2 Tinjauan Pustaka

MODEL PENGENDALIAN PENCEMARAN PERAIRAN DI DANAU MANINJAU SUMATERA BARAT

MARGANOF

SEKOLAH PASCASARJANA, INSTITUT PERTANIAN BOGOR, BOGOR, 2007

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ekosistem Perairan Danau

Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponenkomponen  biotik dan abiotik yang saling berintegrasi sehingga membentuk satu  kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan  biotik (produsen, konsumen dan pengurai) yang membentuk suatu hubungan  timbal balik dan saling mempengaruhi. Perairan danau merupakan salah satu  bentuk ekosistem air tawar yang ada di permukaan bumi. Secara fisik, danau  merupakan suatu tempat yang luas yang mempunyai air yang tetap, jernih atau  beragam dengan aliran tertentu (Jorgensen and Vollenweiden, 1989). Sementara  itu, menurut Ruttner (1977) dan Satari (2001) danau adalah suatu badan air alami  yang selalu tergenang sepanjang tahun dan mempunyai mutu air tertentu yang  beragam dari satu danau ke danau yang lain serta mempunyai produktivitas biologi yang tinggi.

Ekosistem danau termasuk habitat air tawar yang memiliki perairan tenang  yang dicirikan oleh adanya arus yang sangat lambat sekitar 0,1–1 cm/detik atau  tidak ada arus sama sekali. Oleh karena itu residence time (waktu tinggal) air bisa  berlangsung lebih lama. Menurut Wetzel (2001), perairan danau biasanya  memiliki stratifikasi vertikal kualitas air yang bergantung pada kedalaman dan musim.

Menurut Odum (1993), pada dasarnya proses terjadinya danau dapat  dikelompokkan menjadi dua yaitu: danau alami dan danau buatan. Danau alami  merupakan danau yang terbentuk sebagai akibat dari kegiatan alamiah, misalnya  bencana alam, kegiatan vulkanik dan kegiatan tektonik. Sedangkan danau buatan  adalah danau yang dibentuk dengan sengaja oleh kegiatan manusia dengan tujuantujuan tertentu dengan jalan membuat bendungan pada daerah dataran rendah.

Umumnya perairan danau selalu menerima masukan air dari daerah  tangkapan air di sekitar danau, sehingga perairan danau cenderung menerima  bahan-bahan terlarut yang terangkut bersamaan dengan air yang masuk. Oleh  karena itu konsentrasi zat-zat yang terdapat di danau merupakan resultante dari  zat-zat yang berasal dari aliran air yang masuk (Payne, 1986). Kualitas perairan  danau sangat tergantung pada pengelolaan atau pengendalian daerah aliran sungai (DAS) yang berada di atasnya.

Cole (1988) menyatakan bahwa berdasarkan kemampuan penetrasi cahaya  matahari menembus ke dalam danau, wilayah danau dapat dibagi menjadi tiga  mintakat (zone) yaitu: zone litoral, zone limnetik, dan zone profundal. Zone litoral  merupakan daerah pinggiran danau yang dangkal dengan penetrasi cahaya sampai  ke dasar, sedangkan zone limnetik adalah daerah air terbuka dimana penetrasi  cahaya bisa mencapai daerah yang cukup dalam, sehingga efektif untuk proses  fotosintesis. Bagian air di zone ini terdiri dari produsen plantonik, khususnya  diatome dan spesies alga hijau-biru. Daerah ini juga merupakan daerah produktif  dan kaya akan plankton. Selain itu, daerah ini juga merupakan daerah untuk  memijah bagi banyak organisme air seperti insekta. Zone profundal merupakan bagian dasar yang dalam yang tidak tercapai oleh penetrasi cahaya efektif.

Menurut Goldmen dan Horne (1989), berdasarkan kandungan hara (tingkat  kesuburan) danau diklasifikasikan dalam 3 jenis, yaitu: danau eutrofik, danau  oligotrofik dan danau mesotrofik. Danau eutropik (kadar hara tinggi) merupakan  danau yang memiliki perairan yang dangkal, tumbuhan litoral melimpah,  kepadatan plankton lebih tinggi, sering terjadi blooming alga dengan tingkat  penetrasi cahaya matahari umumnya rendah. Sementara itu, danau oligotropik  adalah danau dengan kadar hara rendah, biasanya memiliki perairan yang dalam,  dengan bagian hipolimnion lebih besar dibandingkan dengan bagian epilimnion. Semakin dalam danau tersebut semakin tidak subur, tumbuhan litoral jarang dan  kepadatan plankton rendah, tetapi jumlah spesiesnya tinggi. Danau mesotropik  merupakan danau dengan kadar nutrien sedang, juga merupakan peralihan antara  kedua sifat danau eutrofik dan danau oligotrofik. Jorgensen (1990) menambahkan bahwa tingkat trofik (kesuburan) suatu danau juga dapat dinyatakan berdasarkan kandungan total nitrogen (TN), total fosfat (TP), klorofil-a dan biomassa
fitoplankton, seperti disajikan pada Tabel 1.

2.2. Pencemaran Perairan Danau

Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas  air dan pengendalian pencemaran air menyatakan bahwa, pencemaran air adalah  masuknya atau dimasukkannya mahkluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke  dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas perairan turun sampai pada  tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan  peruntukannya. Peraturan ini menyatakan bahwa pencemaran harus ditanggulangi dan penanggulangannya adalah merupakan kewajiban semua pihak.

Dari rumusan tersebut, secara singkat pencemaran air dapat dikatakan  sebagai turunnya kualitas air karena masuknya komponen-kompoen pencemar  dari kegiatan manusia atau proses alam, sehingga air tersebut tidak memenuhi  syarat atau bahkan mengganggu pemanfaatannya. Terjadinya pencemaran  perairan danau dapat ditunjukkan oleh dua hal, yaitu (1) adanya pengkayaan unsur  hara yang tinggi, sehingga terbentuk komunitas biota dengan produksi yang  berlebihan, (2) air diracuni oleh zat kimia toksik yang menyebabkan lenyapnya  organisme hidup, bahkan mencegah semua kehidupan di perairan (Southwick,  1976). Senada dengan hal tersebut Saeni (1989) menyatakan bahwa pencemaran  yang terjadi di perairan dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu (1)  pencemaran kimiawi berupa bahan-bahan organik, mineral, zat-zat beracun dan  radioaktif, (2) pencemaran fisik berupa lumpur dan uap panas, dan (3)  pencemaran biologis berupa berkembangbiaknya ganggang, tumbuh-tumbuhan  pengganggu air, kontaminasi organisme mikro yang berbahaya atau dapat berupa gabungan ketiga pencemaran tersebut.

Sumber pencemaran yang masuk ke badan perairan, dibedakan atas  pencemaran yang disebabkan oleh alam dan pencemaran karena kegiatan  manusia. Menurut Davis dan Cornwell (1991), sumber bahan pencemar yang  masuk ke perairan dapat berasal dari buangan yang diklasifikasikan sebagai: (1)  point source discharges (sumber titik) dan (2) non point source (sumber  menyebar). Sumber titik atau sumber pencemaran yang dapat diketahui secara  pasti dapat merupakan suatu lokasi tertentu seperti dari air buangan industri  maupun domestik serta saluran drainase. Pencemar bersifat lokal dan efek yang  diakibatkan dapat ditentukan berdasarkan karakteristik spasial kualitas air.  Sedangkan sumber pencemar yang berasal dari sumber menyebar berasal dari  sumber yang tidak diketahui secara pasti. Pencemar masuk ke perairan melalui  run off (limpasan) dari permukaan tanah wilayah pertanian yang mengandung pestisida dan pupuk, atau limpasan dari daerah permukiman dan perkotaan.

Dewasa ini permasalahan ekologis yang menjadi perhatian utama adalah  menurunnya kualitas perairan oleh masuknya bahan pencemar yang berasal dari  berbagai kegiatan manusia seperti, sampah permukiman, sedimentasi dan siltasi,  industri, pemupukan dan pestisida. Bahan pencemar yang berasal dari  permukiman pada umumnya dalam bentuk limbah (organik dan anorganik) dan sampah.

Bahan pencemar yang terdapat dalam air limbah dapat berupa bahan  terapung, padatan tersuspensi atau padatan terlarut. Selain itu, air limbah juga  dapat mengandung mikroorganisme seperti virus, bakteri dan protozoa.  Komposisi air limbah domestik sangat bervariasi tergantung pada tempat, sumber dan waktu. Namun secara garis besar zat-zat yang terdapat di dalam air limbah dapat dikelompokkan seperti Gambar 2 (Tebbut, 1998 dalam Mara, 2004).

Gambar 2. Komposisi air limbah domestik (Mara, 2004).

Limbah organik yang mencemari perairan danau, berdasarkan asalnya  dapat dibedakan menjadi limbah organik yang berasal dari luar danau dan berasal  dari kegiatan di badan air danau. Limbah yang berasal dari luar danau berupa  limbah industri, domestik, dan pertanian, sedangkan yang berasal dari kegiatan di  badan perairan danau adalah sisa pellet dari kegiatan budidaya ikan dalam KJA.  Ditambahkan oleh Haryadi (2003), limbah organik yang masuk ke perairan  umumnya berasal dari sisa makanan, eksresi, deterjen, bahan pembersih, minyak  dan lemak, bahan-bahan tersuspensi, sisa insektisida, pestisida dan bahan-bahan sintetik lainnya.

Limbah organik merupakan sisa atau buangan dari berbagai aktivitas  manusia seperti rumah tangga, idustri, permukiman, peternakan, pertanian dan  perikanan yang berupa bahan organik, yang biasanya tersusun oleh karbon,  hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya (Porpraset, 1989).  Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan akan  langsung mengendap menuju dasar perairan, sedang bentuk lainnya berada di  badan air, baik di bagian yang aerob maupun anaerob. Limbah organik, jika tidak  dimanfaatkan oleh fauna perairan lain, seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya,  maka akan segera dimanfaatkan oleh mikroba, baik mikroba aerobik maupun anaerobik ataupun mikroba fakultatif (Garno, 2004).

Limbah organik yang ada di badan air aerobik akan dimanfaatkan dan  diurai (dekomposisi) oleh mikroba aerobik (BAR), dengan proses seperti pada reaksi berikut.

BAR + O2 BAR e’ CO2 + NH3 + produk lain + energi →  COHNS + O2 + BAR + energi e’ C5H7O2N (sel MO baru)

Reaksi tersebut mengisyaratkan bahwa makin banyak limbah organik yang masuk  dan tinggal pada lapisan aerobik akan makin besar pula kebutuhan oksigen bagi  mikroba yang mendekomposisinya. Jika keperluan oksigen bagi mikroba yang ada  melebihi konsentrasi oksigen terlarut, maka oksigen bisa menjadi nol dan mikroba  aerobpun musnah digantikan oleh mikroba anaerob dan fakultatif yang tidak  memerlukan oksigen. Sementara itu limbah organik yang masuk ke badan air  yang anaerob akan dimanfaatkan dan diurai (dekomposisi) oleh mikroba anaerobik atau fakultatif (BAN) dengan proses seperti reaksi berikut.

BAN e’ CO2 + H2S + NH3 + CH4 + produk lain + energi → CHONS + BAN + energi e’ C5H7O2N (sel MO baru)

Proses reaksi tersebut mengungkapkan bahwa aktivitas mikroba yang hidup di  bagian badan air yang anaerob, selain menghasilkan sel-sel mikroba baru juga  menghasilkan senyawa-senyawa CO2, NH3, H2S dan CH4 serta senyawa lain  seperti amin dan komponen fosfor. H2S, amin dan komponen fosfor adalah  senyawa yang mengeluarkan bau menyengat yang tidak sedap dan anyir. Selain  itu telah disinyalir bahwa NH3 dan H2S hasil dekomposisi anaerob pada tingkat  konsentrasi tertentu adalah beracun dan dapat membahayakan organisme lain, termasuk manusia.

Pencemaran perairan danau juga dapat disebabkan oleh buangan bahan  beracun baik yang dapat diuraikan secara kimiawi oleh bakteri maupun yang  sukar diuraikan serta hara anorganik yang menyebabkan pertumbuhan alga secara  berlebihan. Bahan-bahan beracun yang berasal dari limbah buangan industri  mengandung senyawa-senyawa yang bersifat toksik seperti logam berat; Hg, Pb,  dan Cd (Shivastava et al., 2003). Masuknya bahan pencemar tersebut ke badan  perairan dapat menurunkan kualitas air serta mengubah kondisi ekologi perairan.  Sutamihardja (1992) menyatakan bahwa bahan pencemaran yang menurunkan  kualitas air dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan (health hazard), sanitari (sanitary hazard) dan kerugian-kerugian secara ekonomi dan sosial.

Kegiatan dalam bidang pertanian, secara langsung maupun tidak langsung  dapat menyebabkan kualitas perairan danau menjadi menurun. Hal ini disebabkan  karena residu dari penggunaan pupuk dan pestisida akan mengalir ke badan air  danau. Residu pestisida yang masuk ke perairan, proporsi utama adalah terserap  pada partikel tersuspensi dan partikel yang diam atau terpisah ke dalam substrat  organik. Residu tersebut umumnya mempunyai sifat afinitas yang kuat terhadap  komponen lipid dan bahan organik yang hidup. Bahan aktif pestisida sukar  dihilangkan setelah masuk ke badan perairan, karena memiliki tingkat kestabilan  yang cukup tinggi. Bahan aktif tersebut tidak mudah larut dalam air, tetapi larut  dalam lemak serta menempel pada partikel-partikel halus. Akibatnya residu  pestisida akan terkumpul dan terakumulasi dalam perairan, sehingga  menyebabkan perairan menjadi tercemar dan merusak ekosistem di dalamnya (Cornel and Miller, 1995).

Residu pupuk yang tidak terserap tanaman, mengandung unsur nitrogen  dan fosfor yang cukup tinggi, sehingga dapat merangsang pertumbuhan alga dan  tanaman air lainnya. Kelimpahan hara nutrisi ini dapat menyebabkan terjadinya  eutrofikasi (penyuburan perairan) (Kemka et al., 2006). Pengaruh negatif dari  eutrofikasi di perairan danau adalah terjadinya perubahan keseimbangan  kehidupan antara tanaman air dengan hewan air, sehingga beberapa spesies ikan  akan musnah dan tanaman air akan dapat menghambat laju arus air (Darmono,  2001). Seperti dilaporkan oleh Garno (2002) bahwa penyuburan yang terjadi di  Waduk Cirata oleh hara N dan P, sebagian besar bersumber dari limbah yang  berasal dari kegiatan budidaya perikanan yang ada di waduk, limbah domestik dan limbah pertanian seperti terlihat pada Tabel 2.

Jenis alga terutama ganggang hijau, sangat subur bila mendapatkan pupuk  nitrat. Tumbuhan ini dapat menutupi permukaan perairan, sehingga menghambat  sinar matahari yang masuk ke dalam air. Hal ini dapat menyebabkan organisme  atau tumbuhan air akan mati. Bakteri pembusuk akan menguraikan organisme  yang mati, baik tanaman maupun hewan yang terdapat di dasar air. Proses  pembusukan tersebut banyak menggunakan oksigen terlarut dalam air, sehingga  terjadi hypoksia atau kadar oksigen akan menurun secara drastis dan pada akhirnya kehidupan biologis di perairan danau juga akan sangat berkurang.

Garno (2002) melaporkan bahwa perkiraan besarnya kandungan N dan P  yang dihasilkan dari berbagai sumber pencemar di darat yang masuk ke dalam ekosistem perairan Waduk Saguling disajikan pada Tabel 3.

Kegiatan budidaya perikanan dengan teknik keramba jaring apung yang  berlangsung di badan air, merupakan kegiatan yang langsung berhubungan  dengan perairan danau, sehingga berdampak langsung terhadap perairan danau  yaitu penurunan kualitas perairan. Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan tersebut  pada umunya berupa limbah organik berupa sisa pakan (pellet). Pakan yang tidak  termanfaatkan dari kegiatan budidaya ikan intensif merupakan suatu hal yang  dapat mengganggu lingkungan perairan serta dapat menyebabkan terpacunya eutrofikasi di ekosistem perairan danau.

Begitu juga halnya dengan kegiatan peternakan yang terdapat di sempadan  danau, merupakan penghasil limbah organik berupa kotoran hewan dan sisa pakan  yang masuk ke badan air danau. Walaupun sebagian besar limbahnya tergolong  limbah padat, tetapi saluran drainase dari kegiatan peternakan akan membawa  limbah cair organik dengan kandungan zat tersuspensi yang tinggi. Di samping  itu, limbah ternak dapat merupakan sumber nitrogen dan fosfor yang dapat  mengakibatkan terjadinya eutrofikasi pada badan air. Keadaan ini dapat  mengakibatkan gangguan keseimbangan ekologis dan bahkan dapat menyebabkan kematian biota perairan serta merusak estetika perairan.

2.3. Eutrofikasi

Kesuburan perairan danau secara alamiah umumnya disebabkan  pengkayaan oleh unsur hara yang dibawa oleh aliran sungai dari hasil pencucian  lapisan tanah permukaan dan limbah organik dari kegiatan pertanian. Setiana  (1996) menyatakan bahwa proses masuknya hara ke badan perairan dapat melalui  dua cara yaitu: (1) penapisan air drainase lewat pelepasan hara tanaman terlarut  dari tanah; dan (2) lewat erosi permukaan tanah atau gerakan dari partikel tanah  halus masuk ke sistem drainase. Proses terjadinya pengkayaan perairan danau oleh  unsur hara berlangsung dalam waktu yang cukup lama, namun proses tersebut dapat dipercepat oleh berbagai aktivitas penduduk di sekitar perairan danau.

Peningkatan jumlah penduduk yang semakin tinggi di sekitar perairan  danau, dapat mengganggu keseimbangan lingkungan perairan. Hal ini akan  memberikan kontribusi pada laju penambahan zat hara dan limbah organik  lainnya yang masuk ke badan air. Jumlah unsur hara yang masuk ke badan  perairan biasanya lebih besar dari pemanfaatan unsur hara tersebut oleh biota perairan, sehingga akan terjadi penyuburan yang berlebihan (Ahl, 1980).

Menurut Goldmen and Horne (1983), eutrofikasi perairan danau dapat  terjadi secara cultural eutrophication (kultural) maupun secara natural  eutrophication (alami). Eutrofikasi kultural disebabkan karena terjadinya proses  peningkatan unsur hara di perairan oleh aktivitas manusia, sedangkan pada  eutrofikasi alami terjadi peningkatan unsur hara bukan karena aktivitas manusia melainkan oleh aktivitas alami.

Gejala eutrofikasi di perairan danau biasanya ditunjukkan dengan  melimpahnya konsentrasi unsur hara dan perubahan parameter kimia seperti  oksigen terlarut (OT), kandungan klorofil-a dan turbiditas serta produktivitas  primer. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi biomassa di  bagian epilimnion danau dan tingginya laju pengendapan alga ke bagian dalam  kolom air, sehingga menjadikan kondisi anaerobik pada daerah hipolimnion  (Gather and Imboden, 1985). Hal senada dikemukakan oleh Agustiyani (2004),  meningkatnya unsur hara di danau akan meningkatkan biomassa jenis organisme  primer tetapi akan menurunkan jenis konsumer. Hal ini mengakibatkan  melimpahnya salah satu jenis saja dan mengurangi varietas dan kualitas. Salah  satu contohnya adalah melimpahnya alga yang biasa didominasi oleh blue green algae (alga biru-hijau) dan berkembangnya gulma air.

Fenomena eutrofikasi juga berdampak terhadap meningkatnya jumlah  kematian ikan dan sulitnya pengolahan air untuk air minum. Hal ini disebabkan  karena disekresikannya toksin hasil metabolisme alga yang dapat menyebabkan  kematian bagi hewan. Kondisi ini pernah terjadi di daerah sub-tropis pada alga  jenis Mycrocystis sp yang menghasilkan endotoksin dan eksotoksin yang hasil  sekresinya disebut dengan Mycrosystin, dapat menyerang syaraf dan hati,  sehingga dapat mengakibatkan kematian bagi hewan-hewan ternak (Kemka et al., 2006).

Henderson-Seller and Markland (1987) mengemukakan bahwa ada enam  indikator utama yang dapat dipakai untuk mendeteksi terjadinya eutrofikasi di  suatu perairan danau yakni : 1) menurunnya konsentrasi oksigen terlarut di zone  hipolimnotik, 2) meningkatnya konsentrasi unsur hara, 3) menigkatnya padatan  tersuspensi, terutama bahan organik, 4) bergantinya populasi fitoplankton yang  dominan dari kelompok diatome menjadi chlorophyceae, 5) meningkatnya  konsentrasi fosfat, dan 6) menurunnya penetrasi cahaya (meningkatnya kekeruhan).

Fosfor merupakan komponen biokimia sebagai pengubah energi di dalam  sel dan terdapat dalam bentuk adenosin fosfat, yang sangat diperlukan dalam  kehidupan sel. Kekurangan fosfor akan menghambat metabolisme secara  keseluruhan, sehingga menyebabkan penurunan pertumbuhan biomassa. Hal ini  senada dengan pernyataan Beveridge (1996) yang menyatakan bahwa unsur fosfor  merupakan unsur utama yang diperlukan oleh semua ikan untuk pertumbuhan  normal, pembentukan tulang, mengatur regulasi asam-basa dan metabolisme lipid  dan karbohidrat. Sementara itu, nitrogen adalah merupakan bagian dari struktur protein dan asam amino yang penting untuk kehidupan.

Menurut Goldman & Horne (1983) dan Sastrawijaya (2000), fosfor dan  nitrogen merupakan unsur pembatas dalam proses eutrofikasi. Bila rasio N dan P  > 12, maka sebagai faktor pembatas adalah P, sedangkan rasio N dan P < 7  sebagai pembatas adalah N. Rasio N dan P yang berada antara 7 dan 12  menandakan bahwa N dan P bukan sebagai faktor pembatas (non-limiting factor).  Ryding & Rast (1989) menyatakan bahwa perairan termasuk dalam klasifikasi  eutrofik bila kandungan total N di perairan sebesar 0,393–6,100 mg/l dan bila > 6,100 mg/l perairan termasuk dalam klasifikasi hipertrofik.

Dampak negatif lain dari eutrofikasi adalah meningkatnya jumlah alga  yang mati dan tenggelam ke dasar perairan. Alga tersebut akan diuraikan oleh  bakteri, mereduksi kandungan oksigen di dasar perairan, dapat mencapai ke  tingkat yang sangat rendah untuk mendukung kehidupan organisme, sehingga  menyebabkan kematian ikan. OECD (1982), menyatakan bahwa dampak dari  eutrofikasi yang paling sensitif bagi masyarakat adalah yang berkaitan dengan  fungsi danau sebagai tempat rekreasi dan wisata air. Aspek-aspek seperti  menurunnya transparansi, warna, rasa dan bau, serta meningkatnya penyakit kulit sangat mengurangi daya tarik dan nilai estetika dari obyek wisata tersebut.

2.4. Indikator Parameter Pencemaran Perairan

Pengelolaan lingkungan perairan danau diperlukan sebagai suatu petunjuk  untuk menilai perairan tersebut apakah masih layak digunakan sesuai dengan  peruntukannya atau tidak. Mengingat kebutuhan akan air bukan saja dari segi  kuantitas, tetapi juga dalam hal kualitas harus baik. Dalam usaha pengendalian  pencemaran perairan danau sangat diperlukan informasi dan masukan mengenai tingkat pencemaran yang terjadi di perairan tersebut.

Indeks mutu lingkungan perairan (IMLP) secara umum dapat digunakan  untuk memonitor status kualitas air secara menyeluruh sebagai dasar dalam  pengambilan kebijakan pengelolaan perairan di masa yang akan datang. Beberapa  karakteristik atau indikator kualitas air yang disarankan untuk dianalisis  sehubungan pemanfaatan sumberdaya air untuk berbagai keperluan, antara lain parameter fisika, kimia dan biologi (Manik, 2003; Effendi, 2003),

2.4.1. Parameter Fisika

Suhu

Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari  permukaan laut, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran serta kedalaman dari  badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia, dan biologi  di badan air. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi  kimia, evaporasi dan volatilisasi. Selain itu, peningkatan suhu air juga  mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air seperti O2, CO2, N2, dan CH4 (Haslam, 1995).

Beberapa sifat termal air seperti panas jenis, nilai kalor penguapan dan  nilai peleburan air mengakibatkan minimnya perubahan suhu air, sehingga variasi  suhu air lebih kecil bila dibandingkan dengan variasi suhu udara. Danau di daerah  tropik mempunyai kisaran suhu yang tinggi yaitu antara 20-30 0C, dan  menunjukkan sedikit penurunan suhu dengan bertambahnya kedalaman. Oleh  karena itu perubahan suhu dapat menghasilkan stratifikasi yang mantap sepanjang  tahun, sehingga pada danau yang amat dalam cenderung hanya sebagian yang tercampur (Effendi, 2003; Hadi, 2005).

Adanya penyerapan cahaya oleh air danau akan menyebabkan terjadinya  lapisan air yang mempunyai suhu yang berbeda. Bagian lapisan yang lebih hangat  biasanya berada pada daerah eufotik, sedangkan lapisan yang lebih dingin  biasanya berada di bagian afotik (bagian bawah). Menurut Goldman & Horne  (1989), bila pada danau tersebut tidak mengalami pengadukan oleh angin, maka  kolam air danau terbagi menjadi beberapa lapisan, yaitu: (1) epilimnion, lapisan  yang hangat dengan kerapatan jenis air kurang, (2) hipolimnion, merupakan  lapisan yang lebih dingin dengan kerapatan air kurang, dan (3) metalimnion adalah lapisan yang berada antara lapisan epilimnion dan hipolimnion.

Pada daerah metalimnion terdapat lapisan termoklin yaitu lapisan dimana  suhu akan turun sekurang-kurangnya 1 0C dalam setiap 1 meter (Jorgensen &  Volleweider, 1989). Suhu merupakan controling factor (faktor pengendali) bagi  proses respirasi dan metabolisme biota akuatik yang berlanjut terhadap  pertumbuhan dan proses fisiologi serta siklus reproduksinya (Hutabarat dan  Evans, 1984). Suhu juga dapat mempengaruhi proses dan keseimbangan reaksi kimia yang terjadi dalam sistem air (Stumm and Morgan, 1981).

Total Padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid, TSS) dan Total Padatan Terlarut (Total Dissolved Solid, TDS)

Total padatan tersuspensi adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter >1  μm) yang tertahan pada saringan millipore dengan diameter pori 0,45 μm. TSS  terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik terutama yang  disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang terbawa ke dalam badan air.  Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan dapat menimbulkan kekeruhan  air. Hal ini menyebabkan menurunnya laju fotosintesis fitoplankton, sehingga  produktivitas primer perairan menurun, yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makanan.

Padatan tersuspensi yang tinggi akan mempengaruhi biota di perairan  melalui dua cara. Pertama, menghalangi dan mengurangi penentrasi cahaya ke  dalam badan air, sehingga mengahambat proses fotosintesis oleh fitoplankton dan  tumbuhan air lainnya. Kondisi ini akan mengurangi pasokan oksigen terlarut  dalam badan air. Kedua, secara langsung TDS yang tinggi dapat mengganggu  biota perairan seperti ikan karena tersaring oleh insang. Menurut Fardiaz (1992),  padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi cahaya ke dalam air, sehingga  mempengaruhi regenerasi oksigen secara fotosisntesis dan kekeruhan air juga  semakin meningkat. Ditambahkan oleh Nybakken (1992), peningkatan kandungan  padatan tersuspensi dalam air dapat mengakibatkan penurunan kedalaman eufotik, sehingga kedalaman perairan produktif menjadi turun.

Penentuan padatan tersuspensi sangat berguna dalam analisis perairan  tercemar dan buangan serta dapat digunakan untuk mengevaluasi kekuatan air,  buangan domestik, maupun menentukan efisiensi unit pengolahan. Padatan  tersuspensi mempengaruhi kekeruhan dan kecerahan air. Oleh karena itu  pengendapan dan pembusukan bahan-bahan organik dapat mengurangi nilai guna perairan.

Total padatan terlarut merupakan bahan-bahan terlarut dalam air yang  tidak tersaring dengan kertas saring millipore dengan ukuran pori 0,45 μm.  Padatan ini terdiri dari senyawa-senyawa anorganik dan organik yang terlarut  dalam air, mineral dan garam-garamnya. Penyebab utama terjadinya TDS adalah  bahan anorganik berupa ion-ion yang umum dijumpai di perairan. Sebagai contoh  air buangan sering mengandung molekul sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air, misalnya pada air buangan rumah tangga dan industri pencucian.

Kekeruhan dan Kecerahan

Mahida (1993) mendefinisikan kekeruhan sebagai intensitas kegelapan di  dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Kekeruhan perairan  umumnya disebabkan oleh adanya partikel-partikel suspensi seperti tanah liat,  lumpur, bahan-bahan organik terlarut, bakteri, plankton dan organisme lainnya.  Kekeruhan perairan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan  banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air (Davis dan Cornwell, 1991).

Kekeruhan yang terjadi pada perairan tergenang seperti danau lebih  banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi berupa koloid dan parikel-partikel  halus. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunnya sistem  osmeregulasi seperti pernafasan dan daya lihat organisme akuatik serta dapat  menghambat penetrasi cahaya ke dalam air. Menurut Koesoebiono (1979),  pengaruh kekeruhan yang utama adalah penurunan penetrasi cahaya secara  mencolok, sehingga aktivitas fotosintesis fitoplankton dan alga menurun,  akibatnya produktivitas perairan menjadi turun. Di samping itu Effendi (2003),  menyatakan bahwa tingginya nilai kekeruhan juga dapat menyulitkan usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air.

Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara  visual dengan menggunakan secchi disk (Effendi, 2003). Kecerahan perairan  sangat dipengaruhi oleh keberadaan padatan tersuspensi, zat-zat terlarut, partikelpartikel  dan warna air. Pengaruh kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran  sungai dapat mengakibatkan tingkat kecerahan air danau menjadi rendah, sehingga dapat menurunkan nilai produktivitas perairan (Nybakken, 1992).

Warna Perairan

Pada umumnya warna perairan dikelompokkan menjadi warna  sesungguhnya dan warna tampak. Menurut Effendi (2003), warna sesungguhnya  dari perairan adalah warna yang hanya disebabkan oleh bahan-bahan terlarut,  sedangkan warna tampak adalah warna yang tidak hanya disebabkan oleh bahan  terlarut, tetapi juga oleh bahan tersuspensi. Warna perairan timbul disebabkan  oleh bahan organik dan anorganik, keberadaaan plankton, humus, dan ion-ion  logam seperti besi dan mangan. Oksidasi besi dan mangan mengakibatkan  perairan bewarna kemerahan dan kecoklatan atau kehitaman, sedangkan oksidasi  kalsium karbonat menimbulkan warna kehijauan. Bahan-bahan organik seperti  tanin, lignin dan asam humus dapat menimbulkan warna kecoklatan di perairan.  Perairan yang berwarna dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air,  sehingga proses fotosintesis menjadi terganggu. Untuk kepentingan estetika dan  pariwisata, warna air sebaiknya tidak melebihi 15 unit PtCo, sedangkan untuk  kepentingan air minum warna air yang dianjurkan adalah 5–50 unit PtCo (Santika, 1997; Effendi, 2003).

2.4.2. Parameter Kimia

Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion hidrogen  dalam perairan. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat  keasaman atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah  netral, pH < 7 dikatakan kondisi perairan bersifat asam, sedangkan pH > 7  dikatakan kondisi perairan bersifat basa (Effendi, 2003). Adanya karbonat,  bikarbonat dan hidroksida akan menaikkan kebasaan air, sementara adanya asamasam  mineral bebas dan asam karbonat menaikkan keasaman suatu perairan.  Sejalan dengan pernyataan tersebut Mahida (1993) menyatakan bahwa limbah  buangan industri dan rumah tangga dapat mempengaruhi nilai pH perairan.  Nilai pH dapat mempengaruhi spesiasi senyawa kimia dan toksisitas dari  unsur-unsur renik yang terdapat di perairan, sebagai contoh H2S yang bersifat  toksik banyak ditemui di perairan tercemar dan perairan dengan nilai pH rendah.  Selain itu, pH juga mempengaruhi nilai BOD5, fosfat, nitrogen dan nutrien lainnya (Dojildo and Best, 1992).

Karbondioksida (CO2) Bebas

Karbondioksida bebas merupakan istilah untuk menunjukkan CO2 yang  terlarut di dalam air. CO2 yang terdapat dalam perairan alami merupakan hasil  proses difusi dari atmosfer, air hujan, dekomposisi bahan organik dan hasil  respirasi organisme akuatik. Tingginya kandungan CO2 pada perairan dapat  mengakibatkan terganggunya kehidupan biota perairan. Konsentrasi CO2 bebas  12 mg/l dapat menyebabkan tekanan pada ikan, karena akan menghambat  pernafasan dan pertukaran gas. Kandungan CO2 dalam air yang aman tidak boleh  melebihi 25 mg/l, sedangkan konsentrasi CO2 lebih dari 100 mg/l akan menyebabkan semua organisme akuatik mengalami kematian (Wardoyo, 1979).

Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen, DO)

Oksigen terlarut adalah gas oksigen yang terlarut dalam air. Oksigen  terlarut dalam perairan merupakan faktor penting sebagai pengatur metabolisme  tubuh organisme untuk tumbuh dan berkembang biak. Sumber oksigen terlarut  dalam air berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer, arus atau aliran air  melalui air hujan serta aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton  (Novonty and Olem, 1994). Difusi oksigen atmosfer ke air bisa terjadi secara  langsung pada kondisi air stagnant (diam) atau terjadi karena agitasi atau  pergolakan massa air akibat adanya gelombang atau angin. Difusi oksigen dari  atmosfer ke perairan pada hakekatnya berlangsung relatif lambat, meskipun terjadi pergolakan massa air atau gelombang.

Sebagian besar oksigen pada perairan danau dan waduk merupakan hasil  sampingan aktivitas fotosintesis. Pada proses fotosintesis, karbondioksida  direduksi menjadi karbohidrat dan air mengalami dehidrogenasi menjadi oksigen. 6 CO2 + 6 H2O   →     C6H12O6 + 6 O2

Di perairan danau, oksigen lebih banyak dihasilkan oleh fotosintesis alga yang  banyak terdapat pada zone epilimnion, sedangkan pada perairan tergenang yang  dangkal dan banyak ditumbuhi tanaman air pada zone litoral, keberadaaan oksigen  lebih banyak dihasilkan oleh aktivitas fotosintesis tumbuhan air.

Keberadaan oksigen terlarut di perairan sangat dipengaruhi oleh suhu,  salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen berkurang dengan  semakin meningkatnya suhu, ketinggian, dan berkurangnya tekanan atmosfer  (Jeffries and Mills, 1996). Penyebab utama berkurangnya kadar oksigen terlarut  dalam air disebabkan karena adanya zat pencemar yang dapat mengkonsumsi  oksigen. Zat pencemar tersebut terutama terdiri dari bahan-bahan organik dan   anorganik yang berasal dari barbagai sumber, seperti kotoran (hewan dan  manusia), sampah organik, bahan-bahan buangan dari industri dan rumah tangga.  Menurut Connel and Miller (1995), sebagian besar dari zat pencemar yang  menyebabkan oksigen terlarut berkurang adalah limbah organik. Menurut Lee et  al. (1978), kandungan oksigen terlarut pada suatu perairan dapat digunakan sebagai indikator kualitas perairan, seperti terlihat pada Tabel 4.

Kebutuhan Oksigen Biokimia (Biochemical Oxygen Demand, BOD5) dan Kebutuhan Oksigen Kimia (Chemical Oxygen Demand, COD)

BOD5 merupakan salah satu indikator pencemaran organik pada suatu  perairan. Perairan dengan nilai BOD5 tinggi mengindikasikan bahwa air tersebut  tercemar oleh bahan organik. Bahan organik akan distabilkan secara biologik  dengan melibatkan mikroba melalui sistem oksidasi aerobik dan anaerobik.  Oksidasi aerobik dapat menyebabkan penurunan kandungan oksigen terlarut di  perairan sampai pada tingkat terendah, sehingga kondisi perairan menjadi anaerob  yang dapat mengakibatkan kematian organisme akuatik. Lee et al. (1978)  menyatakan bahwa tingkat pencemaran suatu perairan dapat dinilai berdasarkan nilai BOD5-nya, seperti disajikan pada Tabel 5.

Selain BOD5, kadar bahan organik juga dapat diketahui melalui nilai  COD. Effendi (2003) menggambarkan COD sebagai jumlah total oksigen yang  dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, baik yang dapat  didegradasi secara biologi maupun yang sukar didegradasi menjadi CO2 dan H2O.  Berdasarkan kemampuan oksidasi, penentuan nilai COD dianggap paling baik  dalam menggambarkan keberadaan bahan organik baik yang dapat didekomposisi secara biologis maupun yang tidak.

Senyawa-senyawa Nitrogen

Nitrogen di perairan terdapat dalam bentuk gas N2, NO2, NO3, NH3 dan NH4  serta sejumlah N yang berikatan dalam organik kompleks (Haryadi, 2003).  Sumber nitrogen terbesar berasal dari udara, sekitar 80% dalam bentuk nitrogen  bebas yang masuk melalui sistem fiksasi biologis dalam kondisi aerobik.  Menurut Chester (1990), keberadaan nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. Nitrogen anorganik terdiri atas ion nitrit (NO2-), ion nitrat (NO3 -), ammonia (NH3), ion ammonium (NH4
+) dan molekul N2 yang larut dalam air, sedangkan nitrogen organik berupa protein, asam amino dan urea

akan mengendap dalam air. Effendi (2003) menyatakan bahwa bentuk-bentuk  nitrogen tersebut mengalami transformasi (ada yang melibatkan mikrobiologi dan  ada yang tidak) sebagai bagian dari siklus nitrogen. Transformasi nitrogen secara mikrobiologi mencakup hal-hal sebagai berikut:

  1. Asimilasi nitrogen anorganik (nitrat dan ammonium) oleh tumbuhan dan  mikroorganisme (bakteri autorof) untuk membentuk nitrogen organik misalnya asam amino dan protein.
  2. Fiksasi gas nitrogen menjadi ammonia dan nitrogen organik oleh  mikroorganisme. Fiksasi gas nitrogen secara langsung dapat dilakukan  oleh beberapa jenis alga Cyanophyta (alga biru) dan bakteri.  N2 + 3 H2 === 2 NH3 (ammonia); atau NH4+ (ion ammonium). Ion ammonium yang tidqak berbahaya adalah bentuk nitrogen hasil hidrolisis ammonia yang berlangsung dalam kesetimbangan seperti reaksi  berikut: H2O + NH3 ====  NH4OH ==== NH4+  + OH-  Kondisi pada pH tinggi (suasana basa) akan menyebabkan ion ammonium  menjadi ammonium hidroksida yang tidak berdisosiasi dan bersifat racun (Goldman and Horne, 1989).
  3. Nitrifikasi yaitu oksidasi ammonia menjadi nitrit dan nitrat dapat dilakukan oleh bakteri aerob. Nitrifikasi berjalan secara optimum pada pH  8 dan berkurang secara nyata pada pH < 7.  NH4+  +  3/2 O2  Nitrosomonas  2 H+  +   NO2-  +   H2O.    NO2-  +  ½ O2  Nitrobacter NO3-.  Hasil oksidasi ini sangat reaktif dan mudah sekali larut, sehingga dapat langsung digunakan dalam proses biologis (Hendersen-Seller, 1987).
  4. Amonifikasi nitrogen organik untuk menghasilkan ammonia selama proses  dekomposisi bahan organik. Proses ini banyak dilakukan oleh mikroba dan  jamur yang membutuhkan oksigen untuk mengubah senyawaan organik  menjadi karbondioksida (Hendersend-Seller, 1987). Selain itu, autolisasi  atau pecahnya sel dan eksresi ammonia oleh zooplankton dan ikan juga berperan sebagai pemasok ammonia.
  5. Denitrifikasi yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit (NO2-), dinitrogen oksida  (N2O) dan molekul nitrogen (N2). Proses reduksi nitrat berjalan optimal   pada kondisi anoksik (tak ada oksigen). Dinitrogen oksida (N2O) adalah  produk utama dari denitrifikasi pada perairan dengan kadar oksigen sangat  rendah, sedangkan molekul nitrogen (N2) adalah produk utama dari proses  denitrifikasi pada kondisi anaerob. Proses denitrifikasi akan berkurang  atau lambat pada kondisi pH dan suhu rendah, tetapi akan berjalan  optimum pada suhu rata-rata danau pada umumnya. Kondisi anaerob di  sedimen membuat proses denitrifikasi lebih besar, yaitu dengan laju ratarata 1 mg l-1 hari-1 (Jorgensen, 1980).

Kadar nitrogen yang tinggi dalam perairan dapat merangsang pertumbuhan  algae secara tak terkendali (blooming). Konsentrasi nitrogen organik di perairan  berkisar 0,1 sampai 5 mg/l, sedangkan di perairan tercemar berat kadar nitrogen  bisa mencapai 100 mg/l (Dojlido and Best, 1992). Konsentrasi nitrit yang tinggi  dapat menyebabkan perairan menjadi tercemar. Schmit (1978) dalam Wardoyo  (1989) menyatakan bahwa pencemaran perairan dapat dinilai berdasarkan kandungan nitritnya (Tabel 6).

Ortofosfat

Keberadaan fosfor di perairan adalah sangat penting terutama berfungsi  dalam pembentukan protein dan metabolisme bagi organisme. Fosfor juga  berperan dalam transfer energi di dalam sel misalnya adenosine triphosfate (ATP)  dan adenosine diphosphate (ADP). Ortofosfat yang merupakan produk ionisasi  dari asam ortofosfat adalah bentuk yang paling sederhana di perairan (Boyd, 1982). Reaksi ionisasi ortofosfat ditunjukkan dalam persamaan berikut:

H3PO4         ====        H+ + H2PO4-
H2PO4-       ====        H+ + HPO4 2-
HPO4-          ====         H+ + PO4 3-

Fosfor dalam perairan tawar ataupun air limbah pada umumnya dalam  bentuk fosfat, yaitu ortofosfat, fosfat terkondensasi seperti pirofosfat (P2O7  4-),  metafosfat (P3O9  3-) dan polifosfat (P4O13  6- dan P3O10 5-) serta fosfat yang terikat  secara organik (adenosin monofosfat). Senyawaan ini berada sebagai larutan,  partikel atau detritus atau berada di dalam tubuh organisme akuatik (Faust & Osman, 1981; APHA AWWA, 1995).

Ortofosfat merupakan bentuk fosfat yang dapat dimanfaatkan secara  langsung oleh tumbuhan akuatik, sedangkan polifosfat harus mengalami hidrolisis  membentuk ortofosfat terlebih dahulu sebelum dapat dimanfaatkan sebagai  sumber fosfor. Menurut Perkins (1974), kandungan fosfat yang terdapat di  perairan umumnya tidak lebih dari 0,1 mg/l, kecuali pada perairan yang menerima  limbah dari rumah tangga dan industri tertentu, serta dari daerah pertanian yang  mendapat pemupukan fosfat. Oleh karena itu, perairan yang mengandung kadar  fosfat yang cukup tinggi melebihi kebutuhan normal organisme akuatik akan menyebabkan terjadinya eutrofikasi.

Pestisida

Dampak negatif dari penggunaan pestisida dalam bidang pertanian adalah  berupa timbulnya pencemaran terhadap lingkungan, baik lingkungan perairan,  tanah dan udara maupun mahluk hidup yang bukan sasaran. Pestisida masuk ke  badan air melalui banyak jalur, misalnya limpasan dari daerah pertanian, aliran  dari persawahan, buangan limbah domestik, limbah perkotaan dan industri. Dalam  badan air, proporsi utama pestisida adalah terserap pada partikel tersuspensi dan  partikel yang diam atau terpisah ke dalam subtrat organik. Pestisida  memperlihatkan afinitas yang kuat untuk komponen lipid dan bahan organik.  Jumlah pestisida yang tercakup tergantung pada karakteristik kimiawi dan kelarutan pestisida serta karakteristik sedimen (Connell dan Miller, 1995).

Pestisida dalam air dan tanah mengalami degradasi baik secara fisik  maupun biologis. Jenis-jenis pestisida persisten praktis tidak mengalami degradasi  dalam air dan tanah, tetapi akan terakumulasi. Di dalam badan air pestisida dapat  mengakibatkan pemekatan biologis terutama pestisida yang persisten. Edward  (1975) dan Brown (1978) menyatakan bahwa pada saat pestisida memasuki suatu  perairan, pestisida tersebut akan segera diserap oleh plankton, hewan-hewan vertebrata akuatik, tanaman akuatik, ikan dan sebagian mengendap di sedimen.

Kadar pestisida yang tinggi dapat menimbulkan kematian organisme  akuatik secara langsung (keracunan akut) yaitu kontak langsung atau melalui  jasad lainnya seperti plankton, perifiton dan bentos, sedangkan kadar rendah  dalam badan air kemungkinan besar menyebabkan kematian organisme dalam  waktu yang lama yaitu akibat akumulasi pestisida dalam organ tubuhnya  (Soemarwoto et al., 1979). Pada umumnya pestisida memperlihatkan sifat lebih  toksik terhadap zooplankton dan bentos dengan tingkat toksisitasnya bervariasi   sangat luas, tergantung jenis pestisida dan tingkat stadia komunitas yang bersangkutan.

2.4.3. Parameter Mikrobiologi

Lingkungan perairan mudah tercemar oleh mikroorganisme patogen  (berbahaya) yang masuk dari berbagai sumber seperti permukiman, pertanian dan  peternakan. Bakteri yang umum digunakan sebagai indikator tercemarnya suatu  badan air adalah bakteri yang tergolong Escherichia coli, yang merupakan salah  satu bakteri yang tergolong koliform dan hidup normal di dalam kotoran manusia  dan hewan (Effendi, 2003). Keberadaan bakteri ini dapat digunakan sebagai indikator dalam menilai tingkat higienisitas suatu perairan.

Pencemaran bakteri tinja (feses) di perairan sangat tidak dikehendaki, baik  ditinjau dari segi estetika, kebersihan, sanitasi maupun kemungkinan terjadinya  infeksi berbahaya. Mikroba patogen asal tinja yang sering menyebabkan penyakit  disentri yang ditularkan melalui air mencakup salmonella, shigella dan coliform (Lay, 1994).

Bakteri coliform total merupakan semua jenis bakteri aerobik, anaerobik  fakultatif, dan rod-shape (bakteri batang) yang dapat memfermentasi laktosa dan  menghasilkan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35 0C. Bakteri coliform total  terdiri dari Escherichia coli, Citrobacter, Klebsiella, dan Enterobacter. Fecal  coliform adalah anggota dari coliform yang mampu memfermentasi laktosa pada  suhu 44,5 0C dan merupakan bagian yang paling dominan (97%) pada tinja  manusia dan hewan (Effendi, 2003). Alaerts dan Santika (1994) menyatakan  bahwa Fecal coliform merupakan bakteri petunjuk adanya pencemaran tinja yang  paling efisien, karena Fecal coliform hanya dan selalu terdapat dalam tinja manusia.

2.5. Dampak Pemanfaatan Lahan terhadap Kualitas Perairan

Keberlangsungan fungsi suatu danau sangat tergantung pada kondisi atau  keadaan lahan di sekitar daerah tangkapan air (DTA). Berbagai penggunaan lahan  di DTA, seperti untuk pertanian, perkebunan, persawahan dan permukiman.  Semua aktivitas dari kegiatan tersebut dapat menghasilkan berbagai bahan  pencemar atau limbah yang akan mengalir ke perairan danau. Hal ini dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan perairan danau.

Peningkatan jumlah penduduk di sekitar danau secara langsung akan  meningkatkan kebutuhan terhadap lahan, baik untuk permukiman, pertanian,  sarana dan prasarana lainnya dalam menunjang kehidupan. Hal ini secara  langsung maupun tidak langsung akan memberikan tekanan terhadap perairan  danau. Demikian juga penggunaan pupuk dan pestisida dalam pengolahan hasil  pertanian akan berdampak terhadap kualitas perairan danau. Residu yang berasal  dari pelindian pupuk, pestisida dan limbah cair dari agroindustri akan terbawa  oleh aliran air ke daerah hilir yang akan terakumulasi di perairan danau, sehingga dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas perairan danau.

Limbah yang masuk ke perairan danau secara terus-menerus, terutama  limbah organik dapat menyebabkan terjadinya pengkayaan terhadap hara yang ada  di badan air, sehingga dapat menghasilkan suksesi perairan yang disebut  eutrofikasi. Keadaan seperti ini dapat menurunkan kualitas perairan danau,  sehingga dapat membahayakan bagi kehidupan organisme perairan danau.  Apabila danau selalu dijejali oleh buangan-buangan dari hulu yang mengandung  bahan pencemar, akan berdampak negatif terhadap perairan danau seperti  meningkatnya nilai BOD5, COD, nitrogen, fosfat, senyawa-senyawa beracun, dan  TSS (Manik, 2003). Hal ini akan menyebabkan kualitas perairan danau menjadi menurun, sehingga perairan danau tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

2.6. Dampak Sedimentasi terhadap Kualitas Perairan

Kegiatan pembukaan lahan di bagian hulu dan DTA untuk pertanian,  pertambangan dan pengembangan permukiman merupakan sumber sedimen dan  pencemaran perairan danau. Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan  danau dapat meningkatkan kekeruhan air. Hal ini menyebabkan menurunnya laju  fotosintesis fitoplankton, sehingga produktivitas primer perairan menjadi turun,  yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makan (Haryani, 2001).

Sedimen yang dihasilkan oleh proses erosi akan terbawa oleh aliran dan  diendapkan pada suatu tempat yang kecepatannya melambat atau terhenti. Proses  ini dikenal dengan sedimentasi atau pengendapan. Asdak (2002) menyatakan  bahwa sedimen hasil erosi terjadi sebagai akibat proses pengolahan tanah yang  tidak memenuhi kaidah-kaidah konservasi pada daerah tangkapan air di bagian  hulu. Kandungan sedimen pada hampir semua sungai meningkat terus karena  erosi dari tanah pertanian, kehutanan, konstruksi dan pertambangan. Hasil  sedimen (sediment yield) adalah besarnya sedimen yang berasal dari erosi yang  terjadi di daerah tangkapan air yang dapat diukur pada periode waktu dan tempat  tertentu. Hal ini biasanya diperoleh dari pengukuran padatan tersuspensi di dalam perairan danau.

Berdasarkan pada jenis dan ukuran partikel-partikel tanah serta komposisi  bahan, sedimen dapat dibagi atas beberapa klasifikasi yaitu gravels (kerikil),  medium sand (pasir), silt (lumpur), clay (liat) dan dissolved material (bahan  terlarut) (Asdak, 2002; Al-Masri et al., 2004). Tabel 7 memperlihatkan klasifikasi sedimen menurut Asdak (2002).

Ukuran partikel memiliki hubungan dengan kandungan bahan organik  sedimen. Sedimen dengan ukuran partikel halus memiliki kandungan bahan  organik yang lebih tinggi dibandingkan dengan sedimen dengan ukuran partikel  yang lebih kasar. Hal ini berhubungan dengan kondisi lingkungan yang tenang,  sehingga memungkinkan pengendapan sedimen lumpur yang diikuti oleh akumulasi bahan organik ke dasar perairan (Wood, 1997).

Pada sedimen kasar, kandungan bahan organik biasanya rendah karena  partikel yang halus tidak mengendap. Selain itu, tingginya kadar bahan organik  pada sedimen dengan ukuran butir lebih halus disebabkan oleh adanya gaya  kohesi (tarik menarik) antara partikel sedimen dengan partikel mineral,  pengikatan oleh partikel organik dan pengikatan oleh sekresi lendir organisme (Wood, 1997).

2.7. Pengendalian Pencemaran Perairan Danau

Pencemaran perairan terbuka seperti danau oleh limbah domestik maupun  limbah rumah tangga merupakan masalah yang serius yang dapat mengancam  keberadaan sumberdaya perairan dan kerusakan lingkungan. Oleh sebab itu  diperlukan upaya untuk mengendalikan, sehingga dapat meminimalkan dampak  tersebut. Pengendalian pencemaran perairan diartikan sebagai upaya pencegahan  dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan peruntukannya.

Brahmana et al. (2002) menyatakan upaya–upaya dalam pengendalian  pencemaran dalam hal mengurangi beban pencemar yang masuk ke perairan  sungai dan danau dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, yang antara lain :  (1) pendekatan teknologi yaitu dengan membangun IPAL untuk pengendalian  limbah penduduk dan limbah industri, (2) pendekatan hukum, yaitu dengan  penerapan perundang-undangan yang berlaku secara tegas, dan (3) pendekatan  sosial ekonomi dan budaya, yaitu dengan penerapan secara top down dan bottom up (komunikasi dua arah).

2.8. Pendekatan Sistem

System approach (pendekatan sistem) diartikan sebagai suatu metodologi  penyelesaian masalah yang dimulai secara tentatif mendefinisikan atau  merumuskan tujuan dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif  dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks. Oleh karena  itu dalam pendekatan sistem selalu mencari keterpaduan antar bagian melalui  pemahaman yang utuh. Pada pendekatan sistem menurut Eriyatno (2003),  umumnya ditandai oleh dua hal yaitu: (1) mencari semua faktor yang ada dalam  mendapatkan solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah, dan (2) dibuat suatu model kuantitatif untuk membantu keputusan secara rasional.

Tiga pola dasar yang menjadi pegangan dalam penyelesaian permasalahan  dengan pendekatan sistem, yaitu: 1) sibernetik (goal oriented), artinya dalam  penyelesaian permasalahan berorientasi pada tujuan. Tujuan ini diperoleh melalui  need analysis (analisis kebutuhan); 2) Holistik yaitu cara pandang yang utuh  terhadap totalitas sistem, atau menyelesaikan permasalahan secara utuh,  menyeluruh dan terpadu; dan 3) Efektif, artinya lebih dipentingkan hasil guna  yang operasional serta dapat dilaksanakan, bukan sekedar pendalaman teoritis.  Dengan demikian, berbagai metodologi dikembangkan sebagai karakter dalam  pendekatan sistem, sehingga beragam metode yang ada di berbagai disiplin ilmu lainnya dapat digunakan sebagai alat bantu oleh ahli sistem.

Menurut Manetsch dan Park (1977), suatu pendekatan sistem akan dapat  berjalan dengan baik jika terpenuhi kondisi-kondisi berikut: 1) tujuan sistem  didefinisikan dengan baik dan dapat dikenali jika tidak dapat dikuantifikasikan, 2)  prosedur pembuatan keputusan dalam sistem riil adalah tersentralisasi atau cukup  jelas batasannya, dan 3) dalam perencanaan jangka panjang memungkinkan untuk  dilakukan. Sedangkan menurut Ford (1999), mendefinisikan sistem sebagai suatu  kombinasi dari dua atau lebih elemen yang saling terkait dan memiliki ketergantungan antar komponen.

Lebih lanjut Eriyatno (2003) menyatakan bahwa untuk menyelesaikan  permasalahan yang kompleks dengan pendekatan sistem melalui beberapa  tahapan, yaitu: (1) analisis kebutuhan, bertujuan untuk mengidentifikasi  kebutuhan dari semua pelaku dalam sistem, (2) formulasi permasalahan, yang  merupakan kombinasi dari semua permasalahan yang ada dalam sistem, (3)  identifikasi sistem, bertujuan untuk menentukan variabel-variabel sistem dalam  rangka memenuhi kebutuhan semua pelaku dalam sistem, (4) pemodelan abstrak,  pada tahap ini mencakup suatu proses interaktif antara analisis sistem dengan  pembuat keputusan, yang menggunakan model untuk mengeksplorasi dampak  dari berbagai alternatif dan variabel keputusan terhadap berbagai kriteria sistem,  (5) implementasi, tujuan utamanya adalah untuk memberikan wujud fisik dari sistem yang diinginkan, dan (6) operasi, pada tahap ini akan dilakukan validasi  sistem. Pada tahap ini terjadi modifikasi-modifikasi tambahan karena cepatnya  perubahan lingkungan dimana sistem tersebut berfungsi. Menurut Pramudya  (1989), pendekatan sistem dilakukan dengan tahapan kerja yang sistematis yang  dimulai dari analisis kebutuhan hingga tahap evaluasi, seperti disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Tahapan kerja dalam pendekatan sistem (Pramudya, 1989).

Analisis sistem merupakan kajian mengenai struktur sistem yang bertujuan  (1) mengidentifikasi unsur-unsur penyususn sistem atau sub-sistem, (2)  memahami proses-proses yang terjadi dalam sistem, dan (3) memprediksi  kemungkinan-kemungkinan keluaran sistem yang terjadi sebagi akibat adanya  perubahan dalam sistem. Dengan demikian analisis sistem dapat diartikan sebagai  suatu metode pendekatan masalah atau metode ilmiah yang merupakan dasar  dalam pemecahan masalah dalam pengelolaan sistem tersebut. Menurut Pramudya  (1989), analisis sistem merupakan studi mengenai sistem atau organisasi dengan  menggunakan azas-azas metode ilmiah, sehingga dapat dibentuk konsepsi dan  model yang dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan untuk mengadakan  perubahan-perubahan struktur dan metode serta menentukan kebijakan, stategi, dan taktik.

Winardi (1989) menyatakan bahwa sistem harus dipandang secara holistik  (keseluruhan) dan akan bersifat sebagai goal seeking (pengejar sasaran), sehingga  terjadi sebuah keseimbangan untuk pencapaian tujuan. Suatu sistem mempunyai  input (masukan) yang akan berproses untuk menghasilkan output (keluaran).  Pada suatu sistem terdapat umpan balik yang berfungsi sebagai pengatur  komponen-komponen sistem yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan.  Sistem yang lebih besar dapat terdiri atas beberapa sub-sistem (sistem kecil) yang akan membentuk suatu hirarki.

Perubahan pada satu komponen dari suatu sistem akan mempengaruhi  komponen lain dan biasanya akan menghasilkan umpan balik pada periode yang  sama atau pada periode berikutnya. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh  faktor internal (dari dalam sistem) maupun faktor eksternal (dari luar sistem).  Sistem dinamis merupakan sistem yang memiliki variabel yang dapat berubah  sepanjang waktu sebagai akibat dari perubahan input dan interaksi antar elemen-elemen  sistem. Dengan demikian nilai output sangat tergantung pada nilai sebelumnya dari variabel input (Djojomartono, 2000).

2.9. Modeling (Pemodelan)

Modeling (pemodelan) diartikan sebagai suatu gugus pembuatan model  (Eriyatno, 2003). Pramudya (1989) mendefinisikan model adalah suatu abstraksi  dari keadaan sesungguhnya atau merupakan pernyataan sistem nyata untuk  memudahkan pengkajian suatu sistem. Sejalan dengan pernyataan tersebut  Muahammadi et al. (2001) menyatakan bahwa model adalah suatu bentuk yang  dibuat untuk menirukan suatu gejala atau proses. Dalam pelaksanaan pendekatan sistem, pengembangan model merupakan hal yang sangat penting yang akan  menentukan keberhasilan dalam mempelajari sistem secara keseluruhan.  Disamping itu, pengembangan model diperlukan guna menemukan peubahpeubah  penting dan tepat serta hubungan antar peubah dalam sistem yang dikaji.  Menurut Winardi (1989), model adalah suatu gambaran abstrak dari sistem dunia  nyata dalam hal-hal tertentu. Model tersebut memperlihatkan hubungan langsung  maupun tidak langsung serta kaitan timbal balik dalam istilah sebab akibat. Suatu  model yang baik akan menggambarkan dengan baik segi tertentu yang penting dari perilaku dunia nyata .

Dalam membangun suatu model harus dimulai dari konsep yang paling  sederhana dengan cara mendefinisikan permasalahan secara hati-hati serta  menggunakan analisis sensitivitas untuk membantu menentukan rincian model.  Selanjutnya untuk penyempurnaan dilakukan dengan menambahkan variabel  secara gradual sehingga diperoleh model yang logis dan dapat merepresentasikan keadaan yang sebenarnya.

Model yang dibangun haruslah merupakan gambaran yang sahih dari  sistem yang nyata, realistik dan informatif. Model yang tidak sahih akan memberikan hasil simulasi yang sangat menyimpang dari kenyataan yang ada,   sehingga akan memberikan informasi yang tidak tepat. Model yang dianggap baik  apabila model dapat menggambarkan semua hal yang penting dari dunia nyata  dalam sistem tersebut. Lebih lanjut Pramudya (1989) menyatakan bahwa ada  empat keuntungan penggunaan model dalam penelitian dengan menggunakan  pendekatan sistem yaitu: (1) memungkinkan melakukan penelitian yang bersifat  lintas sektoral dengan ruang lingkup yang luas, (2) dapat melakukan  eksperimentasi terhadap sistem tanpa mengganggu (memberikan perlakuan)  tertentu terhadap sistem, (3) mampu menentukan tujuan aktivitas pengelolaan dan  perbaikan terhadap sistem yang diteliti, dan (4) dapat dipakai untuk menduga (meramal) perilaku dan keadaan sistem pada masa yang akan datang.

Penggunaan model sistem dinamis merupakan salah satu cara untuk  menyelesaikan masalah yang kompleks dalam pendekatan sistem (Winardi, 1989;  Muhammadi et al., 2001). Langkah pertama dalam menyusun model sistem  dinamis adalah menentukan struktur model yang akan memberikan bentuk dan  sekaligus memberi ciri yang mempengaruhi perilaku sistem. Perilaku sistem  tersebut dibentuk oleh kombinasi perilaku simpal causal-loop (sebab-akibat) yang  menyusun struktur model. Semua perilaku model dapat disederhanakan menjadi  struktur dasar yaitu mekanisme dari masukan, proses, keluaran, dan umpan balik.  Mekanisme tersebut akan berkerja menurut perubahan waktu atau bersifat dinamis  yang dapat diamati perilakunya dalam bentuk unjuk kerja (level) dari suatu model sistem dinamis.

Menurut Muahammadi et al. (2001) dan Eriyatno (2003), model dikelompokkan
menjadi 3 jenis yaitu:

  1. model ikonik (model fisik) yaitu model yang mempunyai bentuk fisik  sama dengan barang yang ditirukan, meskipun skalanya dapat diperbesar atau diperkecil,
  2. model analog (model diagramatik) yaitu model suatu proses atau sifat,  model ini sifatnya lebih sederhana dan sering dipakai pada situasi khusus, seperti pada proses pengendalian mutu industri, dan
  3. model simbolik (model matematik) yaitu model yang menggunakan simbol-simbol matematika.

Untuk memahami struktur dan perilaku sistem, yang akan membantu  dalam pembentukan model dinamik kuantitatif digunakan causal-loop diagram  (diagram lingkar sebab-akibat) dan flow chart diagram (diagram alir). Pada sistem  dinamis, diagram sebab akibat ini akan digunakan sebagai dasar untuk membuat  diagram alir yang akan disimulasikan dengan menggunakan program powersim.  Program ini dapat memberikan gambaran tentang perilaku sistem, sehingga  dengan simulasi dapat ditentukan alternatif terbaik dari sistem yang dibangun.  Selanjutnya dilakukan analisis untuk mendapatkan kesimpulan dan kebijakan apa  yang harus dilakukan untuk mengantisipasi atau mengubah perilaku sistem yang terjadi.

Kinerja pada model dinamis ditentukan oleh kekhususan dan struktur dari  model yang dibangun. Melalui simulasi akan didapatkan perilaku dari suatu gejala  atau proses yang terjadi dalam sistem yang dikaji, sehingga dapat dilakukan  analisis dan peramalan perilaku dari gejala atau proses tersebut di masa depan.  Empat tahapan dalam melakukan simulasi model (Muhammadi et al., 2001), yaitu:

(a) Penyusunan konsep, pada tahap ini dilakukan identifikasi unsur-unsur yang  berperan dalam menimbulkan gejala atau proses. Dari unsur-unsur dan  keterkaitannya dapat disusun gagasan atau konsep mengenai gejala (proses) yang akan disimulasikan,

(b) Pembuatan model, gagasan atau konsep yang dihasilkan pada tahap pertama  selanjutnya dirumuskan sebagai model yang berbentuk uraian, gambar atau rumus,

(c) Simulasi model; pada model kuantitatif, simulasi dilakukan dengan  memasukkan data ke dalam model, sedangkan pada model kualitatif, simulasi  dilakukan dengan menelusuri dan melakukan analisis hubungan sebab akibat  antar variabel dengan memasukkan data atau informasi yang dikumpulkan untuk memahami perilaku gejala atau proses model.

(d) Validasi hasil simulasi; validasi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian  antara hasil simulasi dengan gejala atau proses yang ditirukan. Model dapat  dinyatakan baik jika kesalahan atau simpangan hasil simulasi terhadap gejala atau proses yang terjadi di dunia nyata relatif kecil.

2.10. Validitas dan Sensitivitas Model

Model yang baik adalah model yang dapat merepresentasikan keadaan  yang sebenarnya. Untuk menguji kebenaran suatu model dengan kondisi oyektif  dilakukan uji validasi (Muhammadi et al., 2001). Ada dua jenis validasi dalam  model, yakni validasi struktur dan validasi kinerja. Validasi struktur dilakukan  untuk memperoleh keyakinan konstruksi model valid secara ilmiah, sedangkan  validitas kinerja untuk memperoleh keyakinan sejauhmana model sesuai dengan kinerja sistem nyata atau sesuai dengan data empirik.

Validitas struktur meliputi dua pengujian, yaitu validitas konstruksi dan  validitas kestabilan. Validitas konstruksi melihat apakah konstruksi model yang  dikembangkan sesuai dengan teori. Uji validitas konstruksi ini sifatnya abstrak,  tetapi konstruksi model yang benar secara ilmiah berdasarkan teori yang ada akan  terlihat dari konsistensi model yang dibangun (Muhammadi et al., 2001). Menurut  Barlas (1996), validitas kestabilan merupakan fungsi dari waktu. Model yang  stabil akan memberikan output yang memiliki pola yang hampir sama antara model agregat dengan model yang lebih kecil (disagregasi).

Validitas kinerja atau output model bertujuan untuk memperoleh  keyakinan sejauhmana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem  nyata, sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah yang taat fakta. Caranya  adalah memvalidasi kinerja model dengan data empirik, untuk melihat  sejauhmana perilaku output model sesuai dengan perilaku data empirik. Hal ini  dapat dilakukan dengan cara: (1) membandingkan pola output model dengan data  empirik, dan (2) melakukan pengujian secara statistik untuk melihat  penyimpangan antara output simulasi dengan data empirik dengan beberapa cara,  antara lain AME (absolute mean error), AVE (absolute variation error) dan UTheil’s  (Barlas, 1996; Muahammadi et al., 2001). Disamping itu juga digunakan  uji DW (Durbin Watson) dan KF (Kalman Filter) untuk menjelaskan kesesuaian antara hasil simulasi terhadap data aktual.

Untuk mengetahui kekuatan (robustness) model dalam dimensi waktu  dilakukan uji sensitivitas. Uji ini dilakukan untuk mengetahui respon model  terhadap stimulus. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui alternatif tindakan  baik untuk menjelaskan sensitivitas parameter, variabel dan hubungan antar  variabel dalam model. Hasil uji sensitivitas dalam bentuk perubahan perilaku atau  kinerja model, digunakan untuk menganalisis efek intervensi terhadap model.

Uji sensitivitas model dapat dilakukan dengan dua macam (Muhammadi et al.  2001): (1) intervensi fungsional, yakni dengan memberikan fungsi-fungsi khusus  terhadap model dengan menggunakan fasilitas, antara lain: step, random, pulse,  ramp dan forecast, trend, if, sinus dan setengah sinus, dan (2) intervensi  struktural, yakni dengan mempengaruhi hubungan antar unsur atau struktur model  dengan cara mengubah struktur modelnya. Sensitivitas model mengungkapkan  hasil-hasil intervensi terhadap unsur dan struktur sistem. Disamping itu, analisis  sensitivitas model juga berfungsi dalam menemukan alternatif tindakan atau  kebijakan, baik untuk mengakselerasi kemungkinan pencapaian hasil positif maupun untuk mengantisipasi kemungkinan dampak negatif.

2.11. Persepsi Masyarakat dalam Pengendalian pencemaran

Konsep persepsi pada dasarnya merupakan suatu konsep dan kajian  psikologi. Persepsi merupakan pandangan individu terhadap suatu objek. Akibat  adanya stimulus, individu memberikan reaksi (respon) berupa penerimaan atau  penolakan terhadap stimulus tersebut (Langevelt, 1996 dalam Harihanto, 2001).  Individu tidak hanya merespon suatu objek, tetapi juga memberi makna situasi tersebut menurut kepentingannya.

Proses terbentuknya persepsi terjadi sebagai hasil proses penerimaan  informasi melalui penarikan kesimpulan atau pembentukan arti yang dikaitkan  dengan kesan atau ingatan untuk kejadian yang sama dimasa lalu. Kunci  pemahaman terhadap persepsi masyarakat terhadap suatu objek, terletak pada  pengenalan dan penafsiran unik terhadap objek pada suatu situasi tertentu dan  bukan merupakan suatu pencatatan yang sebenarnya dari situasi tersebut.  Informasi dan situasi dapat berfungsi sebagai stimulus bagi terbentuknya suatu  persepsi, walau informasi tentang lingkungan itu juga bisa berupa suatu situasi  tertentu, tidak harus berupa rangkaian kalimat atau isyarat ( Thoha, 1988). Proses  kognitif yang bisa terjadi pada setiap orang dalam memahami lingkungannya  dapat diperoleh melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan maupun penciuman.

Ada tiga rangkaian proses yang membentuk persepsi, yaitu seleksi,  organisasi dan interpretasi. Stimulus yang diterima mula-mula diseleksi, hanya  stimulus yang sesuai dengan kebutuhan atau menarik perhatian saja kemudian  diubah menjadi kesadaran. Pada tahap organisasi, stimulus yang diterima  seseorang disusun secara sederhana dan terpadu, sedangkan pada tahap interpretasi yakni dilakukan penilaian dan pengambilan keputusan.

Seseorang akan menangkap berbagai gejala atau rangsangan di luar dirinya  melalui indra yang dimilikinya dan selanjutnya akan memberikan interpretasi  terhadap rangsangan tersebut. Pemaknaan individu terhadap suatu objek kemudian  akan membentuk struktur kognisi di dalam dirinya. Data yang diperoleh terhadap  suatu objek tertentu akan masuk ke dalam kognisi mengikuti prinsip organisasi  kognitif yang sama dan proses ini tidak hanya berkaitan dengan penglihatan tetapi juga melalui semua indra manusia. Hasil interpretasi tersebut merupakan

bagaimana pengertian atau pemahaman seseorang terhadap suatu objek.  Persepsi masyarakat terhadap lingkungan diperlukan untuk mengoptimalkan  kualitas lingkungan sesuai dengan persepsi masyarakat yang menggunakannya.  Persepsi mengenai lingkungan yang mencakup harapan, aspirasi ataupun  keinginan terhadap suatu kualitas lingkungan tertentu sebaiknya dipahami secara  subjektif, yakni dikaitkan dengan aspek-aspek psikologis dan sosio kultur  masyarakat. Dengan demikian, kualitas lingkungan harus didefinisikan secara  umum sebagai lingkungan yang memenuhi preferensi imajinasi ideal seseorang atau sekelompok orang.

Persepsi bukanlah sesuatu hal yang memiliki sifat statis, tetapi terbuka  terhadap berbagai informasi yang muncul dari lingkungan. Krech (1985)  meyatakan bahwa perubahan persepsi dapat terjadi akibat berkembangnya  pemahaman terhadap lingkungan ataupun akibat terjadinya perubahan kebutuhan  nilai-nilai yang dianut, sikap dan sebagainya. Dengan demikian persepsi masyarakat yang ada di sekitar perairan danau akan dipengaruhi oleh karakteristik
personalnya, seperti umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan lokasi tempat  tinggalnya (lingkungan). Pada gilirannya persepsi masyarakat tersebut akan  mempengaruhi sikap dan perilakunya terhadap pemanfaatan dan pelestarian  sumberdaya alam perairan danau. Khusus dalam penelitian ini, pengertian  persepsi masyarakat sekitar danau dibatasi sebagai tanggapan mereka tentang  pengendalian pencemaran perairan Danau Maninjau dalam hal pencegahan, penanggulangan dan partisipasi.

One Comment on “2 Tinjauan Pustaka”

  1. alim_89 Says:

    So, bgmn nasib danau limboto sekarang?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: