di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam beberapa tipologi yaitu tektonik, tektonik-vulkanik, vulkanik, kawah, kaldera, sesar lingkar-kaldera, paparan banjir, oksbow, longsoran, pelarutan dan morain/gletser (Tabel 2.1).

Danau yang terjadi akibat gempa bumi disebut danau tektonik; tipe danau ini di Indonesia antara lain Danau Diatas, Dibawah, Lindu, Matano, Paniai, Poso, Singkarak dan Towuti. Danau yang terjadi akibat letusan gunung api disebut danau vulkanik. Danau vulkanik memiliki ciri adanya sumber air panas yang mengandung belerang. Tipe danau vulkanik antara lain adalah Danau Tiga Warna,  Segara Anak, Rawa Danau  dan Tondano. Sedangkan Danau yang terbentuk oleh aktivitas gempa bumi dan letusan gunung api disebut danau tekto-vulkanik, yaitu Danau Toba, Maninjau, Kerinci dan Ranau.

Karakteristik danau berkaitan dengan asal terjadinya. Danau tektonik, vulkanik, kawah dan kaldera pada umumnya berada pada elevasi tinggi di sekitar gunung atau pegunungan dan memiliki dasar yang dalam dan sifat yang relatif stabil, sedangkan danau paparan banjir berada pada elevasi rendah dan dangkal serta  cenderung mendangkal terus karena pelumpuran disertai berkembangnya tumbuhan air.

2.1.2. Kategori Ukuran Danau

Kategori danau berdasarkan ukuran luas dan volume diklasifikasikan oleh ILEC pada Tabel 2.2. Kategori tersebut terdiri dari ukuran besar, medium, kecil dan sangat kecil. Ukuran danau sangat kecil memiliki luas kurang dari 1 km2 dan volume kurang dari 1 juta m3, sedangkan ukuran besar memiliki luas lebih dari 10.000 km2 dan volume lebih dari 10.000 juta m3. Danau-danau di Indonesia memiliki ukuran yang sangat bervariasi (Tabel 2.3). Situ dikategorikan sebagai danau kecil dengan ukuran luas dan volume sangat kecil, sedangkan danau-danau besar di Indonesia yang memiliki kategori luas medium adalah Matano, Poso, Ranau, Singkarak, Tempe, Toba dan Towuti. Danau Toba yang memiliki luas 1130 km2 adalah yang terluas di Indonesia dan salah satu yang terluas di dunia. Volume danau di Indonesia banyak yang memiliki kategori ukuran besar, yaitu Maninjau, Matano, Ranau, Singkarak dan Toba. Bahkan Danau Toba memiliki kategori volume sangat besar yaitu 240.000 juta m3, melebihi kategori danau besar dengan volume 100.000 juta m3.

Kategori kedalaman danau juga diperlukan untuk keperluan kajian karakteristiknya serta pengelolaannya, namun belum ada ketentuannya secara spesifik. Oleh karena itu diusulkan kategori kedalaman danau (Tabel 2.4), yaitu sangat dangkal (< 10 m), dangkal (10-50 m), medium (50-100 m), dalam (100 – 200 m) dan sangat dalam ( > 200 m). Danau tipe paparan banjir pada umumnya termasuk dalam kategori sangat dangkal (Limboto dan Tempe). Danau-danau yang termasuk dalam kategori sangat dalam adalah Dibawah, Maninjau, Matano, Poso, Ranau, Singkarak, Toba dan Towuti. Apabila dibandingkan dengan danau-danau di dunia, maka Danau Matano yang memiliki kedalaman 590 m adalah danau terdalam di Indonesia dan nomer tujuh di dunia, sedangkan danau Toba yang memiliki kedalaman 529 m adalah nomer dua terdalam di Indonesia dan nomer sembilan di dunia.

2.1.3. Hidrologi Danau

Morfologi dan hidrologi danau sangat mempengaruhi daya tampung danau, khususnya karakteristik laju pembilasan air atau waktu tinggal air, yang tergantung kepada volume danau dan debit air keluar danau. Klasifikasi ILEC pada Tabel 2.5 menunjukkan danau yang memiliki waktu tinggal air kurang dari 20 hari mempunyai kemampuan pencampuran air sehingga plankton tidak dapat tumbuh. Sedangkan danau yang memiliki waktu tinggal air antara 20 sampai 300 hari menyebabkan terjadinya proses stratifikasi. Apabila waktu tinggalnya lebih dari 300 hari akan terjadi stratifikasi yang stabil, serta dapat terjadi akumulasi unsur hara dan pertumbuhan plankton yang menjurus kepada proses eutrofikasi.

Danau-danau di Indonesia pada umumnya memiliki waktu tinggal yang sangat lama, sehingga kemampuan penggelontoran rendah yang menyebabkan daya tampung beban pencemaran air rendah, namun rawan mengakumulasi beban pencemaran serta peningkatan proses eutrofikasi. Tabel 2.6. menunjukkan waktu tinggal air Danau Dibawah, Maninjau, Singkarak dan Toba yang berkisar antara 47 sampai 77 tahun.

2.1.4. Ekologi Perairan Danau

Karakteristik morfometri danau yang menunjukkan kondisi komponen ekosistem abiotik sebagai habitat kehidupan kelompok biota di air danau, sangat berkaitan dengan komponen ekosistem biotik. Informasi ekosistem akuatik danau sangat diperlukan sebagai salah satu dasar pertimbangan pada pengelolaan danau. Tabel 2.7. menunjukkan kaitan ciri morfometri dengan fenomena ekologi perairan.

Biota air danau terdiri dari plankton (P) yaitu organisma renik tumbuhan dan hewan yang hidup melayang di perairan; makrofita (M) yaitu tumbuhan air mengapung, tenggelam, melayang dan tumbuh di permukaan, dasar, dan pinggir perairan; benthos (B) yaitu hewan yang hidup di dasar perairan; dan nekton (N) yaitu hewan termasuk ikan dan udang yang hidup dalam air. Keberadaan biota air secara skematis dapat dilihat pada Gambar 2.1. Makrofita (M) seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), Hydrilla verticilata dan Salvinia molesta selain berfungsi sebagai pemasok oksigen di perairan melalui proses fotosintesis adalah pakan dan tempat berlindung hewan air. Plankton (P) selain berfungsi sebagai pakan utama hewan air adalah pemanfaat unsur hara anorganik (fito-plankton) dan pemanfaat unsur organik (zoo-plankton).

Benthos (B) selain berfungsi sebagai pakan hewan air adalah pemanfaat bahan organik berupa detritus. Selain itu masih ada komponen biota air lain yaitu perifiton (organisma renik tumbuhan dan hewan yang hidup menempel pada substrat di dalam air perairan), dan neuston (organisma hewan yang hidup di permukaan air).

Gambar 2.1. Habitat Kelompok Biota Air

Morfometri perairan menentukan karakteristik utama danau yang membedakannya dengan perairan menggenang lain, yaitu:

a. Tepi perairan. Tepi perairan adalah habitat biota air litoral. Tepi perairan danau terjal, menunjukkan sempitnya daerah litoral. Karena itu, keragaman biota airnya lebih sedikit dibanding perairan dangkal.

b. Kedalaman. Danau memiliki kedalaman yang perbedaannya sangat signifikan dibanding tipe perairan darat menggenang lainnya. Kedalaman perairan danau bisa mencapai lebih dari 500 m, bagian tengah biasanya terdalam. Kedalaman perairan danau memungkinkan terjadinya stratifikasi kolom airnya akibat daya tembus sinar matahari dan perubahan (penurunan) suhu perairan. Stratifikasi akibat sinar matahari menghasilkan zona tembus cahaya (zona fotik) dan zona gelap, tidak tembus cahaya (zona afotik). Di zona fotik terjadi proses fotosintesis oleh biota plankton sehingga zona ini kandungan unsur haranya berkurang (miskin unsur hara) namun kadar O2 meningkat sebagai hasil proses ini. Sebaliknya, di zona afotik, karena tidak terjadi proses fotosistensis, kandungan unsur haranya masih tinggi (kaya unsur hara). Antar kedua zona ini ada percampuran massa air. Makin ke dalam (ke bawah) kadar O2 berkurang, sebaliknya, kadar CO2 meningkat. Sebagaimana diketahui ada sifat antagonis antara O2 dan CO2. Stratifikasi akibat penurunan suhu menghasilkan zona epilimnion dengan massa air yang hangat di bagian atas dan zona hypolimnion dengan massa air yang dingin di bagian bawah. Zona pemisah antar kedua zona ini disebut termoklin (thermocline). Massa air antara kedua zona ini tidak bercampur. Gambar 2.2 menjelaskan zona perairan danau dan pada Gambar 2.3 menjelaskan stratifikasi perbedaan temperatur

c. Fluktuasi muka air . Fluktuasi atau naik-turunnya permukaan air danau relatif kecil dibanding tipe perairan darat menggenang lainnya. Karena itu, ekosistem perairan danau sangat stabil sehingga mampu mendukung kehidupan biota airnya secara optimal.

d. Daerah surutan (draw-down). Danau memiliki daerah surutan yang sempit, sehingga beban masukan bahan organik dari dalam perairannya sendiri (autochthonous) sedikit, kecuali jika ada intervensi langsung seperti budidaya ikan dengan tambahan pakan.

e. Daerah Tangkapan Air (DTA). Daerah tangkapan air merupakan sumber air utama bagi perairan danau. Semakin luas daerah ini, semakin banyak massa air yang tertampung di perairannya. Tentunya pasokan yang masuk dari luar (allochthonous) tidak hanya air saja melainkan berbagai beban cair dan padat lainnya.

f. Jumlah teluk. Adanya teluk di perairan danau menyebabkan air danau tenang. Ketenangan massa air dapat memicu perkembangan biota air secara optimal.

g. Garis pantai adalah zona pertemuan daratan dengan perairan. Di zona tersebut terjadi penelusupan unsur hara (nutrient influx) dari daratan ke perairan. Makin panjang garis pantainya, makin besar telusupan unsur hara daratan ke perairan.

h. Masa simpan air. Makin lama massa air tersimpan di perairan, kemurnian airnya makin terjamin karena ada kesempatan partikel-partikel dalam air untuk mengendap. Selain itu, ekosistem perairannya sangat stabil. Masa simpan air (water retention time) danau adalah yang terlama dibanding tipe perairan darat menggenang lainnya, sesuai fungsinya sebagai penyimpan air.

i. Pengeluaran air. Pengeluaran air (outlet) perairan danau berada di bagian atas melalui sungai, berarti keluarnya air dari kolom epilimnion yang fotik. Kualitas air ini miskin unsur hara namun kaya biota renik karena mengalami proses fotosintesis. Air yang keluar bersih, sehingga air yang kotor atau tercemar tetap tertinggal di danau.

Gambar 2.2. Zonasi Perairan Danau

Gambar 2.3. Stratifikasi Temperatur Air Danau

2.2. Fungsi dan Manfaat Danau

2.2.1. Danau Sebagai Sumber Daya Air

Danau­-danau di Indonesia memiliki potensi yang sangat penting untuk mendukung kehidupan manusia. Fungsi dan nilai manfaat danau sangat beragam, ada danau yang memiliki fungsi tunggal ada pula danau yang memiliki multi-fungsi. Selain fungsi ekologi dan kaya dengan keanekaragaman hayati, fungsinya untuk menunjang kehidupan manusia juga sangat besar. Seperti tercantum pada Tabel 2.8, jenis pemanfaatan air danau adalah sebagai berikut:

  • Air baku untuk penduduk di sekitarnya
  • Pertanian untuk penduduk yang berkebun di sempadan danau, atau air irigasi di hilir danau
  • Perikanan tangkap dan perikanan budidaya di danau atau pada sungai/ saluran air yang berasal dari danau
  • Sumber daya tenaga listrik atau PLTA, baik yang dibangun pada outlet danau ataupun pada sungai yang keluar dari danau.
  • Pengendalian banjir, karena menyimpan air diwaktu musim hujan
  • Pariwisata bagi penduduk di sekitarnya maupun wisatawan domestik dari daerah lain, serta wisatawan asing
  • Sumber plasma nuftah; tempat berlangsungnya siklus hidup jenis flora dan fauna yang penting
  • Reservoir alam tempat penyimpanan kelebihan air yang berasal dari air hujan, aliran permukaan, sungai-sungai atau sumber-sumber air bawah tanah; juga berfungsi sebagai pengendali banjir
  • Memelihara iklim mikro, dimana keberadaan ekosistem danau dapat mempengaruhi kelembaban dan tingkat curah hujan setempat
  • Sarana pendidikan, rekreasi dan objek wisata

2.2.2.Keanekaragaman Hayati Ekosistem Danau di Indonesia

Danau memiliki dua fungsi utama yaitu fungsi ekologi dan fungsi kemasyarakatan (sosial-ekonomi-budaya). Sebagai penyimpan air, danau memiliki fungsi utama sebagai sumber daya air pengisi air tanah dan air permukaan. Fungsi ekologi adalah sebagai habitat kehidupan biota air (keanekaragaman hayati) seperti jenis-jenis ikan endemik dan sumber pakan hewan liar.

Secara geografi, kepulauan Indonesia terbagi ke dalam dua kelompok yang dibatasi oleh garis Wallacea (Wallacea Line) yang memisahkan Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur. Garis Wallacea merupakan bentuk transisi antara fauna Australia dan New Guinea dengan fauna Asia bagian tenggara termasuk Pulau Kalimantan, Jawa dan Sumatera. Keragaman biota akuatik yang sangat nyata adalah komunitas jenis-jenis ikan.

Di Indonesia bagian barat ikan-ikan lebih didominasi oleh kelompok catfish (jenis-jenis ikan lele dari Famili Siluridae), jenis-jenis ikan karper dari Famili Cyprinidae dan jenis-jenis ikan sepat dari Famili Labyrinthyci. Sedangkan di Indonesia bagian timur didominasi oleh kelompok ikan gobi (jenis-jenis ikan gobius dari Famili Gobiidae). Sejarah geologi Indonesia bagian barat dan timur misalnya di Sulawesi dapat dilihat jelas dari distribusi ikan-ikan yang hidupnya terbatas di air tawar. Ikan-ikan perairan Danau Matano, Towuti, Mahalona, dan Wawontoa serta sungai-sungai di sekitarnya merupakan ikan-ikan yang khas dan endemik (Contoh: Glossogobius matanensis dan Paraterina).

Adanya garis Wallacea yang memisahkan fauna Asia dengan fauna Australia mengingatkan kita agar tidak sembarangan melakukan introduksi jenis-jenis ikan bagian barat ke bagian timur Indonesia bila tidak ingin mengganggu  kehidupan jenis-jenis ikan endemik setempat. Introduksi dapat dibenarkan apabila telah diketahui adanya niche (relung hidup) yang kosong dan cocok untuk kehidupan ikan introduksi tersebut.

Gambar 2.4. Garis Wallacea

Sebagai sumber plasma nutfah dan genetik, perairan darat Indonesia memiliki keanekaragaman jenis ikan yang tinggi, sehingga tercatat sebagai salah satu perairan dengan ”mega biodiversity” di dunia. Komisi Nasional Plasma Nutfah Indonesia melaporkan bahwa perairan darat Indonesia mempunyai kekayaan plasma nutfah ikan yang jenisnya sangat banyak mencapai 25% dari jumlah jenis ikan yang ada di dunia.

Di perairan darat Indonesia yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi saja, dihuni oleh lebih dari 1000 jenis ikan (Kottelat et al., 1993). Lebih jauh mereka menjelaskan bahwa di paparan Sunda terdapat 798 jenis ikan air tawar, di daerah Wallacea terdapat 68 jenis ikan air tawar, dan di paparan Sahul terdapat 106 jenis ikan air tawar. Di Sungai Barito tercatat terdapat lebih dari 104 jenis ikan ( Prasetiyo, et al., 2004 dalam Rahardjo et al., 2006), sedangkan di Sungai Kapuas terdapat lebih dari 200 jenis ikan (Dudley, 1996 dalam Rahardjo et al. 2006). Kekayaan keanekaragaman jenis ikan yang tinggi tersebut merupakan modal dasar penting dan tak ternilai bagi pembangunan perikanan perairan darat masa depan (Rahardjo et al., 2006).

Diantara banyak pulau di Indonesia, Pulau Sulawesi ditemukan paling banyak spesies endemik, yaitu sebesar 76% dari 68 spesies (Wirjoatmodjo, 2003 dalam  Sulistiono et al., 2005) dan hampir semua jenis hidup di danau. Tercatat delapan spesies ikan endemik di Danau Poso, dan sekitar 27 spesies ikan endemik hidup di kompleks Danau Malili (Danau Matano, Mahalona dan Towuti). Beberapa jenis ikan endemik yang terdapat di kompleks Danau Malili adalah Nomorhamphus cf brembachi (Hemirhamphidae), Oryzias matanensis (Oryziidae), Telmatherina antoniae, T. prognatha, T. opudi, T. sarasinorum, T. obscura, T. abendanoni, T. wahyuni, T. celebensis, Paratherina woltericki, P.striata, Tominanga aurea, T. sanguicauda (Telmatherinidae) (Sulistiono et al.  2005).  Jenis-jenis lain ikan endemik yang terdapat di danau-danau Indonesia khususnya antara lain adalah Rasbora tawarensis (Danau Laut Tawar), ikan batak, Neolissochillus longipinnis (Weber dan de Beufort, 1916 (Danau Toba), dan ikan bilih, Mystacoleucus padangensis (Danau Singkarak).

Pengelolaan kawasan danau dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan pemanfaatan danau dan lahan sekitar sehingga keseimbangan antara kepentingan eksploitasi dan kemampuan daya dukung perairan danau serta fungsi ekosistem danau bagi keperluan kehidupan biota secara keseluruhan tetap terjaga. Pemanfaatan ekosistem danau didasarkan kepada pertimbangan bahwa perairan danau berfungsi selain untuk habitat biota air (ikan) juga berperan sebagai daerah reservat dan konservasi bagi satwa liar antara lain beberapa jenis burung yang hidup dan tinggal di perairan danau untuk melakukan sebagian atau keseluruhan daur hidupnya.

Berdasarkan pendekatan ekosistem, gulma air perlu dipertahankan dalam jumlah terbatas untuk kehidupan biota, terutama beberapa satwa liar (burung) yang memanfaatkan dan menggunakan ekosistem gulma sebagai tempat hidupnya. Sebagai contoh, beberapa jenis burung yang hidup di Danau Taliwang (Tabel 2.9).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One Comment on “2 Karakteristik & Fungsi”

  1. Ahmadi Says:

    Di Sungai Barito tercatat terdapat lebih dari 104 jenis ikan ( Prasetiyo, et al., 2004 dalam Rahardjo et al., 2006), sedangkan di Sungai Kapuas terdapat lebih dari 200 jenis ikan (Dudley, 1996 dalam Rahardjo et al. 2006). Kekayaan keanekaragaman jenis ikan yang tinggi tersebut merupakan modal dasar penting dan tak ternilai bagi pembangunan perikanan perairan darat masa depan (Rahardjo et al., 2006).

    Mohon bantuan bapak/ibu untuk menyebutkan referensi dibawah ini. Terima kasih
    ( Prasetiyo, et al., 2004 dalam Rahardjo et al., 2006)

    wassalam.
    Ahmadi

    e-mail: ahmadizarigani@gmail.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: