5 Penentuan Status Mutu

Pedoman Pengelolaan Ekosistem Danau

Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2008

BAB V  PENENTUAN STATUS MUTU EKOSISTEM DANAU DAN PENGELOLAANNYA

Kriteria baku kerusakan danau meliputi unsur-unsur ekosistem danau, yaitu: a). Ekosistem akuatik, b). Ekosistem sempadan, c).Ekosistem terestrial. Setiap unsur ekosistem tersebut dirinci lebih lanjut dalam bentuk beberapa Parameter Danau. Kriteria kerusakan dibagi atas tiga tingkat, yaitu: a). Baik, b). Terancam, c). Rusak. Kriteria penilaian tersebut tercantum pada Tabel 5.3, Tabel 5.4 dan Tabel 5.5.

Landasan teknis pengelolaan ekosistem danau adalah pencapaian status mutunya sama dengan atau lebih baik dari Baku Mutu Ekosistem Danau (BMED), yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan yang diinginkan atau berdasarkan penetapan peraturan perundangan. Sedangkan tahapan pengelolaannya berdasarkan Status Mutu Ekosistem Danau (SMED) yang sebenarnya pada saat ini dan akan dipulihkan untuk mencapai BMED yang telah ditetapkan, sebagai tolok ukur keberhasilannya.

SMED yang ditetapkan berdasarkan beberapa aspek yang ditetapkan pada BMED, yaitu:

a. Kriteria Baku Kerusakan Danau

b. Baku Mutu Air Danau dan Penilaian Status Mutunya

c. Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau

Sasaran atau daerah pengelolaannya adalah sebagai berikut:

a. Ekosistem akuatik perairan danau

b. Ekosistem lahan daerah sempadan dan lahan sempadan danau

c. Ekosistem terestrial yaitu DAS atau DTA.

d. Pemanfaatan sumber daya air danau

Lingkup dan intensitas pengelolaan pada setiap daerah sasaran pengelolaan tersebut sangat tergantung kepada status mutu danau pada saat ini, yaitu:

a). Baik

b). Terancam dan

c). Rusak (seperti tercantum pada Lampiran 4, 5 dan 6)

 

5.1 Kriteria Status Ekosistem Akuatik

Untuk menentukan status ekosistem akuatik (baik, terancam dan rusak) perlu ditetapkan terlebih dahulu kelas air dan baku mutu air danau, penentuan status mutu air serta penentuan status trofik danau. Adapun parameter lainnya adalah keanekaragaman hayati, jejaring makanan, tutupan tumbuhan air, alga/ganggang biru (Microcystis) dan limbah pakan perikanan budidaya.

a). Kelas Air dan Baku Mutu Air

Kelas air danau ditentukan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001, yaitu terdiri dari Kelas 1 sampai Kelas 4. Kualitas air danau dangkal tidak banyak berbeda dari permukaan sampai kedalaman mendekati dasar danau, akan tetapi danau dalam memiliki kualitas yang bebeda dan makin kedasar makin memburuk. Oleh karena itu penentuan status kelas air dan baku mutu air danau berbeda dengan air sungai, yaitu sebagai berikut:

  • Danau sangat dangkal yang memiliki kedalaman kurang dari 10 m : penentuan satu baku mutu air untuk semua kedalaman danau.
  • Danau dangkal yang memiliki kedalaman 10 – 50 m : penentuan dua baku mutu air untuk lapisan epilimnion dan hypolimnion.
  • Danau medium, dalam dan sangat dalam : penentuan tiga kelas air, yaitu satu baku mutu air pada lapisan epilimnion dan dua baku mutu air (dua lapisan) pada hypolimnion bagian tengah danau dan bawah danau (2 m diatas dasar danau).

b). Status Mutu Air

Penentuan status mutu air danau dan waduk dilakukan dengan Metode Storet dan Metode Indeks Pencemaran yang telah dibakukan dalam Pedoman Penentuan Status Mutu Air pada Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003. Cara perhitungan nilai skor dan penentuan status mutu Metode Storet ini disajikan pada Tabel 5.1 dan Tabel 5.2

Penilaian kadar parameter kualitas air mengacu kepada Baku Mutu Air (BMA) yang berlaku untuk danau, atau menggunakan Kelas Air pada Lampiran PP No.82 tahun 2001 bila BMA belum ditetapkan. Ada perbedaan dengan cara penentuan status mutu air sungai, yaitu perlu disebutkan selain lokasinya (koordinatnya), perlu pula dicatat kedalaman sampel kualitas air danau yang dinilai. Jumlah data pemantauan air juga harus mewakili kondisi musim hujan dan musim kemarau.

 

Parameter danau dan kegiatan yang dinilai adalah:

  • Kelas Kualitas Air, yang menunjukkan tingkat pencemaran air (PP No.82 Tahun 2001).
  • Keanekaragaman hayati, yang menunjukkan keaneka ragaman biota air serta ikan endemik.
  • Jejaring makan (food web), yang menunjukkan struktur rangkaian makanan secara alami untuk mendukung kehidupan biota air.
  • Tutupan Tumbuhan Air, baik yang berfungsi untuk menunjang kehidupan biota akuatik maupun yang bersifat gulma menganggu ekosistem dan pemanfaatan air danau.
  • Alga/ganggang biru (Microcystis), yaitu jenis alga yang menganggu kelestarian dan kualitas air danau serta mengganggu kehidupan ikan.
  • Limbah pakan perikanan budidaya KJA, mengandung unsur organik dan unsur hara yang berpotensi mencemari air dan menimbulkan proses eutrofikasi.

c). Status Trofik

Status trofik menunjukkan dampak adanya beban limbah unsur hara yang masuk air danau. Cara penentuan status trofik danau dapat dipilih menurut tiga metode, seperti tercantum pada Lampiran 1, 2 dan 3.

Kondisi kualitas air danau dan waduk diklasifikasikan berdasarkan status proses eutrofikasi yang disebabkan adanya peningkatan kadar unsur hara dalam air. Faktor pembatas sebagai penentu eutrofikasi adalah unsur Phosphor (P) dan Nitrogen (N). Pada umumnya rata-rata tumbuhan air mengandung Nitrogen dan Phosphor masing-masing 0,7% dan 0,09% dari berat basah. Phosphor membatasi proses eutrofikasi jika kadar Nitrogen lebih dari delapan kali kadar Phosphor, sementara Nitrogen membatasi proses eutrofikasi jika kadarnya kurang dari delapan kali kadari Phosphor (UNEP-IETC/ILEC, 2001). Klorofil-a adalah pigmen tumbuhan hijau yang diperlukan untuk fotosintesis. Parameter Klorofil-a tersebut mengindikasikan kadar biomassa algae, dengan perkiraan rata-rata beratnya adalah 1% dari biomassa.

Eutrofikasi yang disebabkan oleh proses peningkatan kadar unsur hara terutama parameter Nitrogen dan Phosphor pada air danau dan waduk. Proses tersebut diklasifikasikan dalam empat kategori status trofik kualitas air danau dan waduk berdasarkan kadar unsur hara dan kandungan biomasa atau produktivitasnya.

  1. Oligotrof adalah status trofik air danau dan waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar rendah, status ini menunjukkan kualitas air masih bersifat alamiah belum tercemar dari sumber unsur hara Nitrogen dan Phosphor.
  2. Mesotrof adalah status trofik air danau dan waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar sedang, status ini menunjukkan adanya peningkatan kadar Nitrogen dan Phosphor namun masih dalam batas toleransi karena belum menunjukkan adanya indikasi pencemaran air.
  3. Eutrof adalah status trofik air danau dan waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar tinggi, status ini menunjukkan air telah tercemar oleh peningkatan kadar Nitrogen dan Phosphor.
  4. Hipereutrof/Hipertrof adalah status trofik air danau dan waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar sangat tinggi, status ini menunjukkan air telah tercemar berat oleh peningkatan kadar Nitrogen dan Phosphor.

Tingkat kesuburan perairan danau dan waduk dapat dihitung berdasarkan beberapa parameter yang sangat berpengaruh terhadap kesuburan danau sesuai dengan perhitungan Indeks Status Trofik atau Tropik Status Index (TSI) yaitu: total Phosphor, klorofil-a, dan kecerahan menggunakan pengukuran cakram sechi.

Penentuan ketiga parameter tersebut berdasarkan adanya keterkaitan yang erat dari masing-masing parameter, dimana unsur pencemar yang masuk ke perairan danau yang berupa Phosphor akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan fitoplankton di perairan tersebut yang ditandai dengan adanya konsentrasi klorofil-a, akibat lebih lanjut dengan adanya kepadatan klorofil-a tersebut akan menyebabkan terhambatnya cahaya yang masuk kedalam kolom perairan danau yang ditandai dengan makin pendeknya kecerahan perairan.

Hubungan antara kadar Total Phosphor (TP) dengan konsentrasi klorofil-a ada korelasi positip seperti ditunjukkan dalam rumus Jones dan Bachmann (1976) dalam Davis dan Cornwell (1991).

5.2 Kriteria Status Ekosistem Sempadan

a). Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau

Daya tampung beban pencemaran air adalah batas kemampuannya untuk menerima masukan beban pencemaran yang tidak melebihi batas syarat kualitas air untuk berbagai pemanfaatannya atau memenuhi baku mutu airnya. Khususnya sumber daya air danau, pengertian daya tampung tersebut lebih spesifik yaitu kemampuan perairan danau menampung beban pencemaran air sehingga kualitas air tetap memenuhi syarat atau baku mutu serta sesuai dengan status trofik yang disyaratkan.

Persyaratan kualitas air untuk berbagai pemanfaatan air danau atau baku mutunya terdiri dari syarat kadar kualitas air fisika, kimia dan mikrobiologi. Sedangkan persyaratan status trofik air danau terutama terdiri dari syarat kecerahan air, kadar unsur hara Nitrogen dan Phosphor serta kadar Klorofil-a. Oleh karena itu perhitungan daya tampung perairan danau perlu memperhatikan sumber dan beban pencemaran air dan dampaknya terhadap pemanfaatan air serta kesinambungan fungsi danau. Perhitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau tercantum pada Rumus Umum Penghitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau Dan Waduk.

b). Alokasi Beban Pencemaran Air

Danau dan waduk sebagai sumberdaya air yang memiliki berbagai pemanfaatan, juga berfungsi sebagai penampung air dari daerah tangkapan air (DTA) dan daerah aliran sungai (DAS). Oleh karena itu berbagai unsur pencemaran air dari DTA dan DAS serta sempadan danau dan waduk terbawa masuk kedalam perairannya. Pada daerah tersebut terdapat berbagai kegiatan yang membuang limbah secara langsung dan tidak langsung ke danau dan waduk, antara lain limbah penduduk, pertanian, peternakan, serta industri dan pertambangan. Demikian juga erosi DAS merupakan sumber pencemaran air dan pendangkalan danau (Gambar 5.1)

Beban pencemaran dari berbagai sektor pada DTA dan DAS akan meningkat terus sesuai dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kegiatan lainnya. Oleh karena itu jumlah beban pencemaran yang masuk perairan danau dan waduk termasuk limbah pakan ikan dari budidaya ikan (KJA) perlu ditentukan alokasinya dengan memperhatikan kondisi sosial ekonomi serta konservasi sumberdaya air jangka panjang.

Penentuan alokasi tersebut memerlukan kajian pada daerah setempat serta kebijaksanaan pemerintah daerah mengenai sumber dan beban pencemaran serta tingkat pengendaliannya yang ditargetkan. Sasaran pengendalian pencemaran air pada berbagai sektor kegiatan perlu ditentukan alokasi beban pencemarannya, agar memenuhi daya tampung danau dan waduk terhadap beban pencemaran untuk memenuhi status mutu air yang diinginkan. Penentuan alokasi beban pencemaran dan daya tampungnya pada danau dan waduk perlu memperhatikan syarat pemanfaatan air dan kelestarian air danau dan waduk tersebut.

c). Daya Tampung Beban Pencemaran Budidaya Perikanan Keramba Jaring Apung

Mengingat pada saat ini beban pencemaran air beberapa danau dan waduk telah meningkat oleh perkembangan budidaya perikanan keramba jaring apung (KJA), maka pada pedoman ini secara khusus menguraikan cara perhitungan daya tampung beban pencemaran air limbah budi daya perikanan. Namun demikian rumus perhitungan ini memperhitungkan juga adanya beban pencemaran dari sumber lain, antara lain limbah penduduk, industri dan pertambangan, serta pertanian dan peternakan, yang secara langsung maupun tidak langsung memasuki perairan danau yaitu beban pencemaran air dari DAS dan DTA.

Intensitas kegiatan atau jumlah produksi budidaya perikanan tergantung kepada daya tampung perairan danau. Sedangkan daya tampung perairan danau sangat tergantung kepada morfologi dan hidrologinya serta status trofik dan status kualitas airnya. Pakan ikan dan limbah budidaya ikan KJA terdiri dari berbagai unsur pencemaran air, sehingga kajian beban pencemarannya dan perhitungan daya tampungnya berdasarkan jenis unsur penecemaran akibat limbah budidaya ikan tersebut, seperti halnya perhitungan beban pencemaran dari sumber limbah lainnya. Namun demikian perhitungan daya tampung beban pencemaran limbah pakan ikan disederhanakan dengan memilih parameter indikator tingkat trofik danau. Parameter beban pencemaran limbah perikanan yang dipilih atau parameter indikator adalah total Phosphor (total-P), mengingat dasar perhitungannya adalah status trofik danau. Rumus perhitungan yang digunakan adalah Kotak 15.

Gambar 5.1. Model dan Perhitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau dan Waduk

Gambar 2. Model dan Perhitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau dan Waduk Untuk Limbah Budidaya Perikanan

Rumus perhitungan Daya Tampung Danau Dan Waduk Untuk Budidaya Perikanan menunjukkan contoh perhitungan daya tampung berbagai tipe danau terhadap beban pencemaran air, dan daya dukungnya terhadap budidaya perikanan KJA. Pemanfaatan danau adalah serbaguna untuk air baku, PLTA, irigasi pertanian, pengendalian banjir dan pariwisata. Selain itu danau juga menampung limbah penduduk, peternakan, pertanian, serta industri dan pertambangan dari DAS, DTA dan sempadan yang membuang limbah unsur Phosphor (P).

Contoh hasil perhitungannya seperti tercantum pada Lampiran 7 adalah sebagai berikut:

  • Contoh a adalah danau yang hanya dimanfaatkan untuk budidaya perikanan dan pertanian dan tidak menampung limbah daerah tangkapan air, sehingga mempunyai toleransi yang tinggi terhadap unsur P, sehingga mempunyai daya dukung yang tinggi bagi budi daya ikan
  • Contoh b adalah danau serbaguna dan menampung limbah perkotaan, peternakan dan pertanian pada daerah tangkapan air, sehingga daya dukungnya bagi budidaya perikanan rendah
  • Contoh c sama dengan danau pada Contoh b namun telah marak dengan budidaya perikanan yang melebihi daya tampung danau, sehingga produksinya harus dikurangi.

 

Parameter danau dan kegiatan manusia pada sempadan tersebut yang dinilai adalah:

  • Sempadan Danau
  • Sempadan Pasang-Surut
  • Pembuangan Limbah

 

5.3 Kriteria Status Ekosistem Terestrial Pada Daerah Tangkapan Air

Kondisi danau dan keberhasilan pengelolaannya sangat bergantung juga pada kondisi dan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) atau daerah tangkapan air (DTA). Terdapat berbagai sebab kerusakan DAS atau DTA dan dampak negatif yang ditimbulkannya, namun sebagai indikator yang berdampak langsung kepada ekosistem danau adalah luas penutupan vegetasi dan tingkat erosi yang disebabkan oleh penggunaan lahan dan pengolahannya antara lain; pengolahan lahan pertanian, perkebunan dan permukiman. Apabila kondisinya baik, maka debit air yang masuk danau akan terkendali dengan baik secara alamiah, yaitu DAS dan DTA mampu menyimpan air diwaktu musim hujan dan tetap mengalirkan air selama musim kemarau. Selain itu juga tingkat sedimentasi danau akan rendah karena rendahnya tingkat erosi.

Indikator kondisi dan pengaruh ekosistem terestrial pada daerah tangkapan air tersebut adalah sebagai berikut (Tabel 5.5) :

  • Penutupan vegetasi pada lahan daerah tangkapan air (DTA) adalah luas lahan vegetasi dibagi luas lahan DAS atau DTA. Kondisi yang baik adalah apabila nilainya lebih besar dari 75 %, dan mulai terancam apabila nilainya 30 – 75 %, sedangkan kondisi rusak apabila nilainya < 30 %. Pada danau vulkanik perhitungan luas vegetasi tersebut dikoreksi, yaitu luas DTA terlebih dulu dikurangi dengan luas lahan yang tidak dapat ditanami karena memiliki karakteristik solum tanah yang dangkal.
  • Fluktuasi debit air antara debit maksimal pada musim hujan dan debit minimal pada musim kemarau, yang dinyatakan dengan nilai koefisien regim sungai, yaitu KRS = Qmax/Qmin. Kondisi baik apabila KRS < 50; terancam apabila nialinya 50-120; rusak apabila nilainya > 120.
  • Erosi lahan DAS atau DTA : tingkat erosi baik apabila laju erosi masih dibawah batas toleransi erosi, terancam bila menyamai batas toleransi erosi dan rusak apabila melebihi batas toleransi erosi. Batas toleransi erosi untuk berbagai jenis lahan mengacu kepada peraturan dan pedoman yang berlaku.
  • Pendangkalan danau : kondisi danau adalah baik apabila tidak terjadi pendangkalan, terancam apabila pendangkalan rata-rata pertahun mencapai < 2% dari kedalaman danau, rusak apabila ≥ 2 % dari kedalaman danau.
  • Pembuangan limbah : kondisi danau adalah baik apabila tidak ada pembuangan limbah atau ada pembuangan limbah akan tetapi ada sistem pengendalian pencemaran air serta sesuai dengan daya tampung beban pencemaran air danau; terancam apabila tidak ada sistem pengendalian pencemaran air akan tetapi tidak melampaui daya tampung beban pencemaran air danau; rusak apabila melampaui daya tampung beban pencemaran air danau.

 

Parameter danau dan kegiatan manusia pada daerah tangkapan air yang dinilai adalah:

  • Fungsi hidrologi Daerah Tangkapan Air (DTA)
  • Erosi dan pelumpuran Daerah Tangkapan Air (DTA)
  • Pembuangan limbah

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: