Muhammad Agus Umar

Analisis Kandungan Fosfat Pada Air Danau Limboto Secara Spektrofotometri UV-VIS

Sumber: http://www.scribd.com/doc/30512793/Analisis-Kandungan-Fosfat-Pada-Air-Danau-Limboto-Secara-Spektrofotometri-UV-VIS

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pemikiran

Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan berbagai masalah mulai dari masalah sosial dan ekonomi seperti masalah dalam keluarga, lingkungan tetangga atau masyarakat, masalah pengangguran, kemiskinan, kesehatan dan sebagainya. Selaian itu juga masalah yang bersifat fisik yang merupakan lingkungan hidup manusia. Masalah-masalah yang berhubungan dengan lingkungan fisik saat ini antara lain adalah pencemaran lingkungan dengan segala dampak yang ditimbulkannya.

Pada saat ini pencemaran berlangsung dimana-mana dengan laju yang begitu cepat yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kecenderungan pencemaran akhir-akhir ini mengarah pada dua hal yaitu: (1) ke arah pembuangan senyawa-senyawa kimia tertentu yang semakin meningkat, terutama pembakaran minyak bumi secara nyata saat ini sudah merubah sistem alamiah pada skala global, dan (2) ke arah meningkatnya penggunaan bahan berbahaya beracun (B3) oleh berbagai kegiatan industri dengan pembuangan limbahnya ke lingkungan, (Rukaesih; 2004).

Air merupakan salah satu bahan kimia di alam yang sangat penting dan sangat diperlukan dalam kehidupan pada umumnya dan bagi mahluk hidup khususnya. Air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah air yang bersih dan sehat, yaitu air yang tidak mengandung bakteri bibit penyakit, bahan-bahan kimia yang beracun.

Pencemaran air akan terjadi apabila kegiatan manusia telah mengubah kualitas air, baik sifat fisis, sifat kimia, dan sifat biologis. Pencemaran air ini terjadi antara lain karena terbuangnya sampah atau hasil sampingan lainnya ke dalam laut, sungai maupun danau, atau adanya bahan-bahan beracun yang terdapat dalam tanah kemudian terbawa aliran air, (Sudja; 1986).

Danau Limboto merupakan salah satu sumber daya alam yang ada di Kabupaten Gorontalo yang melintasi beberapa kecamatan yaitu; Kecamatan Limboto, Telaga Biru, Telaga, Bongomeme, Batudaa dan Kecamatan Kota Barat di Kota Gorontalo. Danau ini memiliki fungsi ekologis dan ekonomis pada wilayah dan masyarakat di sekitar. Dari segi ekologis, danau Limboto berfungsi sebagai penampung air yang bermuara ke danau sehingga berpengaruh pada sistem hidrologi. Dari segi ekonomis, danau Limboto berfungsi sebagai sumber pendapatan masyarakat, terutama pada sektor pertanian dan perikanan.

Fakta yang ada sekarang menunjukan bahwa ekosistem danau Limboto telah rusak. Kerusakan ekosistem danau tersebut dapat diamati dari keadaan fisik dan biologis danau. Keadaan fisik menunjukan bahwa setiap tahun telah terjadi sedimentasi 46,66 cm dan peneyempitan danau yang berkisar antara 66,66 ha per tahun. Sedangkan keadaan biologis dapat dilihat dengan adanya pertumbuhan ganggang, eceng gondok serta tumbuhan air berukuran mikro yang berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat berlebihnya fosfat (Pomalingo; 1966) dalam Ismail, (2006).

Sebuah percobaan berskala besar yang pernah dilakukan pada tahun 1968 terhadap Lake Erie di Amerika Serikat membuktikan bahwa bagian danau yang hanya ditambahkan karbon dan Nitrogen tidak mengalami fenomena alga bloom (meningkatnya pertumbuhan alga) selama delapan tahun pengamatan. Sebaliknya, bagian danau lainnya yang ditambahkan fosfor (dalam bentuk senyawa fosfat)-disamping karbon dan nitrogen ternyata mengalami alga bloom. (Saefumillah; 2002). Menyadari hal tersebut, dapat diduga bahwa kemungkinan besar penyebab terganggunya ekosistem danau Limboto seperti pertumbuhan eceng gondok dan tumbuhan air lainnya karena adanya senyawa fosfat, baik yang terakumulasi dalam sedimen maupun yang terlarut dalam air danau Limboto.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka peneliti ingin mengetahui kandungan fosfat pada air Danau Limboto melalui suatu penelitian dengan judul “Analisis Kandungan Fosfat Pada Air Danau Limboto Secara Spektrofotometri UV-VIS”

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Berapakah kandungan fosfat pada air danau Limboto”

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan fosfat pada air danau Limboto.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi manfaat dalam penelitian ini :

  1. Sebagai bahan informasi kepada masyarakat mengenai kandungan senyawa fosfat pada air danau Limboto.
  2. Untuk mengembangkan pengetahuan dan wawasan penulis dalam menganalisis kandungan fosfat pada air danau Limboto secara spektrofotometri UV- VIS.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Tentang Air

Air merupakan suatu material yang memegang peranan penting. Dengan kata lain air tidak dapat dipisahkan dari setiap kehidupan mahluk hidup. Tidak ada satupun mahluk hidup didunia ini yang tidak membutuhkan air. Sel hidup misalnya, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan, sebagian besar tersusun oleh air, yaitu lebih dari 75% isi sel dari tumbuh-tumbuhan dan lebih dari 67% isi sel hewan tersusun oleh air. (Wardana, 1995).

Setiap mahluk hidup memanfaatkan air tergantung kepada seberapa besar peranaan tersebut dalam menunjang kehidupannya. Oleh manusia air dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas hidup seperti untuk keperluan hidup sehari-hari, pertanian, industri dan kebutuhan lainnya.

Sejalan dengan kemajuan dan peningkatan taraf kehidupan, tidak bisa dihindari lagi adanya peningkatan jumlah kebutuhan air khususnya untuk keperluan rumah tangga, sehingga berbagai cara dan usaha yang telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut antara lain :

  1. Mencari sumber-sumber air baru dari tanah, danau, air sungai dan sebagainya
  2. Mengolah dan menawarkan air laut
  3. Mengolah dan memurnikan kembali air kotor yang ada di sungai yang umumnya tercemar.

Kehadiran zat-zat asing pada bahan air tidak dapat dielakkan lagi. Namun kehadiran zat-zat tersebut ada yang dilarang sama sekali dan ada pula yang dapat ditolerir asalkan masih dalam ambang batas-batas yang tidak melebihi kadar maksimum yang dianjurkan.

Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian secara serius. Untuk mendapatkan air yang baik, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia, baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan industri dan kegiatan-kegiatan lainnya. Saat ini air sungai tidak dapat begitu saja digunakan. Mungkin tampaknya air tersebut masih kelihatan bersih, akan tetapi ternyata banyak mengandung kotoran yang dibuang manusia. Kotoran dapur, detergen, pestisida. Kotoran manusia dan sisa-sisa bahan kimia lainnya yang mengubah bau air tersebut. Pada prinsipnya sungai merupakan lingkungan alam yang banyak ditempati oleh organisme maupun mikroorganisme.

Pencemaran air merupakan bagian dari pencemaran lingkungan. Dalam Undang-Undang tahun 1997 telah ditetapkan bahwa pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lainnya oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak berfungsi lagi dengan peruntukannya.

2.1.1 Parameter Kualitas Air

Untuk melihat kualitas perairan sungai atau danau harus ada parameter sebagai standar bahan pencemar dalam air dan sekaligus untuk menilai tingkat kualitas perairan sungai, baik yang berlaku secara nasional maupun internasional.

Di Indonesia standar ini telah ditetapkan dalam aturan-aturan tertentu baik peraturan pemerintah maupun dalam KEPMEN, yang menjadi acuan menentukan tingkat kualitas perairan yang dinilai dari berbagai parameter yang telah ditetapkan. Peraturan pemerintah RI. No. 20 tahun 1990 tentang pengendalian pencemaran air. Dalam peraturan ini telah diatur kriteria kualitas air menurut peruntukkan sebagai berikut :

Golongan A : Air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan lebih dahulu.

Golongan B : Air yang dapat digunakan sebagai air baku minum.

Golongan C : Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri, pembangkit listrik dan tenaga air.

2.1.1.1. Sifat Fisik

Menurut Wardana (1995), sifat-sifat fisik air yaitu :

a. Warna

Bahan buangan dan air limbah dari kegiatan industri yang berupa bahan anorganik dan bahan organik seringkali dapat larut di dalam air. Apabila bahan buangan dan air limbah industri dapat larut dalam air maka akan terjadi perubahan warna air. Air dalam keadaan normal dan bersih tidak akan berwarna, sehingga tampak bening dan jernih.

Selain itu degradasi bahan buangan industri dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan warna air. Tingkat pencemaran air tidak mutlak harus tergantung pada warna air, karena bahan buangan industri yang memberikan warna belum tentu lebih berbahaya dari bahan industri yang tidak memberikan warna. Seringkali zat-zat yang beracun justru terdapat di dalam bahan buangan industri yang tidak mengakibatkan perubahan warna pada air sehingga air tetap tampak jernih.

b. Kekeruhan

Kekeruhan air disebabkan adanya partikel-partikel lumpur maupun air buangan yang mengandung mikroorganisme non-patogen dalam jumlah yang banyak. Kekeruhan dapat diukur secara langsung dengan menggunakan alat “Turbidity Rod”. Kekeruhan dapat disebabkan oleh adanya bahan-bahan tersuspensi yang bervariasi dari ukuran koloid sampai disperse kasar yang berupa zat-zat organik maupun anorganik yang disebabkan oleh buangan industri baik yang sudah diolah maupun belum diolah.

c. Rasa dan Bau

Bau yang keluar dari dalam air dapat langsung berasal dari bahan buangan atau air limbah dari kegiatan industri atau dapat pula berasal dari hasil degradasi bahan buangan oleh mikroba yang hidup di dalam air. Bahan buangan industri yang bersifat organik atau bahan buangan dan air limbah dari kegiatan industri pengolahan bahan makanan seringkali menimbulkan bau yang sangat menyengat hidung.Timbulnya bau pada air lingkungan secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya tingkat pencemaran air yang cukup tinggi.

Air normal yang dapat digunakan untuk suatu kehidupan pada umumnya tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Apabila air mempunyai rasa (kecuali air laut) maka hal itu berarti telah terjadi pelarutan sejenis garam-garaman. Air yang mempunyai rasa biasanya berasal dari garam-garam yang terlarut. Bila hal ini terjadi maka berarti juga telah ada pelarutan ion-ion logam yang dapat mengubah konsentrasi ion hidrogen dalam air. Adanya rasa pada air umumnya diikuti pula dengan perubahan pH pada air.

2.1.1.2  Sifat Kimia

a. Perubahan pH atau konsentrasi ion hidrogen

Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5-7,5. Air dapat bersifat asam atau basa, tergantung pada besar kecilnya pH air atau besarnya konsentrasi ion hidrogen di dalam air. Air yang mempunyai pH lebih kecil dari pH normal akan bersifat asam, sedangkan air yang mempunyai pH lebih besar dari normal akan bersifat basa. Air limbah dan bahan buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke sungai akan mengubah pH air yang pada akhirnya dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air.

b. Oksigen

Oksigen merupakan unsur kimia yang penting bagi organisme yang keberadaannya diperairan dapat diukur dengan uji BOD (Biochemical Oxygen Demand). BOD merupakan uji yang paling berguna dan sensitif untuk mendeteksi dan mengukur pencemaran organik. Selain itu juga untuk melihat kandungan oksigen yang terlarut dalam air dapat ditentukan juga dengan uji COD (Chemical Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air.

2.1.1.3 Sifat Biologi (Mikroorganisme)

Mikroorganisme sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke air lingkungan, baik sungai, danau maupun laut. Kalau bahan buangan yang harus didegradasi cukup banyak, berarti mikroorganisme akan ikut berkembang biak. Pada pengembang-biakan mikroorganisme ini tidak tertutup kemungkinan bahwa mikroba patogen ikut berkembang pula. Mikroba patogen adalah penyebab timbulnya industri pengolahan bahan makanan berpotensi untuk menyebabkan berkembang biaknya mikroorganisme, termasuk mikroba patogen.

2.2 Fosfor

Fosfor merupakan salah satu bahan kimia yang sangat penting bagi mahluk hidup. Fosfor terdapat di alam dalam dua bentuk yaitu senyawa fosfat organik dan senyawa fosfat anorganik. Senyawa fosfat organik terdapat pada tumbuhan dan hewan, sedangkan senyawa fosfat anorganik terdapat pada air dan tanah dimana fosfat ini terlarut dia air tanah maupun air laut yang terkikis dan mengendap di sedimen.

Fosfor juga merupakan faktor pembatas. Perbandingan fosfor dengan unsur lain dalam ekosistem air lebih kecil daripada dalam tubuh organisme hidup. Diduga bahwa fosfor merupakan nutrien pembatas dalam eutrofikasi; artinya air dapat mempunyai misalnya konsentrasi nitrat yang tinggi tanpa percepatan eutrofikasi asalkan fosfat sangat rendah ( Sastrawijaya, 1991).

2.3 Sifat-Sifat Fosfor

Fosfor bersifat sebagai zat padat dengan T.D 280°C dan T.L = 44,1°C. Pada temperatur tinggi (t = 1040 °C), mengalami disosiasi.

P4  ———– 2P2

Menunjukan peristiwa allotropi, dalam hal ini monotropi, yaitu dikenal ada 2 macam fosfor, yaitu fosfor merah dan fosfor putih, dimana fosfor merah lebih stabil daripada fosfor putih. Jika fosfor putih dipanaskan pada temperatur 200°C sampai 300°C, akan berubah menjadi fosfor merah. Fosfor putih sifatnya tidak stabil, lambat laun juga akan berubah menjadi fosfor merah tanpa pemanasan.

Adapun perbedaan fosfor merah dan fosfor putih adalah sebagai berikut :

Fosfor merah                                                   Fosfor putih

a. Stabil                                                              a. Tidak stabil

b. Tidak beracun                                            b. Bersifat racun

c. Tidak berbau                                               c. Berbau (seperti ozon)

d. Tidak berbahaya dalam udara            d. Berbahaya dalam udara

e. Tidak larut dalam CS2                             e. Larut dalam CS2

2.4. Fosfat

Fosfat terdapat dalam air alam atau air limbah sebagai senyawa ortofosfat, polifosfat dan fosfat organis. Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme air. Di daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai atau danau melalui drainase dan aliran air hujan. Polifosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan bahan detergen yang mengandung fosfat, seperti industri logam dan sebagainya. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap fosfat bagi pertumbuhannya ( Alaerts, 1984).

Keberadaan senyawa fosfat dalam air sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem perairan. Bila kadar fosfat dalam air rendah (< 0,01 mg P/L), pertumbuhan ganggang akan terhalang, kedaan ini dinamakan oligotrop. Sebaliknya bila kadar fosfat dalam air tinggi, pertumbuhan tanaman dan ganggang tidak terbatas lagi (kedaaan eutrop), sehingga dapat mengurangi jumlah oksigen terlarut air. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kelestrian ekosistem perairan.

2.5 Kegunaan Fosfor/Fosfat

Kegunaan fosfor yang penting adalah dalam pembuatan pupuk, dan secara luas digunakan dalam bahan peledak, korek api, pestisida, odol dan deterjen. Selain itu juga diperlukan untuk memperkuat tulang dan gigi.

2.6 Proses Fosfor / Fosfat Dalam Lingkungan Hidup

Perputaran unsur fosfor dalam lingkungan hidup relatif sederhana bila dibandingkan dengan perputaran bahan kimia lainnya, tetapi mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai pembawa energi dalam bentuk ATP (Adenosin Trifosfat). Perputaran unsur fosfor adalah perputaran bahan kimia yang menghasilkan endapan seperti halnya perputaran kalsium. Dalam lingkungan hidup ini tidak diketemukan senyawa fosfor dalam bentuk gas, unsur fosfor yang terdapat dalam atmosfir adalah partikel-partikel fosfor padat.

Batu karang fosfat dalam tanah terkikis karena pengaruh iklim menjadi senyawa-senyawa fosfat yang terlarut dalam air tanah dan dapat digunakan/diambil oleh tumbuh-tumbuhan untuk kebutuhan hidupnya /pertumbuhannnya. Penguraian senyawa organik (tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati serta detergen limbah rumah tangga ) menghasilkan senyawa-senyawa fosfat yang dapat menyuburkan tanah untuk pertanian. Sebagai senyawa fosfat yang terlarut dalam air tanah akan terbawa oleh aliran air sungai menuju ke laut atau ke danau, kemudian mengendap pada dasar laut atau dasar danau.

Gambar 1. Daur Fosfor di Alam (Sumber : Sudja,1985)

2.7. Metode Spektrofotometri

Spektrofotometri adalah salah satu bagian dari ilmu fisika yang mempelajari tentang analisis spektrum suatu senyawa. Adapun beberapa keunggulan dari spektrofotometri yaitu:

  1. Jumlah zat yang diperlukan untuk analisis relatif kecil dan zat tersebut seringkali dapat diperoleh kembali.
  2. Waktu pengerjaan relatif cepat

Prinsip spektrofotometri didasarkan adanya interaksi dari energi radiasi elektromagnetik dengan zat kimia. Dengan mengetahui interaksi yang terjadi dikembangkan tehnik-tehnik analisis kimia yang memanfaatkan sifat-sifat dari interaksi tersebut. Hasil interaksi energi radiasi elektromagnetik menimbulkan satu atau lebih peristiwa absorpsi (penyerapan).

2.7.1 Spektofotometer UV-VIS

Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitans dan absorbans suatu contoh sebagai fungsi panjang gelombang. Penggunaan absorbansi atau transmitansi dalam spektrofotometer UV-VIS dapat digunakan untuk analisis kulaittatif dan kuantitatif spesies kimia ( Khopkar, 2002).

Pengukuran terhadap suatu deretan contoh pada suatu panjang gelombang tunggal mungkin juga dapat dilakukan. Alat-alat demikian dapat dikelompokkan baik sebagai manual, perekam maupun sinar tunggal atau sinar rangkap. Berikut ini diagram sederhana dari spektrofotometer :

Gambar 2. Diagram Spektrofotometer (Day dan Underwood, 1990:398)

2.7.2 Komponen – Komponen Utama Spektrofotometer

1. Sumber Sinar

Sumber sinar yang biasa digunakan pada spektroskopi absorbsi adalah lampu wolfarm, deuterium lampu hidrogen. Lampu wolfarm digunakan untuk daerah visibel (tampak) sedangkan untuk lampu hidrogen atau deuterium digunakan untuk sumber daerah UV.

2. Monokromator

Monokromator merupakan serangkaian alat optik yang menguraiakan radiasi polikromatik dan berfungsi untuk memunculkan garis resonansi dari semua garis yang tidak diserap yang dipancarkan oleh sumber radiasi. Alatnya dapat berupa prisma atau grating.

3. Sel Penyerap

Penempatan cuplikan yang akan dipelajari pada daerah UV – VIS, pada pengukuran daerah tampak, kuvet kaca corex dapat digunakan tetapi untuk pengukuran pada daerah UV kita harus menggunakan sel kuarsa karena pada daerah ini gelas tidak tembus cahaya. Umumnya tebal kuvet adalah 10 nm, tetapi yang lebih kecil ataupun yang lebih besar digunakan.

4. Detektor

Peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang. Detektor yang digunakan dalam UV – VIS disebut “ detektor fotolistrik”

Persyaratan-persyaratan penting untuk detektor meliputi :

  1. Sensivitas tinggi hingga dapat mendeteksi tenaga cahaya yang mempunyai tingkatan rendah sekalipun
  2. Waktu respon yang pendek.
  3. Stabilitas yang panjang
  4. Sinar elektronik yang mudah diperjelas dan sistem pembacaan.

2.7.3 Hukum Kuantitatif

Hukum Bouguer ( Lambert)

Hubungan antara absorbsi radiasi dan panjang jalan medium penyerap pertama kali dirumuskan oleh Bouguer (1729) meskipun kadang-kadang dianggap berasal dari Lambert (Underwood;1998). Bila sebuah medium penyerap yang homogen seperti larutan kimia dibagi menjadi lapisan-lapisan maya masing-masing dengan ketebalan sama, maka tiap-tiap lapisan akan menyerap bagian yang sama dari suatu sinar radiasi monokromatik yang diarahkan melewati medium tersebut atau tiap lapisan mengurangi tenaga radiasi sinar dengan bagian yang sama.

Penemuan Bouguer dapat dirumuskan secara matematik sebagai berikut :

k1p

Bila persamaan tersebut diintegrasikan antara batas-batas p0 dan p dan 0 dan b akan menghasilkan persamaan :

ln k1b

Hukum Beer

Hubungan antara konsentrasi macam-macam zat penyerap dan besarnya absorpsi dirumuskan oleh Beer pada tahun 1859. Hukum Beer analog dengan Hukum Buoguer dalam menguraikan pengurangan eksponensial dalam tenaga transmisi dengan suatu peningkatan aritmatik dalam konsentrasi.

log k4c

Hukum Gabungan Bouguer – Beer

Hukum-hukum Bouguer dan Beer bila digabung akan menghasilkan suatu persamaan :

log

Istilah log (po/p) dinamakan absorbansi dan diberi tanda A. Sedangkan b, c dan k berturut-turut merupakan panjang jalan lewat medium penyerap. Konsentrasi zat penyerap dan tetapan. Bila konsentrasi (c) dalam satuan gram per liter maka tetapan tersebut disebut absorptivitas dengan tanda a. Apabila c dengan satuan mol per liter, tetapan disebut absorptivitas molar dengan tanda є. Maka sistem disarankan, hukum Bouguer – Beer dapat berupa dua bentuk :

A = a b c atau A= є b c

Dimana : A = absorbansi

a = absorpsivitas

b = panjang jalan sinar

c = konsentrasi

Karena a dan b tetap maka terdapat hubungan yang linear antara A (absorbans) versus c (konsntrasi).

Gambar 3. Kurva Kalibrasi Konsentrasi Versus Absorbans (Khopkar, 1990:196)

Tetapi seringkali dijumpai hasilnya tidak berupa garis lurus, melainkan suatu garis melengkung. Kondisi ini yang menyebabkan timbulnya penyimpangan Hukum Beer. Seperti pada gambar :

Gambar 4. Penyimpangan Hukum Beer (Khopkar, 1990:196)

2.7.5 Cara Kerja Spektrofotometer UV-VIS

Cara kerja spektrofotometer adalah sebagai berikut, pertama-tama menempatkan larutan pembanding, misalnya blanko ke dalam sel pertama sedangkan larutan yang dianalisis pada sel ke dua. Kemudian memilih foto sel yang cocok 650 nm – 1100 nm agar daerah λ yang diperlukan dapat terliput. Dengan ruang foto sel dalam keadaan tertutup “nol” galvanometer dengan menggunakan tombol dark-current. Memilih λ yang diinginkan, membuka fotosel dan melewatkan berkas cahaya pada blanko dan “ nol” galvanometer didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Menggunakan tombol transmitasi, kemudian mengatur besarnya pada 100%. Maka melewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang dianalisis. Skala absorbansinya menunjukan absorbansi larutan sampel.

2.7.6 Kesalahan Dalam Spektrofotometer

Kesalahan-kesalahan dalam penggunaan alat spektrofotometer adalah:

  1. Kesalahan dalam hal penggunaan alat atau pengoperasian instrumen dari alat spektrofotometer tersebut, seperti pada cara memegang sel kuvet harus sesuai dengan petunjuk) karena sidik jari dapat menyerap pengukuran daerah ultra ungu.
  2. Gelombang gas tidak ada dalam lintasan optik
  3. Penyerapan panjang gelombang dari alat harus diteliti dan ketidakstabilan dalam sirkuit harus diperbaiki.
  4. Ketidak tetapan contoh dalam konsentrasi zat.

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Gorontalo dan Laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Manado sejak Mei 2006 sampai Juni 2006.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian meliputi :

  1. Spektrofotometer Model GBC 918 Centra 10 UV/VIS dengan panjang gelombang 350-1000 nm
  2. Pemanas Listrik
  3. Labu Ukur 100 ml dan 1000 ml
  4. Gelas Ukur 100 ml dan 50 ml
  5. Pipet Ukur 10 ml
  6. Corong
  7. Batang Pengaduk
  8. Pipet Tetes
  9. Kertas pH Universal

3.2.2 Bahan

Bahan atau sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah air Danau Limboto yang diambil pada tanggal 29 Mei 2006 pada jam 8.00 WITA di lokasi daerah Kec. Batudaa.

Bahan kimia yang digunakan yaitu Kalium Hidrogen Fosfat KH2PO4, Asam Sulfat H2SO4 4 N dan 5 N, Hidrazina Sulfat (N2H2) H2SO4, Asam Aksorbat , Amonium Molibdat (NH4)6Mo7O24, Pereaksi Campuran: ( 50 ml H2SO4 5N + 5 + 20 ml Amonium molibdat + 5 ml Hidrazina Sulfat + 10 ml Asam aksorbik dan Aquades dalam erlenmeyer 100 ml), Asam Nitrat HNO3, Natrium Hidroksida NaOH, Indikator Fenoftalein dan Aquades.

3.3. Prosedur Kerja

3.3.1. Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel air dilakukan dengan cara sebagai berikut : Sampel diambil pada dua bagian yaitu air pada tepi danau dan air pada pertengahan badan air. Kemudian dari kedua bagian tersebut diambil masing-masing tiga titik yaitu air pada permukaan danau, air pada pertengahan danau dan air pada dasar danau.

Sampel diambil dengan menggunakan botol yang diberi pemberat. Cara pengambilan contoh air yaitu dengan membiarkan botol yang masih dalam keadaan tertutup sampai ke dasar atau pada bagian yang diinginkan (dasar, pertengahan, permukaan) kemudian penutup botol dibuka dan setelah penuh ditarik perlahan-lahan dan ditutup tanpa adanya gelembung udara.

3.3.2. Tahap Analisis

3.3.2.1. Analisis Dengan Menggunakan Campuran Reagen (Kualitatif)

Analisis sampel menggunakan campuran reagen dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Penambahan larutan perak nitrat pada sampel dan diperoleh endapan kuning.
  2. Penambahan reagensia amonium molibdat pada sampel dan diperoleh endapan kuning.
  3. Penambahan larutan besi (III) klorida pada sampel dan diperoleh endapan putih.

3.3.2.2. Analisis dengan Spektrofotometer UV/VIS (Kuantitatif)

Pada tahap analisis fosfat ini dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut (Pujatmaka.1994) :

a. Pembuatan Larutan Indikator Phenoftalien.

Diambil 0,05 gr bubuk Phenoftalein kemudian ditambahkan etanol dan 50 ml air suling.

b Pembuatan Larutan Amonium Molibdat.

Ditimbang 2 gr [(NH4)6 Mo7O24.4H2O], kemudian dilarutkan dalam 300 ml air suling lalu diencerkan sampai 500 ml.

c. Pembuatan Asam Aksorbat

Ditimbang 1,76 gr asam aksorbat, kemudian dilarutkan dalam 100 ml air suling.

d. Pembuatan Pereaksi Campuran

Dicampurkan 50 ml H2SO4 5 N, 5 ml hidrazina sulfat, 20 ml amonium molibdat dan 10 ml asam askorbik dalam erlenmeyer 100 ml.

e. Pembuatan Larutan Standar 1000 ppm

Ditimbang 219,50 mg KH2PO4 dilarutkan dalam 800 ml air suling. Kemudian ditambahkan 10 ml H2SO4 4 N diencerkan samapai 1000 ml.

f. Pembuatan Larutan Intermediet 100 ppm

Diambil 100 ml dari larutan tersebut dan diencerkan dengan aquades sampai 1000 ml.

g. Pembuatan Larutan Kerja

  • Dibuat larutan kerja dengan variasi konsentrasi sebagai berikut : 0,005 ppm; 0,01 ppm; 0,05 ppm; 0,1 ppm ; 0,2 ppm
  • Larutan tersebut dibuat dengan cara mengambil 0,005 ml; 0,01 ml; 0,05 ml; 0,1 ml; 0,2 ml larutan intermediet dan dimasukan masing-masing ke dalam labu ukur 100 ml.
  • Diencerkan dengan aquades sampai 100 ml pada labu ukur.
  • Dikocok dan dibiarkan selama 15 menit.

h. Pembuatan Kurva Kalibrasi

  • Optimasikan alat spektrofotometer sesuai dengan petunjuk untuk pengujian kadar fosfat.
  • Dipipet 50 mL larutan kerja yang telah diketahui kadarnya masing-masing ke dalam gelas kimia 100 mL.
  • Ditambahkan pereaksi campuran dan diaduk.
  • Dimasukan ke dalam kuvet pada alat spektofotometer, dibaca serapan masuknya pada panjang gelombang 880 nm.
  • Dibuat kurva kalibrasi dari data yang diperoleh atau ditentukan persamaan garis lurusnya.

i. Penyiapan Larutan Sampel dan Pangujian

  • Sampel diambil sebanyak 50 ml dan dimasukan ke dalam erlenmeyer.
  • Untuk menguji keadaan sampel asam atau basa maka ditambahkan 1 tetes indikator phenoftalien, jika ada warna merah yang terbentuk maka ditambahkan H2SO4 sampai warna merah hilang.
  • Ditambahkan 8 ml larutan pereaksi campuran, kocok hingga homogen diamkan selama 10 – 30 menit.
  • Dimasukkan ke dalam kuvet pada alat spektrofotometer, namun sebelumnya kuvet dibersihkan terlebih dahulu dari sisa-sisa cairan yang masih melekat pada bagian luar kuvet.
  • Dibaca serapan masuknya pada panjang gelombang 880 nm.

j. Penentuan Kadar Fosfat

Penentuan kadar fosfat diketahui berdasarkan kurva baku yaitu dengan cara memplot nilai absorbans sampel terhadap konsentrasi kerja atau dengan menggunakan persamaan garis lurus yaitu :

Y = a + bX

Dimana :

Y = Absorbans

a = Konstanta

b = Koefisien regresi

X = Konsentrasi (Sudjana. 1996:312

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Analisis Kualitatif Sampel

Sampel sebanyak 500 ml disaring dengan maksud untuk menghilangkan kotoran yang terbawa pada saat pengambilan. Kemudian dilanjutkan dengan uji kualitatif fosfat dengan menggunakan beberapa reagen spesifik untuk fosfat antara lain: uji perak nitrat, uji amonium molibdat, uji besi (III) klorida. Data hasil uji analisis kualitatif terhadap sampel air dapat dilihat pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Daftar uji kualitatif dari sampel air danau Limboto
Perekasi
Hasil Pengamatan
Hasil Reaksi
Keterangan

Ag3+

Endapan Kuning

HPO4-2 + 3Ag+ Ag3PO4 + H+
Positif

(NH4)3

(PM012O40)

Endapan Kuning

HPO4-2 + 3 NH4+ + 12 M0O4

(NH4)3 [P(M03O10)4] +12 H2O

Positif

Fe3+

Endapan Putih

HPO4-2 + Fe3+ FePO4 + H+

Positif

Dari data hasil uji spesifik senyawa fosfat pada sampel air dengan menggunakan reagen-reagen di atas dapat mengindikasikan bahwa sampel air tersebut mengandung ion fosfat (PO43-). Hal ini ditunjukan dengan adanya endapan kuning yang terjadi. Kemudian dilanjutkan dengan analisis kuantitatif terhadap sampel air untuk menentukan kadar fosfat dengan menggunakan metode Spektrofotometri UV-VIS.

4.1.2 Analisis Fosfat Secara Spektrofotometri UV-VIS

Prinsip Spektroskopi didasarkan adanya interaksi dari energi radiasi elektromagnetik dengan zat kimia. Pada analisis ini dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

a. Penambahan Pereaksi Campuran

Penambahan pereaksi campuran dimaksudkan untuk membentuk senyawa kompleks fosfomolibdat yang rumus kimianya (NH4)Mo7O24.4H2O. Menurut Pujatmaka (1994), ion ortofosfat dan molibdat berkondensasi dalam larutan asam untuk menghasilkan asam fosfomolibdat, yang pada reduksi selektif dengan hidrazina sulfat menghasilkan suatu warna biru dengan kisaran panjang gelombang 820-830 nm. Hal inilah yang menjadi dasar bagi peneliti untuk menggunakan metode spektrofotometri UV-VIS

b. Pembuatan Kurva Kalibrasi

Kurva kalibrasi diperoleh dari hasil serapan (absorbans) larutan standar terhadap konsentrasi yang sudah ditentukan. Larutan kerja KH2PO4 dari berbagai konsentrasi yang dapat dilihat pada Tabel 4.2

Tebel 4.2 Data konsentrasi larutan kerja versus absorbans
NO
Konsentrasi (ppm)
Absorbans

1

2

3

4

5

6
0,000

0,005

0,01

0,05

0,1

0,2
-0.000

0,000

0,004

0,0034

0,68

0,142

Gambar 2 Kurva baku KH2PO4 pada berbagai konsentrasi

Berdasarkan pengukuran absorbans larutan standar KH2PO4, maka dapat diperoleh kurva kalibrasi dengan persamaan garis regresi linier Y = – 0, 002367 + 0,7185 X; dimana harga korelasi antara konsentrasi (X) dan absorbans(Y) sebesar r = 0,9986 yang tergolong korelasi sangat kuat, sehingga dapat dikatakan bahwa antara konsentrasi dan absorbans terdapat hubungan yang linier.

c. Penentuan Kadar Fosfat

Pengukuran absorbans pada sampel dilakukan dengan cara yang sama dengan perlakuan pada larutan standar. Setelah dilakukan pengukuran maka diperoleh hasil absorbans larutan sampel yang dapat dilihat pada Tabel 4.3

Tebel 4.3 Hasil pengamatan absorbans larutan sampel
NO
Sampel
Absorbans

1

2
Air pada tepi danau

Air pada pertengahan danau
0,0349

0,0064

Dari persamaan regresi larutan standar fosfat Y = -0,002376 + 0,7185 X; dimana Y adalah absorbans dan nilai X adalah konsentrasi maka dengan memasukan absorbans larutan sampel ke dalam persamaan regresi, diperoleh kadar fosfat pada sampel dalam Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Data hasil perhitungan kadar fosfat

NO
Sampel
Konsentrasi (ppm)

1

2
Air pada tepi danau

Air pada pertengahan danau
0,0519

0,0122

4.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis bahwa kandungan fosfat dengan konsentrasi 0,0519 ppm untuk air pada tepi danau Limboto. Konsentrasi ini lebih besar bila dibandingkan dengan konsentrasi fosfat pada air pertengahan danau yaitu 0,0122 ppm. Ini menunjukan bahwa senyawa fosfat yang masuk ke dalam air danau Limboto tidak hanya berasal dari pencemaran akibat aktivitas warga di sekitar danau Limboto saja, tetapi fosfat dapat masuk ke dalam suatu tatanan lingkungan sebagai akibat dari berbagai peristiwa alam. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Sudja (1985) bahwa, sebagian senyawa fosfat yang terlarut dalam air tanah terbawa aliran air sungai menuju laut atau danau, kemudian mengendap pada dasar laut atau danau. Penambahan senyawa fosfat tulang-tulang ikan yang mati, dan dari proses pemupukan yang mengandung fosfat.

Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk, industri dan pertanian. Di daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan.

Bila kandungan fosfat terlarut dihubungkan dengan kesuburan perairan, maka perairan dapat digolongkan menjadi 5 kategori menurut Yoshimura dalam Hadianto (1996) yang dapat dilihat pada Tabel 4.5

Tabel 4.5 Kriteria kesuburan perairan berdasarkan kandungan fosfat (Yoshimura dalam Hadianto, 1996)

PO4 (ppm)
Kesuburan Perairan

0,000 – 0,020

0,021 – 0,05

0,051 – 0,10

0,11 – 0,20

0,21
Rendah

Cukup

Baik

Sangat baik

Sangat baik sekali

Berdasarkan hasil analisis yaitu kandungan fosfat sampel air danau Limboto pada tepi danau adalah 0,0519 ppm. Jika dihubungkan dengan tingkat kesuburan perairan menurut Yoshimura maka dapat dinyatakan berada pada tingkat kesuburan baik. Ismail (2006) melaporkan bahwa, kadar fosfor sebagai fosfat pada sedimen danau Limboto adalah pada bagian utara sebesar 0,08 ppm, bagian barat 0,1 ppm, dan bagian timur 0,94 ppm (sudah melewati ambang batas).

Sesuai dengan data yang diperoleh menunjukan bahwa kandungan fosfat telah mengalami eutrofikasi. Eutrofikasi yaitu pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi fosfat dalam air berada pada rentang 0,035-0,1 ppm (Saefumillah; 2002). Sedangkan kadar fosfat yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu air pada tepi danau sudah termasuk pada rentang tersebut. Namun untuk kandungan fosfat pada air pertengahan danau Limboto masih berada batas normal, diduga bahwa fosfat yang masuk ke dalam air sebagian terlarut di dasar danau yaitu pada sedimen-sedimen. Namun demikian sangat dikhawatirkan dengan adanya aktivitas warga di sekitar danau yang berpostensi menghasilkan limbah fosfat seperti deterjen dan pupuk pertanian, tidak dapat dielakkan dalam kurun waktu yang terus menerus dapat meningkatkan konsentrasi fosfat sampai pada air di pertengahan danau.

Kondisi eutrofik sangat memungkinkan alga, tumbuhan air berukuran mikro, untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfat yang berlebihan serta kondisi lain yang memadai (Saefumillah; 2002). Hal ini bisa dilihat pada kondisi fisik danau Limboto yang ditandai dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tidak sedap, banyaknya eceng gondok, dan kekeruhan yang semakin meningkat. Akibatnya, kualitas air dibanyak ekosisitem air menjadi semakin menurun. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, menyebabkan mahluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sampai akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosisitem air.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penanggulangan terhadap persoalan ini sulit membuahkan hasil yang memuaskan. Faktor-faktor tersebut adalah aktivitas pertanian/peternakan yang intensif dan hemat lahan, konsumsi bahan kimiawi yang mengandung fosfat yang berlebihan, pertumbuhan penduduk yang semakin cepat, urbanisasi yang cukup tinggi, dan lepasnya senyawa kimia fosfat yang telah lama terakumulasi dalam sedimen menuju badan air.

Pemecahan persoalan ini sangat menuntut peran serta masyarakat, saintis, praktisi dan pemerintah. Menjadi tugas mendesak bagi kita sekarang untuk menyelamatkan sumber daya air ini dari bencana eutrofikasi, serta memelihara dan mengolahanya untuk kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada pembahasan di atas, maka peneliti menyimpulkan beberapa simpulan sebagai berikut :

  1. Kadar fosfat pada air danau Limboto Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo adalah pada tepi danau sebesar 0,0519 ppm, dan pada pertengahan danau sebesar 0,0122 ppm.
  2. Kadar fosfat air danau Limboto pada tepi berada pada tingkat kesuburan baik, sedangkan untuk air pada pertengahan danau masih berada pada batas normal.

5.2. Saran

Disarankan kepada peneliti lainnya untuk dapat melakukan penelitian tentang kualitas air danau Limboto dengan melakukan analisis terhadap kandungan bahan organik, oksigen terlarut, dan karbon dioksida yang terdapat dalam badan air maupun sedimen.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia. 1992. Kimia Unsur dan Radiokimia. Bandung : Cipta Aditya Bakti

Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta : Andi

Alaerts, G. dan S.S. Santika. 1984. Metode Penelitian Air, Surabaya :

Usaha Nasional

Bialangi, N. 1998. Analisis Kandungan Fosfat di EkosistemDanau Limboto. Gorontalo : STKIP

Day, R.A. dan Underwood, A.L. 1998 Analisis Kimia Kuantitatif, Jakarta : Erlangga

Hadianto. 1996. Studi Kualitas Air Sungai Cisadane. Bogor : IPB

Harbrone. 1987. Metode Fitokimia. Bandung : ITB

Ismail, Nurnaningsi. 2006. Analisis Kadar Fosfor Pada Sedimen Danau Limboto, Gorontalo. FMIPA UNG

Pujatmaka. 1994, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semi Mikro. PT. Kalman Media Pusaka, Jakarta

Saefumillah, Asep. 2002 Eutrofikasi Problem Lingkungan Berskala Global, http://www.limnologi.lipi.go.id/dip/Ringkasan html/

Sastrawijaya, T.A. 1991. Pencemaran Lingkungan, Jakarta: Rineka Cipta

Sudja, W.A. 1985. Ilmu Kimia Lingkungan, Jakarta : Universitas Terbuka

Sudjana. 1992. Teknik Analisis Regresi Dan Korelasi. Bandung: Tarsito

Wardana, W. 1995, Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi, Yogyakarta

Lampiran 1 :

SKEMA PENELITIAN

SAMPEL AIR

Diambil 50 mL dan dimasukan dalam Erlenmeyer

Ditambahkan 1 tetes fenoftalein, jika berwarna merah tambahkan H2SO4 tetes demi tetes sampai warna merah menghilang

Ditambahkan 8 ml larutan pereaksi campuran

Dikocok dan dibiarkan selama 10-30 menit

LARUTAN FOSFAT

Metode spektrofotometri UV-VIS

KADAR FOSFAT

Lampiran 2 :

Perhitungan Persamaan Regresi Linier :
X (konsentrasi)
Y (absorbans)
X2
Y2
XY

0,000
0
0
0
0

0,005
0
0,000025
0
0

0,01
0,004
0,0001
0,000016
0,00004

0,05
0,034
0,0025
0,001136
0,0017

0,1
0,068
0,01
0,004624
0,0068

0.2
0,142
0,04
0,020164
0,0248

= 0,06083 = 0,04133

Penentuan Nilai Regresi

60,03694 – (0,365 0,248)

=

[ 60,052625 – 0,133225] [ 60,02595 – 0,061504]

0,22164 – 0,09052

=

[ 0,182525 0,094196 ]

0,13112

=

0,01723

0,13112

= = 0,9986 jadi r = 0,9986 (Sudjana.1996:369)

0,13130

Penentuan Nilai Kemiringan kurva (b)

(Sudjana.1996:315)

6 0,03694 – 0,365 0,248 0,22164 – 0,09052

= =

6 0,052625 0,31575 – 0,13325

0,13112

= = 0,7185

0,1825

Y = a + bx

a =

= 0,04133 – 0,7185 0,06085

= 0,04133 – 0,043706

= – 0,002376

Persamaan regresi :

Y = a + bx

Y = – 0,002376 + 0,7185 X

Lampiran 3 :

Perhitungan hasil analisis fosfat dengan menggunakan persamaan regresi.

Sampel air pada jarak ± 10 m dari tepi danau

Diketahui (Y) = 0,0349

0,0354 = – 0,002376 + 0,7185 X

0,035 + 0,002376

X =

0,7185

= 0,0519 mg/L

= 0,0519 ppm

Sampel air pada pertengahan danau

Diketahui (Y) = 0,0064

0,00746 = – 0,002376 + 0,7185 X

0,00746 + 0,002376

X =

0,7185

= 0,0122 mg/L

= 0,0122 ppm

Lampiran 4:

Pembuatan larutan intermediet PO4 100 ppm

Diketahui : Konsentrasi PO4 induk (M1) = 1000 ppm

Volume induk (V1) = ……. ml

Konsntrasi PO4 intermediet (M2) = 100 ppm

Volume intermediet (V2) = 1000 ml

Untuk membuat larutan intermediet PO4 100 ppm dibutuhkan larutan untuk 1000 ppm sebanyak:

M1V1 = M2V2

100 ppm x 1000 ml

V1 =

1000 ppm

V1 = 100 ml

Sebanyak 100 ml larutan induk diukur kemudian dimasukan dalam labu ukur 1000 ml ditambahkan aquades sampai larut.

Pembuatan Larutan Kerja

Larutan Kerja 0,005 ppm

Diketahui konsntrasi PO4 intermediet (M1) = 100 ppm

Volume intermediet (V1) = …… mL

Konsentrasi larutan kerja (M2) = 0,005 ppm

Volume larutan kerja (V2) = 100 mL

Untuk membuat larutan kerja 0,005 ppm dibutuhkan larutan intermediet 100 ppm sebanyak :

0,005 ppm x 100 ml

V1 = = 0,005 mL

100 ppm

Larutan Kerja 0,01 ppm

Diketahui konsntrasi PO4 intermediet (M1) = 100 ppm

Volume intermediet (V1) = …… mL

Konsentrasi larutan kerja (M2) = 0,01 ppm

Volume larutan kerja (V2) = 100 mL

Untuk membuat larutan kerja 0,01 ppm dibutuhkan larutan intermediet 100 ppm sebanyak :

M1V1 = M2V2

0,01 ppm x 100 ml

V1 = = 0,01 mL

100 ppm

Larutan Kerja 0,05 ppm

Diketahui konsntrasi PO4 intermediet (M1) = 100 ppm

Volume intermediet (V1) = …… mL

Konsentrasi larutan kerja (M2) = 0,05 ppm

Volume larutan kerja (V2) = 100 mL

Untuk membuat larutan kerja 0,05 ppm dibutuhkan larutan intermediet 100 ppm sebanyak :

M1V1 = M2V2

0,05 ppm x 100 ml

V1 = = 0,05 mL

100 ppm

Larutan Kerja 0,1 ppm

Diketahui konsntrasi PO4 intermediet (M1) = 100 ppm

Volume intermediet (V1) = …… mL

Konsentrasi larutan kerja (M2) = 0,1 ppm

Volume larutan kerja (V2) = 100 mL

Untuk membuat larutan kerja 0,1 ppm dibutuhkan larutan intermediet 100 ppm sebanyak :

M1V1 = M2V2

0,1 ppm x 100 ml

V1 = = 0,1 mL

100 ppm

Larutan Kerja 0,2 ppm

Diketahui konsntrasi PO4 intermediet (M1) = 100 ppm

Volume intermediet (V1) = …… mL

Konsentrasi larutan kerja (M2) = 0,2 ppm

Volume larutan kerja (V2) = 100 mL

Untuk membuat larutan kerja 0,2 ppm dibutuhkan larutan intermediet 100 ppm sebanyak :

M1V1 = M2V2

0,2 ppm x 100 ml

V1 = = 0,2 mL

100 ppm

CURICULUM VITAE

Identitas

Nama : Muhammad Agus Umar

Tempat/Tgl. Lahir : Tidore, 17 Agustus 1983

Janis Kelamin : Laki – Laki

N I M : 441 402 005

Angkatan : 2002/2003

Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Jurusan : Kimia

Agama : Islam

Alamat : Jl. Pangeran Hidayat No. 69 Kota Gorontalo

Riwayat Pendidikan

Pendidikan Formal

Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Gamtufkange Tahun 1995

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 2 Soa Sio Tahun 1998

Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 1 Soa Sio Tidore Tahun 2001

Tingkat Sarjana Pendidikan Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan IPA Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2007

Pendidikan Non Formal

Peserta Pembinaan Belajar di Kampus (PBK) IKIP Negeri Gorontalo

Peserta Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Surabaya Tahun 2004

Peserta Praktek Pengalaman Lapangan (PPL-2) Universitas Negeri Gorontalo di SMU Negeri 3 Gorontalo Tahun 2005

Peserta Kuliah Kerja Sibermas Wajib Belajar 9 Tahun (KKS WAJAR 9 TAHUN) di Desa Bilungala Kec. Bonepantai Tahun 2006

Peserta Seminar Nasional Kimia oleh Himpunan Mahsiswa Kimia F.MIPA Universitas Negeri Gorontalo Tahun 2006

Peserta Seminar Nasional Dinamika Pengembangan Sumber Daya Alam Berkelanjutan oleh Himpunan Mahasiswa Kimia FMIPA Universitas Negeri Makassar Tahun 2003

Peserta Musyawarah Tahunan Ikatan Himpunan Mahasiswa Kimia Indonesia (IKAHIMKI) di Univesitas Negeri Makassar Tahun 2003

Pengalaman Organisasi

Koordinator Bidang Pengembangan Organisasi Himpunan Mahasiswa Kimia (HIMKA) Periode 2003-2004

Koordinator Bidang Pengembangan Potensi Daerah Himpunan Mahasiswa Indonesia Provinsi Maluku Utara (HIPMI MLAUT) Gorontalo Periode 2003-2004

Ketua Bidang Pengembangan Potensi Anggota Himpunan Mahasiswa Indonesia Provinsi Maluku Utara (HIPMI MLAUT) Gorontalo Periode 2005-2006

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kimia (HIMKA) F.MIPA Universitas Negeri Gorontalo Periode 2004-2005

Diposkan oleh Kimia di 21:42

One Comment on “Muhammad Agus Umar”

  1. cawa_cawa32@yahoo.com Says:

    ok


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: