3 Permasalahan

Pedoman Pengelolaan Ekosistem Danau

Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2008

BAB III PERMASALAHAN EKOSISTEM DANAU

3.1. Sumber dan Dampak Kerusakan Ekosistem Danau

Ekosistem danau yang terdiri dari ekosistem akuatik dan ekosistem terestrial daerah tangkapan air danau, banyak menghadapai berbagai permasalahan lingkungan yang berdampak kepada kelestariannya serta fungsinya sebagai sumber daya hayati dan sumber daya air.

Pada daerah aliran sungai (DAS) dan daerah tangkapan air danau (DTA) serta sempadan danau, potensi kerusakan yang dapat terjadi pada umumnya adalah:

  • Kerusakan lingkungan dan erosi lahan yang disebabkan oleh penebangan hutan dan pengolahan lahan yang tidak benar, sehingga menimbulkan erosi dan sedimentasi dan menyebabkan pendangkalan serta penyempitan danau.
  • Pembuangan limbah penduduk, industri, pertambangan dan pertanian yang menyebabkan pencemaran air danau.

Berbagai kegiatan yang berlangsung pada perairan danau juga berpotensi merusak ekosistem akuatik, yaitu:

  • Penangkapan ikan dengan cara yang merusak sumber daya (overfishing).
  • Pembudidayaan ikan dengan keramba jaring apung yang tidak terkendali sehingga berpotensi pembuangan limbah pakan ikan dan pencemaran air.
  • Pengambilan air danau sebagai air baku ataupun sebagai tenaga air (PLTA) yang kurang memperhitungkan keseimbangan hidrologi danau sehingga mengubah karakteristik permukaan air danau dan sempadan danau.

Berbagai sumber dan dampak permasalahan tersebut telah merusak ekosistem akuatik danau dan berpotensi atau telah terjadi pada beberapa danau di Indonesia (Tabel 3.1). Kerusakan yang terjadi antara lain adalah sebagai berikut:

  • Pendangkalan dan penyempitan danau, yang telah merusak ekosistem danau bertipe paparan banjir.
  • Pencemaran kualitas air danau yang menggangu pertumbuhan biota akuatik dan pemanfaatan air danau. Bila terjadi bencana arus balik (overturn) bahan pencemaran dari dasar danau terangkat ke permukaan air.
  • Kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity).
  • Pertumbuhan gulma air sebagai akibat pencemaran limbah organik dan zat hara (unsur Nitrogen dan Phosphor).
  • Pertumbuhan alga atau marak alga (algae bloom) yang disebabkan proses penyuburan air danau akibat pencemaran limbah organik dan zat penyubur.
  • Perubahan fluktuasi muka air danau, yang disebabkan oleh kerusakan DAS dan DTA serta pengambilan air dan tenaga air, sehingga mengganggu keseimbangan ekologis daerah sempadan danau.

m

3.2. Pendangkalan Danau

Lahan kritis pada DAS dan DTA danau telah menyebabkan pendangkalan dan penyempitan danau. Pendangkalan danau telah terjadi pada danau dangkal maupun danau dalam. Pada danau dangkal dampaknya sangat nyata dan menghawatirkan karena lambat laun status danau berubah menjadi rawa dan seterusnya menjadi lahan daratan. Padahal kondisi dan fungsi ekosistemnya sejak awal adalah danau. Perubahan status tersebut akan menyebabkan kehilangan nilai ekosistem yang sesungguhnya merupakan ciri khas danau tersebut. Upaya pemulihan dengan cara pengerukan sangat mahal, jauh lebih mahal dari pada upaya pencegahannya.

Masalah pendangkalan danau tipe dangkal terjadi antara lain pada Danau Tempe dan Danau Limboto. Pendangkalan dan penyempitan tersebut selain mengubah ekosistem juga mengakibatkan bencana banjir karena daya tampung danau yang berkurang.

Pendangkalan pada danau dalam terjadi antara lain pada Danau Sentani. Danau yang indah sebagai sumber daya perikanan dan pariwisata tersebut tanpa disadari telah menjadi tempat buangan sampah terbesar, serta terbuangnya berbagai sisa lahan dan bahan. Selain itu danau tipe medium dan dalam yang terjadi dalam bentuk danau vulkanik dan danau tektonik, banyak yang berada pada DTA yang curam, sehingga longsoran juga telah menyebabkan pendangkalan.

3.3. Pencemaran Air

Sumber pencemaran air danau adalah limbah domestik berupa bahan organik dari permukiman penduduk di daerah tangkapan air dan sempadan danau. Adanya kegiatan lain berupa usaha pertanian, peternakan, industri rumah dan pariwisata menambah limbah bahan organik yang masuk ke perairan danau. Limbah tersebut terurai menjadi bahan anorganik, yaitu unsur hara Nitrogen dan Phosphor yang sangat berpotensi menyuburkan air danau.

Gambar 3.1. Limbah domestik yang dibuang langsung ke Danau Toba tanpa pengolahan

Tingkat kesuburan air biasanya mulai dari fase oligotrof (miskin unsur hara) ke fase mesotrof (cukup unsur hara) kemudian ke fase eutrof (kaya unsur hara) dan memuncak ke fase hyper-eutrof yaitu fase sangat kaya unsur hara sehingga terjadi kerusakan ekosistem perairan yang juga dikenal sebagai perairan rusak (dystrof). Istilah kesuburan pada penilaian status trofik sesungguhnya adalah peningkatan atau pencemaran unsur hara Nitrogen dan Phosphor yang berdampak mempengaruhi kualitas air fisika dan kimia.

Oleh karena itu beberapa negara ada yang menggolongkan kualitas air berdasarkan tingkat kesuburan ini. Oligotrof sebagai golongan A atau Kelas 1, mesotrof sebagai golongan B atau Kelas 2, eutrof sebagai golongan C atau Kelas 3, dan hyper-eutrof sebagai golongan D atau Kelas 4.

Bahan organik dari limbah domestik yang masuk ke perairan danau sebagian akan terserap oleh tumbuhan air. Sisanya, bersama hasil peruraian massa tumbuhan air akan mengendap ke dasar perairan yang afotik. Bila sewaktu-waktu terjadi pembalikan massa air zona afotik ke fotik, peristiwa ‘blooming’ alga dapat mengancam kehidupan di perairan. Ancaman biasanya terjadi pada malam hari akibat adanya persaingan kebutuhan oksigen antara tumbuhan dengan hewan. Bila pembalikan massa air berasal dari kolom hypolimnion, peristiwanya akan lebih fatal, tidak hanya di malam hari tapi juga di siang hari. Hal ini terjadi karena massa air kolom hypolimnion selain anaerob juga mengandung gas-gas beracun H2S (Hidrogen Sulfida), NH3 (Amoniak), dan CH4 (Methan). Endapan material di dasar perairan danau merupakan ‘bom waktu’ bagi kehidupan di perairan danau (Tabel 3.3). Kejadian arus balik (overturn) pernah terjadi di Danau Maninjau dan Danau Singkarak, sehingga gas beracun dari dasar danau naik ke permukaan air dan mematikan ikan budidaya KJA dan ikan endemik (ikan bilih di Danau Singkarak).

3.4. Keanekaragaman Hayati (Biodiversity)

Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi artinya Indonesia mempunyai banyak jenis tumbuhan dan hewan, dan dikenal sebagai megabiodiversity. Suatu ekosistem yang mempunyai keanekaragam yang tinggi mempunyai kestabilan ekologi yang tinggi pula. Pada suatu ekosistem danau misalnya apabila tumbuh massal gulma air atau algae berarti didominasi oleh satu jenis tumbuhan, keanekaragamannya rendah. Khususnya di negara tropik mempunyai keanekaragam yang tinggi dibandingkan dengan negara subtropik, misalnya hutan hujan tropis, demikian pula lautannya mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi.

Sebagai sumber plasma nutfah dan genetik, perairan danau memiliki keanekaragaman jenis ikan yang tinggi. Ikan endemik antara lain hidup di danau-danau Laut Tawar, Toba, Maninjau, Singkarak, Limboto, Poso, Matano, Mahalona, Towuti, dan Sentani.

Ancaman terhadap keanekaragaman hayati ekosistem air tawar disebabkan oleh 5 faktor, yaitu:

  1. Penangkapan berlebihan (over exploitation) dan dengan cara yang merusak seluruh biota air.
  2. Kerusakan habitat oleh pelumpuran, pendangkalan dan penurunan permukaan air serta penyempitan perairan danau.
  3. Kerusakan kualitas air oleh pencemaran dari DAS, DTA, sempadan dan kegiatan pada perairan danau
  4. Perubahan pola aliran air
  5. Invasi oleh jenis-jenis hewan eksotis.

”Sebagian dari ancaman tersebut berpotensi terjadi pada beberapa danau di Indonesia”.

Pemanfaatan air danau untuk kebutuhan listrik atau pemanfaatan lainnya dengan pembuatan bangunan di keluaran air (outlet) danau dapat mengganggu ruaya beberapa jenis ikan. Ikan yang akan memijah di hulu sungai atau danau (ikan anadromous) dan sebaliknya ikan yang akan memijah di hilir sungai atau laut (ikan catadromous) misalnya ikan sidat, pasti akan kesulitan dengan adanya bangunan yang dimaksud. Pembuatan alur ikan (fish way) agar supaya ikan tidak terganggu merupakan tindakan yang bijak meski biaya pembuatannya cukup mahal.

3.5. Tumbuhan Air

Pertumbuhan massal gulma air/tumbuhan pada suatu danau atau waduk akan mengganggu peruntukan danau atau waduk, karena akan mempercepat pendangkalan dan proses evapotranspirasi, mengganggu lalu lintas perairan, mengurangi nilai estetika, mengganggu kegiatan olahraga air. Pertumbuhan massal gulma air/tumbuhan air terjadi akibat dari penyuburan (eutrofikasi) perairan, yaitu berlimpahnya unsur hara (nutrien) Nitrogen dan Phosphor. Penanggulangan yang dilakukan dapat secara biologi yaitu dengan jenis ikan tertentu yaitu grass carp/white amur (Ctenopharyngodon idella), secara mekanis (dengan mesin) dan manual (diangkat dengan tenaga manusia). Penanggulangan secara kimiawi tidak dianjurkan karena akan mencemari lingkungan perairan.

Perkembangan tumbuhan air di perairan danau sangat bergantung pada sediaan unsur hara perairan, sehingga dapat dijadikan indikator kesuburan air danau yang pada umumnya terbatas di pinggiran (daerah litoral) danau. Indonesia memiliki beberapa jenis tumbuhan air yang digolongkan sebagai gulma (tumbuhan pengganggu). Tiga jenis diantaranya termasuk gulma yang dominan, yaitu eceng gondok (Eichhornia crassipes), kiambang (Salvinia molesta), dan ganggang (Hydrilla verticilata). Dua jenis gulma pertama adalah gulma mengapung dan yang terakhir adalah gulma tenggelam.

Gambar 3.2. Eceng gondok yang menghambat kegiatan transportasi di Danau Toba

Pencemaran air akibat meningkatnya kandungan unsur hara selain memicu pertumbuhan vegetasi dapat pula mengganggu kehidupan hewan airnya. Vegetasi yang berupa tumbuhan mikro dan makro dapat berperan ganda, baik positif maupun negatif. Peran positif tumbuhan air selain sebagai pakan dan tempat berlindung serta berkembang biak hewan air, juga sebagai pemasok oksigen bagi kehidupan hewan air melalui proses fotosintesis.

Melalui proses ini pula tumbuhan air mampu menyerap unsur hara termasuk unsur-unsur logam berat yang berbahaya dan mengendapkan partikel koloid lumpur sehingga air perairan menjadi lebih bersih.

Selain mengurangi volume air dan mempercepat laju penguapan, tumbuhan air mengganggu transportasi dan estetika wisata, dan juga mengganggu turbin PLTA apabila danau tidak dilengkapi dengan jaring penahan (trash boom).

3.6. Rantai Makanan (Food Chain) dan Jaring Makanan (Food Web)

Ekosistem danau memiliki kehidupatan biota akuatik yang tersusun dalam bentuk rantai makanan dan beberapa rantai membentuk jaring makanan. Rantai makanan secara umum digambarkan sebagai berikut:

Tumbuhan → Herbivora → Karnivora Kecil → Karnivora Besar → dan seterusnya

Tumbuhan berklorofil (merupakan produsen) dimakan oleh Herbivora (konsumen 1) kemudian dimakan oleh karnivora kecil (konsumen 2); konsumen 2 dimakan oleh karnivora besar (konsumen 3). Produsen, konsumen 1, 2 dan 3 menunjukkan tingkat tropik (trophic level) yang berbeda pada sistem rantai makanan dan jaring makanan.

Di dalam suatu ekosistem perairan (danau dan/atau waduk) tumbuhan berklorofil dapat berupa fitoplankton dimakan oleh zooplankton, zooplankton dimakan ikan pemakan plankton (plankton feeder) misalnya ikan nilem, ikan nilem (kecil) dimakan oleh karnivora besar misalnya ikan lele. Ataupun dapat saja tumbuhan berklorofil tingkat tinggi (spermatofita) misalnya ganggeng (Hydrilla verticillata) dan/atau eceng gondok (Eichhornia crassipes) dimakan oleh ikan herbivora misalnya ikan tawes (Puntius javanicus) dan/atau herbivora lainnya yaitu ikan koan/white amur/grass carp (Ctenopharyngodon idella).

Penerapan prinsip rantai makanan dalam penanggulangan gulma air atau tumbuhan air pengganggu, telah berhasil dilakukan oleh Puslit Limnologi LIPI di Danau Kerinci yang banyak ditumbuhi Hydrilla dan eceng gondok; kedua jenis gulma air ini dapat dikendalikan secara biologis. Hal ini dilakukan juga di Waduk Jatiluhur yang telah mengalami blooming alga (marak algae), pengendaliannya dilakukan dengan penebaran ikan nilem yang merupakan plankton feeder, namun hasilnya belum terlihat.

Maraknya fitoplankton dan gulma air disebabkan eutrofikasi pada suatu perairan, selain itu karena tidak berjalannya prinsip rantai makanan, oleh karena tidak adanya musuh alami yang dapat memakan atau memanfaatkannya. Apabila pada suatu ekosistem terdapat beberapa jenis konsumen yang sama niche/relungnya (occupacation), maka akan terjadi persaingan diantara mereka.

Contoh lain yang sederhana, di ekosistem sawah yang banyak/timbul hama tikus, hal ini terjadi karena tidak adanya musuh alami berupa predator yaitu ular sebagai pemangsa (predator) sedangkan tikus adalah yang dimangsa (prey). Contoh lain pada suatu padang rumput, dimana akan terjadi persaingan baik antara konsumen 1 (herbivora) maupun konsumen 2 (karnivora) karena mereka mempunyai niche yang sama. Sehingga akan terjadi makin sedikitnya suatu jenis konsumen dan konsumen lainnya berkembang ataupun dapat terjadi rumput (tumbuhan berupa produsen) makin sedikit. Apabila tidak ada campur tangan akan musnah.

3.7.  Alga/Ganggang Biru (Microcystis)

Pertumbuhan marak algae pada suatu danau atau waduk disebabkan karena banyaknya kandungan nutrisi N dan P, khususnya NO3 dan PO4 pada suatu perairan. Maraknya algae Microcystis di Waduk Ir. H. Djuanda/Jatiluhur, telah mengganggu perairan tersebut, biasanya menimbulkan bau tidak sedap. Microcystis mengeluarkan sejenis racun (toxin) yaitu microcystin yang dapat mematikan organisme lainnya. Ikan sulit untuk mencerna Mycrocystis karena tubuhnya diselaputi cairan lignin.

3.8.  Perubahan dan Fluktuasi Permukaan Air dan Luas Danau

Perubahan fluktuasi muka air danau antara lain disebabkan oleh kerusakan DAS dan DTA. Perubahan karakteristik aliran air di musim hujan dan musim kemarau terjadi karena lahan tidak mampu menyerap dan menyimpan air hujan. DAS dan DTA yang rusak menyebabkan fluktuasi debit banjir di musim hujan dan debit sangat rendah di musim kemarau dengan perbedaan yang sangat drastis. Sebagai akibatnya, luas dan kedalaman danau juga berubah cepat mengikuti musim, seperti yang terjadi pada danau dangkal dan danau paparan banjir (Tempe dan Limboto).

Lahan sempadan danau yang terjadi akibat penyusutan dan penyempitan perairan danau, selain berakibat pada peralihan ekosistem danau menjadi ekosistem rawa lebak, juga mengakibatkan terjadinya perubahan status kepemilikan dan pengelolaan lahan sempadan dan daratan yang ditimbulkannya oleh penduduk di sekitarnya.

Pengambilan air untuk air baku, air irigasi, dan tenaga air, berpotensi mengganggu keseimbangan ekologis daerah sempadan danau apabila menganggu keseimbangan hidrologi danau. Pengambilan air danau berlebihan dapat mengakibatkan permukaan air danau surut yang mengubah ekosistem perairan, karena hamparan sempadan danau apabila tergenang air serta keliling pantainya merupakan sumber kehidupan dan habitat berbagai biota air.

 

 

2 Comments on “3 Permasalahan”

  1. ester Says:

    hallo ini dengan ester mau tanya bagaimana untuk menanggulangi jika adanya pencemaran air tersebut?

  2. Demas Says:

    stuju sangat, akang,,,ada cara penaggulangan dampak negative yang sangat relevan k?… khususnya danau sentani…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: